• Emergency
  • 150 108
  • Chatbot

Badai Sitokin pada Penderita Covid-19, Apa Penyebabnya?

Badai Sitokin pada Penderita Covid-19, Apa Penyebabnya

Badai sitokin adalah salah satu istilah yang mengemuka seiring dengan merebaknya pandemi Covid-19. Sebetulnya istilah ini sudah ada sejak beberapa tahun silam terkait dengan penyakit autoimun dan gangguan sistem pernapasan. Saat mengalami kondisi tersebut, pasien mesti mendapat penanganan medis secepatnya karena berisiko membahayakan jiwanya. Hal serupa dialami sederet selebritas Indonesia yang menceritakan pengalaman mereka saat dirawat akibat infeksi Covid-19.

 


Mengenal Istilah Badai Sitokin

Sitokin adalah protein penting yang terdapat di seluruh bagian tubuh dengan banyak fungsi. Respons imun merupakan salah satu fungsi utamanya. Ketika tubuh terluka atau mengalami infeksi, sitokin diproduksi dan memicu peningkatan aliran darah yang membawa protein plasma serta sel darah putih ke area tubuh tersebut untuk melawan infeksi.

Mekanisme produksi sitokin tersebut wajar saat terjadi infeksi. Sedangkan badai sitokin adalah respons tubuh yang kacau dan mengakibatkan produksi sitokin dalam jumlah besar hingga menyerang sel-sel tubuh sendiri sampai menimbulkan kerusakan organ. Kondisi ini antara lain dijumpai pada pasien Covid-19.

Badai sitokin dikaitkan dengan sindrom gangguan pernapasan akut yang dalam penelitian menyebabkan tubuh tak mengerti bagaimana merespons suatu infeksi. Pandemi Covid-19 yang mendunia dibarengi temuan tentang produksi sitokin yang berlebihan itu pada banyak pasien.

Bagi pasien Covid-19, produksi sitokin tanpa terkendali berarti ancaman terhadap jiwanya. Sistem kekebalan yang semestinya melenyapkan virus corona penyebab Covid-19 justru membunuh sel yang bukan virus.

 

Gejala Badai Sitokin

Gejala badai sitokin tidaklah spesifik. Gejala yang dialami setiap orang bisa jadi berlainan. Ada yang mungkin merasa seperti flu biasa. Tapi ada juga yang gejalanya parah. Gejala utama kondisi ini antara lain:

  • Demam tinggi
  • Kulit memerah
  • Anggota tubuh membengkak
  • Kelelahan ekstrem
  • Mual dan muntah
  • Batuk-batuk
  • Kepala pusing
  • Napas pendek
  • Linglung
  • Tak bisa memberikan respons dengan baik

Dalam beberapa kasus, reaksi imun akibat produksi sitokin tak terkendali bisa fatal. Sejumlah penelitian menemukan kaitan antara tingginya angka kematian pasien Covid-19 dan inflamasi akibat badai sitokin.

 

Perbedaan Kondisi Covid-19 Pada Umumnya dengan Saat Badai Sitokin

Covid-19 adalah penyakit yang menyerang sistem pernapasan. Virus corona penyebab penyakit tersebut menginfeksi organ pernapasan dan bisa pula menyerang bagian tubuh lain. Pasien yang terinfeksi virus itu merespons dengan kekebalan tubuhnya. Adapun sistem imun setiap orang berlainan. Maka gejala yang dialami pasien pun berbeda. Ada yang berat, sedang, ringan, bahkan tanpa gejala.

Baca Juga:  Mau Konsultasi Online Selama Corona? Ini Tipsnya

Pasien ini menjalani perawatan berdasarkan gejalanya hingga dinyatakan sembuh. Pasien bergejala berat mesti dirawat di rumah sakit, terlebih bila ada penyakit penyerta. Namun badai sitokin bisa terjadi pada pasien bergejala berat hingga tanpa gejala sekalipun. Inilah yang membahayakan. Pasien tanpa gejala umumnya menjalani isolasi mandiri. Jika terkena badai sitokin dan jauh dari akses perawatan medis yang memadai, ada risiko besar keselamatan jiwanya terancam.

Dalam kondisi Covid-19 pada umumnya, sitokin diproduksi secara alami untuk melawan virus corona di organ yang terinfeksi. Namun, saat terjadi badai, sitokin itu terlalu banyak sehingga tak terkendali, termasuk bisa menyerang tubuh pasien sendiri.

 

Penyebab Badai Sitokin

Para peneliti masih menyelidiki bagaimana badai sitokin bisa terjadi pada pasien Covid-19. Satu hal yang diketahui adalah virus corona menggandakan diri dengan amat cepat begitu menginfeksi suatu sel. Maka terjadi stres atau tekanan yang amat besar pada sel dalam waktu yang amat singkat. Respons sel ini dalam mekanisme perlindungan terhadap tubuh adalah membunuh dirinya sendiri agar infeksi tak menyebar ke sel lain. Jika sel yang mengalami stres ini sangat banyak, banyak pula jaringan organ yang akan mati.

 

Diagnosis dan Cara Mendeteksi Badai Sitokin

Hingga saat ini, tak ada tes medis yang valid untuk mendeteksi badai sitokin. Namun tes darah bisa memberi petunjuk sedang terjadi hiper-inflamasi dalam tubuh. Karena itu, beberapa rumah sakit meminta pasien Covid-19 menjalani tes darah sebelum menjalani perawatan. Hasil tes itu menjadi bahan untuk memperkirakan kondisi sitokin pada pasien.

Dokter umumnya mendeteksi dan mendiagnosis badai sitokin dengan memeriksa gejala pasien lebih dulu. Pasien yang mengalami kondisi ini pada umumnya memiliki kadar oksigen amat rendah hingga di bawah 90 persen. Ketika diberi bantuan oksigen pun mereka masih sulit bernapas. Dokter juga mungkin perlu meminta pasien menjalani tes pencitraan dengan sinar-X. Dari tes ini bisa dilihat lebih jelas gambar paru-paru yang bisa jadi terkena dampak badai sitokin.

Baca Juga:  Mengenal Omicron, Varian Covid-19, Benarkah 500 Persen Lebih Menular?

 

Pengobatan Saat Pasien Alami Badai Sitokin

Sejauh ini, jenis pengobatan bagi pasien Covid-19 dengan badai sitokin masih dalam penelitian.  Yang pasti, ketika mengalami gejala badai sitokin, pasien pertama-tama harus mendapat bantuan oksigen. Setelah itu, dokter akan memberikan penanganan sesuai dengan gejala yang muncul, misalnya:

  • Obat pengikat protein
  • Terapi sel punca
  • Infus plasma antibodi
  • Pemblokir interleukin-6 (IL-6)

 

Pencegahan Badai Sitokin

Badai sitokin bisa terjadi tanpa diduga. Sampai saat ini para peneliti masih menyelidiki cara pencegahan badai sitokin. Adapun kunci untuk terhindar dari risiko fatal akibat badai sitokin  adalah menjalani perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan atau tempat isolasi yang memiliki tenaga medis saat positif Covid-19. Dengan begitu, pasien bisa lebih mudah mengakses perawatan medis yang memadai ketika timbul gejala badai sitokin daripada saat menjalani isolasi mandiri di rumah.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Badai sitokin adalah kondisi gawat darurat yang membutuhkan penanganan intensif secepat mungkin. Dampaknya pun bisa jadi masih ada ketika pasien sudah sembuh dari Covid-19. Itu sebabnya pasien mesti segera ke dokter bila merasa gejala Covid yang dialami memburuk untuk berjaga-jaga bila terjadi badai sitokin.

 

Narasumber:

dr. Bramantyo Pamugar, Sp.An

Dokter Spesialis Anastesi

Primaya Hospital Karawang

 

Sumber:

Cytokine Storm. https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMra2026131. Diakses 16 September 2021

Is a “Cytokine Storm” Relevant to COVID-19? https://jamanetwork.com/journals/jamainternalmedicine/fullarticle/2767939. Diakses 16 September 2021

Cytokine storm: An overreaction of the body’s immune system. https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMra2026131. Diakses 16 September 2021

Calming the cytokine storm in COVID-19. https://www.nature.com/articles/s41591-021-01500-9. Diakses 16 September 2021

COVID-19: consider cytokine storm syndromes and immunosuppression. https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(20)30628-0/fulltext. Diakses 16 September 2021

Bagikan ke :

Promo

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.