Panduan Isolasi Mandiri untuk Pasien Anak Covid-19

Panduan Isolasi Mandiri untuk Pasien Anak Covid-19

Pandemi Covid-19 belum usai. Penularan masih terjadi dan pertambahan kasus positif kian tinggi akibat munculnya varian virus corona yang lebih mudah menular dan kurangnya disiplin protokol kesehatan. Tak hanya orang dewasa dan kalangan lanjut usia, anak-anak tak luput dihinggapi Covid-19.

Menurut Satuan Tugas Penanganan Covid-19, angka pasien anak mencapai 12,6 persen atau 250 ribu lebih dari total sekitar 2 juta kasus positif. Seperti orang dewasa, terdapat prosedur isolasi mandiri anak ketika terkonfirmasi positif terjangkit Covid-19.

 

Mengenal Isolasi Mandiri Anak

Anak bisa menjalani isolasi mandiri layaknya orang dewasa saat terinfeksi virus corona. Isolasi mandiri berarti anak dipisahkan dari lingkungan sekitarnya hingga dinyatakan selesai isolasi. Tapi bukan berarti anak tak bisa didampingi. Orang tua atau pengasuh tetap bisa mendampingi anak sesuai dengan protokol kesehatan.

Ikatan Dokter Anak Indonesia telah menyediakan panduan isolasi mandiri anak yang terjangkit Covid-19. Orang tua bisa berpedoman pada panduan ini dalam merawat anaknya yang sedang menjalani isolasi di rumah.

Syarat Isolasi Mandiri Anak

Untuk dapat menjalani isolasi mandiri anak harus memenuhi sejumlah kriteria, seperti:

  • Tanpa gejala
  • Bergejala tapi ringan, misalnya pilek, batuk, ruam, diare, demam, dan muntah
  • Anak masih bisa aktif dan makan-minum
  • Ketika batuk harus menerapkan etika, yakni
  • Menggunakan tisu untuk menutup mulut dan hidung
  • Bila tak ada tisu, tutup mulut dan hidung dengan bagian dalam lengan baju
  • Menjaga jarak 1,5 meter
  • Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah batuk
  • Gejalanya dipantau secara berkala
  • Suhu tubuh diperiksa tiap pagi dan malam
  • Rumah dan ruang isolasi mandiri dilengkapi sirkulasi udara yang baik dan nyaman

 

Hal-hal yang Perlu Diketahui Saat Anak Isoman

Terdapat beberapa hal yang penting diketahui selama isolasi mandiri anak. Yang utama adalah orang tua tetap bisa mengasuh anak. Hal penting lain termasuk:

  • Sebaiknya orang tua atau pengasuh memiliki risiko rendah terhadap gejala berat Covid-19 (tidak memiliki penyakit penyerta)
  • Anak bisa diisolasi bersama anggota keluarga lain yang juga positif
  • Orang tua yang tidak positif masih bisa tidur bersama anak, tapi jaga jarak 2 meter dan gunakan kasur berbeda
  • Terus dukung anak secara psikologis

 

Baca Juga:  Pilihan Terapi Autis Berdasarkan Rekomendasi Dokter Anak

Kenali Gejala Covid-19 Pada Anak

Pada dasarnya, gejala Covid-19 pada anak dan orang dewasa tidaklah berbeda. Tapi ada kecenderungan gejala pada anak meliputi:

  • Batuk
  • Demam
  • Pilek
  • Sakit kepala
  • Mual
  • Muntah
  • Batuk
  • Sesak napas
  • Badan lemas

Selama anak tanpa gejala atau memiliki gejala tersebut, isolasi mandiri masih diperbolehkan. Orang tua harus memperhatikan tanda bahaya yang bisa mengancam jiwa anak terkait dengan laju napasnya berdasarkan usianya, yaitu:

Kurang dari 2 bulan: ≥ 60 kali per menit

2-11 bulan: ≥ 50 kali per menit

1-5 tahun:  ≥ 40 kali per menit

Lebih dari 5 tahun: ≥ 30 kali per menit

Orang tua bisa menghitung sendiri laju napas ini menggunakan jam tangan atau stopwatch sembari memperhatikan napas anak. Bila muncul tanda bahaya, segera bawa ke rumah sakit.

 

Kondisi Waspada Anak Harus ke Rumah Sakit?

Kondisi anak memerlukan pemantauan secara rutin dan saksama tidak hanya oleh dokter, tapi juga orang tua atau pengasuh. Dengan begitu, bila kondisi memburuk selagi menjalani isolasi mandiri, anak dapat segera mendapat penanganan. Berikut ini kondisi anak yang patut diwaspadai dan memerlukan pemeriksaan di rumah sakit:

  • Lebih sering tidur
  • Napas menjadi cepat
  • Terlihat cekungan pada dada dan mata
  • Hidung kembang-kempis
  • Saturasi oksigen kurang dari 95 persen
  • Mata memerah
  • Muncul ruam di kulit
  • Leher membengkak
  • Demam terus-menerus lebih dari tujuh hari
  • Jarang buang air kecil
  • Tingkat kesadaran menurun

 

Jika Bayi Lahir dengan Ibu Tersangka/Terkonfirmasi Covid-19

Ada kemungkinan ibu melahirkan saat berstatus tersangka (suspek) atau terkonfirmasi Covid-19. Perlu diingat, bayi yang lahir tidak selalu pasti positif juga bila ibunya positif. Badan Kesehatan Dunia (WHO) pun tetap menyarankan ibu memberikan inisiasi menyusui dini kepada bayi yang baru dilahirkan.

Kriteria inisiasi menyusui dini dan perawatan bayi:

  • Bisa dilakukan jika ibu berstatus kontak erat atau suspek
  • Bila status ibu positif Covid-19 dengan gejala ringan atau tanpa gejala, inisiasi menyusui dini dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi klinis ibu dan bayi yang stabil
  • Ibu mengenakan alat pelindung diri saat menyusui, minimal masker
  • Cuci tangan sebelum dan setelah menyusui
  • Menerapkan etika batuk yang benar
  • Bila ibu berstatus suspek dan bayi terlahir sehat, keduanya bisa dirawat gabung dengan protokol kesehatan
  • Bila ibu terkonfirmasi positif, bayi dirawat terpisah di ruang isolasi
  • Jika kondisi ibu tak memungkinkan untuk merawat bayi, anggota keluarga yang dinilai kompeten dan negatif Covid-19 bisa membantu perawatan, termasuk memberikan air susu ibu (ASI) perah
  • Proses perah ASI hingga pemberian ASI kepada bayi harus sesuai dengan protokol kesehatan
Baca Juga:  Imunisasi Hepatitis B, Manfaat, dan Kapan Vaksin Hepatitis B Diberikan

 

Alat yang Perlu Disediakan di Rumah

Mengingat pentingnya pemantauan dalam isolasi mandiri anak, perlu ada alat-alat yang dibutuhkan selama isolasi, yakni termometer untuk mengukur suhu dan oksimeter untuk mengetahui saturasi oksigen serta frekuensi nadi. Alat ini juga penting ada walau tak ada anggota keluarga yang positif di rumah untuk berjaga-jaga.

Sebaiknya gunakan termometer tembak atau thermo gun karena hasilnya lebih cepat diketahui. Anak sering tidak betah bila suhunya diukur menggunakan termometer konvensional. Adapun oksimeter banyak yang berupa alat sederhana yang bisa digunakan hanya dengan menggunakan jari. Tapi pastikan membeli alat yang berkualitas dan hasilnya akurat.

 

Obat yang Perlu Disiapkan di Rumah

Ada tiga jenis obat atau vitamin yang sebaiknya tersedia di rumah saat isolasi mandiri anak, yaitu:

  • Obat demam atau penurun panas anak sesuai dengan usianya
  • Multivitamin sesuai dengan usia:

Vitamin C:

  • 1-3 tahun: maksimal 400 miligram per hari
  • 4-8 tahun: 600 miligram per hari
  • 9-13 tahun: maksimal 1.200 miligram per hari
  • 14-18 tahun: maksimal 1.800 miligram per hari

Vitamin D3:

  • Kurang dari 3 tahun: 400 U per hari
  • Anak: 1.000 U per hari
  • Remaja: 2.000 U per hari
  • Remaja yang mengalami obesitas: 5.000 U per hari
  • Zink: 20 miligram per hari selama 14 hari

 

Protokol Isolasi Mandiri (Isoman Anak)

Protokol isolasi mandiri anak serupa dengan orang dewasa, tapi praktiknya umumnya akan lebih sulit. Terutama anak yang berusia lebih muda. Untuk itu, diperlukan bimbingan orang tua atau pengasuh agar anak senantiasa menaati protokol isolasi ini, termasuk:

  • Selalu mengenakan masker
  • Menjaga jarak minimal 1,5 meter
  • Rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer
  • Tidak bepergian ke luar rumah
  • Menjalankan etika batuk
  • Cek suhu tubuh tiap pagi dan malam
  • Perhatikan laju napas
  • Cek saturasi oksigen dan frekuensi nadi
  • Berikan makanan bernutrisi dengan gizi seimbang
  • Sebisa mungkin memberikan ASI
  • Semprotkan disinfektan ke barang-barang yang sering disentuh anak
  • Anak sebaiknya mandi di tempat terpisah dari anggota keluarga lain atau mandi paling akhir
Baca Juga:  Terlambat Imunisasi Anak? Ini Dampak yang Wajib Kamu Ketahui 

 

Logbook Untuk Mencatat Kondisi Anak

Buatlah logbook atau kertas berisi catatan kondisi anak tiap hari selama isolasi mandiri anak. Logbook ini berguna untuk memantau perkembangan gejala anak. Contohnya:

  Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu
Tanggal
Gejala
Batuk
Demam
Sakit kepala
Mual
Muntah
Batuk
Sesak napas
Badan lemas
Pilek
Suhu
Saturasi oksigen
Laju napas
Keluhan lain

 

Kriteria Selesai Isolasi Mandiri Anak

Pemantauan terhadap anak dilakukan hingga 14 hari selama isolasi mandiri. Biasanya gejala hilang setelah 14 hari dan ini menjadi tanda selesainya isolasi bagi anak. Anak disarankan menjalani tes swab polymerase chain reaction (PCR) 10-14 hari setelah muncul gejala pertama kali. Bila tak ada gejala, tes PCR bisa dilakukan 10-14 hari setelah tes swab pertama yang hasilnya positif.

Namun tes PCR ulang bukanlah kewajiban. Kini isolasi mandiri anak dan dewasa bisa dianggap selesai bila sudah menjalani isolasi selama 10 hari plus 3 hari tanpa gejala. Bagi pasien anak yang mengalami gejala berat atau pasien kronis, perlu pemeriksaan oleh dokter dulu. Dokterlah yang akan menentukan kapan isolasi mandiri anak selesai berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut.

 

Ditinjau oleh:

dr. Indra Sandinirwan, SP.A

Dokter Spesialis Anak

Primaya Hospital Sukabumi

 

Referensi:

https://www.idai.or.id/tentang-idai/pernyataan-idai/buku-diary-panduan-isolasi-mandiri-anak-dengan-covid-19

Bagikan ke :