• Emergency
  • 150 108
  • Chatbot

Perbandingan Vaksin AstraZeneca dengan Vaksin Lainnya

Perbandingan Vaksin AstraZeneca dengan Vaksin Lainnya

Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah banyak membuat hal baru di dunia. Orang-orang yang tadinya mesti bekerja ke kantor kini bisa menyelesaikan pekerjaan dari rumah. Termasuk dalam hal pembuatan vaksin. Lazimnya, riset vaksin membutuhkan waktu lama hingga bertahun-tahun. Tapi, karena kondisi pandemi yang mendesak, para peneliti mampu menghasilkan vaksin virus corona dalam tempo lebih singkat. Muncullah beragam vaksin untuk menangkal virus corona, seperti vaksin AstraZeneca, Sinovac, Sinopharm, Pfizer, Novavax, Sputnik, Moderna, dan lain-lain. Dari Indonesia pun akan ada vaksin Merah Putih.

Meski vaksin-vaksin itu siap dalam waktu lebih cepat daripada biasanya, tetap ada penelitian yang mendalam dan ketat. Terutama uji klinis tahap I, II, dan II. Otoritas pengawas obat di setiap negara yang akan menggunakan vaksin itu pun akan memeriksanya dulu sebelum memberikan izin edar. Di Indonesia sendiri, vaksin AstraZeneca baru saja mendapat izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan. Begitu sudah ada sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia, vaksin AstraZeneca siap digunakan bersama vaksin Sinovac yang lebih dulu beredar.


 

Mengenal Vaksin AstraZeneca

Vaksin AstraZeneca adalah vaksin hasil pengembangan perusahaan AstraZeneca dengan University of Oxford, Inggris. Vaksin ini mengandung virus yang telah dilemahkan untuk mengajari tubuh menghasilkan protein yang akan memicu respons sistem imun. Dari situ, tubuh dapat membuat antibodi untuk melawan infeksi virus Covid-19 yang masuk ke tubuh di kemudian hari. Agar efektif, setiap orang membutuhkan dua dosis vaksin.

Vaksin AstraZeneca telah mendapat izin edar penggunaan darurat di sejumlah negara. European Medicines Agency (EMA) telah meninjau vaksin itu. Strategic Advisory Group of Experts dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga menyatakan vaksin AstraZeneca sesuai dengan kriterianya.

Setelah mendalami data tentang kualitas, keamanan, dan efikasi vaksin AstraZeneca, EMA merekomendasikan pemasaran bersyarat untuk vaksin itu bagi masyarakat berusia 18 tahun ke atas. Hasil uji klinis dari Britania Raya, Brasil, dan Afrika Selatan yang diteliti WHO menunjukkan vaksin AstraZeneca aman dan efektif dalam mencegah Covid-19 di kalangan warga berusia 18 tahun ke atas. Penelitian itu melibatkan sekitar 24 ribu orang. Di India, vaksin AstraZeneca digarap oleh Serum Institute of India dengan nama Covishield.

Berikut ini lini masa pengerjaan vaksin AstraZeneca hingga tiba di Indonesia secara singkat:

  • Januari 2020: Pengembangan vaksin bermula ketika Jenner Institute di University of Oxford mulai mengerjakan pembuatan vaksin Covid-19.
  • Maret 2020: Oxford mulai menyaring relawan untuk menjalani pengujian vaksin pada manusia.
  • April 2020: Oxford menggandeng AstraZeneca untuk mengembangkan, membuat, dan mendistribusikan vaksin.
  • Mei-Juni 2020: Uji klinis vaksin dilakukan di Inggris, Brasil, dan Afrika Selatan.
  • Agustus 2020: Giliran Amerika Serikat menggelar uji klinis vaksin.
  • September 2020: Uji klinis terhadap manusia sempat ditangguhkan setelah seorang peserta mengalami reaksi yang merugikan.
  • Oktober 2020: Setelah investigasi, uji klinis berlanjut.
  • Januari 2021: Vaksin AstraZeneca mendapat izin edar di sejumlah negara.
  • Februari 2021: WHO memasukkan vaksin AstraZeneca dalam program vaksinasi darurat.
  • Maret 2021: Vaksin AstraZeneca tiba di Indonesia.
Baca Juga:  Tips Membawa Bayi Keluar Rumah di Tengah Pandemi Covid-19

 

Siapa Saja yang Bisa Mendapatkan Vaksin AstraZeneca?

Vaksin AstraZeneca telah terbukti efektif bagi masyarakat berumur 18 tahun ke atas, termasuk kalangan lanjut usia berusia 60 tahun ke atas. Namun saat ini banyak negara, termasuk Indonesia, membuat daftar prioritas vaksin karena jumlah vaksin yang terbatas. Negara-negara ini mengacu pada WHO Prioritization Roadmap dan WHO Values Framework untuk mengadakan vaksinasi sesuai dengan prioritas.

Vaksin Covid-19 direkomendasikan bagi masyarakat yang memiliki penyakit penyerta yang teridentifikasi dapat meningkatkan risiko sakit Covid-19 yang parah, seperti obesitas, penyakit kardiovaskular, diabetes, dan penyakit pernapasan. Orang yang pernah terinfeksi Covid-19 dapat menerima vaksin AstraZeneca, tapi disarankan menunggu hingga setidaknya enam bulan setelah infeksi demi orang lain yang lebih membutuhkan kekebalan terhadap Covid-19. Sebab, orang yang pernah sakit Covid-19 sudah memiliki antibodi secara alami.

Bagi ibu menyusui, WHO tidak merekomendasikan penghentian pemberian air susu ibu kepada bayi setelah vaksinasi. Adapun ibu hamil perlu berkonsultasi dulu dengan dokter kandungan sebelum menerima vaksin ini.

Adapun kelompok orang yang tidak direkomendasikan menerima vaksin Covid-19 antara lain:

  • Memiliki riwayat reaksi alergi yang parah terhadap komponen vaksin
  • Berusia di bawah 18 tahun (menunggu data uji klinis terbaru)
  • Mengalami alergi parah setelah menerima dosis vaksin pertama
  • Pernah alergi sesudah mendapat vaksin lain

 

Mengapa Kita Memerlukan Vaksin Covid-19?

Vaksin Covid-19 telah melewati evaluasi dalam uji klinis bertahap dan disetujui karena berbagai penelitian menunjukkan vaksin itu dapat secara signifikan mengurangi kemungkinan orang terjangkit virus corona. Selain menekan tingkat penularan, vaksin dapat mencegah orang menderita sakit yang serius ketika terkena virus. Dengan menerima vaksin, kita juga secara tidak langsung turut melindungi orang-orang di sekitar kita dari ancaman tertular virus. Terutama mereka yang memiliki risiko lebih besar mengalami sakit parah akibat Covid-19.

Vaksinasi Covid-19 sangat penting untuk menghentikan pandemi secara global. Tentunya dengan kombinasi 3M atau mencuci tangan, menjaga jarak, dan mengenakan masker. Vaksin lebih bersifat internal karena menyiapkan dan memicu sistem imun untuk melawan jika suatu saat terpapar virus corona. Bila pandemi bisa berhenti, dampaknya adalah kehidupan akan kembali normal, seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan banyak sektor lain yang selama pandemi terpukul.

 

Bagaimana Cara Kerja Vaksin AstraZeneca?

Vaksin AstraZeneca berbahan virus tak berbahaya, seperti adenovirus, yang telah dilemahkan sebagai pemantik sistem imun manusia. Virus vektor ini tidak dapat menyebabkan penyakit Covid-19. Adenovirus sendiri merupakan jenis virus yang lazim memicu demam biasa. Banyak jenis adenovirus dan banyak di antaranya telah digunakan sebagai bahan vaksin di seluruh dunia selama berpuluh-puluh tahun.

Baca Juga:  Benarkah Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Reinfeksi Covid-19?

Ketika seseorang mendapat vaksin covid-19, virus vektor dalam vaksin akan memproduksi protein mahkota (spike protein) SARS-CoV-2. Protein ini ditemukan pada permukaan virus yang dapat menyebabkan Covid-19. Selama proses ini, tubuh akan membangun respons sistem imun yang kuat melawan protein tersebut tanpa perlu membuat orang terpapar virus corona.

Vaksin Covid-19 diberikan dalam dua dosis secara terpisah pada lengan. Setiap dosis berisi 0,5 ml vaksin. Agar lebih efektif, setiap orang memerlukan dua dosis vaksin. Jarak pemberian dosis pertama dan kedua adalah 4-12 pekan. Dalam penelitian di sejumlah negara, vaksin AstraZeneca memiliki tingkat efektivitas lebih dari 62% dalam melawan penyakit Covid-19 dua pekan setelah dosis kedua.

 

Perbandingan Vaksin AstraZeneca dengan Vaksin Lainnya

Nama Vaksin Metode Efikasi Biaya
Sinopharm Inaktivasi virus corona 79,34% (Cina) dan 86% (Uni Emirat Arab) 200 yuan per dosis
AstraZeneca   

 

Hasil rekayasa genetika adenovirus 62,1% US$25-37 per dosis
Sinovac Inaktivasi virus corona 65,3% Sekitar Rp 200 ribu per dosis
Moderna

 

mRNA (molekul virus corona sintetis) 94,1% (Amerika Serikat) US$25-37 per dosis
Pfizer

 

mRNA (molekul virus corona sintetis) 95% (Amerika Serikat) US$19,5 per dosis

 

Efek Samping Vaksin Covid-19

Vaksin AstraZeneca tak ubahnya vaksin lain yang bisa menimbulkan reaksi. Reaksi yang muncul wajar dan bisa hilang tanpa penanganan khusus. Tapi  tetap ada kemungkinan efek samping yang lebih berat meskipun kecil. Dalam penelitian, orang yang menerima vaksin Covid-19 mengalami:

  • Kelelahan
  • Nyeri, bengkak, gatal pada lengan yang disuntik
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Nyeri sendi
  • Mual
  • Demam ringan
  • Kurang nafsu makan

Efek samping serius, seperti reaksi alergi parah, sangatlah jarang. Kemungkinannya 1 berbanding 100.000. Meski begitu, orang yang pernah menderita alergi parah setelah divaksin direkomendasikan tidak menerima vaksin ini dulu hingga ada riset lebih lanjut.

 

Bagaimana Mendapatkan Vaksin Covid-19?

Indonesia telah resmi menggunakan vaksin AstraZeneca untuk program vaksinasi massal. Vaksin ini baru tiba di Indonesia pada Maret 2021. Badan Pengawas Obat dan Makanan telah memberikan izin edar bagi vaksin AstraZeneca.

Untuk mendapatkan vaksin covid-19, masyarakat Indonesia bisa mengikuti program pemerintah. Untuk membantu pemerintah agar lebih banyak masyarakat mendapat perlindungan dari vaksin, Primaya Hospital membuka pre-registrasi vaksin Covid-19 melalui https://primayahospital.com/vaksin-covid-19/. Dengan banyaknya pilihan tempat vaksinasi, masyarakat bisa mendapat vaksin lebih mudah.

 

Ditinjau oleh:

dr. Rizky Andriani, Sp.P. FAPSR

Dokter Spesialis Paru

Primaya Hospital Bekasi Timur

 

Referensi:

https://www.hse.ie/eng/services/news/newsfeatures/covid19-updates/covid-19-vaccine-materials/important-information-about-covid19-vaccine-astrazeneca.pdf

https://www.who.int/news-room/feature-stories/detail/the-oxford-astrazeneca-covid-19-vaccine-what-you-need-to-know

illustrasi : Freepic

Bagikan ke :

Promo

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.