• Emergency
  • 150 108

Vaksin Sinopharm untuk Menangkal Virus Corona?

Vaksin Sinopharm untuk Menangkal Virus Corona

Penanganan pandemi Covid-19 membutuhkan respons menyeluruh dari segala elemen agar segera berhasil. Institusi kesehatan telah memainkan perannya dengan meneliti virus corona penyebab Covid-19 hingga menghasilkan beragam vaksin. Dari vaksin Sinopharm, Sinovac, hingga Pfizer, semua dihasilkan lewat riset yang mendalam.

Pemerintah lewat lembaga terkait pun telah menerbitkan izin penggunaan darurat (emergency use authorization) untuk sejumlah vaksin. Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) adalah lembaga yang berhak mengizinkan penggunaan vaksin. Setelah memakai vaksin Sinovac dalam vaksinasi massal, pemerintah berencana menggunakan vaksin Sinopharm dan lainnya untuk vaksinasi mandiri.


 

Mengenal Vaksin Sinopharm

Vaksin Sinopharm yang masuk rencana vaksinasi mandiri pemerintah adalah buatan perusahaan negeri Tiongkok. Terdapat dua tempat pengembangan vaksin ini, yakni di Beijing dan Wuhan. Nama resmi vaksin Sinopharm adalah BBIBP-CorV yang dikembangkan di Beijing Institute of Biological Products. Menurut data register di Cina, penelitian vaksin Sinopharm bermula pada April 2019.

Peneliti menggunakan virus corona yang telah diinaktivasi atau dimatikan dalam memproduksi vaksin Sinopharm. Teknologi serupa digunakan dalam penciptaan banyak vaksin terkemuka, termasuk polio dan rabies. Vaksin Sinovac bikinan Bio Farma juga menerapkan teknologi tersebut. Virus yang sudah mati dalam vaksin ini tidak bisa lagi menginfeksi manusia.

Virus corona yang dipakai dalam penciptaan vaksin Sinopharm berasal dari pasien Covid-19 di Wuhan, Cina. Pada 31 Desember 2020, Badan Administrasi Medis Nasional Cina mengumumkan persetujuan terhadap penggunaan vaksin Sinopharm. Selain di Cina, vaksin ini menjalani uji klinis di berbagai negara, seperti Uni Emirat Arab.

 

Siapa Saja yang Bisa Mendapatkan Vaksin Sinopharm?

Menurut panduan penggunaan vaksin Sinopharm dari otoritas Hong Kong, vaksin ini diperuntukkan bagi individu berusia 18-60 tahun, baik pria maupun wanita. Belum ada data uji klinis lengkap terhadap individu berusia 60 tahun ke atas, 18 tahun ke bawah, dan wanita hamil. Adapun pasien gangguan imun kronis bisa menerima, tapi efikasinya lebih rendah. Efikasi adalah kemampuan vaksin dalam memberikan manfaat bagi penerima vaksin.

Kelompok lain yang tidak direkomendasikan mendapat vaksin Sinopharm antara lain:

  • Sedang demam saat hendak mengikuti vaksinasi (boleh dijadwalkan ulang sesudah sembuh)
  • Pasien aktif Covid-19
  • Dengan gejala ringan bisa menerima vaksin setelah periode isolasi selesai
  • Pasien bergejala berat boleh divaksin hanya ketika kondisinya sudah stabil
  • Individu yang mengonsumsi obat-obatan imunosupresan harus menunggu 28 hari setelah terapi obat selesai
  • Penerima organ transplan boleh mendapat vaksin 3 bulan seusai transplantasi
  • Pasien kemoterapi bisa divaksin 28 hari sesudah kemoterapi terakhir
Baca Juga:  Gangguan Jantung Setelah Terinfeksi Covid-19

 

Mengapa Kita Memerlukan Vaksin Covid-19?

Vaksin terbuat dari virus yang telah dimatikan atau bagian virus yang inaktif (antigen) untuk memicu respons sistem imun di dalam tubuh. Adapun vaksin hasil pengembangan terbaru mengandung cetak biru (blueprint) produksi antigen. Terlepas dari apa pun bahannya, vaksin tidak dapat membuat individu yang menerimanya menjadi sakit. Sebaliknya, vaksin akan merespons sistem imun layaknya ketika terinfeksi virus yang sebenarnya.

Dengan begitu, sistem imun dapat mempelajari serangan infeksi virus itu. Bila kelak terjadi serangan, sistem imun dapat melawannya sehingga individu tersebut terhindar dari infeksi. Jikapun terjangkit, gejala pada si individu hanya ringan dan bisa lebih cepat pulih ketimbang yang belum mendapat vaksin.

Itulah sebabnya vaksin Covid-19 sangat diperlukan oleh semua lapisan masyarakat. Tingkat penularan penyakit ini tergolong tinggi. Vaksin akan melindungi kita dari ancaman penularan virus corona penyebab Covid-19. Selain itu, vaksinasi terhadap sebagian besar masyarakat bisa menciptakan herd immunity atau kekebalan kelompok. Artinya, potensi penularan dalam masyarakat tersebut lebih rendah karena sebagian besar warganya telah mendapat kekebalan dari vaksin.

 

Bagaimana Cara Kerja Vaksin Sinopharm?

Cara kerja vaksin Sinopharm seperti vaksin lain yang berbahan virus inaktif. Sistem imun dapat mengidentifikasi virus itu di dalam tubuh meski sudah tidak aktif. Tubuh lantas akan membuat respons dengan memproduksi antibodi yang sesuai dengan karakter virus tersebut.

Antibodi yang tercipta oleh tubuh setelah mempelajari virus corona inilah yang kelak dapat melawan infeksi Covid-19. Vaksin Sinopharm berasal dari sel Vero yang melalui proses pengolahan, inaktivasi, dan pemurnian. Peneliti mempelajari imunogenisitas, keamanan, dan perlindungan vaksin lewat serangkaian uji klinis terhadap hewan hingga manusia.

Vaksin Sinopharm diberikan lewat suntikan ke lengan dalam dua dosis. Jarak pemberian dosis pertama dan kedua kira-kira 21 hari.

 

Perbandingan Vaksin Covid-19

Pada dasarnya, semua vaksin Covid memiliki tujuan yang sama, yakni memberikan perlindungan bagi masyarakat terhadap risiko penularan virus corona. Namun setiap vaksin memiliki karakter tersendiri menyangkut metode, efikasi, dan biayanya. Hingga saat ini, data efikasi vaksin yang tersedia di Indonesia baru Sinovac dan AstraZeneca.

Baca Juga:  Metode Saliva, Seberapa Akurat Tes Saliva untuk Diagnosis Covid-19
Nama Vaksin Metode Efikasi Biaya
Sinopharm Inaktivasi virus corona 79,34% (Cina) dan 86% (Uni Emirat Arab)

 

200 yuan per dosis
AstraZeneca   

 

Hasil rekayasa genetika adenovirus 62,1% US$25-37 per dosis
Sinovac Inaktivasi virus corona 65,3% Sekitar Rp 200 ribu per dosis
Moderna

 

mRNA (molekul virus corona sintetis) 94,1% (Amerika Serikat) US$25-37 per dosis
Pfizer

 

mRNA (molekul virus corona sintetis) 95% (Amerika Serikat) US$19,5 per dosis

 

Efek Samping Vaksin Sinopharm

Semua vaksin wajar menimbulkan reaksi tertentu bagi orang yang menerimanya, termasuk vaksin Sinopharm. Tapi reaksi ini dalam batas normal dan bisa hilang sendiri, tidak sampai membuat individu yang mendapat vaksin jatuh sakit. Reaksi itu antara lain:

  • Nyeri dan bengkak pada lokasi yang disuntik
  • Tubuh lemas
  • Sakit kepala
  • Demam ringan

Beberapa orang malah hanya merasakan nyeri tanpa demam. Reaksi ini justru menjadi tanda bahwa vaksin telah bekerja dan ada respons dari tubuh berupa pengembangan antibodi. Karena vaksin Sinopharm diperuntukkan bagi virus corona jenis baru, penelitian masih berlangsung dan masih mungkin ada temuan-temuan baru seputar efek sampingnya.

 

Bagaimana Mendapatkan Vaksin Sinopharm?

Pemerintah berencana memasukkan vaksin Sinopharm dalam program Vaksinasi Gotong Royong. Program ini berupa vaksinasi mandiri bagi pegawai perusahaan. Artinya, pihak yang membayar vaksin adalah pengelola perusahaan terkait yang bekerja sama dengan rumah sakit atau fasilitas kesehatan lain sebagai pelaksana vaksinasi.

Rencana vaksinasi mandiri bagi masyarakat umum masih menjadi wacana. Rumah sakit swasta yang mampu melayani kebutuhan vaksinasi telah menyiapkan diri dengan membuka pre-registrasi vaksinasi Covid-19, termasuk Primaya Hospital melalui url : https://primayahospital.com/vaksin-covid-19/.

Pelaksanaan vaksin Covid-19 akan dilakukan setelah mendapat arahan dari pemerintah. Masyarakat umum dapat mendaftarkan diri agar mendapat antrean awal untuk menjalani vaksinasi jika kelak pemerintah membuka program vaksinasi masyarakat umum lewat rumah sakit swasta.

 

Ditinjau oleh:

drAnnisa Sutera Insani, Sp.P

Dokter Spesialis Paru

Primaya Hospital Bekasi Timur

 

Referensi:

https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/covid-19-vaccines

https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/covid-19-vaccines/explainers

https://www.who.int/news-room/feature-stories/detail/the-race-for-a-covid-19-vaccine-explained

https://www.nature.com/articles/d41586-020-03563-z

https://www.nih.org.pk/wp-content/uploads/2021/02/20210204-Guidelines-for-Sinopharm-Vaccine-_5702.pdf

http://www.sinopharm.com/en/s/1395-4173-38923.html

https://www.thelancet.com/pdfs/journals/laninf/PIIS1473-3099(20)30831-8.pdf

https://www.biospace.com/article/comparing-covid-19-vaccines-pfizer-biontech-moderna-astrazeneca-oxford-j-and-j-russia-s-sputnik-v/

Bagikan ke :

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.