• Emergency
  • 150 108

Varian Baru Covid-19, Mengapa Virus Corona Bisa Bermutasi?

Varian Baru Covid-19, Mengapa Virus Corona Bisa Bermutasi

Tak lama setelah SARS-CoV-2 terdeteksi di Cina, para peneliti mulai menganalisis sampel virus dan mengumumkan kode genetiknya. Salah satu temuan peneliti adalah mutasi virus penyebab penyakit Covid-19 tersebut. Para peneliti menggunakan hasil analisisnya untuk melacak penyebaran virus dan memperkirakan kapan pertama kali virus itu menginfeksi manusia. Hingga kini, varian baru Covid-19 hasil mutasi virus terus bertambah. Beberapa di antaranya menjadi perhatian utama Badan Kesehatan Dunia (WHO).

 


Apa itu Mutasi Virus?

Ketika menginfeksi manusia, suatu virus menempel pada sel, memasukinya, dan menggandakan RNA untuk menyebar ke seluruh tubuh si manusia. Tapi dalam penggandaan RNA ini bisa terjadi kesalahan sehingga RNA baru yang terbentuk berubah dari aslinya. Para ilmuwan menyebut hal itu sebagai mutasi. Mutasi ini terjadi secara acak dan tidak disengaja.

Virus dapat bermutasi secara terus-menerus. Seberapa sering mutasi terjadi tergantung jenis virus itu sendiri. Salah satu jenis virus yang sangat cepat bermutasi adalah virus influenza. Karena itulah para peneliti terus mengembangkan vaksin influenza untuk menanggulangi varian baru virus hasil mutasi. Namun, menurut penelitian, virus corona bermutasi empat kali lipat lebih lambat ketimbang influenza.

Salah satu faktor mutasi adalah perbedaan geografis. Varian virus di suatu negara bisa jadi berbeda dengan varian virus yang sama di negara lain. Jadi, walau terkesan menakutkan, varian baru Covid-19 hasil mutasi sebetulnya hal yang wajar dan sudah diprediksi. Peneliti akan menganalisis mutasi itu untuk melihat karakteristiknya guna menghasilkan penangkal yang tepat berupa vaksin.

 

Mengapa Virus Corona Bisa Bermutasi? Apa Penyebabnya

Layaknya seleksi alam pada makhluk hidup, virus juga mengalaminya. Virus secara teknis bukanlah makhluk hidup karena mereka butuh inang untuk dapat bereplikasi. Tapi virus juga tertekan oleh proses evolusi sehingga bisa berubah demi menyesuaikan diri, termasuk virus corona.

Sistem imun manusia menggunakan sejumlah taktik untuk melawan virus corona. Virus akan berusaha menghindari perlawanan sistem imun, menggandakan diri, dan menyebar ke manusia-manusia lain. Karakteristik yang membantu kelangsungan hidup virus itu umumnya bertahan saat terjadi penggandaan diri. Namun mutasi tidak selalu akan menghasilkan virus yang lebih kuat. Varian baru Covid-19 saat ini berjumlah sangat banyak karena hampir tiap pekan ditemukan mutasi baru.

Meski begitu, saat ini hanya beberapa varian baru yang menjadi perhatian utama (variants of concern) para tenaga medis di dunia, yakni B.1.1.7, B.1.351, dan P.1. Ada kemungkinan muncul varian baru Covid-19 yang juga butuh lebih banyak perhatian. Sebab, virus corona menyebar tak terkendali di seluruh dunia. Itu artinya ada potensi virus corona berevolusi menjadi virus yang lebih efisien, termasuk lebih menular, lebih mematikan, dan lebih sulit dilawan dengan vaksinasi.

Baca Juga:  Vaksin Booster : Efek Samping dan Cara Mengatasinya

 

Perbandingan Berbagai Varian Virus Corona

Dari berbagai varian baru Covid-19, ada tiga virus corona hasil mutasi yang masuk kategori variants of concern: B.1.1.7, B.1.351, dan P.1. Berikut ini perbandingannya:

B.1.1.7

Varian baru virus corona ini pertama kali terdeteksi pada September 2020 di Inggris. Yang menjadi perhatian adalah kecepatan penularannya yang tinggi dan kemungkinan pasien sakit lebih parah ketika terinfeksi. Varian ini telah menyebar ke lebih dari 90 negara di dunia, termasuk Indonesia. Varian B.1.1.7 sendiri teridentifikasi memiliki 23 mutasi yang berbeda-beda.

B.1.351

Afrika Selatan yang pertama kali melaporkan adanya varian baru Covid-19 dengan mutasi virus ini pada Oktober 2020. Para peneliti menemukan varian baru ini lebih cepat menular dan menyebar, juga ada kemungkinan mampu mengurangi efektivitas vaksin. Varian B.1.351 telah teridentifikasi di setidaknya 20 negara. Varian B.1.351 juga punya sejumlah mutasi lain, seperti K417N, E484K, N501Y.

P.1

Ditemukan pertama kali di Brasil pada 2020, varian baru virus corona ini juga menjadi perhatian khusus para ilmuwan. Sebab, seperti karakteristik varian B.1.351, varian P.1 dapat lebih cepat menular dan berpotensi mengurangi kemanjuran vaksin. Tercatat 25 negara sudah melaporkan temuan pasien Covid-19 dengan varian baru virus ini. Terdapat setidaknya 17 hasil mutasi baru varian virus P.1

Selain tiga varian baru Covid-19 itu, terdapat sejumlah varian dengan karakteristik mutasi masing-masing. Tabel di bawah ini hanya memuat beberapa contoh varian baru, masih ada banyak varian lain yang masih dalam penelitian.

 

Varian Negara Tempat Ditemukan Pertama Kapan Ditemukan Karakteristik Negara Tempat Penyebaran
B.1.1.207 Nigeria (pengurutan genome pertama) Agustus 2020 Lebih mudah menular dan menyebar Seluruh dunia
CAL.20C Amerika Serikat Juli 2020 Masih dalam penelitian Dominan di Amerika Serikat
Cluster 5 Denmark November 2020 Berpotensi mengurangi efek vaksin Denmark, diduga sudah punah
D614G Cina Januari 2020 Lebih cepat menular Seluruh dunia

 

Siapa Saja yang Berisiko Terinfeksi Varian Baru Covid-19?

Sejauh ini, penelitian terhadap berbagai varian baru Covid-19 tidak menemukan perbedaan mengenai siapa saja yang berisiko terinfeksi. Orang yang paling berisiko terinfeksi adalah mereka yang tidak menaati protokol kesehatan 3M:

  • Mencuci tangan dengan rutin menggunakan sabun dan air mengalir atau penyanitasi tangan
  • Menjaga jarak minimal 2 meter
  • Mengenakan masker

Adapun orang yang tergolong rentan mengalami sakit parah ketika terinfeksi Covid-19 adalah mereka yang memiliki daya tahan tubuh lemah, antara lain:

  • Lansia berusia 60 tahun ke atas
  • Memiliki penyakit penyerta, seperti diabetes, penyakit paru-paru, dan penyakit jantung, kanker
  • Penyakit infeksi yang menyebabkan kinerja sistem imun menurun (HIV,dll)
Baca Juga:  Vaksin Corona Untuk Anak, Perlukah? Ini Menurut CDC

 

Bagaimana Cara Mendeteksi Varian Baru Covid-19?

Para peneliti mendeteksi varian baru Covid-19 dengan teknik mengurutkan genome virus (genetic sequencing) dari sampel pasien. Teknik ini membutuhkan waktu yang lama di laboratorium dengan standar khusus. Pasien Covid-19 sendiri tidak bisa langsung mengetahui varian virus apa yang menginfeksi berdasarkan gejala yang dialami.

 

Apa yang Harus Dilakukan Jika Terinfeksi Varian Baru Covid-19?

Perawatan terhadap pasien terinfeksi Covid-19 memiliki standar penatalaksanaan yang sesuai standar protokol penanganan infeksi Covid19 oleh Kementerian Kesehatan RI dan World Health Organization (WHO) terlepas dari apa varian virus yang menginfeksinya. Sebab, varian tersebut menyebabkan gejala yang ditimbulkan sama, walaupun dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Beberapa varian memang diduga lebih mematikan ketimbang varian lain sehingga butuh penanganan ekstra. Namun temuan itu masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

 

Cara Mencegah Penularan Virus Corona

Penularan virus corona masih tak terkendali di banyak negara. Masyarakat tetap perlu waspada agar tidak turut terjangkit. Terlebih telah ada temuan varian baru Covid-19 yang tingkat penularannya lebih tinggi dan berpotensi lebih mematikan. Cara mencegah penularan varian baru virus corona ini sama saja dengan sebelum-sebelumnya, yaitu dengan 3M.

Para ahli epidemiologi dan tenaga kesehatan tak henti mengimbau masyarakat agar menaati 3M dengan disiplin. Sebisa mungkin hindari tempat yang ramai oleh kerumunan orang. Gunakan masker dengan benar hingga menutup wajah. Jika memungkinkan, kenakan masker medis. Masker kain bisa digunakan asalkan bukan yang berbahan scuba. Lalu sering-seringlah mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, terutama setelah menyentuh barang di tempat umum.

Dalam pandemi ini, perilaku manusia sangatlah penting. Makin banyak orang terinfeksi, makin besar kesempatan virus corona bermutasi hingga makin banyak tercipta varian baru Covid-19. Ujungnya, para peneliti harus bekerja lebih keras untuk menganalisis varian itu guna menemukan karakteristiknya, termasuk mendeteksi kemampuannya dalam melawan vaksin Covid-19 yang saat ini telah mulai digunakan.

 

Narasumber:

dr. Muhammad Irhamsyah, Sp.PK, M.Kes

Dokter Spesialis Patologi Klinik

Primaya Hospital Bekasi Timur

 

Referensi:

https://www.who.int/csr/don/31-december-2020-sars-cov2-variants/en/

https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/transmission/variant.html

Bagikan ke :

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.