• Emergency
  • 150 108

Varian Alpha B.1.1.7 Virus Corona, Apa Gejalanya?

Varian Alpha B.1.1.7 Virus Corona, Apa Gejalanya

Virus bermutasi sepanjang waktu, termasuk SARS-CoV-2 yang menyebabkan pandemi Covid-19. Mutasi virus adalah hal yang biasa dan sebenarnya tak selalu berbahaya. Namun ada kalangan mutasi menghasilkan virus varian baru yang lebih canggih. Varian alpha B.1.1.7 dari virus corona, misalnya. Virus ini disebut-sebut memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibanding virus corona yang asli.

Virus alpha B.1.1.7 masuk daftar Variant of Concern yang diterbitkan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Bersama varian delta, varian alpha mampu menyebar lebih cepat dan bahkan menghindari antibodi sehingga menghadirkan risiko dan tantangan yang lebih besar dalam penanganan pandemi Covid-19.


 

Mengenal Varian Alpha B.1.1.7 Covid-19

Varian alpha B.1.1.7 adalah salah satu varian hasil mutasi virus corona yang awal. Beberapa varian tidak menunjukkan risiko yang lebih besar sehingga tak menjadi perhatian utama para peneliti. Namun tidak demikian dengan varian alpha, yang telah resmi masuk daftar Variant of Concern. Daftar ini memuat varian yang telah terbukti mengakibatkan peningkatan penularan, keparahan penyakit, berkurangnya efek antibodi, penurunan efektivitas vaksin atau obat, atau kegagalan deteksi diagnostik.

WHO mengumumkan daftar Variant of Concern sebagai panduan bagi otoritas kesehatan publik di setiap negara bahwa ada peningkatan risiko dari varian tersebut. Menurut laporan penelitian di BioRxiv, Amerika Serikat, varian alpha B.1.1.7 yang berasal dari Inggris diduga lebih mudah menular karena mengandung mutasi yang membuat virus lebih mampu beradaptasi untuk menggagalkan sistem kekebalan bawaan manusia. Setidaknya varian ini mampu melawan atau menghindari sistem imun cukup lama sehingga virus punya cukup waktu untuk menggandakan diri dan menemukan inang baru.

Dalam penelitian itu, periset dari University of California San Francisco yang berkolaborasi dengan koleganya dari University College, London, mengembangkan sel dari jalur pernapasan manusia dan menginfeksinya dengan varian alpha. Hasilnya, mereka menemukan  sel tersebut menghasilkan sangat sedikit interferon, yakni protein yang memicu pertahanan dalam sistem imun.

 

Gejala Varian Alpha B.1.1.7 Covid-19

Menurut berbagai penelitian, gejala orang yang terinfeksi varian alpha B.1.1.7 tak jauh berbeda dengan pasien Covid-19 dari varian lain. Gejala yang paling umum termasuk:

  • Batuk terus-menerus
  • Demam
  • Kehilangan daya penciuman dan perasa

Dalam penelitian Imperial College London terhadap lebih dari 1 juta orang di Inggris di mana varian alpha menjadi varian yang mendominasi penularan, ada beberapa gejala lain yang muncul. Di antaranya menggigil, kehilangan selera makan, nyeri otot, dan sakit kepala.

Baca Juga:  Terapi Plasma Konvalesen untuk Pasien Covid-19

 

Asal Penyebaran Varian Alpha B.1.1.7 Covid-19

Kasus positif pertama dengan infeksi dari varian alpha B.1.1.7 kemungkinan besar terjadi pada pertengahan September 2020 di London atau Kent, Inggris. Pada pertengahan Desember 2020, lebih dari 1.100 kasus varian alpha teridentifikasi di hampir 60 wilayah di Inggris. Kasus paling banyak didapati di wilayah tenggara Inggris. Varian serupa terdeteksi pula di Wales dan Skotlandia.

Pada Desember itu, diperkirakan hampir 60 persen kasus positif di London dipicu varian alpha. Pada Januari 2021, jumlah kasus terkonfirmasi dan probabel Covid-19 dengan varian tersebut melonjak menjadi lebih dari 28.000. Pemerintah Inggris lantas menerapkan lockdown untuk mencegah penularan meluas.

Varian alpha B.1.1.7 juga sempat menjadi varian yang dominan dalam infeksi Covid-19 di Amerika Serikat. Kini varian tersebut dilaporkan telah ditemukan di lebih dari 170 negara di seluruh dunia menurut WHO, termasuk di Indonesia.

 

Deteksi Varian Alpha B.1.1.7 Covid-19

Virus adalah parasit mikroskopis yang tak bisa bertahan di luar tubuh inangnya. Sebagai organisme hidup, virus berukuran lebih kecil dari bakteri. Namun virus juga memiliki asam deoksiribonukleat (DNA) dan asam ribonukleat (RNA) yang menyusun identitas mereka. Layaknya manusia, DNA dan RNA antara satu virus berbeda dengan virus lain. Identitas inilah yang ditelusuri untuk mendeteksi suatu varian virus, termasuk varian alpha B.1.1.7.

Untuk dapat mendeteksi suatu varian virus, peneliti akan mengurutkan gugus kromosom atau genom virus tersebut. Proses pengurutan yang memakan waktu lama ini dilakukan di laboratorium dengan peralatan khusus dan tenaga yang telah terlatih. Hasil pengurutan akan dilihat dan dibandingkan dengan data genome virus yang telah terdeteksi dari seluruh dunia. Bila tidak ada kesamaan dengan data itu, besar kemungkinan virus yang diteliti tersebut merupakan varian baru.

 

Pengobatan Covid-19

Sampai saat ini, protokol tata laksana untuk pasien Covid-19 tidak dibedakan antara varian satu dan varian lain. Protokol yang disusun Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, serta Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia ini merupakan pedoman bagi tenaga kesehatan dalam merawat pasien Covid-19 sesuai dengan kondisi dan gejala pasien masing-masing.

Baca Juga:  Rekomendasi Jenis Olahraga di Tengah Pandemi Covid-19

Pedoman itu disusun sesuai dengan perkembangan penanganan pandemi Covid-19 di seluruh dunia. Dengan demikian, pedoman selalu diperbarui bila ada temuan baru. Dalam revisi terbaru versi Juli 2021, misalnya, pasien tak lagi mendapat obat azitromisin dan oseltamivir karena keduanya dipandang tak berdampak pada kesembuhan pasien.

 

Pencegahan Covid-19

Tindakan pencegahan untuk mencegah penularan varian alpha B.1.1.7 sama dengan virus penyebab Covid-19 yang asli. Langkah pertama adalah mendapat vaksin dengan dosis lengkap. Vaksin berfungsi mencegah atau mengurangi risiko terjangkit penyakit. Orang yang telah divaksin lebih kecil kemungkinannya tertular virus corona daripada tanpa vaksin.

Upaya pencegahan juga termasuk protokol kesehatan ketat, yakni:

  • Menjaga jarak minimal 1,5 meter dengan orang lain yang tidak tinggal serumah
  • Mengenakan masker dengan benar
  • Mencuci tangan sering-sering dengan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer

Meski telah divaksin, protokol kesehatan tak lantas bisa ditinggalkan. Tetap disiplin menerapkan protokol tidak hanya akan melindungi diri dari tertular virus, tapi juga orang lain di sekitar kita.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 tidak selalu membutuhkan perawatan oleh dokter di rumah sakit. Pasien non-gejala atau bergejala ringan cukup menjalani isolasi mandiri di rumah atau fasilitas yang disediakan pemerintah. Pasien harus ke dokter hanya jika mengalami perburukan gejala, termasuk:

  • Demam lebih dari 37 derajat Celsius tak turun-turun
  • Sakit tenggorokan
  • Napas pendek
  • Batuk terus-terusan
  • Diare
  • Sakit kepala
  • Kehilangan daya penciuman dan perasa

Demikian pula bagi pasien yang memilik penyakit penyerta yang bisa membuat gejala makin buruk.

 

Ditinjau oleh:

dr. Zikanovelia, Sp.P

Dokter Spesialis Paru

Primaya Hospital Bhaktiwara

 

Referensi:

https://www.who.int/en/activities/tracking-SARS-CoV-2-variants/

https://www.cmaj.ca/content/193/27/E1059

Bagikan ke :

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.