Cardiac Resynchronization Therapy (CRT) untuk Pasien Gagal Jantung

Cardiac Resynchronization Therapy (CRT) untuk Pasien Gagal Jantung

Angka kasus gagal jantung Indonesia terus naik dari tahun ke tahun. Pusat Jantung Nasional Harapan Kita sebagai pusat rujukan penyakit jantung mencatat peningkatan jumlah pasien gagal jantung berusia di bawah 50 tahun yang mesti menjalani rawat inap. Banyak faktor yang memicu peningkatan prevalensi gagal jantung, seperti masih tingginya prevalensi penyakit jantung koroner serta infeksi pada jantung dan katup jantung. Dari sederet opsi penanganan pasien gagal jantung tersebut, cardiac resynchronization therapy atau terapi resinkronisasi jantung kerap menjadi pilihan.

 

Mengenal Cardiac Resynchronization Therapy (CRT)

Prinsip penanganan pasien gagal jantung adalah bertujuan memperbaiki kualitas dan memperpanjang usia hidup. Pengobatan bisa menjadi cara penanganan pasien, tapi dalam kondisi tertentu, harapan hidup pasien tak bisa naik hanya dengan obat-obatan. Pada saat itulah dokter dapat menerapkan CRT.

Pasien gagal jantung mengalami kelainan kontraksi ventrikel kanan dan kiri jantung. Ventrikel adalah bilik jantung yang berperang dalam fungsinya memompa darah ke seluruh tubuh. Dalam CRT, dokter menanamkan perangkat elektronik kecil lewat pembedahan untuk membantu kedua ventrikel berkontraksi berbarengan (sinkron) sehingga jantung berfungsi secara normal. Perangkat CRT kadang disebut alat pacu jantung biventrikular.

Baca Juga:  Sudden Cardiac Arrest, Kematian Jantung Mendadak yang Tidak Mengenal Usia

 

Siapa yang Memerlukan Cardiac Resynchronization Therapy (CRT)

Dokter spesialis jantung biasanya menerapkan CRT pada pasien yang menunjukkan gejala gagal jantung sedang hingga berat dengan risiko gangguan irama jantung cepat, tak beraturan, dan mengancam jiwa. Terapi ini tidak efektif pada orang yang tidak memiliki gejala gagal jantung atau gejalanya ringan. Terapi resinkronisasi ini juga tidak cocok bagi pasien yang belum sepenuhnya mendapat terapi obat-obatan untuk penyakitnya. Hingga saat ini, CRT terbukti efektif baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Secara umum, dokter dapat merekomendasikan cardiac resynchronization therapy karena:

  • Menderita gejala gagal jantung sedang hingga berat
  • Ventrikel tidak bekerja secara sinkron
  • Hasil pemeriksaan menunjukkan jantung lemah atau terjadi pembengkakan
  • Obat-obatan dan perubahan gaya hidup tidak cukup efektif untuk mengendalikan gagal jantung

 

Mengapa Memerlukan Cardiac Resynchronization Therapy (CRT)

Pasien gagal jantung tidak selalu memerlukan cardiac resynchronization therapy. Terdapat beberapa kriteria bagi pasien yang dinilai perlu menjalani terapi tersebut. Dokter pertama-tama akan memeriksa fraksi ejeksi pasien. Bila hasil pengukuran di bawah 35 persen, pasien itu mungkin membutuhkan terapi resinkronisasi.

Baca Juga:  6 Cara Mencegah Henti Jantung Mendadak

Dokter juga harus memastikan gerakan ventrikel jantung tidak sinkron. Sebab, orang memerlukan CRT untuk kembali menyinkronkan gerakan ventrikel dan otot jantung sehingga pasokan darah ke semua organ tubuh tak tersendat. Karena itu, dokter akan menjalankan pemeriksaan dengan echocardiography dan electrocardiography terlebih dahulu.

 

Prosedur Cardiac Resynchronization Therapy (CRT)

Pasien gagal jantung mesti menjalani serangkaian pemeriksaan dan terapi obat-obatan serta perubahan gaya hidup dulu sebelum bisa memanfaatkan cardiac resynchronization therapy. Prosedur pemasangan alat CRT tergantung kondisi pasien, bisa sebagai pasien rawat jalan ataupun rawat inap.

Selama prosedur pemasangan alat, pasien sadar tapi mendapat obat penenang agar rileks dan terkantuk. Dokter hanya akan membuat bagian tubuh tempat masuknya alat mati rasa, biasanya pada pangkal paha. Tim dokter memantau jantung serta tekanan darah dan level oksigen sepanjang prosedur.

Baca Juga:  Bibir Bayi Warna Biru, Apakah Tanda Penyakit Jantung?

Untuk memasukkan alat CRT, dokter membuat sayatan kecil di pangkal paha. Alat yang terdiri atas seperangkat baterai dan kabel itu ditempatkan ke jantung lewat pembuluh darah. Guna menuntun alat tepat ke jantung, dokter menggunakan sinar-X.

Dokter lantas mengetes alat itu dengan impuls listrik. Pasien mungkin akan merasa jantungnya berdegup kencang. Setelah alat sudah pasti berada di posisi yang tepat, dokter memasukkan alat pacu jantung cardiac resynchronization therapy yang dihubungkan dengan kabel tadi dan menutup sayatan.

 

Ditinjau oleh:

dr. Darwin Maulana, Sp.JP

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

Primaya Hospital Makassar

 

Referensi:

https://www.heart.org/en/health-topics/heart-failure/treatment-options-for-heart-failure/cardiac-resynchronization-therapy-crt

https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/cardiac-resynchronization-therapy/pyc-20385014

https://www.nature.com/articles/nrcardio.2014.67

https://www.hopkinsmedicine.org/health/treatment-tests-and-therapies/cardiac-resynchronization-therapy

https://heart.bmj.com/content/103/24/2000

Bagikan ke :