• Emergency
  • 150 108

Gangguan Jantung Setelah Terinfeksi Covid-19

Gangguan Jantung Setelah Terinfeksi Covid-19

Sebagian besar orang dengan infeksi virus COVID-19 kondisinya membaik dalam beberapa minggu setelah sakit, namun beberapa orang mengalami kondisi pasca-COVID. Kondisi pasca-COVID adalah berbagai masalah kesehatan baru, kembali, atau berkelanjutan yang dapat dialami orang empat minggu atau lebih setelah pertama kali terinfeksi virus penyebab COVID-19. Bahkan orang yang tidak memiliki gejala COVID-19 dalam beberapa hari atau minggu setelah terinfeksi dapat memiliki kondisi pasca-COVID.

 


Masalah Jantung Akibat Infeksi Covid-19

Bagi orang yang pernah terkena COVID-19, masalah jantung akibat infeksi Covid-19 yang berkepanjangan dapat mempersulit pemulihannya. Beberapa gejala yang umum antara lain jantung berdebar, pusing, nyeri dada, dan sesak napas, mungkin disebabkan oleh masalah jantung atau akibat infeksi COVID-19 itu sendiri.

 

Benarkah Covid-19 Bisa Sebabkan Penyakit Jantung?

COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus corona SARS-CoV-2, dapat merusak otot jantung dan mempengaruhi fungsi jantung. Sel-sel di jantung memiliki reseptor Angiotensin Converting Enzyme-2 (ACE-2), tempat virus corona menempel sebelum memasuki sel. Kerusakan jantung juga bisa disebabkan oleh tingginya tingkat peradangan yang beredar di dalam tubuh. Saat sistem kekebalan tubuh melawan virus, proses peradangan dapat merusak beberapa jaringan sehat, termasuk jantung.

Infeksi virus corona juga mempengaruhi permukaan bagian dalam pembuluh darah vena dan arteri, yang dapat menyebabkan peradangan pembuluh darah, kerusakan pada pembuluh darah yang sangat kecil (kapiler), dan pembekuan darah, yang semuanya dapat mengganggu aliran darah ke jantung atau bagian tubuh lainnya.

Baca Juga:  Persiapan Sebelum Operasi Katup Jantung

Keluhan mudah lelah sering terjadi setelah infeksi virus corona, sama seperti setelah penyakit serius lain. Banyak orang mengalami sesak napas, nyeri dada, atau jantung berdebar. Salah satu dari masalah ini bisa berhubungan dengan jantung, tapi bisa juga karena faktor lain, termasuk setelah sakit parah, tidak aktif dalam waktu lama dan menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk pemulihan di tempat tidur.

 

Apa yang Harus Saya Lakukan?

Setelah Anda menderita COVID-19, jika Anda mengalami detak jantung yang cepat atau jantung berdebar, Anda harus segera berkonsultasi ke dokter. Peningkatan sementara detak jantung dapat disebabkan oleh banyak hal, termasuk dehidrasi. Pastikan Anda minum cukup cairan, terutama jika Anda demam. Gejala irama jantung yang cepat atau tidak teratur mungkin termasuk merasa jantung Anda berdetak cepat atau tidak teratur di dada Anda (palpitasi), merasa pusing terutama saat berdiri, maupun rasa tidak nyaman di dada.

Seseorang yang pulih dari infeksi virus corona terkadang menunjukkan gejala kondisi yang dikenal sebagai POTS (sindrom takikardia ortostatik postural). POTS sebenarnya secara langsung bukan merupakan masalah jantung, tetapi masalah neurologis yang mempengaruhi bagian sistem saraf yang mengatur detak jantung dan aliran darah. Sindrom ini dapat menyebabkan detak jantung yang cepat ketika Anda berdiri, yang dapat menyebabkan kelelahan, dada berdebar,maupun pusing.

Sesak napas tidak selalu merupakan tanda masalah serius, tetapi jika muncul bersamaan dengan kadar O2 yang rendah (di bawah 92%), hal ini perlu dikhawatirkan .Kadang-kadang orang sesak napas setelah beraktivitas setelah COVID-19 karena mereka sudah lama tidak aktif dan perlu secara bertahap membangun kembali tingkat kebugaran mereka.

Baca Juga:  Jantung Berdetak Lebih Lambat Dari Biasanya, Berbahayakah?

Bagaimana dengan nyeri dada yang berkepanjangan, keluhan umum pasca-COVID lainnya? Nyeri dada mungkin tidak serius, tetapi jika Anda mengalami nyeri dada yang parah, segera konsultasi ke dokter, terutama jika terus-menerus atau jika Anda juga mengalami mual, sesak napas, atau pusing. Hal ini bisa merupakan gejala serangan jantung. Jika Anda mengalami nyeri dada saat menarik napas, Anda mungkin mengalami radang paru-paru, sementara nyeri dada yang berat bisa merupakan tanda adanya bekuan darah di paru-paru (emboli paru).

Seseorang yang pulih dari COVID-19 dapat mengambil manfaat dari terapi fisik, latihan pernapasan, dan yang terpenting, waktu. Siapapun yang pulih dari COVID-19 harus mengharapkan pemulihan bertahap, dan tidak boleh mengharapkan kembalinya cepat ke tingkat aktivitas normal mereka. Akan tetapi, jika mengalami gejala – gejala berat seperti yang sudah disebutkan di atas, segeralah konsultasi ke dokter terdekat.

 

Narasumber

dr. Addiena Primawati, Sp.JP-FIHA

 

Illustrasi : Freepic

Bagikan ke :

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.