• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Kenali Gejala Amenorea, Kondisi Saat Melewatkan Periode Haid

Kenali Gejala Amenorea, Kondisi Saat Haid Berhenti yang Perlu Diwaspadai

Saat seorang wanita melewatkan satu atau lebih periode haid atau menstruasi, maka itu disebut sebagai amenorrhea. Gejala amenorea sendiri cukup beragam, demikian pula dengan penyebab yang mendasarinya.

Umumnya, amenorea bukanlah gejala penyakit serius. Namun, tanpa perawatan yang tepat, hal ini bisa menjadi tanda dari suatu kondisi kelainan pada tubuh. Segera kunjungi dokter bila Anda melewatkan beberapa periode menstruasi dalam rentang waktu 3 bulan atau lebih.

buat jani dokter primaya

 

Apa itu Amenorea?

Amenorea (Amenorrhea) atau dalam bahasa medis sering disebut sebagai amenore adalah kondisi ketika Anda tidak mengalami periode menstruasi (haid). Kondisi ini merupakan hal normal pada wanita yang sedang hamil, menyusui, sebelum pubertas, atau saat memasuki masa menopause.

Namun, selain di luar kondisi tersebut maka masuk dalam gejala yang tidak normal dan justru bisa jadi tanda akan penyakit tertentu.

Ada dua jenis amenore yang terbagi berdasarkan gejalanya. Yakni:

  • Amenore Primer: saat wanita sudah berusia di atas 15 tahun namun belum haid walaupun telah muncul tanda seks sekunder seperti payudara yang tumbuh dan tumbuhnya rambut pubis. Kondisi ini terjadi hanya pada 0,1 – 2,5% wanita di usia reproduksi di seluruh dunia.
  • Amenore Sekunder: bila sebelumnya si wanita punya kondisi siklus haid yang normal namun tiba-tiba tidak menstruasi selama 3 periode atau lebih berturut-turut. Kondisi ini lebih kerap terjadi dibandingkan amenore prime.

 

Kondisi Amenorea (Amenorrhea)
Gejala Utama Haid yang berhenti selama 3 periode atau lebih
Dokter Spesialis Dokter spesialis kandungan dan kebidanan
Penyebab Utama Stres, riwayat keluarga, penyakit kronik
Diagnosis Anamnesis, histeroskopi, USG, cek kadar FSH
Faktor Risiko Genetik, BB yang tidak ideal, penyakit kronis, diet ekstrem
Pencegahan Pola hidup sehat, cek kadar kalsium, cek kadar vitamin D
Komplikasi Masalah kesuburan, osteoporosis

Faktor Risiko Amenore

Menurut Cleveland Clinic, diketahui bahwa 1 dari 4 wanita usia subur yang tidak sedang hamil atau menyusui pernah setidaknya sekali mengalami amenore. Jadi, kondisi ini terbilang gejala yang normal. Namun, ada beberapa faktor risiko yang menyebabkan seseorang terkena kondisi ini seperti:

  • Genetik (riwayat keluarga)
  • Gangguan makan
  • Stres
  • Kondisi obesitas (kegemukan)
  • Berat badan terlalu rendah
  • Diet ekstrem
  • Olahraga ekstrem
  • Penyakit kronis
Baca Juga:  Bagaimana Cara Ibu Hamil dan Menyusui Tetap Fit Saat Puasa?

Penyebab

Untuk melihat apa saja penyebabnya, maka kita dapat membaginya berdasarkan jenisnya yakni:

1. Amorea Primer

  • Kelainan kromosom seperti sindrom Turner
  • Masalah pada organ reproduksi wanita
  • Gangguan pada pituitary gland atau pada otak

2. Amorea Sekunder

  • Kehamilan
  • Menyusui
  • Menopause
  • Penggunaan pil KB
  • Kemoterapi bagi penderita kanker
  • Stres berlebih
  • Kekurangan nutrisi
  • Olahraga ekstrem
  • Diet ekstrem
  • Obat-obatan tertentu
  • Kegemukan
  • Beberapa jenis tumor
  • Sindrom iritasi usus besar
  • Gangguan ginjal
  • Gangguan tiroid

Gejala Amenorea

Ada beberapa gejala amenorea yang tampak pada wanita yang sedang mengalaminya seperti halnya:

  • Tidak haid
  • Nyeri kepala
  • Rambut rontok
  • Nyeri panggul
  • Keluar cairan dari puting
  • Gangguan mata
  • Munculnya jerawat
  • Tumbuh bulu halus wajah

Komplikasi

Tak hanya gejala amenorea saja yang wajib diwaspadai, namun juga komplikasi yang mungkin membahayakan kesehatan seperti:

  • Osteoporosis akibat level estrogen dalam tubuh yang terlampau r endah
  • Ketidaksuburan karena tidak adanya ovulasi sehingga tidak bisa hamil

Cara Dokter Mendiagnosa

Banyak metode yang digunakan untuk mengetahui gangguan berhentinya haid pada wanita. Berikut ini di antaranya:

  • Tes Tiroid: mengukur level TSH (Hormon Perangsang Tiroid) dalam darah mengingat gangguan tiroid menjadi penyebab utama amenore.
  • Tes Androgen: mengecek tingkat androgen dalam darah yang biasa dilakukan bersamaan dengan tes tiroid.
  • Pencitraan MRI: penggunaan alat resonansi magnetik pada otak untuk mengetahui kelainan kelenjar hipotalamus dan kelenjar hipofisis.
  • Tes Ovarium: pengecekan fungsi ovarium dengan cara mengukur level FSH (Hormon Perangsang Folikel) dalam darah.
  • Tes Prolaktin: berguna untuk mengukur kadar hormon prolaktin yang bisa jadi pertanda akan adanya tumor pituitari.
  • CT Scan: melakukan tomografis komputer pada panggul maupun perut untuk melihat kondisi indung telur dan kelainan pada rahim.
  • Tes USG: pengecekan dengan metode ultrasonografi untuk melihat secara rinci penyebab akan amenore.
Baca Juga:  Vagina Kering, Bahayakah untuk Ibu Hamil dan Perkembangan Janin?

Pencegahan

Pencegahan dapat dilakukan dengan beberapa macam upaya seperti halnya:

  • Menjalankan pola hidup sehat
  • Selalu jaga pola makan
  • Hindari diet ekstrem
  • Hindari olahraga ekstrem
  • Istirahat yang cukup
  • Catat periode haid secara rutin

Pengobatan

Dokter akan melakukan beberapa perawatan dan pengobatan dengan beberapa metode di bawah ini:

  • Pemberian obat-obatan sesuai dengan gejala penyakit yang mendasarinya
  • Operasi dan terapi hormon apabila penyebabnya berasal dari genetik
  • Olahraga dan diet sehat bagi pasien yang memiliki obesitas (kegemukan)

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan ke dokter spesialis kandungan dan kebidanan apabila Anda tidak haid selama periode 3 bulan atau lebih. Kunjungi dokter spesialis genetika apabila amenorea yang Anda dapatkan berasal dari riwayat keturunan keluarga.

Kunjungi juga dokter apabila memiliki masalah seperti berikut ini:

  • Mengeluarkan ASI padahal tidak sedang mau melahirkan
  • Masalah pada koordinasi dan keseimbangan tubuh
  • Usia di atas 15 tahun namun belum pernah haid
  • Gangguan penglihatan diiringi pusing
  • Rambut yang tumbuh secara berlebih

Demikianlah rincian singkat tentang gejala amenorea beserta penyebab dan kapan waktu yang tepat untuk berkunjung ke dokter.

 

Narasumber:

dr. Nenny Yoanitha, Sp. OG

Spesialis Kebidanan dan Kandungan

Primaya Hospital Betang Pambelum

Referensi:

  • https://familydoctor.org/condition/amenorrhea/. Diakses pada 03 Oktober 2023.
  • https://www.nichd.nih.gov/health/topics/amenorrhea. Diakses pada 03 Oktober 2023.
  • What Is Amenorrhea?. https://www.webmd.com/infertility-and-reproduction/absence-periods. Diakses pada 03 Oktober 2023.
  • https://www.endocrine.org/patient-engagement/endocrine-library. Diakses pada 03 Oktober 2023.
  • https://www.merckmanuals.com/professional/gynecology-and-obstetrics/menstrual-abnormalities/amenorrhea. Diakses pada 03 Oktober 2023.
  • Everything You Need to Know About Amenorrhea. https://www.healthline.com/health/amenorrhea. Diakses pada 03 Oktober 2023.
  • Amenorrhea: Absence of Periods. https://www.acog.org/womens-health/faqs/amenorrhea-absence-of-periods. Diakses pada 03 Oktober 2023.
  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/3924-amenorrhea. Diakses pada 03 Oktober 2023.
  • Secondary Amenorrhea. https://www.healthline.com/health/secondary-amenorrhea. Diakses pada 03 Oktober 2023.
  • https://www.nichd.nih.gov/health/topics/amenorrhea. Diakses pada 03 Oktober 2023.
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/amenorrhea/symptoms-causes/syc-20369299. Diakses pada 03 Oktober 2023.
  • Infertility FAQs. http://www.cdc.gov/reproductivehealth/infertility/. Diakses pada 03 Oktober 2023.

 

Share to :

Buat Janji Dokter

Promo

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.