• Emergency
  • 150 108
  • Chatbot

Penumpukan Air Ketuban, Dampaknya pada Perkembangan Janin?

Penumpukan Air Ketuban, Dampaknya pada Perkembangan Janin

Air ketuban dan perkembangan janin adalah dua hal yang berkaitan erat dalam masa kehamilan. Selama ini, banyak yang menyangka hanya jumlah air ketuban yang kurang yang membahayakan bagi perkembangan janin. Padahal air ketuban yang menumpuk berlebihan juga demikian. Dalam dunia medis, kondisi ini disebut polihidramnion.

 


Mengenal Polihidramnion

Polihidramnion adalah penumpukan berlebihan air ketuban (cairan di sekitar janin dalam kandungan pada masa kehamilan). Air ketuban berfungsi mencegah janin mengalami cedera sekaligus memberinya ruang untuk bergerak dan tumbuh.

Cairan ini terdiri atas komponen penting seperti nutrisi, hormon, dan antibodi yang dapat menangkal infeksi pada janin dalam kandungan. Namun, jika jumlah air ketuban di dalam rahim terlalu banyak atau terlalu sedikit, bisa terjadi komplikasi pada kehamilan.

Pada umumnya, jumlah air ketuban paling banyak saat usia kehamilan sekitar 36 minggu. Volume ini menurun seiring dengan makin dekatnya hari perkiraan lahir. Polihidramnion terbilang jarang terjadi dengan angka kasus 1-2 persen dari total kehamilan di seluruh dunia. Meski demikian, kondisi ini bisa berujung pada gangguan perkembangan janin, bahkan kematian.

Seringnya polihidramnion terjadi dalam kadar ringan dan dipicu menumpuknya air ketuban sedikit demi sedikit setelah trimester pertama kehamilan. Polihidramnion ringan tidak menunjukkan gejala yang spesifik hingga cairan terus bertambah banyak hingga menumpuk.

Bagi ibu hamil dan janin dalam kandungan, ada risiko besar dari polihidramnion, seperti

  • Kantong ketuban pecah
  • Bayi lahir prematur
  • Bayi lahir meninggal

Polihidramnion bisa mengakibatkan komplikasi yang membahayakan kehamilan dan perkembangan janin. Bila dokter mendiagnosis bunda mengalaminya, dokter akan lebih saksama memantau kehamilan guna menghindari komplikasi. Pada umumnya, polihidramnion dalam kadar ringan bisa sembuh tanpa penanganan khusus.

Dokter akan memeriksa kondisi janin dan ibu hamil dengan cermat untuk menentukan perawatan yang tepat. Dokter antara lain perlu melihat seberapa besar penumpukan air ketuban di dalam rahim dan menilai risikonya terhadap keselamatan janin dan ibu.

Baca Juga:  Pemeriksaan USG 4D: Cara Kerja, Manfaat, Kapan USG 4D Diperlukan

 

Gejala Polihidramnion

Ketika jumlah air ketuban berlebih, timbul tekanan dalam rahim terhadap organ lain di sekitarnya. Tekanan ini menimbulkan gejala polihidramnion. Bila kadarnya ringan, gejala polihidramnion pun minimal. Gejala lebih sering muncul jika air ketuban sudah sangat berlebihan. Contohnya:

  • Sesak napas atau sulit bernapas
  • Bagian bawah perut membengkak
  • Perut terasa tidak nyaman
  • Sembelit atau susah buang air besar
  • Jarang buang air kecil
  • Pembengkakan pada vulva (bagian atas kelamin)

 

Penyebab Polihidramnion

Hingga kini, belum diketahui penyebab pasti polihidramnion. Beberapa faktor yang bisa menyebabkan penumpukan air ketuban antara lain:

  • Cacat lahir yang mempengaruhi saluran gastrointestinal atau sistem saraf pusat
  • Hamil kembar dengan salah satu janin menerima darah lebih banyak daripada janin lain
  • Kekurangan sel darah marah pada janin
  • Darah ibu dan janin tidak kompatibel
  • Infeksi kehamilan
  • Diabetes maternal

Dari sejumlah faktor itu, diabetes maternal atau diabetes pada masa kehamilan yang berpengaruh pada janin adalah penyebab polihidramnion paling umum.

 

Deteksi Polihidramnion

Dokter akan curiga ibu mengalami polihidramnion yang berdampak pada perkembangan janin bila melihat pembengkakan pada bagian bawah perut. Ada sejumlah cara untuk mendeteksi air ketuban yang menumpuk. Pertama-tama, dokter akan melakukan ultrasonografi (USG) untuk melihat kondisi janin menggunakan gelombang suara.

Bila dari USG ini ada tanda polihidramnion, dokter harus menjalankan tes lain untuk menegakkan diagnosis. Dokter akan mengukur volume air ketuban. Bila volumenya 8 sentimeter atau lebih, kemungkinan besar ibu mengalami polihidramnion.

Tes tambahan untuk memastikan diagnosis termasuk:

  • Tes darah: untuk mengecek adanya infeksi yang berhubungan dengan polihidramnion
  • Amniosentesis: prosedur untuk mengecek sampel air ketuban di laboratorium, antara lain untuk memeriksa kromosom

 

Pengobatan Polihidramnion

Umumnya, polihidramnion ringan tidak memerlukan penanganan medis secara khusus bila dirasa tidak mempengaruhi perkembangan janin. Perawatan diperlukan bila gejala muncul terus-menerus dan parah, terutama rasa nyeri pada perut dan kesulitan bernapas.

Baca Juga:  Ketuban Pecah Dini, Apa yang Perlu Dipersiapkan?

Opsi perawatan ibu hamil yang mengalami polihidramnion meliputi:

  • Mengeluarkan cairan dengan amniosentesis: dokter memasukkan jarum ke uterus untuk mengeluarkan air ketuban yang berlebih. Ada risiko kecil komplikasi dan kelahiran prematur.
  • Pengobatan: bergantung pada riwayat kesehatan janin dan ibu, dokter bisa meresepkan obat-obatan untuk mengurangi urine yang dikeluarkan janin. Dengan begitu, air ketuban tidak bertambah terlalu banyak. Ada risiko muntah dan mual. Kondisi janin juga perlu dipantau dengan cermat.

Kebanyakan kasus polihidramnion tak memerlukan perawatan karena gejalanya hanya ringan. Perawatan untuk pasien mencakup pemantauan intensif guna memastikan kondisi ibu dan janin baik-baik saja, termasuk perkembangan janin, hingga tiba waktunya persalinan.

Perawatan juga bisa dilakukan dengan menangani masalah kesehatan yang mendasari polihidramnion, terutama diabetes. Ibu akan diminta mengelola kadar gula darah agar tidak tinggi, misalnya dengan mengurangi asupan makanan dan minuman yang mengandung banyak glukosa. Obat diabetes juga mungkin dibutuhkan sesuai dengan anjuran dokter.

 

Pencegahan Polihidramnion

Karena penyebab polihidramnion tidak jelas, tidak ada pula cara tertentu untuk mencegah masalah ini. Ibu hamil hanya bisa mewaspadai kondisi medis yang bisa memicu penumpukan air ketuban, khususnya diabetes. Cara pencegahan terbaik adalah selalu memeriksakan kehamilan secara rutin.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Gejala polihidramnion sering tidak terasa sehingga ibu hamil sulit segera mengetahui bila mengalami masalah ini. Ibu sebaiknya segera mendatangi dokter tanpa menunggu jadwal rutin pemeriksaan kandungan bila:

  • Demam lebih dari 38 derajat Celsius
  • Tiba-tiba mengalami keram perut
  • Ada cairan keluar dari vagina
  • Mengalami kontraksi terus-menerus
  • Gerakan janin berkurang

Bila ada masalah ini, dokter bisa mendeteksi penyebabnya sejak dini dan dapat segera memberikan penanganan demi mencegah komplikasi pada perkembangan janin.

 

Ditinjau oleh:

dr. Ismu S. Djatmiko, Sp.OG

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan

Primaya Hospital Sukabumi

 

Referensi:

https://www.nhs.uk/conditions/polyhydramnios/

https://www.msdmanuals.com/professional/gynecology-and-obstetrics/abnormalities-of-pregnancy/polyhydramnios

Bagikan ke :

Promo

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.