• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Halusinasi: Tanda Gejala dan Tips Mengatasinya

halusinasi

lam percakapan generasi milenial baik secara langsung maupun di medsos sering disebut istilah ‘halu’ bila ada komunikasi yang tampak meracau atau bertingkah di luar nalar. Istilah Halu di sini adalah kependekan dari halusinasi, yang sebenarnya merupakan salah satu kondisi medis yang memerlukan perhatian karena mungkin berkaitan dengan penyakit tertentu yang serius.

Apa sebenarnya pengertian dari halusinasi?

Halusinasi adalah persepsi yang salah terhadap objek atau peristiwa yang melibatkan indra seseorang. Dengan kata lain, halusinasi merupakan pengalaman sensorik melalui persepsi indra yang dialami seseorang tanpa adanya rangsangan eksternal yang sebenarnya.

buat jani dokter primaya

Jadi seseorang dikatakan berhalusinasi bila orang tersebut bisa merasakan, melihat,meraba, menghidu atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Halusinasi bisa terjadi melibatkan salah satu atau beberapa indra dari panca Indra manusia.

Halusinasi sendiri dalam bahasa Latin berarti “berkelana secara mental”. Dengan kata lain, pikiran

individu yang mengalami kondisi ini seolah-olah berjalan-jalan dalam lingkungan yang sejatinya tidak

nyata karena terbentuk oleh pikiran itu sendiri.

Gejala

  • Gejalanya bervariasi, tergantung indra mana yang terpengaruh oleh kondisi ini. Contohnya:
  • Melihat bayangan, sosok, atau objek lain yang tak ada
  • Mendengar suara seperti bisikan atau obrolan orang lain yang tak nyata
  • Merasa seolah-olah disentuh sesuatu
  • Mencium aroma yang tak dicium oleh orang-orang di sekitarnya
  • Mengecap rasa yang tak terkait dengan makanan yang dikonsumsi

Intensitas gejala ini bervariasi, dari ringan hingga parah, bisa muncul secara acak ataupun ketika dalam kondisi tertentu. Durasinya pun bisa lama ataupun sebentar. Selain itu, pengalaman halusinasi bisa membuat orang merasa lebih stres dan cemas meski masih memiliki kesadaran terhadap realitas di sekitarnya.

 Gangguan jiwa apa saja yang dapat mengalami halusinasi?

Dalam ilmu psikiatri adanya halusinasi menjadi salah satu gejala penting untuk mendiagnosis bahwa seseorang menderita gangguan jiwa berat. Yang  dimaksud dengan gangguan jiwa berat atau psikosis adalah suatu kondisi dimana seseorang tidak mampu membedakan kenyataan (realistis) dengan khayalan (non realistis).

Pada kondisi psikosis selain adanya halusinasi dapat juga ditemukan delusi serta gangguan suasana perasaan dan gangguan isi pikir lainnya.

Baca Juga:  Manfaat Tertawa untuk Kesehatan Jantung

Gangguan psikiatrik yang sering terdapat gejala halusinasi di antaranya:

  • Gangguan psikosis seperti skizofrenia serta gangguan psikosis akibat penggunaan narkotika, psikotropika maupun alcohol.
  • Kondisi medis tertentu, seperti epilepsi, demensia, Parkinson, demam tinggi dan tumor otak yang menimbulkan tekanan signifikan pada otak
  • Gangguan suasana hati, terutama depresi berat yang berkaitan dengan rasa putus asa atau kehilangan serta gangguan bipolar

Selain itu kadangkala individu yang masih mampu menyadari realita dapat juga mengalami halusinasi, biasanya bersifat singkat dan sementara, misal :

  • Orang yang mengalami gangguan pendengaran atau penglihatan
  • Pengalaman traumatis seperti post-traumatic stress disorder (PTSD)
  • Kurang tidur
  • Dampak anestesi setelah operasi
  • Isolasi sosial
  • Penyakit terminal seperti kanker otak, gagal hati, dan HIV/AIDS

Halusinasi yang dialami oleh seseorang akibat penggunaan narkoba mungkin awalnya mendatangkan kesenangan atau ketenangan sementara. Selanjutnya sifat adiktif dari narkoba membuat pengguna menjadi kompulsif dalam menggunakan narkoba dan pada akhirnya akan menimbulkan berbagai masalah yang lebih serius selain risiko terjadinya gangguan jiwa berat.

Gejala halusinasi yang menetap dalam jangka waktu lama cukup berbahaya bila tidak ditangani dengan tepat, sebab akan mempengaruhi kemampuan menilai realita. Akibatnya mampu mendorong orang tersebut untuk melakukan hal yang di luar kewajaran bahkan dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Bagaimana menilai

Untuk mendiagnosis halusinasi, dokter perlu mengetahui riwayat kesehatan mental dan fisik pasien

serta faktor lain yang berpengaruh. Selain itu, dokter akan melakukan serangkaian langkah seperti

berikut :

  • Menilai gejala yang dialami pasien lewat prosedur tanya-jawab atau wawancara psikiatrik
  • Mengevaluasi kesehatan mental secara menyeluruh untuk mengecek apakah ada masalah yang mengarah pada gangguan jiwa tertentu
  • Tes darah, urine dan pemeriksaan laboratorium lain yang diperlukan
  • Wawancara dengan anggota keluarga atau sahabat terdekat tentang perubahan sikap dan perilaku pasien
  • Pemeriksaan dengan menggunakan tes psikologis tertentu kadang dibutuhkan untuk memastikan diagnosis dan menentukan Tingkat keparahan gejala

Cara Mengatasi

Penanganan halusinasi bergantung dari penyebabnya. Jika dokter sudah memastikan penyebab itu,

dokter akan menentukan langkah penanganan yang tepat. Adapun cara yang umum untuk mengatasi

Baca Juga:  Makanan untuk Mengobati Stres, Apa Saja?

halusinasi meliputi:

  • Psikoterapi untuk membantu pasien mengenali dan mengendalikan faktor pemicu halusinasi  dan menentukan strategi yang tepat guna mengatasi gejalanya
  • Pemberian obat-obatan psikofarmaka untuk mengatasi dan menekan halusinasi serta gejala psikiatrik lain  yang dialami
  • Manajemen stres, misalnya lewat terapi relaksasi, meditasi, atau yoga untuk menekan risiko tekanan mental yang bisa memperburuk gejala halusinasi
  • Dukungan sosial dari lingkungan terdekat untuk menunjang pemulihan dan pengendalian gejala halusinasi
  • Pemantauan kondisi kesehatan secara berkala guna memastikan efektivitas pengobatan dan penyesuaian dosis obat bila perlu
  • Perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat, termasuk menghindari penyalahgunaan narkoba

Komplikasi

Halusinasi umumnya menjadi pertanda adanya gangguan atau kondisi kesehatan tertentu yang

membutuhkan penanganan medis psikiatrik. Bila dibiarkan tanpa perawatan, bisa timbul komplikasi seperti:

  • Gangguan terhadap rutinitas sehari-hari, termasuk dalam bekerja, belajar, serta menjalin relasi sosial
  • Merasa terisolasi secara sosial dan rendah diri karena tak dipercayai oleh orang sekitar
  • Kesulitan membedakan kenyataan dari hal yang tidak nyata
  • Depresi dan gangguan kecemasan
  • Kesulitan berkomunikasi atau merespons stimulus dari lingkungan sekitar, termasuk orang-orang terdekat, sehingga terjadi ketegangan dalam hubungan dan  komunikasi
  • Mempengaruhi seseorang untuk melakukan hal yang di luar kewajaran bahkan dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Pencegahan

Ada setidaknya empat cara untuk mencegah halusinasi:

  • Memelihara kesehatan mental dengan menjalani gaya hidup sehat dan aktif serta mencari dukungan emosional dan menghindari lingkungan yang merugikan secara mental
  • Manajemen stres lewat terapi relaksasi atau lainnya demi mengantisipasi tekanan yang bisa memicu halusinasi
  • Tidak menggunakan zat berbahaya seperti narkotika, psikotropika atau alcohol
  • Menjalani terapi psikologis bila ada pengalaman traumatis yang berpotensi mendatangkankondisi yang dapat menyebabkan halusinasi

Kapan sebaiknya mendapatkan pengobatan?

Halusinasi bisa menyebabkan kesulitan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Karena itu, bila merasa ada gejalanya dan memiliki faktor risiko, sebaiknya segera datangi dokter / psikiater untuk berkonsultasi dan mendapat penanganan lebih lanjut.

 

Narasumber:

dr. Esther Margaritha Livida Sinsuw, Sp. KJ

Spesialis Kedokteran Jiwa

Primaya Hospital Depok

Bagikan ke :

Buat Janji Dokter

Promo

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.