Pengobatan Minimal Invasif Untuk Pembesaran Tiroid Jinak Dengan Radio Frekuensi Ablasi (RFA) di Primaya Hospital

Pengobatan Minimal Invasif Untuk Pembesaran Tiroid Jinak Dengan Radio Frekuensi Ablasi (RFA) di RS Awal Bros, RS Awal Bros Tangerang

Jakarta, 24 Oktober 2018 – Penyakit tiroid adalah masalah umum yang menyebabkan ketidakseimbangan hormon tiroid dalam tubuh. Saat ini banyak penderita tiroid atau kanker tiroid yang memiliki angka harapan hidup yang tinggi dengan pengobatan yang tepat pada waktu yang tepat. Pembesaran kelenjar tiroid yang terletak di leher sering ditemukan dengan pemeriksaan Ultrasonografi (USG) berkisar antara 33%-68% pada orang dewasa. Biasanya tanpa gejala dan tidak dirasakan oleh pasien. Sebagian besar bersifat jinak dan tidak membutuhkan pengobatan khusus. Jika sudah ada gejala penekanan, tanda-tanda keracunan tiroid seperti gemetar, berdebar-debar, keringat berlebihan, berat badan turun drastis, gelisah atau masalah kosmetik maka pasien biasanya baru meminta pertolongan dokter.

Primaya Hospital Tangerang memiliki pusat layanan Diabetes dan Tiroid untuk menegakkan diagnosa dan terapi kasus diabetes dan tiroid secara komprehensif. Seiring dengan hadirnya inovasi di bidang teknologi medis, penanganan masalah kesehatan, seperti tiroid kini dapat ditangani dengan teknik minimal invasif. Tindakan modern ini dilakukan tanpa sayatan. Dengan tindakan ini, pasien dapat pulih lebih cepat sehingga menjadi pilihan alternatif tindakan yang lebih nyaman untuk pasien. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Sub Spesialis Endokrin dan Penyakit Metabolik Primaya Hospital Tangerang dr. Rochsismandoko, Sp.PD-KEMD, FACE mengatakan bahwa saat ini sudah dikembangkan tindakan minimal invasif tanpa operasi untuk menghilangkan pembesaran kelenjar tiroid jinak seperti Percutaneous Ethanol Injection Ablation (PEIA), Percutaneous Laser Ablation (PLA) dan Radio Frequency Ablation (RFA). PEIA digunakan untuk menghilangkan kista tiroid yang berisi cairan, sedangkan PLA dan RFA untuk pembesaran yang bersifat solid/padat. FRA pertama kali dilakukan di Korea sejak tahun 2006 dan diterima diseluruh dunia sejak tahun 2012. “Dengan metode RFA pembesaran tiroid dapat berkurang antara 47.7% sampai 96.9%,”ujar dokter Rochsismandoko.

Baca Juga:  Bahaya Polusi Udara Bagi Kesehatan Paru

Persiapan untuk tindakan RFA pasien sebelumnya dilakukan pemeriksaan fisik, skrining USG leher, pengambilan contoh darah untuk menilai faktor pembekuan darah, gula darah, fungsi tiroid dan lainnya jika dibutuhkan. Untuk menentukan apakah pembesaran kelenjar tiroid bersifat jinak atau ganas dibutuhkan biopsi dengan jarum halus (FNAB/Fine Needle Aspiration Biopsy). Prosedur RFA tidak membutuhkan sayatan dan hanya menggunakan pembiusan lokal, sehingga pasien lebih nyaman, aman dan persiapan untuk tindakan juga jauh lebih sederhana. “Pada metode ini sebuah elektroda dimasukkan ke dalam leher dengan bimbingan USG sampai mencapai tumor di dalam kelenjar tiroid, kemudian dialirkan energi termal yang dibangkitkan melalui generator listrik frekuensi tinggi untuk merusak struktur tumor. Lama tindakan kurang lebih 1 jam dengan masa observasi setelah tindakan antara 10-12 jam. “Efek samping yang mungkin terjadi adalah rasa nyeri, panas atau bengkak dileher yang sebagian besar akan sembuh sendiri tanpa memerlukan obat,” jelas dokter Rochsismandoko.

Baca Juga:  Ayo Kenali Gejala Depresi

Beberapa keuntungan Radio Frekuensi Ablasi antara lain:

  •  Biaya lebih rendah dibandingkan operasi
  •  Aman dan nyaman
  •  Tanpa sayatan
  •  Hanya anestesi lokal
  •  Masa pemulihan lebih cepat
  •  Komplikasi paska tindakan minimal

Direktur Primaya Hospital Tangerang dr. Elizabeth MH.Kes mengatakan bahwa Primaya Hospital d/h Rumah Sakit Awal Bros sebagai Rumah Sakit terpercaya dan terbesar di Indonesia selalu memberikan sistem
pelayanan yang terbaik dan mutu berkualitas. Dengan tenaga ahli yang memiliki kompetensi terbaik
dibidangnya dan mumpuni sehingga masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan berstandar
internasional.
“Primaya Hospital Tangerang adalah salah satu dari 3 rumah sakit di Indonesia yang dapat
melakukan tindakan RFA. Primaya Hospital terus berkomitmen untuk menghadirkan layanan
kesehatan yang mengutamakan kebutuhan pasien, didukung dengan berbagai teknologi baru untuk
penanganan yang lebih cepat, tepat, dan mengutamakan kenyamanan dan keselamatan pasien.”ujar
dokter Elizabeth.

Baca Juga:  Solusi Bedah yang Lebih Baik untuk si Buah Hati

Primaya Hospital mampu memberikan layanan kesehatan yang menyeluruh untuk masyarakat Indonesia dan warga negara asing (WNA), layanan pasien dengan jaminan Asuransi/BPJS/KIS, Primaya Hospital diharapkan mampu memberikan solusi kesehatan bagi masyarakat. Info lebih lanjut, dapat mengunjungi website kami di https://www.primayahospital.com

Sekilas Profil Dr. Rochsismandoko, Sp.PD-KEMD,FACE
dr. Rochsismandoko, Sp.PD-KEMD,FACE adalah Dokter Spesialis Penyakit Dalam Sub Spesialis Endokrin dan Penyakit Metabolik Primaya Hospital Tangerang.

Riwayat Pendidikan

  •  Dokter Umum, FK UNSRI 1984
  •  Dokter Spesialis Pneyakit Dalam, FK UNSRI 1994
  •  Konsultan Endokrin dan Metabolik, FK UI 2009
  •  Fellow American Clinical of Endocrinologist, 2016

Organisasi

  • Ketua I Perkumpulan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI)
  • Ketua Wilayah Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) Provinsi Banten
  • Anggota IDI, PAPDI, PERKENI, PUSKI, HISOBI, AACE
Bagikan ke :