Akurasi Antibodi Sebagai Komponen Utama Pemeriksaan Screening Covid-19

Jakarta, 4 Juli 2020 – Banyak masyarakat yang sudah memahami bahwa untuk mencegah virus menyerang tubuh, setiap manusia harus memiliki sistem imun yang kuat. Namun, banyak dari mereka yang belum paham, seperti apa sistem imun kita bekerja di dalam tubuh? dr. Muhammad Irhamsyah, Sp.PK, M.Kes, Dokter Spesialis Patologi Klinik Primaya Hospital Bekasi Timur memberikan penjelasan detail terkait dengan cara kerja sistem imun di dalam tubuh.

Di dalam tubuh manusia terdapat sistem pertahanan untuk melindungi diri dari berbagai benda asing. Benda asing tersebut biasanya bersifat patogen atau mikroorganisme parasit. Sistem pertahanan tubuh tersebut disebut sistem imun.

Menurut dr. Muhammad Irhamsyah, Sp.PK, M.Kes, Dokter Spesialis Patologi Klinik Primaya Hospital Bekasi Timur, pada dasarnya, sistem imun terdiri dari seluruh sel, jaringan, dan organ yang membentuk sebuah  imunitas berupa kekebalan tubuh terhadap infeksi atau suatu penyakit. Terdapat beberapa fungsi dari sistem imun yaitu diantaranya sebagai penangkal benda asing yang masuk ke dalam tubuh sehingga dapat menjaga keseimbangan fungsi tubuh. Sistem imun juga dapat mendeteksi adanya sel-sel yang tidak normal, termutasi, atau ganas dan kemudian sistem imun akan segera menghancurkannya.

Terdapat banyak molekul kecil di sekitar lingkungan kita yang berpotensi masuk ke dalam tubuh. Molekul kecil tersebut bisa menjadi Antigen (berupa bakteri, virus, atau bahan kimia tertentu) bila melekat pada protein tubuh kita. Molekul kecil tersebut bisa berubah menjadi Antigen yang dikenal dengan istilah hapten. “Hapten merupakan molekul kecil bagian dari Antigen yang dapat mengaktifkan Antibodi apabila bergabung dengan pembawa yang memiliki molekul besar, seperti protein,” ujar dr. Muhammad Irhamsyah, Sp.PK, M.Kes, Dokter Spesialis Patologi Klinik Primaya Hospital Bekasi Timur.

Antibodi merupakan sebuah senjata yang tersusun dari protein dan berfungsi untuk melawan sel-sel asing yang masuk ke dalam tubuh. Senjata ini diproduksi oleh sel-sel B yang diumpamakan sebagai pejuang dalam sistem kekebalan tubuh. Antibodi memiliki dua fungsi utama yaitu untuk mengikatkan diri kepada sel-sel musuh yaitu Antigen dan untuk membusukkan struktur biologi Antigen tersebut hingga menghancurkan Antigen tersebut.

“Antibodi akan mengikatkan diri kepada bakteri dan virus penyebab penyakit. Kemudian, Antibodi akan menandai molekul-molekul asing tempat mereka mengikatkan diri sehingga sel pejuang tubuh dapat membedakan molekul asing tersebut sekaligus melumpuhkannya,” ujar dr. Muhammad Irhamsyah, Sp.PK, M.Kes., Dokter Spesialis Patologi Klinik Primaya Hospital Bekasi Timur.

Tubuh manusia mampu memproduksi berbagai Antibodi yang sesuai dengan musuh (Antigen) yang akan dihadapinya. Jika terdapat benda asing yang masuk, maka tubuh menciptakan Antibodi khusus yang cukup kuat untuk menghadapi benda asing tersebut.

Terdapat empat jenis Antibodi yaitu Immunoglobulin A (IgA), Immunoglobulin B (IgB), Immunoglobulin M (IgM), dan Immunoglobulin G (IgG). Pemeriksaan Antibodi IgA biasanya dilakukan oleh dokter untuk mendiagnosis gangguan pada sistem imunitas tubuh manusia. Pemeriksaan Antibodi IgE dilakukan untuk mendeteksi penyakit alergi dan infeksi parasit.

Lalu, apa itu IgM dan IgG yang digunakan untuk mendeteksi Covid-19? dr. Muhammad Irhamsyah, Sp.PK, M.Kes mengatakan bahwa tubuh akan memproduksi Antibodi IgM saat seseorang pertama kali terinfeksi bakteri atau virus sebagai bentuk pertahanan pertama tubuh dalam melawan infeksi. Kadar IgM akan meningkat dalam waktu tiga hingga empat belas hari saat terjadi infeksi dan kemudian kadar IgM akan menurun dan digantikan oleh Antibodi IgG yang akan muncul pada hari ke tujuh hingga lima belas sampai infeksi tersebut hancur atau musnah. Maka dari itu, hasil pemeriksaan IgM dengan nilai yang tinggi dianggap sebagai tanda adanya infeksi yang aktif.

“Dalam hal pemeriksaan screening Covid-19, terdapat dua metode serologi pemeriksaan Antibodi yang digunakan. Metode pertama yaitu melalui metode tetes spesimen darah yang dikenal dengan nama Rapid Test Antibodi. Metode kedua yaitu pemeriksaan kadar Antibodi terhadap covid-19 melalui alat mesin yang canggih dengan prinsip ECLIA (Electrochemiluminenscence Immunoassay) menggunakan pancaran cahaya untuk deteksi Antibodi spesifik terhadap Covid-19,” ujar dr. Muhammad Irhamsyah, Sp.PK, M.Kes.

dr. Muhammad Irhamsyah, Sp.PK, M.Kes. menambahkan bahwa sebenarnya keduanya termasuk dalam Rapid Test dan kedua metode tersebut sama-sama menggunakan spesimen darah dalam melakukan pengecekkan Antibodi. Kedua metode tersebut juga memiliki cara kerja penentuan adanya virus yaitu dengan mencampurkan Antigen virus (dalam hal ini Antigen spesifik Covid-19) sebagai pemicu peningkatan Antibodi yang ada di spesimen darah manusia.

Dalam alat obat tetes, Antigen dan spesimen darah disatukan dan jika seseorang terserang virus tertentu, maka akan terjadi peningkatan kadar Antibodi yang ditunjukkan dengan munculnya tanda garis pada alat. Pemeriksaan screening Covid-19 menggunakan alat tetes ini harus dilakukan secara berkala untuk memastikan saat yang tepat ketika Antibodi IgG terbentuk di dalam tubuh (biasanya pada hari ke-7 seseorang terpapar Covid-19). Hasil pemeriksaan ini dikeluarkan sangat cepat hanya dalam waktu 1 jam dan laporan pemeriksaan laboratorium bisa dikirimkan kepada pasien dalam waktu 1×24 jam. Pemeriksaan yang dikenal dengan nama Rapid Test Antibodi IgG dan IgM ini menggunakan metode immunochromatography dan menggunakan sample serum dan plasma.

Sedangkan, pemeriksaan kadar Antibodi spesifik  Covid-19 menggunakan mesin sensitivitasnya lebih tinggi (bisa hingga 100%) karena di dalam mesin akan terjadi proses pencucian sehingga hanya tersisa komponen Antibodi yang akan menempel bersama label pewarna terhadap Antibodi spesifik Covid-19. Namun, hasil pemeriksaan ini membutuhkan waktu hingga maksimum 1×24 jam sehingga laporan pemeriksaan dapat diberikan pasien dalam waktu 2×24 jam. Pemeriksaan yang dikenal dengan nama pemeriksaan Serologi ini menggunakan metode immunochemiluminescent ini dikerjakan di alat mesin Immunology dan sample yang dipakai dari darah serum.

——-

Primaya Hospital Group adalah Rumah Sakit yang menyediakan standar pelayanan prima yang mengutamakan mutu keselamatan pasien. Hal tersebut tercermin dari telah terakreditasinya Primaya Hospital Group tingkat nasional oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) dan dua dari rembilan  rumah sakit kami telah terakreditasi internasional oleh Joint Commission International (JCI). Kami memberikan layanan kesehatan yang menyeluruh untuk masyarakat Indonesia dan warga negara asing (WNA) serta memberikan layanan pasien dengan jaminan Perusahaan/Asuransi/BPJS/KIS dengan teknologi terbaik. Untuk menjangkau kebutuhan kesehatan masyarakat. Primaya Hospital Group tersebar di wilayah dan kota-kota besar di Indonesia dengan lokasi strategis dan mudah diakses sehingga kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan dapat terpenuhi dengan baik. Kami memiliki layanan unggulan bagi para pasien yaitu pusat layanan jantung dan pembuluh darah, layanan ibu dan anak, layanan trauma, serta layanan kanker. Primaya Hospital Group memiliki fasilitas pelayanan yang lengkap diantaranya layanan Gawat Darurat, Radiologi, Laboratorium, dan Farmasi yang hadir selama 24 jam. Selain itu, kami memiliki area parkir yang luas, ruang edukasi pasien, ruang poli yang nyaman, ruang laktasi, area bermain di Poli Anak, ATM Center, Musholla, WiFi untuk keluarga pasien, kantin, dan area lobi.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi:

Hanie Dewita (Hanie)                                                          

Head of Marketing and Corporate Communication

Primaya Hospital Group

Email  : hanie.dewita@primayahospital.com

Bagikan ke :