Henti Jantung (Sudden Cardiac Arrest) Bisa dihindari, Bagaimana Caranya?

Jakarta, 6 Mei 2020 –  Sudden Cardiac Arrest (SCA) adalah kondisi jantung berhenti bekerja dan berkontraksi sehingga tidak ada aliran darah yang cukup untuk menghidupi otot jantung dan organ vital lainnya. dr. Ivan Noersyid, Sp.JP, Dokter Spesialis Jantung Primaya Hospital Bekasi Timur memberikan informasi lengkap terkait kondisi henti jantung sebagai berikut.

Pada dasarnya, jantung dilengkapi dengan sistem listrik yang berfungsi untuk membangkitkan implus-implus yang menyebabkan timbulnya kontraksi otot jantung. Henti jantung dapat terjadi dalam kondisi jantung tidak bekerja namun masih terdapat aliran listrik. “Hal tersebut dapat terjadi karena gangguan irama atau beberapa faktor lainnya. Jadi, kontraksi jantungnya bergetar saja namun jantung tidak memompa aliran darah,” ujar dr. Ivan Noersyid, Sp.JP.

Tidak semua pasien yang mengalami henti jantung akan meninggal dunia. Henti jantung harus melalui beberapa proses. Menurut dr. Ivan Noersyid, Sp.JP, tahapan henti jantung dimulai dari kematian otot-otot jantung. “Setiap 4 menit, bagian-bagian otot jantung di dalam tubuh akan mengalami kematian. Semakin lama penanganan seseorang yang mengalami henti jantung, maka akan semakin banyak otot jantung yang mengalami kematian. Jika seseorang mengalami henti jantung namun tidak dilakukan tindakan medis lebih lanjut, maka orang tersebut dapat mengalami kematian,” ujar dr. Ivan Noersyid, Sp.JP.

Seseorang yang mengalami henti jantung, dibuktikan dengan tidak teraba nadi karotis, akan dilakukan pengecekkan irama jantung melalui Elektokardiogram (EKG). Terdapat dua kondisi irama jantung yang terlihat dari hasil EKG yaitu (1) kondisi irama asistol berupa aris datar atau dengan kata lain irama jantungnya datar (tidak berirama) dan irama pulseless electrical activity (PEA) dan (2) kondisi irama seperti garis seperti rumput (ventrikular takikardi atau fibrilasi).

Untuk pasien dengan kondisi irama jantung asistol atau PEA, maka pasien akan dilakukan tindakan Resusitasi Jantung Paru yaitu tindakan pertolongan pertama pada orang yang mengalami henti napas karena sebab-sebab tertentu. “Hal yang dilakukan adalah kompresi dinding dada (pemompaan jantung dari dinding luar dada), pemberian nafas baik melalui alat bantuan pernafasan, pemberiam cairan atau obat,” ujar dr. Ivan Noersyid, Sp.JP. Proses Resusitasi Jantung Paru untuk pasien dengan irama jantung datar akan di evaluasi selama 10 hingga 20 menit. Jika dalam waktu lebih dari 30 menit tidak ada perubahan dari pasien, maka kemungkinan harapan hidup pasien sangat kecil.

Jika hasil EKG menunjukkan irama seperti garis rumput (ventrikular takikardi atau fibrilasi), maka pasien akan dilakukan defibrilasi atau diestrum sebagai terapi utama selain di lakukam Resusitasi Jantung Paru (RJP). Dengan dilakukan defibrilasi, gangguan irama jantung yang terjadi dapat di restart ulang. Jika iramanya kembali normal, pasien tersebut akan dilakukan pemeriksaan gelombang listrik pada pembuluh nadi. Jadi seseorang dapat tampak seolah-oleh hidup dengan adanya gelombang listrik tersebut padahal jantungnya tidak bekerja. Jika denyut nadi tidak teraba, maka akan dilakukan proses Resusitasi Jantung Paru seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Di sisi lain, jika denyut nadi kembali berdenyut atau terdereksi, maka akan ditinjau apakah pasien tersebut masih bernafas atau tidak. Jika masih bernafas, maka pasien akdiberikan bantuan pernapasan seperti pemasangan selang bantu pernapasan berupa ventilator. Kemudian, pasien akan dilakukan pengecekkan terhadap tekanan darah dan dilakukan evaluasi lanjutan terhadap irama jantung, kecepatan nadi, dan pemeriksaan kondisi penyakit di tubuh pasien untuk melihat potensi penyebab henti jantung.

“Pada intinya, pasien henti jantung masih dapat diselamatkan jika dilakukan evakuasi ke rumah sakit dalam waktu yang cepat. Semakin cepat Resusitasi Jantung Paru dilakukan akan semakin tinggi harapan hidup pasien,” ujar dr. Ivan Noersyid, Sp.JP.

Henti jantung tidak selalu disebabkan karena adanya riwayat penyakit jantung pada pasien. Pasien henti jantung dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti diare yang berakibat pada kekurangan cairan berlebih. tension pneumothorax, dan berbagai riwayat penyakit lainnya.

Sebagai contoh, jika pembuluh darah kekurangan cairan, maka pembuluh darah akan kekurangan oksigen sehingga tidak dapat bekerja secara maksimal. Jika pasien mengalami tension pneumothorax, maka pasien akan mengalami kondisi dimana udara yang terkumpul pada rongga pleura tidak dapat keluar namun udara dari dinding dada dan paru-paru terus masuk ke rongga tersebut sehingga akan menekan paru-paru dan jantung.

Jika pasien telah ditemukan riwayat penyakit yang menyebabkan henti jantung, maka pasien tersebut akan diberikan treatment atau pengobatan definitif (utama) yang berbeda bergantung pada riwayat penyakitnya

Jika pasien henti jantung di diagnosis mengalami serangan jantung, maka pasien masih dapat dibantu melalui kateterisasi jantung. Jika pasien mengalami kekurangan cairan, maka pasien akan diberikan cairan agar jantung bisa bekerja. “Semua penyebab henti jantung akan di evaluasi untuk diberikan tindakan medis yang tepat” ujar dr. Ivan Noersyid, Sp.JP.

“Untuk pasien dengan riwayat penyakit jantung, diharapkan pasien tersebut tidak melakukan aktivitas atau olahraga berat agar terhindar dari henti jantung,” ujar dr. Ivan Noersyid, Sp.JP.

Terdapat dua kategori pasien dalam melakukan pencegahan henti jantung. Kategori pertama adalah untuk pasien preventif primer bagi seseorang yang tidak memiliki gejala penyakit apapun tapi orang tersebut berusia lebih dari 40 tahun, memiliki faktor risiko seperti tensi tinggi, memiliki riwayat keturunan jantung, memiliki riwayat merokok dan meminum alkohol, atau riwayat yang berpotensi henti jantung lainnya. Untuk seseorang dengan kategori tersebut, sebaiknya dilakukan medical check up secara rutin dan melakukan pola hidup sehat.

Kategori kedua adalah preventif sekunder dimana pasien tersebut sudah memiliki penyakit sebelumnya, seperti riwayat penyakit jantung, stroke, gula, dan sebagainya. Pasien dalam kategori ini harus melakukan pengobatan secara disiplin sesuai dengan anjuran dokter.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, pasien tetap harus melakukan konsultasi dengan dokter terutama untuk penyakit yang memang harus segera ditangani atau diobati. Banyak cara yang bisa dilakukan seperti telemedicine atau konsultasi dokter secara online. “Intinya pasien harus mengikuti anjuran dokter dan rutin meminum obat untuk melakukan penyembuhan terhadap sebuah penyakit dan hindari stres berlebih,” ujar dr. Ivan Noersyid, Sp.JP.

Untuk menghindari henti jantung, lakukan pola hidup sehat dengan mengurangi makanan yang mengandung kolesterol dan rutin berolahraga minimum 40 menit untuk membakar gula dan lemak. Hindari merokok, meminum alkohol, dan makan makanan tinggi gula. Lakukan pola tidur yang cukup minimal 8 jam dalam sehari.

——-

Primaya Hospital Group adalah Rumah Sakit yang menyediakan standar pelayanan prima yang mengutamakan mutu keselamatan pasien. Hal tersebut tercermin dari telah terakreditasinya Primaya Hospital Group tingkat nasional oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) dan dua dari rembilan  rumah sakit kami telah terakreditasi internasional oleh Joint Commission International (JCI).

Kami memberikan layanan kesehatan yang menyeluruh untuk masyarakat Indonesia dan warga negara asing (WNA) serta memberikan layanan pasien dengan jaminan Perusahaan/Asuransi/BPJS/KIS dengan teknologi terbaik. Untuk menjangkau kebutuhan kesehatan masyarakat.

Primaya Hospital Group tersebar di wilayah dan kota-kota besar di Indonesia dengan lokasi strategis dan mudah diakses sehingga kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan dapat terpenuhi dengan baik. Kami memiliki layanan unggulan bagi para pasien yaitu pusat layanan jantung dan pembuluh darah, layanan ibu dan anak, layanan trauma, serta layanan kanker.

Primaya Hospital Group memiliki fasilitas pelayanan yang lengkap diantaranya layanan Gawat Darurat, Radiologi, Laboratorium, dan Farmasi yang hadir selama 24 jam. Selain itu, kami memiliki area parkir yang luas, ruang edukasi pasien, ruang poli yang nyaman, ruang laktasi, area bermain di Poli Anak, ATM Center, Musholla, WiFi untuk keluarga pasien, kantin, dan area lobi.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi:

Hanie Dewita (Hanie)                                                          

Head of Marketing and Corporate Communication

Primaya Hospital Group

Email  : hanie.dewita@primayahospital.com

Bagikan ke :