MAKANAN KEKINIAN BERPOTENSI DIABETES: MANIS DI BIBIR, MERUSAK BADAN

Jakarta, 12 Oktober 2020 – Roti, kukis, kue, kopi kekinian, soda, makanan cepat saji, dan makanan tinggi kalori dan tinggi gula lainnya seringkali membuat kita lupa akan bahaya dari makanan tersebut bagi kesehatan. Salah satu dampak buruk dari konsumsi makanan tersebut adalah Diabetes.

Menurut dr. Andi Faradilah, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi Primaya Hospital Makassar, makanan atau minuman yang memicu diabetes adalah makanan yang berkalori tinggi dan makanan ini utamanya didapatkan pada karbohidrat yang mengandung gula sederhana. Kelebihan konsumsi makanan jenis tersebut dapat meningkatkan kejadian obesitas yang akhirnya juga menjadi penyebab terjadinya diabetes.

dr. Andi Faradilah, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi Primaya Hospital Makassar menambahkan bahwa makanan dan minuman ringan yang ada di pasaran selalu mengandung karbohidrat dan umumnya merupakan jenis karbohidrat sederhana. Menurut suatu penelitian makanan added sugar di Indonesia pada tahun 2018, makanan yang paling banyak dikonsumsi masyarakat adalah makanan dengan bentuk gula murni, kue-kue basah, roti manis, kue kering, kopi dan teh, es krim, jus kemasan, sirup, permen, coklat, minuman berenergi (isotonic), minuman karbonasi, dan lain sebagainya.

“Saat ini, sedang marak masyarakat mengonsumsi kopi kekinian. Pada dasarmya, kopi hitam mengandung nol kalori. Namun, ketika kopi hitam dicampurkan gula aren, susu, bahkan krimer; maka kadar gula dan kalori pada segelas kopi dapat menjadi tinggi. Hal tersebut dapat meningkatkan risiko terkena penyakit kencing manis,” ujar dr. Yohan Samudra, SpGK, Dokter Spesialis Gizi Primaya Hospital Tangerang.

dr. Yohan Samudra, SpGK, Dokter Spesialis Gizi Primaya Hospital Tangerang menambahkan bahwa kebiasaan mengonsumsi teh berbagai rasa dengan toping (atau dikenal dengan boba) juga dapat meningkatkan risiko diabetes melitus jika tidak dibatasi. “Vanilla syrup atau brown sugar yang ditambahkan ke dalam teh saja sudah cukup berbahaya dalam jangka panjang, apalagi ditambahkan berbagai macam pilihan toping seperti boba, jelly, dan puding manis,” ujar dr. Yohan Samudra, SpGK, Dokter Spesialis Gizi Primaya Hospital Tangerang. Hal yang sama berlaku untuk minuman kemasan dan soda berkarbonasi karena minuman tersebut mengandung kadar gula yang tinggi bahkan melebihi dari kebutuhan harian maksimal orang dewasa.

Tak hanya itu saja, menurut dr. Yohan Samudra, SpGK, Dokter Spesialis Gizi Primaya Hospital Tangerang, makanan berkalori tinggi seperti nasi goreng, kwetiau, nasi uduk, atau nasi padang yang cenderung dimakan dalam porsi besar akan memicu terjadinya diabetes serta penyakit metabolik lainnya seperti dislipidemia dan hipertensi. Selain itu, makanan cepat saji (fast food) seperti burger, french fries, pasta, dan hot dog termasuk ke dalam ultra processed food yang tinggi gula, tinggi garam, dan tinggi lemak jenuh. Ketiga hal ini berperan dalam meningkatkan risiko obesitas dan sindrom metabolik termasuk diabetes.

“Kue dan roti juga dapat menyebabkan potensi diabetes. Campuran tepung, gula, krim, isian selai berbagai rasa, dan lapisan cokelatnya membuat kita jadi terus ingin mengonsumsinya. Tidak hanya tinggi gula, roti dan donat juga tinggi kalori,” ujar dr. Yohan Samudra, SpGK, Dokter Spesialis Gizi Primaya Hospital Tangerang.

Masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap jajanan pasar seperti gorengan, risol, pastel, siomay, pempek, martabak, atau jenis jajanan pasar lainnya yang berbahan dasar tepung. Jajanan pasar tersebut juga menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko terkena diabetes. “Bahkan, cemilan kemasan berupa biskuit, wafer, atau krekers pada umumnya tinggi kalori dan tinggi gula. Beberapa kukis bahkan bisa mencapai 40 kkal dengan kandungan gula hingga 3 gram perbutirnya,” ujar dr. Yohan Samudra, SpGK, Dokter Spesialis Gizi Primaya Hospital Tangerang.

Berbicara tentang kalori, dr. Yohan Samudra, SpGK, Dokter Spesialis Gizi Primaya Hospital Tangerang mengatakan bahwa satu potong kue bisa mencapai 300 kkal. Sedangkan, satu keping kukis bisa mencapai sekitar 30-40 kkal. Roti dan donat bervariasi mulai 200 kkal hingga 350 kkal tergantung varian rasa. Rata-rata, soda dan minuman kemasan dapat mengandung 150 kkal dan takaran ini cukup besar untuk sebuah minuman yang tidak memberikan rasa kenyang sama sekali. Kopi dan teh kekinian mengandung 200-380 kkal. Kalori jajanan pasar berada dikisaran 150 hingga 250 kkal. Sedangkan, kategori makan utama seperti cepat saji, nasi goreng, atau nasi padang memiliki kadar kalori mulai dari 500 hingga 900 kkal.

Kemudian, apakah masyarakat tetap diperbolehkan mengonsumsi makanan atau minuman tersebut? “Bisa saja, namun harus memperhatikan jumlah konsumsi dan frekuensi dalam mengonsumsinya,” ujar dr. Andi Faradilah, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi Primaya Hospital Makassar.

dr. Yohan Samudra, SpGK, Dokter Spesialis Gizi Primaya Hospital Tangerang menambahkan bahwa makanan dan minuman yang meningkatkan risiko obesitas dan penyakit metabolik disebut dengan ‘comfort food’ atau ‘recreational eating’ yang artinya dapat dikonsumsi secara terbatas dan bukan sesuatu yang rutin. Comfort food hanya menempati 20% dari total kebutuhan makan sehari, sementara 80% lainnya harus berasal dari ‘real food’ atau makanan yang bentuk aslinya masih terlihat, segar, dan dimasak dengan cara sehat.

“Masyarakat perlu memahami kadar minimal kalori dalam sebuah makanan atau minuman yang baik untuk dikonsumsi. Untuk minuman, sebaiknya masyarakat mengonsumsi minuman yang mengandung 0 kalori seperti air putih, kopi, dan teh tanpa gula (atau sekitar 100 kkal jika ditambah gula 1 sendok makan). Untuk cemilan, sebaiknya asupan kalori yang dikonsumsi sekitar 150-200 kkal dan makanan utama di rentang 500-600 kkal. Tentu saja total asupan kalori setiap orang berbeda dan harus dihitung per individu, disesuaikan dengan tinggi badan, usia, aktivitas fisik, dan faktor stres masing-masing orang,” dr. Yohan Samudra, SpGK, Dokter Spesialis Gizi Primaya Hospital Tangerang.

Apa saja tolak ukur makanan dan minuman yang dikatakan dapat memicu diabetes? Menurut dr. Andi Faradilah, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi Primaya Hospital Makassar, secara sederhana tolak ukur tersebut dapat kita lihat dari nilai kalori suatu makanan serta jumlah dan jenis karbohidrat yang dikandungnya. Lihatlah nilai informasi gizi pada kemasannya (termasuk total kalori, jumlah gram karbohidrat per porsi, serta apa jenis karbohidratnya).

“Hal lain yang dapat menjadi tolak ukur makanan minuman yang memicu diaebetes adalah seberapa besar kadar gula atau karbohidrat yang terdapat di dalam makanan dan minuman tersebut (glycaemic load). Tolak ukur berikutnya adalah seberapa cepat suatu makanan menyebabkan peningkatan gula dalam darah (glycaemic index). Tidak hanya gula saja, kadar lemak jenuh juga harus diperhitungkan karena tingginya kadar kolesterol di darah juga menjadi salah satu faktor risiko diabetes. Selain itu, tentu saja jumlah kalori dari makanan yang kita konsumsi karena obesitas adalah faktor risiko utama untuk diabetes. Bahkan penelitian mengungkapkan, wanita dengan indeks masa tubuh 30 kg/m2 memiliki risiko diabetes 28 kali lebih tinggi dibandingkan wanita yang berat badannya ideal,” ujar dr. Yohan Samudra, SpGK, Dokter Spesialis Gizi Primaya Hospital Tangerang.

dr. Andi Faradilah, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi Primaya Hospital Makassar menghimbau agar masyarakat sebaiknya memilih makanan dengan jenis karbohidrat kompleks yaitu sayur dan buah. Konsumsi gado-gado, pecel, atau karedok bisa menjadi contoh pilihan makanan yang sehat dengan komponen utama sayur, buah, dan bumbu kacang yang tidak terlalu banyak sehingga makanan tetap lezat namun memenuhi kaidah gizi seimbang. Soto bening dan sate tanpa lemak juga dapat menjadi pilihan menu yang lezat namun tetap aman dan sehat.

“Lakukan pola makan sesuai gizi seimbang (karbohidrat, protein, dan lemak sehat) yang memadukan aneka ragam jenis pangan dalam satu piring makan yaitu makanan pokok, lauk, sayur, buah, dan air putih. Makanan pokok (nasi, kentang, dan sebagainya) dibuat sama banyak porsinya dengan sayur yang kita konsumsi. Sedangkan, lauk dan buah masing-masing mengambil porsi ¼ dari satu piring makan. Makanan selingan atau kudapan sebaiknya dilakukan 2-3 kali sehari dengan nilai kalori 100 -150 kkal,” ujar dr. Andi Faradilah, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi Primaya Hospital Makassar.

dr. Yohan Samudra, SpGK, Dokter Spesialis Gizi Primaya Hospital Tangerang menambahkan agar selalu cukupi kebutuhan serat sekitar 28-35 gram yang bisa didapatkan dari konsumsi buah dan sayuran bervariasi sebanyak 5 porsi dalam sehari. Batasi konsumsi gula harian hanya 25 gram (2,5 sendok makan) untuk wanita dan 37,5 gram (3 sendok makan) untuk pria. Makanlah dengan jadwal yang teratur dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan agar tetap menjaga berat badan dalam kategori ideal.

Walaupun Anda merasa pola konsumsi makan Anda sudah tepat, jangan lupa untuk selalu tetap waspada terhadap potensi diabetes. “Cermati gejala-gejala diabetes seperti merasakan haus, lapar, dan berkemih lebih dari biasanya; kelelahan berlebih; sensasi kebas, nyeri, atau terbakar pada ujung jari; gangguan pengelihatan; penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas; gangguan seksual; acanthosis nigricans (kelainan pigmentasi kulit); serta infeksi berulang atau luka sulit sembuh,” ujar dr. Riska Amalia Ambarwati. Sp.PD – Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Karawang

——-

Primaya Hospital Group adalah Rumah Sakit yang menyediakan standar pelayanan prima yang mengutamakan mutu keselamatan pasien. Hal tersebut tercermin dari telah terakreditasinya Primaya Hospital Group tingkat nasional oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) dan dua dari rembilan  rumah sakit kami telah terakreditasi internasional oleh Joint Commission International (JCI). Kami memberikan layanan kesehatan yang menyeluruh untuk masyarakat Indonesia dan warga negara asing (WNA) serta memberikan layanan pasien dengan jaminan Perusahaan/Asuransi/BPJS/KIS dengan teknologi terbaik. Untuk menjangkau kebutuhan kesehatan masyarakat. Primaya Hospital Group tersebar di wilayah dan kota-kota besar di Indonesia dengan lokasi strategis dan mudah diakses sehingga kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan dapat terpenuhi dengan baik. Kami memiliki layanan unggulan bagi para pasien yaitu pusat layanan jantung dan pembuluh darah, layanan ibu dan anak, layanan trauma, serta layanan kanker. Primaya Hospital Group memiliki fasilitas pelayanan yang lengkap diantaranya layanan Gawat Darurat, Radiologi, Laboratorium, dan Farmasi yang hadir selama 24 jam. Selain itu, kami memiliki area parkir yang luas, ruang edukasi pasien, ruang poli yang nyaman, ruang laktasi, area bermain di Poli Anak, ATM Center, Musholla, WiFi untuk keluarga pasien, kantin, dan area lobi.

 

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi:

Hanie Dewita (Hanie)

Head of Marketing and Corporate Communication

Primaya Hospital Group

Email  : hanie.dewita@primayahospital.com

Bagikan ke :