Penyakit Autoimun : Apakah Bisa Disembuhkan?

JAKARTA, 25 Januari 2020

 

  1. Mengapa kasus virus menyerupai pneumonia tersebut dapat terjadi?

Virusnya adalah Coronavirus merupakan virus yang ditransmisikan secara zoonotic, yaitu antara hewan ke manusia. Pada SARS-CoV berasal dari musang, sedangkan MERS-CoV ditransmisikan melalui unta. Pada kejadian luar biasa di Wuhan, China, sebagian besar pasien pneumonia of unknown origin memiliki kesamaan pernah bepergian ke pasar hewan laut. Infeksi ini bisa tjd paling mungkin krn hygienitas dan kondisi pasien yg imunocomromised.

 

  1. Apakah sudah teridentifikasi jenis virus yang menyerupai pneumonia tersebut?

Coronavirus(CoV) merupakan bagian dari virus yang menyebabkan spektrum penyakit dari melasma hingga penyakit yang lebih berbahaya seperti Middle East Respiratory Syndrome(MERS-CoV) dan Severe Acute Respiratory Syndrome​ (SARS-CoV). Pada tanggal 31 Desember 2019, WHO menyatakan pneumonia of unknown etiology di KotaWuhan, Hubei, China. Pneumonia ini disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru(2019-nCoV) yang belum pernah terdeteksi pada manusia.

 

  1. Apa saja gejala-gejala yang dapat timbul dari virus tersebut?

Gejalanya demam, lemas, batuk dan sesak atau kesulitan bernapas. Beberapa kondisi ditemukan lebih berat. Pada orang dengan lanjut usia atau memiliki penyakit penyerta lain, memiliki risiko lebih tinggi untuk memperberat kondisi.

 

  1. Apa dampak terburuk dari seseorang yang terkena virus tersebut?

Karena gejalanya sama seperri oneumonia lainnya, dampak terburuk adalah infeksi berat (sepsis), kondisi syok, gagal napas dan meninggal.

 

  1. Bagaimana cara mencegah tertular penyakit tersebut?

Karena blm ada vaksin yg spesifik untuk virus tersebut, maka yg bisa dilakukan adalah

– Melakukan kebersihan tangan rutin, terutama sebelum memegang mulut, hidung dan mata; serta setelah memegang instalasi publik.

– Mencuci tangan dengan air dan sabun cair serta bilas setidaknya 20 detik. Cuci dengan air dan keringkan dengan handuk atau kertas sekali pakai. Jika tidak ada fasilitas cuci tangan, dapat menggunakan alkohol 70-80% handrub.

– Menutup mulut dan hidung dengan tissue ketika bersin atau batuk. Ketika meiliki gejala saluran napas, gunakan masker dan berobat ke fasilitas layanan kesehatan

Jika akan melakukan perjalanan ke tempat yg sudah ditemukan kasusnya pencegahan yg dpt dilakukan adalah

– Hindari menyentuh hewan atau burung.

– Hindari mengunjungi pasar basah, peternakan atau pasar hewan hidup.

– Hindari kontak dekat dengan pasien yang memiliki gejala infeksi saluran napas.

– Patuhi petunjuk keamanan makanan dan aturan kebersihan.

– Jika merasa kesehatan tidak nyaman ketika di daerah outbreak terutama demam atau batuk, gunakan masker dan cari layanan kesehatan.

– Setelah kembali dari daerah outbreak, konsultasi ke dokter jika terdapat gejala demam atau gejala lain dan beritahu dokter riwayat perjalanan serta gunakan masker untuk mencegah penularan penyakit.

 

  1. Bagaimana cara menyembuhkan penyakit tersebut jika sudah tertular? Apa tindakan medis yang harus dilakukan?

Jika ada keluhan dan gejala seperti yg sudah disebutkan agar segera berobat ke fasitas kesehatan terdekat.

Dan jika mengalami gejala tersebut bisa dilakukan foto toraks, jika sesuai gambaran pneumonia dan ada kriteria SUSPEK maka dilakukan uji diagnostik bisa dilakukan swab tenggorok atau pemeriksaan dahak.

Tindakan medis yg diberikan:

– rujuk ke RS rujukan

– jika tdk bisa dirujuk: rawat ruang isolasi, lakukan foto toraks berkala, terapi simptomatik , terapi cairan , ventilator mekanik (bila gagal napas) , bila disertai infeksi bakteri dapat diberikan antibiotik.

 

  1. Indikasi-indikasi medis apa yang dapat menyatakan bahwa seseorang terserang virus tersebut?

Indikasi medis SUSPEK :

  1. pasien dgn gejala yg telah disebutkan dalam kondisi yg berat yg membutuh perawatan di RS DAN tanpa etiologi yg jelas DAN minimal 1 dari kriteria :

– riwayat perjalanan ke Wuhan, China selama 14 hari terakhir, ATAU

– pasien merupakan petugas kesehatan yang merawat pasien infeksi akut respirasi yg berat.

  1. Pasien dgn kondisi gejala yg disebutkan di atas DAN minimal 1 kriteria:

– kontak erat dgn pasien probable case nCoV selama 14 hr terakhir, ATAU

– berkunjung ke pasar hewan hidup di Wuhan, China, ATAU

– berkunjung atau perugas kesehatan di RS yg dilaporkan menangani kasus nCoV

 

  1. Menurut berita, virus tersebut berasal dari Tiongkong, apakah mungkin virus tersebut juga dapat muncul di Indonesia dengan sendirinya?

Bisa menjadi muncul di Indonesia jika memang terbukti ada penularan dari manusia ke manusia.

Krn kasusnya pertama kali ditemukan di daerah Wuhan di China. Sumber infeksi yang mungkin adalah pasar hewan laut Huanan di Wuhan. Pada tanggal 1 Januari 2020, pasar tsb ditutup untuk dilakukan desinfeksi dan evaluasi sanitasi. Hal ini dipikirkan karena hampir semua pasien merupakan pedagang atau pengunjung pasar tsb. Namun ada 1 kasus yg tdk ada riwayat kunjungan ke pasar tsb, sehingga dipikorkan mengenai penularan dari manusia ke manusia.

Kalau dengan sendirinya tanpa ada riwayat kontak atau bepergian ke Wuhan, harusnya tidak ada di Indonesia.

 

  1. Apakah virus tersebut berbeda dengan Pneumonia?

Sebenarnya bukan berbeda, karena pneumonia itu bisa disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, seperti bakteri, virus, parasit, jamur, pajanan bahan kimia atau kerusakan fisik paru. Jd nama penyakitnya itu pneumonia sedangkan penyebabnya yaitu coronavirus

 

  1. Apakah virus tersebut memiliki kesamaan dengan Pneumonia?

Seperti yg sudah dijelaskan pneumonia merupakan penyakit yg disebabkan oleh coronavirus yg blm diketahui jenisnya. Untuk gejala penyakitnya sama seperti pneumonia lainnya, yg berbeda adalah krn muncul pertama kali di wuhan, china jd ada faktor risik kinjungan dari china selama 2 minggu terakhir merupakan salah satu kuncinya

 

  1. Bagaimana cara membedakan virus tersebut dengan Pneumonia?

Untuk gejala penyakitnya sama seperti pneumonia lainnya, yg berbeda adalah krn muncul pertama kali di wuhan, china jd ada faktor risiko kunjungan dari china selama 2 minggu terakhir merupakan salah satu kuncinya.

 

  1. Apa itu Pneumonia dan apa saja gejala-gejala yang timbul dari Pneumonia?

Pneumonia adalah infeksi atau peradangan akut di jaringan paru yang disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, seperti bakteri, virus, parasit, jamur, pajanan bahan kimia atau kerusakan fisik paru.

Gejala pneumonia secara umum adalah demam, batuk berdahak, sesak napas atau napas terasa berat.

 

  1. Apa dampak terburuk dari Pneumonia?

Secara umum pneumonia dapat menimbulkan infeksi berat (sepsis), londisi syok, gagal napas hingga meninggal.

 

  1. Bagaimana cara mencegah Pneumonia?

Terdapat beberapa vaksin pneumonia yang ditujukan untuk mencegah pneumonia, namun tidak bisa mencegah pneumonia yang sedang outbreak saat ini. Beberapa vaksin tersebut yaitu sebagai berikut. -Vaksin Pneumokokus (atau PCV : Pneumococcal Conjugate Vaccine) -Vaksin PCV13 (merek dagang Prevnar®) memberikan kekebalan terhadap 13 strain bakteri Streptococcus pneumoniae, yang paling sering menyebabkan penyakit pneumokokus pada manusia.

Masa perlindungan sekitar 3 tahun. Vaksin PCV13 utamanya ditujukan kepada bayi dan anak di bawah usia 2 tahun. Vaksin Pneumokokus PPSV23 Vaksin PPSV23 (nama dagang Pneumovax 23®) memberikan proteksi terhadap 23 strain bakteri pneumokokus. Vaksin PPSV23 ditujukan kepada kelompok umur yang lebih dewasa. Mereka adalah orang dewasa usia 65 tahun ke atas, atau usia 2 hingga 64 tahun dengan kondisi khusus.  -Vaksin Hib Di negara berkembang, bakteri Haemophilus influenzae type B (Hib) merupakan penyebab pneumonia dan radang otak (meningitis) yang utama. Di Indonesia vaksinasi Hib telah masuk dalam program nasional imunisasi untuk bayi.

 

  1. Bagaimana cara menyembuhkan Pneumonia? Apa tindakan medis yang harus dilakukan?

Karena pneumonia merupakan proses peeadangan akibat infeksi terapi utamanya adalah pemberian antibiotik empiris spektrum luas sesegera mungkin sambil dicari tau etiologinya, setelah diketahui etiologinya antibiotik disesuaikan dgn pola kuman pasien.

Tindakan medis yg harus dilakukan: oksigenasi, terapi cairan, terapi simtomatik, penggunaan ventilator jika gagal napas.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi:

Hanie Dewita (Hanie)                                                          

Head of Marketing and Corporate Communication

Primaya Hospital Group

Email  : hanie.dewita@primayahospital.com

Bagikan ke :