Potensi Seseorang Terkena Diabetes Dan Dampak Komplikasi Pada Penyakit Lainnya

Jakarta, 17 Juli 2020 – Kebiasaan masyarakat tidak berolahrga atau tidak menjaga berat badan seimbang dapat menjadi potensi seseorang mengidap Diabetes Melitus. Namun, banyak masyarakat yang menyadari seberapa besar potensi seseorang mengidap penyakit tersebut. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Bekasi Barat, dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM memberikan informasi rinci mengenai potensi seseorang mengidap Diabetes Melitus.

Diabetes Melitus merupakan suatu gangguan penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia atau peningkatan kadar glukosa di dalam dalam darah yang salah satu penyebebanya adalah kurangnya produksi insulin dan resistensi insulin. Resistensi Insulin adalah kondisi ketika sel-sel tubuh tidak dapat menggunakan gula darah dengan baik karena adanya gangguan aksi kerja insulin atau terganggunya respon sel tubuh terhadap insulin).

Menurut dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Bekasi Barat, gangguan aksi kerja insulin dan kurangnya produksi insulin tersebut bisa disebabkan karena adanya berbagai faktor risiko seseorang untuk mengalami diabetes. Faktor risiko tersebut terbagi menjadi dua kategori yaitu:

  1. Orang yang gemuk dengan indeks masa tubuhnya lebih dari 23 atau orang yang gemuk (kelebihan berat badan) disertai salah satu yang disebutkan di bawah ini:
  2. Jarang melakukan gerak badan atau tidak olahraga
  3. Memiliki riwayat atau keturunan terutama orang tua yang mengidap diabetes.
  4. Orang yang memiliki hipertensi atau tekanan darah tinggi.
  5. Kadar kolesterol HDL (kolesterol baik) yang rendah atau kadar trigliserit (salah satu jenis lemak di dalam darah) yang tinggi.
  6. Mereka yang memiliki riwayat pre diabetes (suatu kondisi kadar glukosa darah dengan nilai lebih dari normal tapi belum kategori diabetes (atau belum memenuhi kriteria kadar glukosa darah diabetes).
  7. Memiliki riwayat penyakit kardiovaskular (penyakit yang terjadi akibat gangguan jantung dan pembuluh darah).
  8. Pernah melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4 kg.
  9. Kelompok orang dengan usia lebih dari 45 tahun meskipun tidak ada risiko yang disebutkan pada poin 1 a hingga 1 g di atas.

“Perlu diperhatikan bawah Diabetes Melitus bukanlah sebuah virus atau bakteri. Diabetes Mellitus adalah sebuah penyakit degeneratif (bukan penyakit menular),” ujar dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Bekasi Barat. Penyakit degeneratif adalah kondisi medis yang terjadi ketika fungsi dan struktur jaringan ataupun organ dalam tubuh memburuk seiring berjalannya waktu sehingga dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Dalam hal ini, Diabetes Melitus terjadi akibat gangguan metabolisme glukosa atau yang lebih dikenal dengan kencing manis dimana di dalam air kemih pasien penyandang diabetes kandungan gulanya tinggi.

Kemudian, apa saja jenis-jenis Diabetes Melitus? “Diabetes Melitus terdiri dari Diabetes tipe 1, Diabates tipe 2, Diabetes dalam Kehamilan atau Gestasional, dan Diabetes Tipe Lainnya,” dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Bekasi Barat.

Jenis Diabetes tipe 1 penyebabnya yaitu akibat gangguan autoimun yang menyebabkan sistem imun tubuh merusak sel-sel yang memproduksi hormon insulin di dalam pancreas sehingga produksi insulin sangat kurang. Diabetes tipe 1 tersebut juga disebabkan oleh hal yang tidak diketahui penyebabnya.

Jenis Diabetes tipe 2 penyebabnya bervariasi terkait masalah resistensi insulin atau gangguan aksi kerja insulin. Jadi, kondisi Diabetes tipe 2 terjadi saat tubuh seseorang memiliki kadar insulin yang cukup atau malah lebih tinggi dari kadar nilai rata-rata orang normal, namun tubuh tidak dapat menggunakan insulin dengan optimal sehingga jumlah glukosa yang menetap di dalam darah menjadi berlebih. Diabetes tipe 2 juga terjadi akibat gangguan dari sekresi (produksi) insulin akibat faktor-faktor risiko yang telah dijelaskan sebelumnya.

Jenis Diabetes Kehamilan (Gestasional) terjadi akibat resistensi insulin atau aksi kerja insulin meningkat saat kehamilan. Mengapa bisa meningkat? “Peningkatan tersebut terjadi akibat perubahan hormonal dalam tubuh atau berat badan meningkat sehingga tubuh menjadi lebih gemuk. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua orang hamil mengalami Diabetes Gestasional. Diabetes jenis ini muncul tergantung dari sejauh mana tubuh mampu beradaptasi dengan kadar insulin,” ujar dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Bekasi Barat.

Jenis Diabetes Tipe Lain penyebabnya bisa terjadi akibat berbagai hal lainnya seperti penggunaan obat-obatan seperti obat golongan steroid atau obat yang mengandung hormon dimana obat tersebut akan meningkatkan resistensi insulin sehingga meningkatkan aksi kerja insulin. Obat tersebut akan meningkatkan produksi gula melalui mekanisme hormonal. Jenis Diabetes Tipe Lain juga terjadi akibat infeksi seperti TBC atau terdapat tumor di pankreas sehingga dapat menyebabkan rendahnya produksi insulin. “Perlu diingat bahwa pankreas memiliki fungsi untuk memproduksi insulin. Jika terdapat gangguan pada pankreas, maka mesin yang memproduksi insulin tersebut kinerjanya akan berkurang yang berakibat pada kurangnya jumlah insulin,” ujar dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Bekasi Barat.

Menurut dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Bekasi Barat, gejala-gejala seseorang menderita Diabetes Melitus dibagi menjadi Keluhan Klasik dan Keluhan Lain yang Tidak Klasik sebagai berikut:

  1. Keluhan Klasik
    1. Poliurea atau banyak buang air kemih (terutama pada malam hari).
    2. Polidipsia atau banyak minum (rasa haus yang tidak berkesudahan).
    3. Polifagi atau banyak makan (makan berlebihan).
    4. Penurunan berat badan drastis yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
  2. Keluhan lain yang tidak klasik
    1. Badan lemah.
    2. Pandangan kabur.
    3. Kaki sakit atau kebas kesemutan.
    4. Gangguan keputihan.
    5. Gatal-gatal di tubuh.
    6. Ganguan ereksi pada pria.
    7. Demam jika ada infeksi.
    8. Kadang ditemukan kondisi kesehatan lain misal pasien dengan stroke atau jantung yang kadar gulokasa dalam darahnya tinggi.

Adapun diagnosis yang ditegakkan secara medis untuk penyandang diabetes yaitu:

  1. Jika didapatkan kadar gula darah (glukosa) puasa atau sebelum makan lebih dari sama dengan 126 mg per dL (deciliter), atau
  2. Kadar glukosa darah sewaktu lebih dari sama dengan 200 mg per dL, atau
  3. Kadar glukosa pasca tes toleransi glukosa oral yaitu lebih dari sama dengan 200 mg per dL, atau
  4. Pemeriksaan HB A1C lebih dari sama dengan 6,5%

Menurut dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Bekasi Barat, Diabetes Melitus dapat menimbulkan penyakit-penyakit lainnya atau disebut dengan komplikasi diabetes seperti:

  1. Makro vascular (gangguan perusakan pada pembuluh darah besar seperti jantung koroner, stroke, atau penyakit pembuluh darah tepi – contoh pembuluh darah di kaki bermasalah sehingga kaki menghitam).
  2. Mikro vascular (gagal ginjal, gangguan pembuluh darah retina mata yang bisa menyebabkan kebutaan, gagal jantung, atau gangguan saraf kaki sehingga pasien merasakan kebas).

Terkait dengan hubungan pandemi Covid-19 terhadap penderita Diabetes Melitus, risiko tertular Covid-19 bagi seseorang yang mengidap Diabetes Melitus dengan seseorang yang sehat pada dasarnya sama. “Namun, begitu penderita Diabetes Melitus tertular Covid-19, maka gejalanya akan lebih buruk. Covid-19 menyebabkan infeksi dan jika infeksinya berat akan mengganggu seluruh organ tubuh,” ujar menurut dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Bekasi Barat.

“Penyandang Diabetes Melitus akan meningkatkan potensi terkena infeksi, yang paling banyak terjadi adalah infeksi TBC. Diabetes Melitus juga bisa meningkatkan risiko luka di kaki (misalnya infeksi luka tertusuk di kaki yang dapat semakin parah, gejalanya lebih berat, lebih lama, dan lebih luas jika seseorang mengidap Diabetes Melitus),” dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Bekasi Barat.

dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM menambahkan bahwa pada penyandang Diabaetes Melitus, perlu juga dicari faktor riisko lain yang akan meningkatkan seseorang terkena penyakit kardiovaskular (gangguan yang terjadi karena gangguan jantung dan pembuluh darah) seperti kebiasaan merokok, kadar kolesterol, riwayat hipertensi, atau riwayat obesitas.

Perlu diperhatikan bawah 75% pasien Diabetes Melitus mengalami gangguan penyakit jantung. Selain itu, hampir 50% pasien Diabetes Melitus mengalami gagal ginjal. Apabila kadar glukosa tidak dikendalikan, maka proses kerusakan jaringan tubuh akan terus berlangsung hingga terjadi kerusakan yang berat sehingga timbul komplikasi. Sebagian besar kematian pada pasien diabetes diakibatkan oleh kompikasi jantung atau kardiovaskular.

Lalu, bagaimana cara menyembuhkan Diabetes Melitus? Penderita Diabeters Melitus akan mengidap penyakit tersebut seumur hidup sehingga hal yang dapat dilakukan adalah mengendalikan penyakit tersebut untuk jangka panjang. Pada dasarnya, tujuan pengobatan pada pasien Diabetes Melitus secara medis yaitu (1) memberikan rasa bugar dan rasa nyaman pada pasien, (2) mencapai target glukosa darah mendekati atau mencapai normal, dan (3) berusaha menurunkan atau mencegah komplikasi diabetes.

“Prinsipnya, penyakit Diabetes Melitus itu penyakit degenartif bukan infeksi sehingga hanya bisa dikendalikan agar kadar glukosa darahnya mencapai target normal atau mendekati nilai normal. Berapa target nilai normalnya? Glukosa darah sebelum makan kurang dari 130 mg per dL, glukosa darah 2 jam sesudah makan atau glukosa darah sewaktu kurang dari 180 mg per dL, dan HbA1C kurang dari 7%. Selain itu, pasien pengidap Diabetes Melitus juga harus mengendalikan hipertensi, kolesterol, menurunkan berat badan, dan menghentikan kebiasaan merokok,” ujar dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Bekasi Barat.

Pada dasarnya ada 5 pilar tatalaksana diabetes untuk mengendalikan Diabetes Melitus:

  1. Pengidap Diabetes Melitus harus meningkatkan pengetahuan tentang Diabetes dari sumber yang terpercaya seperti dari dari ikatan dokter Indonesia atau seminar awam yang dilakukan oleh berbagai rumah sakit.
  2. Mengatur pola makan. Pasien Diabetes Melitus harus: (1) mengonsumsi makanan sesuai kebutuhan, (2) hindari jenis makanan minuman yang mengandung glukosa tinggi, 3) pengaturan jadwal makan yang relatif stabil, dan 4) porsi makan yang merata 24 jam. Pasien disarankan untuk berkonsultasi ke dokter atau ahli gizi.
  3. Olahraga atau latihan fisik atau meningkatkan kegiatan fisik. Olahraga yang disarankan adalah olahraga yang bersifat aerobik seperti jalan cepat, sepeda (termasuk sepeda statis), berenang, lari, dan sebagainya setiap hari atau minimal selang sehari dengan lama kegiatan sekitar 30 menit.
  4. Jika harus mengonsumsi obat diabetes, obat-obatan tersebut harus dikonsumsi secara teratur. Konsumsi obat harus dengan berkonsultasi dengan dokter.
  5. Melakukan evaluasi terhadap tatalaksana poin 1-4 yang sudah dilakukan dan melakukan pemeriksaan kadar glukosa darah untuk melihat hasil dari tatalaksana yang telah dilakukan.

——-

Primaya Hospital Group adalah Rumah Sakit yang menyediakan standar pelayanan prima yang mengutamakan mutu keselamatan pasien. Hal tersebut tercermin dari telah terakreditasinya Primaya Hospital Group tingkat nasional oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) dan dua dari rembilan  rumah sakit kami telah terakreditasi internasional oleh Joint Commission International (JCI). Kami memberikan layanan kesehatan yang menyeluruh untuk masyarakat Indonesia dan warga negara asing (WNA) serta memberikan layanan pasien dengan jaminan Perusahaan/Asuransi/BPJS/KIS dengan teknologi terbaik. Untuk menjangkau kebutuhan kesehatan masyarakat. Primaya Hospital Group tersebar di wilayah dan kota-kota besar di Indonesia dengan lokasi strategis dan mudah diakses sehingga kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan dapat terpenuhi dengan baik. Kami memiliki layanan unggulan bagi para pasien yaitu pusat layanan jantung dan pembuluh darah, layanan ibu dan anak, layanan trauma, serta layanan kanker. Primaya Hospital Group memiliki fasilitas pelayanan yang lengkap diantaranya layanan Gawat Darurat, Radiologi, Laboratorium, dan Farmasi yang hadir selama 24 jam. Selain itu, kami memiliki area parkir yang luas, ruang edukasi pasien, ruang poli yang nyaman, ruang laktasi, area bermain di Poli Anak, ATM Center, Musholla, WiFi untuk keluarga pasien, kantin, dan area lobi.

 

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi:

Hanie Dewita (Hanie)                                                          

Head of Marketing and Corporate Communication

Primaya Hospital Group

Email  : hanie.dewita@primayahospital.com

Bagikan ke :