VAKSIN COVID-19: MANFAAT, RISIKO, DAN PERSIAPAN YANG HARUS DILAKUKAN

Jakarta, 21 Januari 2021 – Banyak masyarakat yang masih bingung apakah vaksin Covid-19 aman untuk dilakukan dan bagaimana tata cara pelaksanaan vaksinasi Covid-19? Walaupun saat ini distribusi vaksin Covid-19 masih dalam tahap awal untuk tenaga kesehatan, tidak ada salahnya kita memahami lebih lanjut vaksin Covid-19 dan persiapan yang harus dilakukan sebelum vaksinasi.

dr. Tolhas Banjarnahor, Sp.PD-FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Tangerang mengatakan bahwa vaksin Covid-19 yang disuntikkan dalam tubuh kita mengandung bagian dari virus sarcov 2 atau mengandung virus sarcov 2 yang sudah mati.

Vaksin Covid-19 tersebut akan merangsang sistim imun tubuh untuk membentuk antibodi terhadap bagian virus sarcov 2 yang ada dalam vaksin. “Antibodi yang terbentuk ini akan melindungi kita apabila virus sarcov 2 masuk ke dalam tubuh. Dengan vaksinasi, seseorang dapat terhindar dari infeksi virus sarcov 2 atau paling tidak hanya gejala ringan saja yang akan dialami oleh seseorang jika terpapar virus sarcov 2,” ujar dr. Tolhas Banjarnahor, Sp.PD-FINASIM. 

Namun, perlu diingat bahwa seseorang yang sudah melakukan vaksin Covid-19 masih dapat terserang Covid-19. Menurut dr. Tolhas Banjarnahor, Sp.PD-FINASIM, pada dasarnya, tidak ada vaksin yang mempunyai efikasi 100 %. Persentase seseorang terpapar Covid-19 setelah dilakukan vaksin Covid-19 akan tergantung dari jenis vaksin yang digunakan. Misalnya, vaksin Sinovac di Indonesia mempunyai efikasi 65,3% pada kelompok umur 18 sd 59 tahun. “Artinya, masih ada kemungkinan 34,7% seseorang terkena infeksi Covid-19 meskipun telah dilakukan vaksin,” ujar dr. Tolhas Banjarnahor, Sp.PD-FINASIM. Tentunya, vaksin Covid-19 jenis lain memiliki efikasi yang berbeda seperti vaksin Moderna yang memiliki efikasi 94,5% dan vaksin Pfizer memiliki efikasi 95%.

Reaksi tubuh seseorang setelah dilakukan vaksinasi bisa bermacam-macam, mulai dari reaksi ringan seperti nyeri di tempat penyuntikan, kemerahan, bengkak, nyeri otot, lemah, nyeri kepala, menggigil, demam, hingga reaksi yang berat seperti reaksi alergi berat.

Menurut dr. Tolhas Banjarnahor, Sp.PD-FINASIM, walaupun vaksin Covid-19 produksi Pfizer dan Moderna memiliki efikasi lebih tinggi dibanding Sinovac, namun efek samping yang dihasilkan Pfizer dan Moderna cukup berat yaitu hingga penyakit level 3 (hingga membutuhkan perawatan). Persentase efek samping yang dihasilkan Pfizer sebanyak 1,5% dan efek samping yang dihasilkan Moderna sebesar 4,1%. Sementara, vaksin Sinovac sendiri hanya memiliki efek samping 0,1% (sama dengan efek simpang vaksin flu). “Risiko yang ditimbulkan oleh vaksin covid-19 sangat kecil dibandingkan manfaatnya karena dapat menimbulkan herd immunity (kekebalan kelompok),” ujar dr. Tolhas Banjarnahor, Sp.PD-FINASIM.

Hingga saat ini memang belum ada anjuran dari pemerintah bahwa seseorang harus melakukan pemeriksaan PCR sebelum melakukan Vaksin Covid-19. “Cukup mengisi lembar screening yang telah disiapkan sebelum vaksinasi dilakukan untuk menentukan apakah seseorang bisa mendapatkan vaksin atau tidak,” ujar dr. Tolhas Banjarnahor, Sp.PD-FINASIM.

Sebelum melakukan persiapan vaksin Covid-19, setiap masyarakat perlu melakukan pola hidup sehat. Bagi yang memiliki penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes melitus, asma dan beberapa penyakit lainnya; maka mereka harus memastikan kondisi kesehatannya terkontrol dengan baik. “Sebaiknya seseorang yang memiliki penyakit kronis perlu melakukan pemeriksaan penunjang lebih lanjut untuk mengetahui apakah penyakitnya sudah terkontrol atau belum. Pada kondisi tertentu, seseorang dengan penyakit kronis diperlukan rekomendasi dari dokter yang merawat apakah boleh mendapatkan vaksin atau tidak,” ujar dr. Tolhas Banjarnahor, Sp.PD-FINASIM.

dr. Tolhas Banjarnahor, Sp.PD-FINASIM menambahkan sebaiknya vaksinasi ditunda apabila suhu tubuh seseorang ≥ 37.5°, sedang dalam kondisi sakit, terinfeksi Covid-19, atau menderita penyakit yang belum terkontrol seperti asma, TBC, diabetes melitus, dan hipertensi hingga penyakit tersebut terkontrol lagi dengan baik. “Namun, jika seseorang mengalami penyakit komorbid atau kronis yang terkontrol, maka ia boleh dilakukan vaksinasi sesuai rekomendasi dokter,” ujar dr. Tolhas Banjarnahor, Sp.PD-FINASIM.

dr. Tolhas Banjarnahor, Sp.PD-FINASIM menjelaskan bahwa vaksinasi tidak dapat dilakukan pada:

  1. Seseorang dengan riwayat alergi terhadap vaksin atau komposisi yang ada di dalam vaksin dan seseorang yang dapat mengalami reaksi alergi yang parah terhadap vaksin.
  2. Seseorang dengan riwayat penyakit pembekuan darah yang tidak terkontrol.
  3. Seseorang dengan kelainan atau penyakit kronis (gangguan jantung berat, hipertensi yang tidak terkontrol, diabetes melitus yang tidak terkontrol, penyakit ginjal yang berat, penyakit hati, tumor, dan penyakit kronis yang tidak terkontrol lainnya).
  4. Seseorang dengan riwayat gangguan sistem imun atau mendapat terapi yang mengganggu sistem imun dalam 4 minggu terakhir.
  5. Riwayat epilepsi atau penyakit gangguan penurunan fungsi saraf.
  6. Ibu hamil dan menyusui.Seseorang yang pernah terinfeksi Covid-19.
  7. Khusus vaksin Sinovac, seseorang yang berusia di atas 59 tahun dan di bawah 18 tahun.
  8. Khusus Moderna dan Pfizer, seseorang yang berusia di bawah 16 tahun.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, efikasi vaksin Sinovac adalah sebesar 65,3% artinya dari 100 orang yang dilakukan vaksin ada 34,7% yang masih bisa terkena Covid-19. “Kita tidak tahu masuk yang 65% atau 35%. Tetapi jauh lebih baik jika kita tetap divaksin dibandingkan tidak divaksin karena bila tidak divaksin kemungkinan seseorang terkena Covid-19 akan menjadi 100%,” ujar dr. Tolhas Banjarnahor, Sp.PD-FINASIM.

Walaupun sudah dilakukan vaksin, kita harus tetap melakukan pola hidup sehat seperti makan-makanan dengan gizi seimbang, melakukan olah raga dengan rutin dan teratur, istirahat dengan cukup, serta mengkonsumsi vitamin dan mineral. “Karena vaksin tidak bisa mencegah 100% infeksi Covid-19, maka kita harus tetap menerapkan protokol kesehatan 3 M (mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak),” ujar dr. Tolhas Banjarnahor, Sp.PD-FINASIM.

——-

Primaya Hospital Group adalah Rumah Sakit yang menyediakan standar pelayanan prima yang mengutamakan mutu keselamatan pasien. Hal tersebut tercermin dari telah terakreditasinya Primaya Hospital Group tingkat nasional oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) dan dua dari rembilan  rumah sakit kami telah terakreditasi internasional oleh Joint Commission International (JCI). Kami memberikan layanan kesehatan yang menyeluruh untuk masyarakat Indonesia dan warga negara asing (WNA) serta memberikan layanan pasien dengan jaminan Perusahaan/Asuransi/BPJS/KIS dengan teknologi terbaik. Untuk menjangkau kebutuhan kesehatan masyarakat. Primaya Hospital Group tersebar di wilayah dan kota-kota besar di Indonesia dengan lokasi strategis dan mudah diakses sehingga kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan dapat terpenuhi dengan baik. Kami memiliki layanan unggulan bagi para pasien yaitu pusat layanan jantung dan pembuluh darah, layanan ibu dan anak, layanan trauma, serta layanan kanker. Primaya Hospital Group memiliki fasilitas pelayanan yang lengkap diantaranya layanan Gawat Darurat, Radiologi, Laboratorium, dan Farmasi yang hadir selama 24 jam. Selain itu, kami memiliki area parkir yang luas, ruang edukasi pasien, ruang poli yang nyaman, ruang laktasi, area bermain di Poli Anak, ATM Center, Musholla, WiFi untuk keluarga pasien, kantin, dan area lobi.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi:

Hanie Dewita (Hanie)

Head of Marketing and Corporate Communication

Primaya Hospital Group

Email  : hanie.dewita@primayahospital.com

Bagikan ke :