• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Jenis Afasia pada Anak yang Harus Bunda Ketahui

Jenis Afasia

Secara umum, jenis afasia (aphasia) terbagi menjadi dua yakni afasia motorik dan afasia sensorik. Namun, sesuai informasi dari laman National Aphasia Association, penyakit ini terbagi menjadi beberapa kategori tergantung dari penyebab yang mendasarinya serta dari usia penderita.

Afasia sendiri merupakan kondisi gangguan kognitif yang mengakibatkan seseorang sulit berkomunikasi. Baik itu berkomunikasi secara lisan, tulisan, maupun dalam memahami bahasa. Bagi anak-anak, khususnya balita tentunya kondisi semacam ini dapat memengaruhi kemampuan belajarnya.

buat jani dokter primaya

Pengertian Afasia

Jenis Afasia

Afasia broca merupakan gangguan bahasa dimana penderitanya memahami apa yg ingin disampaikan tetapi sulit mengucapkannya. Umumnya penderita ini hanya mampu mengutarakan kurang dari 4 kata

Dalam otak, ada bagian tersendiri yang berperan mengatur kemampuan seseorang dalam berbahaya. Lokasinya ada di otak bagian kiri. Bila bagian otak ini bermasalah, maka bisa menimbulkan berbagai gangguan, salah satunya yakni afasia.

Setiap penderita gangguan kesehatan satu ini punya gejala yang berbeda tergantung pada jenis afasia yang dideritanya. Ada yang tetap fasih berbahasa namun sulit menangkap pembicaraan orang lain.

Ada pula yang dapat menangkap pembicaraan orang lain namun sulit merangkai suatu kata baik dalam bentuk pembicaraan maupun dalam bentuk tulisan.

Nama Penyakit Afasia
Gejala Kesulitan berbicara, merangkai kata
Dokter Spesialis Dokter spesialis saraf
Penyebab Tumor otak, stroke, gangguan otak, penyakit neruodegeneratif
Diagnosis MRI, CT scan, tes sistem saraf
Faktor Risiko Penderita nerudogeneratif, cidera otak, tumor otak
Pengobatan Sesuai penyakit yang mendasarinya
Pencegahan Jaga gaya hidup sehat, hindari penyakit-penyakit berbahaya, segera obati infeksi

Penyebab

Kebanyakan penderita afasia diakibatkan oleh adanya kerusakan otak, terutama bagian kiri otak akibat cedera atau lainnya. Berikut penyebab afasia secara umum:

  • Tumor otak
  • Cedera kepala
  • Stroke
  • Gangguan pembuluh darah
  • Infeksi di otak
  • Penyakit degeneratif
  • Operasi otak
  • Epilepsi
  • Gangguan genetik
  • Migrain (efeknya sementara)
  • Keracunan
  • Kemoterapi
  • Terapi radiasi
  • Cerebral hypoxia (otak kurang oksigen)
Baca Juga:  Vertigo: Gejala, Penyebab, dan Penanganannya

Jenis Afasia & Gejalanya

Dikutip dari laman Cleveland Clinic, bahwa ada banyak jenis afasia. Antara satu jenis dengan jenis lain bahkan punya gejala yang terbilang hampir mirip satu sama lain. Berikut ini beberapa yang paling umum diidap oleh para penderita:

  • Afasia Broca: disebut juga non fluent aphasia, yakni jenis afasia yang membuat penderitanya hanya dapat berbicara sangat terbatas yang umumnya kurang dari 4 kata.
  • Afasia Wernicke: tidak ada kesulitan dalam mengucapkan kata namun pemahaman terhadap katanya bermasalah. Sehingga sering mengucapkan kata-kata tapi tidak punya arti.
  • Afasia Anomik: jenis afasia satu ini membuat penderitanya sulit menyampaikan pikirannya karena tidak dapat merangkai kata-kata, terutama kata benda maupun kata sifat.
  • Afasia Global: dibandingkan dengan jenis afasia lain, tipe ini yang paling serius efeknya karena membuat si penderita sulit bicara, sulit merangkai kata, dan sulit membaca/menulis.
  • Afasia Primer Progresif: disebabkan oleh gangguan neurodgeneratif seperti pada penderita Alzheimer sehingga pemahaman bahasanya perlahan-lahan menurun.
Jenis Kefasihan Berbicara Pemahaman Bahasa Merangkai Kata
Afasia Broca ü
Afasia Wernicke ü
Afasia Anomik ü ü ü
Afasia Global
Afasia tracortical motor ü ü
Afasia transcortical sensory ü ü
Afasia mixed transcortial ü ü

Diagnosa

Diagnosis pada penderita afasia harus melalui tahapan evaluasi secara menyeluruh. Dokter nantinya akan menjalankan serangkaian proses pemeriksaan layaknya:

  • Cek riwayat kesehatan
  • Cek fisik
  • Wawancara medis
  • Tes bicara, menulis, membaca
  • CT scan
  • MRI
  • Tes kognitif
  • Tes memori
  • Tes fungsi sistem saraf

Pengobatan

Jenis Afasia

Pengobatan afasia secara menyeluruh tergolong sulit. Hal ini karena yang namanya sel saraf otak terutama sel saraf pusat tidak bisa regenerasi seperti sel tubuh lainnya. Jadi, bila sudah rusak maka tidak bisa sembuh seperti sedia kala karena tidak punya sentrosom dan neurolema.

Baca Juga:  Dandy-Walker Syndrome: Gangguan Perkembangan Otak Anak

Dokter biasanya akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk mengetahui area otak yang mengalami kerusakan. Juga termasuk penyakit lain yang mendasarinya. Selain itu, akan dilakukan terapi bicara, terapi menggambar, terapi menulis, dan terapi tambahan menggunakan alat elektronik.

Pencegahan

Sayangnya belum ada pencegahan yang spesifik untuk gangguan afasia ini, tetapi gangguan ini dapat diminimalisir dengan mencegah gangguan yang mendasarinya sepereti stroke, cedera otak, atau epilepsi.

Bila kalian merasa bahwa kemampuan bicara mulai menurun, kesulitan menulis, sulit merangkai kata, maka segera kunjungi dokter untuk melakukan terapi bicara. Jangan lupa untuk selalu menggunakan dan melatih otak dengan sering bersosialisasi, berbicara dengan orang banyak, hingga menulis.

Berikut beberapa pencegahan secara umum yang dapat Anda lakukan:

  • Jaga gaya hidup sehat
  • Jangan hiraukan infeksi (telinga/mata)
  • Selalu pakai pelindung kerja tetentu/di jalan raya
  • Turunkan tekanan darah tinggi
  • Segera lakukan perawatan diabetes tipe 2
  • Rawat penyakit epilepsi

Komplikasi

Komplikasi afasia dapat terjadi pada sebagian penderita dan begitu sebaliknya. Umumnya, komplikasi lebih dititikberatkan pada penyakit lain yang mendasarinya.

Jadi, silakan tanyakan dokter terkait efek samping atau komplikasi dari penyakit afasia yang kalian miliki. Dengan begitu, kalian bisa meminimalisir terjadinya komplikasi tersebut.

Kapan Harus ke Dokter?

Afasia

Silakan berkunjung ke dokter spesialis saraf apabila menemukan bahwa Anda atau anak Anda mengalami gejala afasia. Atau segera kunjungi gawat darurat bila:

  • Tiba-tiba sakit kepala tak tertahankan
  • Kebingungan, dan emosi yang meledak-ledak
  • Kehilangan penglihatan
  • Kesulitan menelan
  • Tidak dapat bicara sama sekali
  • Tubuh mati separo
  • Tidak bisa fokus, berfikir, maupun mengingat

Narasumber:

dr. Johannes Siringoringo, Sp. N

Spesialis Saraf

Primaya Hospital Bekasi Utara

Referensi:

  • Aphasia. https://www.asha.org/public/speech/disorders/aphasia. Diakses pada 09 November 2023.
  • Multiple pages related to aphasia definitions. https://www.aphasia.org/aphasia-definitions/. Diakses pada 09 November 2023.
  • Rehabilitation of aphasia. (https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23312652. Diakses pada 09 November 2023.
  • Chapter 57: Aphasia. https://accessmedicine-mhmedical-com.ccmain.ohionet.org/content.aspx?sectionid=227556670&bookid=2738&Resultclick=2. Diakses pada 09 November 2023.
  • Aphasia. https://neurology-mhmedical-com.ccmain.ohionet.org/content.aspx?sectionid=122854753&bookid=1779&Resultclick=2#1127045614. Diakses pada 09 November 2023.
  • Chapter 21: Higher Cortical Functions. https://neurology-mhmedical-com.ccmain.ohionet.org/content.aspx?sectionid=242764687&bookid=2850#242764701. Diakses pada 09 November 2023.
  • Let’s call it “aphasia”. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27384070/. Diakses pada 09 November 2023.
  • Chapter 57: Speech, Language, and Swallowing Disorders. https://neurology-mhmedical-com.ccmain.ohionet.org/content.aspx?sectionid=206764611&bookid=2550#206764625. Diakses pada 09 November 2023.
Bagikan ke :

Buat Janji Dokter

Promo

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.