• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Alergi Telur: Kenali Gejalanya dan Cara Mengatasinya

Alergi Telur Kenali Gejalanya dan Cara Mengatasinya

Telur merupakan bahan makanan yang tidak asing bagi masyarakat. Bahan makanan ini sering sekali kita jumpai dan konsumsi. Telur adalah sumber protein yang baik untuk kesehatan. Namun beberapa orang tak bisa mengonsumsinya karena memiliki alergi telur. Ketika memakan telur atau produk yang mengandung telur, mereka akan mengalami berbagai reaksi alergi yang bisa mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup hingga menimbulkan ancaman yang lebih serius.

 

buat jani dokter primaya

Mengenal Alergi Telur

Alergi terjadi karena sistem imun tubuh keliru mengenali zat asing yang tidak berbahaya, misalnya protein dalam makanan. Dalam alergi telur, protein yang terkandung dalam telur dianggap zat asing yang membahayakan. Sistem kekebalan akan memproduksi mediator mediator inflamasi / zat zat radang. Ketika protein itu masuk lagi ke dalam tubuh, sel darah putih akan melepaskan bahan kimia / mediator inflamasi seperti histamin . Aktivitas histamin ditandai dengan munculnya reaksi alergi.

Alergi telur adalah salah satu jenis alergi yang umum dijumpai pada beberapa populasi. Gejala alergi biasanya muncul dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah memakan telur atau makanan yang mengandung telur. Gejala ini bervariasi antara satu individu dan individu lain, dari yang ringan hingga berat dan mengancam jiwa.

Gejala reaksi alergi terhadap telur juga umum dijumpai pada anak-anak yang memiliki riwayat alergi eksim dengan gejala munculnya bercak pada kulit yang bertekstur kasar dan kering serta gatal-gatal. Umumnya alergi telur bisa dideteksi pada usia dini.

Alergi telur pada orang dewasa jarang dijumpai. Biasanya alergi yang dialami anak akan berkurang seiring dengan seringnya terpapar zat allergen dan bertambahnya usia. Namun tak tertutup kemungkinan orang dewasa juga punya alergi telur.

 

Gejala

Gejala alergi telur muncul setelah tubuh terpapar oleh telur. Namun reaksi yang dialami bisa berlainan. Gejala ringan yang umum termasuk:

  • Hidung meler
  • Bersin-bersin
  • Mual dan/atau muntah
  • Kram perut
  • Batuk-batuk
  • Mengi
  • Dada terasa sesak
  • Gatal-gatal
  • Kemerahan pada kulit

Adapun reaksi yang parah bisa menimbulkan gejala seperti sulit bernapas karena tenggorokan seperti tercekik, nyeri perut, denyut jantung cepat, tekanan darah anjlok, pusing, dan kehilangan kesadaran yang merupakan tanda terjadinya kondisi yang disebut anafilaksis.

 

Faktor Risiko Alergi Telur

Pemicu alergi telur adalah sistem imun yang bereaksi secara berlebihan terhadap protein yang terkandung di dalam telur. Ketika tubuh berkontak dengan protein telur, sistem imun mengenalinya sebagai ancaman terhadap tubuh sehingga melepasan zat zat inflamasi. Akibat serangan itu, tubuh mengalami reaksi alergi.

Baca Juga:  Hipertermia: Kenaikan Suhu Tubuh yang Berlebihan

Baik putih maupun kuning telur mengandung protein yang bisa menyebabkan alergi. Namun sebagian besar kasus alergi telur terjadi karena kuning telur.

Beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko munculnya alergi telur antara lain:

  • Anak riwayat dermatitis atopik atau eksim pada kulit
  • Ada riwayat alergi makanan lainnya, asma, atau penyakit alergi seperti eksim pada keluarga

 

Cara Dokter Mendiagnosis Alergi Telur

Dokter dapat mendiagnosis alergi telur melalui tes alergi pada kulit yang disebut skin prick test. Ini jenis tes yang paling sering digunakan untuk menegakkan diagnosis alergi makanan dan lingkungan. Skin prick test dilakukan dengan mengoleskan dan memasukkan cairan alergen lewat jarum kecil ke kulit untuk melihat apakah ada reaksi alergi.

Metode diagnosis lainnya adalah tes darah, yakni dengan mengambil sampel darah pasien untuk diperiksa di laboratorium. Dengan cara ini, dokter akan mengukur immunoglobulin E dalam darah, yakni antibodi yang diproduksi sistem imun untuk merespons alergen tertentu. Tes ini direkomendasikan bagi pasien yang memiliki masalah kulit kronis, seperti eksim.

Jika hasil kedua metode itu belum bisa memastikan diagnosis, dokter bisa meminta pasien menjalani tes tantangan makan. Di bawah pengawasan medis, pasien akan diminta memakan telur dalam jumlah kecil untuk mengecek kemunculan reaksi. Dokter dan tim medis lain akan bersiap dengan peralatan yang dibutuhkan untuk berjaga-jaga bila terjadi reaksi yang parah. Seperti dikutip dari National Library of Medicine, tantangan makan ini hanya boleh dilakukan di bawah pengawasan tim medis terlatih demi keamanan pasien.

 

Cara Mengatasi Alergi Telur

Alergi gejalanya bisa dikendalikan. Cara utama untuk mengatasi alergi telur adalah menghindari konsumsi telur dan produk makanan/minuman yang mengandung telur. Pastikan membaca label kemasan ketika hendak mengonsumsi makanan tertentu. Begitu pula ketika memesan makanan di restoran atau warung, tanyakan apakah ada kandungan telur dalam makanan yang dipesan.

Baca Juga:  Hantavirus: Gejala, Mencegah dan Mengobati

Untuk reaksi alergi yang ringan, dokter bisa meresepkan obat antihistamin guna meredakan gejala. Dokter juga mungkin merekomendasikan pasien menyiapkan suntikan epinefrin untuk berjaga-jaga bila terjadi gejala anafilaksis yang merupakan tanda reaksi parah. Namun direkomendasikan untuk berkonsultasi dengan dokter atau tenaga medis terlebih dahulu.

 

Komplikasi

Reaksi alergi telur bisa bervariasi dari masalah dermatologis (kulit), gastrointestinal (pencernaan), hingga anafilaksis yang berpotensi merenggut nyawa pasien. Anafilaksis adalah komplikasi alergi yang harus diwaspadai setiap individu yang memiliki alergi.

Anafilaksis bisa membuat individu tersebut kolaps dan sulit bernapas hingga meninggal. Meski begitu, komplikasi ini lebih jarang terjadi pada kasus alergi telur dibanding jenis alergi lain seperti terhadap kacang atau susu.

 

Pencegahan

Cara utama untuk menghindari kemunculan reaksi alergi dan mencegah terjadinya komplikasi alergi telur adalah tidak mengonsumsi telur. Anda dapat mengganti dengan bahan makanan hewani lainnya.  Baca label makanan dengan cermat untuk memastikan tak ada kandungan telur di dalamnya.

Bagi anak-anak, orang tua bisa memasangkan gelang atau kalung khusus untuk menandakan bahwa mereka punya alergi telur. Selain itu, orang tua sebaiknya menginformasikan kepada sekolah bila anaknya alergi terhadap telur sehingga pihak sekolah tahu apa yang harus dilakukan ketika si anak mengalami reaksi alergi di sekolah.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Bila muncul gejala yang tak biasa setelah mengonsumsi telur atau produk yang mengandung telur, segera temui dokter untuk berkonsultasi. Bila memungkinkan, datangi dokter saat gejala itu masih ada sehingga lebih memudahkan dokter untuk menegakkan diagnosis guna memastikan apakah itu merupakan reaksi alergi telur atau bukan.

 

Reviewed by

dr. Andy Andrean

Dokter Umum

Primaya Hospital Bhakti Wara

Referensi:

  • Egg Allergy. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK538192/. Diakses 15 Januari 2023
  • Food Allergy https://www.nhs.uk/conditions/food-allergy/. Diakses 15 Januari 2023
  • Egg. https://acaai.org/allergies/allergic-conditions/food/egg/. Diakses 15 Januari 2023
  • Egg Allergy: Diagnosis and Immunotherapy. https://www.mdpi.com/1422-0067/21/14/5010. Diakses 15 Januari 2023
  • Allergy to egg proteins. https://www.elsevier.es/en-revista-allergologia-et-immunopathologia-105-articulo-allergy-egg-proteins-13013610. Diakses 15 Januari 2023
  • Optimizing Patient Care in Egg Allergy Diagnosis and Treatment. https://www.dovepress.com/optimizing-patient-care-in-egg-allergy-diagnosis-and-treatment-peer-reviewed-fulltext-article-JAA. Diakses 15 Januari 2023
  • Egg allergy: Clinical features and diagnosis. https://www.uptodate.com/contents/egg-allergy-clinical-features-and-diagnosis. Diakses 15 Januari 2023
Share to :

Promo

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.