• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Sindrom Kelelahan: Gejala dan Faktor Risiko

Sindrom Kelelahan

Sindrom kelelahan merupakan salah satu penyakit yang mempengaruhi kondisi seseorang hingga kesulitan menjalani aktivitasnya karena sebab yang belum diketahui. Simak penjelasan selengkapnya mengenai sindrom kelelahan berikut ini.

Anda bisa mendapatkan konsultasi nyaman dengan dokter melalui layanan kunjungan dokter ke rumah dari homecare Kavacare. Kami juga menyediakan layanan infus untuk booster badan lemas atau kelelahan. Hubungi kami melalui Whatsapp di nomor 0811 1446 777.

buat jani dokter primaya

Apa Itu Sindrom Kelelahan?

Sindrom kelelahan kronis, yang dikenal juga sebagai myalgic encephalomyelitis, adalah penyakit multisistem kompleks yang umumnya ditandai dengan kelelahan parah, disfungsi kognitif, masalah tidur, disfungsi otonom, dan post-exertional malaise (gejala yang terasa semakin buruk setelah melakukan kegiatan yang melelahkan), yang dapat sangat mengganggu kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Penyakit kronis yang tidak diketahui pasti penyebabnya ini telah diakui oleh World Health Organization (WHO) dan the United States Center for Disease Control and Prevention (US CDC) sebagai kondisi kelainan otak.

Meski penyebab pasti penyakit ini belum diketahui oleh para ahli, mereka percaya sindrom kelelahan kronis ini dapat muncul karena lebih dari satu hal yang berbeda-beda sebagai beberapa penyebab sekaligus. Bukan hal yang tidak mungkin dua atau lebih pemicu bersama-sama menyebabkan munculnya suatu penyakit, dalam kasus ini, sindrom kelelahan kronis.

Hal-hal yang telah dipelajari sebagai beberapa kemungkinan penyebab penyakit ini, antara lain:

  • Infeksi, 1 dari 10 orang yang pernah terinfeksi virus viral (seperti Epstein-Barr, Ross River, atau Coxiella burnetii) memiliki gejala yang mirip dengan kriteria sindrom kelelahan kronis.
  • Perubahan sistem imun, seperti produksi sitokin (protein yang mengatur perilaku sel lain) kronis, fungsi sel pembunuh alami yang menurun, hingga perbedaan penanda aktivasi sel T (sel yang mengaktifkan dan menekan respons imun terhadap infeksi).
  • Stres fisik atau emosional, yang dapat memengaruhi jaringan kompleks yang mengontrol reaksi tubuh terhadap respons imun, pencernaan, penggunaan energi, dan suasana hati.
  • Perubahan dalam produksi energi.
  • Kemungkinan hubungan genetik, tetapi masih diperlukan banyak penelitian untuk menemukan gen pasti atau faktor lain yang menjadi penyebab penyakit ini.

Faktor Risiko

Menurut prevalensinya, ada beberapa hal yang dapat disebut sebagai faktor risiko penyakit sindrom kelelahan kronis ini. Hal-hal tersebut, antara lain:

  • Berusia 40-70 tahun.
  • Berjenis kelamin perempuan. Perempuan lebih berisiko terkena sindrom kelelahan dengan perbandingan rasio dengan laki-laki 3:1.
  • Berkulit putih (ras Kaukasoid).
  • Bergolongan ekonomi menengah ke bawah.

Tanda dan Gejala

Gejala yang menunjukkan adanya sindrom kelelahan kronis ini biasanya mirip dengan gejala-gejala kebanyakan penyakit lain. Penyakit ini memiliki beberapa gejala utama dan gejala tambahan yang dapat dilihat sebagai penunjang diagnosis. Berikut ini beberapa tanda dan gejala sindrom kelelahan kronis menurut CDC.

Baca Juga:  Penyakit yang Bisa Terjadi Akibat Cuaca Terlalu Panas

Gejala Primer

Tiga gejala yang disebut juga sebagai gejala inti ini, yaitu:

  • Kemampuan untuk melakukan aktivitas yang sangat menurun bersamaan dengan rasa lelah yang telah dirasakan selama 6 bulan atau lebih. Rasa lelah sindrom ini berbeda dengan rasa lelah yang biasanya dirasakan kebanyakan orang, dengan ciri-ciri, seperti:
    • Bisa terasa parah.
    • Bukan hasil dari aktivitas yang sangat berat.
    • Tidak membaik meskipun sudah tidur maupun beristirahat.
    • Tidak pernah menjadi keluhan sebelumnya.
  • Memburuknya tanda-tanda sindrom setelah melakukan aktivitas fisik atau mental yang sebelumnya tidak menimbulkan keluhan, yang disebut sebagai post-exertional malaise (PEM). Tanda-tanda yang dapat muncul untuk pertama kalinya atau justru bertambah buruk dari sebelumnya ini, seperti:
    • Kesulitan berpikir.
    • Sulit tidur.
    • Sakit tenggorokan.
    • Sakit kepala.
    • Kelelahan parah.
  • Bermasalah dengan pola tidur, di mana penderita biasanya tidak membaik setelah tidur semalaman atau justru kesulitan untuk bisa atau tetap tertidur.

Selain itu, diperlukan salah satu dari gejala tambahan untuk menentukan diagnosis sindrom kelelahan kronis. Gejala tambahan tersebut, antara lain:

  • Bermasalah dalam ingatan dan cara berpikir, seperti kesulitan berpikir dengan cepat, mengingat sesuatu, dan memperhatikan detail, yang biasanya disebut penderita sebagai terjebak di dalam “kabut” sehingga kesulitan berpikir dengan jelas.
  • Memburuknya gejala ketika berdiri atau duduk dengan tegak, yang disebut sebagai intoleransi ortostatik, di mana penderita merasa pusing, lemah, hingga pingsan ketika berdiri atau duduk dari posisi tidur.

Gejala Umum yang Lain

Meski tidak semua, sebagian penderita sindrom kelelahan kronis mengalami beberapa gejala lain, seperti:

  • Nyeri dan nyeri otot.
  • Nyeri sendi tanpa bengkak atau kemerahan.
  • Sakit kepala, baik baru atau memburuk.
  • Kelenjar getah bening lunak di leher atau ketiak.
  • Sakit tenggorokan yang sering terjadi.
  • Masalah pencernaan, seperti sindrom iritasi usus besar.
  • Menggigil dan berkeringat di malam hari.
  • Alergi dan kepekaan terhadap makanan, bau, bahan kimia, cahaya, atau kebisingan.
  • Kelemahan otot.
  • Sesak napas.
  • Detak jantung tidak teratur.

Diagnosis

Selain menanyakan riwayat medis pasien dan keluarga, serta melakukan pemeriksaan mental dan fisik secara menyeluruh, yang diperlukan adalah melihat gejala primer dan gejala pendukung yang menyertai.

Tidak ada pemeriksaan tambahan yang diperlukan selain pemeriksaan laboratorium standar. Tujuan dari pemeriksaan lab ini adalah untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi atau kemungkinan diagnosis lain dari sindrom kelelahan, bukan untuk menegakkan diagnosis. Tes yang dibutuhkan seperti:

  • Tes urin.
  • Tes darah.
  • Tes fungsi tiroid.
  • Tes enzim otot, seperti kreatin kinase.
  • Tes sensitivitas gluten.
  • Tes antibodi endomisial imunoglobulin A.
  • Tes antibodi reumatologis.
Baca Juga:  Kudis: Gejala, Mencegah dan Mengobati

Terapi

Belum ada obat-obatan yang terbukti dapat menyembuhkan sindrom kelelahan kronis. Akan tetapi, beberapa gejala sindrom ini dapat ditangani atau diredakan sehingga dapat meringankan kondisi yang dirasakan oleh penderita, misalnya beberapa obat pereda nyeri, obat penenang untuk membantu terlelap, dan obat-obatan lain yang diresepkan dokter sesuai keluhan pasien sindrom ini masing-masing. Meskipun demikian, penanganan pada pasien satu mungkin tidak selalu membuahkan hasil yang sama pada pasien yang lain. Berikut ini beberapa terapi yang dapat dicoba untuk menangani tiap gejala sindrom ini.

Manajemen Aktivitas atau Pacing

Tujuan terapi ini adalah belajar menyeimbangkan waktu istirahat dan aktivitas untuk menghindari kambuhnya PEM. Untuk melakukan terapi ini, pasien harus mengenali batasan mental dan fisik diri sendiri. Bila pasien sudah memahami seberapa berat aktivitas fisik dan mental yang bisa melelahkan untuk mereka, selanjutnya dapat dirancang pembagian waktu untuk beraktivitas dan beristirahat supaya tetap berada dalam batasan tersebut.

Manajemen Rasa Nyeri

Pasien sindrom ini biasanya merasakan nyeri yang mendalam pada otot dan sendinya. Sakit kepala (seperti ditekan) juga biasanya merupakan keluhan yang umum pada penderita sindrom kelelahan kronis. Dokter mungkin akan menyarankan beberapa obat pereda nyeri yang dijual bebas, seperti asetaminofen, aspirin, atau ibuprofen. Metode manajemen nyeri lainnya termasuk terapi peregangan dan gerakan, pijatan lembut, terapi panas, latihan pengencangan, terapi air, hingga akupunktur, jika dilakukan oleh praktisi berlisensi, mungkin dapat membantu mengatasi rasa sakit pada beberapa pasien.

Teknik Bernapas, Relaksasi, dan Terapi Gerakan (Peregangan, Yoga, Tai Chi)

Banyak penderita sindrom kelelahan kronis mengalami depresi selama masa sakitnya. Selain dengan berkonsultasi dan mendapatkan obat antidepresan bila diperlukan, berbagai terapi dan teknik bernapas, seperti peregangan, yoga, tai chi, dapat membantu meredakan tingkat stres dan kecemasan.

Komplikasi

Seperti kebanyakan penyakit kronis lainnya, penderita sindrom kelelahan kronis sangat umum mengalami depresi, stres, dan kecemasan. Banyak orang dengan kondisi ini merasa kehilangan semangat atau bahkan, kadang-kadang, putus asa.

Narasumber:

dr. Keyvan Fermitaliansyah

Care Pro & Dokter Umum di Kavacare

 

Referensi:

Bagikan ke :

Promo

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.