dr. Lilir Amalini adalah seorang Dokter Spesialis Neurologi (Saraf) yang berpraktik di Primaya Evasari Hospital dan Primaya Hospital Kelapa Gading. Beliau menggabungkan ilmu saraf klinis dengan teknik intervensi nyeri modern dan kedokteran olahraga. Beliau memiliki sertifikasi CFIDN (Certified Functional Integrated Dry Needling), sebuah keahlian khusus dalam menangani nyeri otot dan saraf melalui stimulasi titik picu, serta gelar AIFO-K (Ahli Ilmu Faal Olahraga Klinis). Kombinasi keahlian ini menjadikan beliau pakar dalam Manajemen Nyeri Terpadu, di mana pasien tidak hanya mendapatkan pengobatan secara farmakologi, tetapi juga tindakan intervensi untuk memulihkan fungsi gerak dan otot secara optimal.
Keahlian dan Fokus Layanan
dr. Lilir memiliki fokus utama pada pemulihan fungsi saraf dan penghilangan nyeri melalui pendekatan:
- Manajemen Nyeri Otot & Saraf (Musculoskeletal Pain): Penanganan nyeri leher (tengeng), nyeri punggung bawah (LBP), saraf terjepit (HNP), dan nyeri bahu.
- Neurologi Klinis: Penanganan stroke, vertigo, migrain, dan nyeri kepala kronis.
- Intervensi Dry Needling: Penggunaan jarum halus untuk melemaskan otot yang tegang secara kronis (trigger points) yang sering menjadi penyebab nyeri saraf semu.
- Kedokteran Olahraga (Exercise Medicine): Pemberian resep latihan fisik khusus untuk rehabilitasi pasien saraf guna meningkatkan kekuatan otot dan keseimbangan.
Tindakan dan Tatalaksana Medis
- Functional Integrated Dry Needling (FIDN): Tindakan memasukkan jarum tipis ke dalam titik picu otot (trigger points) untuk melepaskan ketegangan otot, memperlancar aliran darah, dan meredakan nyeri saraf yang disebabkan oleh tekanan otot.
- Manajemen Saraf Terjepit: Evaluasi dan terapi komprehensif untuk pasien dengan keluhan kesemutan, baal, atau lemah anggota gerak.
- Medical Exercise Prescription: Penyusunan program latihan fisik yang presisi untuk pasien pasca-stroke atau pasien dengan keterbatasan gerak akibat gangguan saraf.
- Neuro-Restorasi: Terapi untuk mengembalikan fungsi saraf yang terganggu akibat cedera atau penyakit degeneratif.
- Pemeriksaan Neurologis Digital: Interpretasi hasil penunjang seperti MRI atau CT-Scan untuk menentukan lokasi titik nyeri secara akurat.