Distonia atau dystonia adalah kondisi dimana seseorang mengalami kontraksi otot yang tidak terkendali yang mengakibatkan gerakan yang dilakukan oleh tubuh menjadi sulit terkendali dan tidak sesuai tujuan sehingga akan mengganggu aktivitas.
Pasien dengan distonia juga muncul gerakan secara berulang-ulang termasuk postur tubuh yang tidak terlihat seperti pada umumnya.
Mengenal Tentang Gangguan Distonia
Dystonia adalah suatu kondisi medis yang mempengaruhi cara tubuh bergerak. Kondisi tersebut dapat terjadi saat otot-otot melakukan kontraksi tanpa sadar dan tidak terkendali sehingga memicu munculnya gerakan berulang semi-ritmik ataupun postur tubuh yang terlihat tidak seperti pada umumnya.
Gerakan yang tidak terkendali ini dapat terjadi pada sejumlah bagian tubuh termasuk wajah, leher, lengan, kaki hingga pita suara. Salah satu jenis distonia yang sering muncul adalah distonia leher atau distonia cervical.
Distonia eervical atau sering dikenal dengan istilah tortikolis adalah jenis dystonia yang paling umum terjadi. Jenis distonia ini akan mempengaruhi area otot leher sehingga mengakibatkan posisi kepala tidak pada umumnya bahkan terdapat gerakan leher berulang ke arah yang sama seperti berputar ataupun berbalik secara tidak sengaja.
Distonia cervical merupakan salah satu distonia fokal atau distonia yang biasanya hanya mempengaruhi pada bagian tubuh tertentu saja. Distonia fokal lain adalah distonia pada lengan atau sering disebut sebagai writerโs cramp. Penyakit ini sebenarnya dapat menyerang siapa saja dan tidak memandang usia, ras ataupun wilayah geografis.
Menurut data dari Cleveland Clinic, kondisi medis tersebut bahkan sudah berpengaruh terhadap sekitar 300.000 orang di Amerika Serikat. Angka kejadian distonia di Indonesia sampai saat ini belum jelas, karena data epidemologi yang kurang dan adanya kurang awareness dalam mengenali distonia tersebut.
Meskipun terdengar cukup sepele, tetapi kondisi ini sebenarnya tidak boleh diabaikan begitu saja karena akan berpengaruh terhadap aktivitas. Bahkan jika dibiarkan begitu saja, akan menyebabkan komplikasi berupa fatique pada otot dan mengurangi produktivitas penderitanya.
Gejala Distonia
Gejala otot menegang sendiri ini biasanya berbeda-beda dan tergantung pada beberapa faktor mulai dari tingkat keparahan hingga jenis dystonia yang dialami. Keluhan yang biasanya dialami oleh pasien antara lain:
- Kram otot dan kaku otot yang tidak bisa dikontrol
- Posisi bagian tubuh yang tidak seperti posisi normal seperti kepala miring ke salah satu sisi, dan atau berputar ke posisi tidak biasanya
- Dapat disertai tremor atau gemetar
Selain keluhan atau gejala di atas, terdapat pula gejala dimana tergantung pada bagian tubuh manakah yang berpengaruh. Di bawah ini beberapa gejala berdasarkan dengan area tubuh yang terdampak:
- Leher: kepala berputar ke satu sisi, menarik ke belakang ataupun ke depan
- Kelopak mata: mata berkedip lebih cepat dan mengakibatkan pasien sulit melihat
- Rahang atau lidah: bicara menjadi cadel dan kesulitan menelan atau mengunyah
- Tangan dan lengan: melakukan gerakan berulang seperti saat menulis
- Pita suara: mengubah suara menjadi pelan atau kencang.
Faktor Penyebab
Penyebab distonia masih belum diketahui secara pasti dan terus diteliti lebih lanjut. Tetapi banyak ahli menyebutkan jika penyakit ini berkaitan dengan gangguan yang terdapat pada sel saraf pada area ganglia basal, selain itu distonia juga dapat merupakan kelainan fungsional pada beberapa kondisi seperti pada pasien dengan gangguan psikiatri.
Basal ganglia merupakan bagian otak yang mempunyai peran mengatur gerakan ataupun kontraksi otot. Selain itu, ada sejumlah faktor penyebab yang dipercaya bisa meningkatkan risiko penyakit ini diantaranya:
- Kelainan genetik seperti pada Penyakit Huntington
- Gangguan metabolisme yang melibatkan beberapa mineral seperti Penyakit Wilson (gangguan pada penggunaan mineral tembaga dalam tubuh)
- Kecelakaan
- Stroke
- Cedera otak traumatik
- Tumor atau kanker
- Kurangnya oksigen
- Infeksi seperti ensefalitis dan tuberkulosis
- Reaksi pada jenis obat-obatan tertentu
- Cerebral Palsy
Bagaimana Cara Mendiagnosis Distonia
Distonia merupakan fenomena gerakan tidak sadar, dan untuk mengatasinya, juga perlu dicari penyebabnya terlebih dahulu. Untuk membantu mengetahui apakah pasien tersebut terkena gangguan ini ataukah tidak, maka dokter biasanya akan melakukan wawancara medis dahulu. Wawancara tersebut berkaitan dengan gejala serta riwayat kesehatan dari pasien dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik dengan beberapa tes penunjang. Adapun tes penunjang tersebut seperti MRI (magnetic resonance imaging), CT Scan (Computerized Tomography), Elektromiografi (EMG) serta pemeriksaan darah dan urine untuk menilai beberapa kandungan mineral dalam darah atau urine.
Di samping itu, terdapat juga pemeriksaan cairan serebrospinal yang membantu mengetahui infeksi, cedera, tumor ataupun pendarahan di otak. Tes genetik dibutuhkan pula terutama pada kasus yang dicurigai ada keterlibatkan gen penyebab distonia.
Pengobatan Pada Pasien Dystonia
Pengobatan dystonia biasanya akan tergantung pada penyebab, jenis dan gejala yang dialami oleh penderita. Tujuan pengobatan adalah untuk mengurangi gejala, penyebab guna meningkatkan produktivitas penderita dan diharapkan meningkatkan kualitas hidupnya.Ada sejumlah pengobatan yang paling terkenal yakni pengobatan distonia dengan obat dan suntikan toksin botulinum (e.g Botox). ย Selain pengobatan tersebut, terdapat beberapa pendekatan pengobatan lainnya termasuk fisioterapi.
1.ย ย ย ย Pemberian Obat-obatan
Beberapa obat anti distonia dapat diberikan dengan tujuan untuk menurunkan gejala distonia. Dokter akan memberikan obat-obatan kepada pasien dengan dosis yang sesuai dengan tingkat keparahan dari distonia. Selain itu, beberapa obat juga dapat diresepkan untuk memperbaiki penyebab dari distonia.
2.ย ย ย ย Suntik Toksin Botulinum (Botox)
Suntik toksin botulinum (Botox) ini mempunyai peran untuk memblokir semua sinyal saraf selama beberapa minggu atau bulan, diharapkan dapat menurunkan keprahan dari gejala distonia, dan suntikan ini dapat dijadikan pilihan apabila pasien mengalami dystonia yang kurang responsif dengan obat.
3.ย ย ย ย Fisioterapi, Terapi Wicara dan Okupasi
Fisioterapi, terapi wicara dan okupasi dimaksudnya untuk melatih pasien dengan distonia untuk beradaptasi dengan kondisi, sehingga dapat meningkatkan angka kemandirian pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari, meningkatkan produktivitas dalam perannya seperti pekerjaan, dan dhiarapkan meningkatkan kualitas hidup penderita.
4.ย ย ย ย Deep Brain Stimulation (DBS)
Deep Brain Stimulation (DBS) merupakan pengobatan intervensi pada distonia. Pengobatan ini dilakukan dengan cara memasang elektroda di otak sesuai dengan lokasi yang bertanggung jawab memunculkan distonia, melalui pembedahan, dan memasang pemacunya di dinding dada. Nantinya elektroda tersebut berperan mengirimkan arus listrik ringan ke otak untuk bisa meringankan gejala, dan secara berkala Dokter akan melakukan pemprograman untuk seting stimulasi, sesuai dengan derajat keparahan dari distonia tersebut. Deep Brain Stimulation dapat dijadikan sebagai alternatif untuk distonia yang tidak responsif dengan obat, suntuikan toksin botulinum (botox) atau pada pasien yang mengalami efek samping atau muncul intoleransi dari pengobatan dengan obat.
Komplikasi Yang Mungkin Terjadi
Penyakit ini memang tidak boleh diabaikan begitu saja karena akan menimbulkan komplikasi jika tidak mendapatkan penanganan. Berikut adalah beberapa komplikasi yang mungkin terjadi terutama jika tidak segera diatasi.
- Ketidakmampuan fisik (cacat fisik)
- Terdapat masalah pada penglihatan yang mempengaruhi area kelopak mata
- Rahang sulit digerakkan sehingga sulit berbicara
- Rasa sakit akibat kontraksi otot secara berulang
- Kelelahan
- Depresi dan cemas
- Menarik diri dari lingkungan sosial.
Pencegahan Yang Bisa Dilakukan
Karena penyebab dari distonia adalah bermacam-macam, sebenarnya kondisi ini tidak dapat dicegah 100% oleh seseorang. Namun adaย beberapa langkah yang dapat diambil guna meminimalisir gangguan tersebut diantaranya:
1.ย ย ย ย Menerapkan Gaya Hidup Sehat
Hal paling utama yang dapat dilakukan adalah dengan beralih ke gaya hidup sehat misalnya saja dengan mengonsumsi makanan bergizi. Selain itu, juga harus menjaga kesehatan fisik dengan berolahraga.
2.ย ย ย ย Jangan Mengabaikan Infeksi
Apabila Anda mempunyai infeksi pada area tubuh tertentu, sebaiknya jangan diabaikan begitu saja. Tetapi segera lakukan pemeriksaan ke dokter agar mendapatkan pengobatan lebih cepat.
3.ย ย ย ย Menggunakan Peralatan Keselamatan
Pencegahan yang terakhir, ada baiknya Anda selalu menggunakan peralatan yang bisa mencegah terjadinya cedera otak. Misalnya saja dengan selalu mengenakan helm sesuai standar ketika sedang berkendara.
Kapan Harus Segera Ke Dokter?
Pasien perlu segera ke dokter ketika gejala dari dystonia baru di tahap ringan agar tidak semakin memburuk. Selain itu, ketika Anda merasakan adanya gerakan tubuh di luar kendali dan tidak segera membaik, maka segera periksakan.
Kondisi medis ini menjadi kondisi yang dapat menyerang siapapun termasuk juga anak-anak hingga orang dewasa. Jika Anda sudah mengalami sejumlah gejala Distonia di atas, maka jangan diabaikan begitu saja dan segera periksa ke dokter.
Ditinjau oleh:
Spesialis Neurologi
Primaya Hospital Semarang
Referensi:
- Dystonia: What It Is, Causes, Symptoms, Treatment & Types. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/6006-dystonia . Diakses pada 26 September
- Dystonia. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dystonia/symptoms-causes/syc-20350480. Diakses pada 26 September
- Dystonia. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK448144/. Diakses pada 26 September
- What is Dystonia. https://dystonia-foundation.org/what-is-dystonia/. Diakses pada 26 September



