Demam merupakan salah satu keluhan kesehatan yang paling sering dialami oleh anak dan menjadi alasan utama orang tua membawa anak ke fasilitas kesehatan. Demam adalah peningkatan suhu tubuh sebagai respons alami terhadap infeksi. Demam bukanlah penyakit, melainkan tanda bahwa sistem kekebalan tubuh sedang bekerja melawan kuman. Anak dianggap demam jika suhu tubuh mencapai 38°C (diukur dari dubur), 37,8°C (mulut), atau 37,5°C (ketiak). Perlu dipahami bahwa tingginya demam tidak selalu menunjukkan keparahan penyakit. Yang lebih penting adalah kondisi umum anak, apakah masih aktif, mau minum, dan responsif terhadap lingkungan sekitar.
Penyebab Demam
Mayoritas demam pada anak, yaitu sekitar 90%, disebabkan oleh infeksi virus. Infeksi virus yang paling sering menyebabkan demam antara lain influenza, pilek (common cold), gastroenteritis (muntaber), roseola infantum, varisela (cacar air), dan penyakit tangan-kaki-mulut (hand-foot-mouth disease). Infeksi virus umumnya bersifat self-limiting, artinya dapat sembuh dengan sendirinya tanpa memerlukan pengobatan khusus seperti antibiotik.
Infeksi bakteri merupakan penyebab demam yang lebih jarang, namun umumnya lebih serius dan memerlukan pengobatan antibiotik. Beberapa infeksi bakteri yang sering dijumpai pada anak antara lain infeksi saluran kemih, pneumonia (radang paru), otitis media (infeksi telinga tengah), faringitis streptokokus (radang tenggorokan oleh bakteri Streptococcus), dan infeksi kulit.
Penyebab demam lainnya yang perlu diketahui adalah reaksi pasca imunisasi. Demam ringan selama 1-2 hari setelah pemberian vaksin merupakan respons normal tubuh yang menunjukkan sistem kekebalan sedang membentuk perlindungan terhadap penyakit. Demam pasca imunisasi umumnya tidak memerlukan penanganan khusus selain pemberian obat penurun demam bila diperlukan.
Cara Menangani Demam di Rumah
Perawatan Tanpa Obat
- Langkah pertama dalam menangani demam adalah dengan cara-cara berikut:
- Berikan kompres dengan air hangat (bukan air dingin atau es) di dahi, ketiak, atau lipat paha selama 10-15 menit
- Kenakan pakaian yang tipis dan longgar, hindari membedong anak dengan selimut tebal
- Atur ruangan agar sejuk dengan suhu sekitar 24-26°C dan sirkulasi udara yang baik
- Pastikan anak mendapat asupan cairan yang cukup: ASI untuk bayi, air putih untuk anak yang lebih besar
- Biarkan anak beristirahat dengan cukup, hindari melakukan aktivitas yang melelahkan
- Berikan makanan bergizi dalam porsi kecil, serta tidak memaksa anak untuk makan jika tidak mau
Perawatan Dengan Obat
Obat penurun demam diberikan apabila anak merasa tidak nyaman, rewel, atau suhu tubuh mencapai 38°C atau lebih tinggi. Terdapat dua pilihan obat yang aman untuk anak:
Tabel 1. Obat Penurun Demam yang Direkomendasikan
| Obat | Dosis | Interval Pemberian | Usia Minimal |
| Parasetamol | 10-15 mg per kilogram berat badan | Setiap 4-6 jam bila diperlukan | Sejak bayi baru lahir |
| Ibuprofen | 5-10 mg per kilogram berat badan | Setiap 6-8 jam bila diperlukan | 6 bulan ke atas |
Sebagai contoh, untuk anak dengan berat badan 10 kilogram, dosis parasetamol yang diberikan adalah 100-150 miligram per pemberian.
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam pemberian obat penurun demam:
Pilih satu jenis obat saja, hindari memberikan parasetamol dan ibuprofen secara bersamaan atau bergantian
Hindari pemberian aspirin pada anak karena berisiko menyebabkan sindrom Reye yang berbahaya
Antibiotik tidak diperlukan untuk demam yang disebabkan oleh virus dan hanya diberikan atas indikasi serta resep dokter
Selalu baca aturan pakai pada kemasan obat dan sesuaikan dosis dengan berat badan anak
Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter?
Terdapat beberapa kondisi yang memerlukan evaluasi medis dan perlu diwaspadai oleh orang tua. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami kondisi berikut:
- Bayi berusia di bawah 3 bulan dengan demam 38°C atau lebih tinggi
- Anak mengalami kejang bersamaan dengan demam
- Terdapat kesulitan bernapas atau sesak napas yang berat
- Anak tampak sangat lemas, tidak responsif, atau sulit dibangunkan
- Muncul bintik-bintik merah atau ungu pada kulit yang tidak hilang ketika ditekan
- Tanda-tanda dehidrasi seperti mata cekung, tidak buang air kecil lebih dari 6 jam, atau tidak ada air mata saat menangis
- Leher terasa kaku sehingga anak tidak dapat menundukkan dagu ke dada
- Muntah yang terus-menerus atau terdapat perdarahan spontan
- Demam berlangsung lebih dari 3 hari tanpa menunjukkan perbaikan
- Anak sama sekali tidak mau makan atau minum
- Batuk berdahak berwarna kuning atau hijau yang tidak membaik setelah beberapa hari
- Terdapat keluhan nyeri pada telinga atau keluar cairan dari telinga
- Anak mengeluh nyeri saat buang air kecil atau urin berbau tidak sedap
Orang tua perlu cermat dalam menilai kondisi anak. Apabila merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan kondisi anak, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.
Mitos dan Fakta Seputar Demam
Terdapat beberapa pemahaman keliru mengenai demam yang masih sering ditemukan di masyarakat:
Tabel 2. Mitos dan Fakta tentang Demam
| Mitos | Fakta |
| Demam tinggi dapat merusak otak anak | Demam di bawah 42°C tidak menyebabkan kerusakan otak |
| Kompres air dingin atau alkohol lebih efektif menurunkan demam | Air dingin menyebabkan menggigil yang justru meningkatkan suhu tubuh, sedangkan alkohol dapat terserap dan berbahaya. Gunakan air hangat |
| Tumbuh gigi menyebabkan demam tinggi | Proses tumbuh gigi hanya menyebabkan demam ringan di bawah 38,5°C |
| Semua demam memerlukan antibiotik | Mayoritas demam disebabkan oleh virus yang tidak memerlukan antibiotik |
| Mandi malam atau terkena air hujan menyebabkan demam | Demam disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri, bukan oleh paparan air dingin |
Pencegahan Demam
Meskipun tidak semua demam dapat dicegah, terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko infeksi yang menyebabkan demam:
- Imunisasi Lengkap: Pastikan anak mendapat imunisasi lengkap sesuai jadwal yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia. Imunisasi memberikan perlindungan terhadap berbagai penyakit infeksi serius yang dapat menyebabkan demam tinggi dan komplikasi.
- Kebersihan Tangan: Ajarkan dan biasakan anak untuk mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan, setelah menggunakan toilet, dan setelah bermain. Kebiasaan mencuci tangan yang baik merupakan cara paling efektif untuk mencegah penyebaran infeksi.
- Hindari Kontak dengan Orang Sakit: Batasi kontak anak dengan orang yang sedang sakit, terutama pada masa wabah penyakit tertentu. Apabila ada anggota keluarga yang sakit, upayakan untuk memisahkan peralatan makan dan kamar tidur.
- Nutrisi Seimbang: Berikan nutrisi yang seimbang dan cukup untuk mendukung sistem kekebalan tubuh anak. Pastikan anak mengonsumsi makanan yang kaya vitamin dan mineral, terutama vitamin C, vitamin D, dan zinc.
- Istirahat Cukup: Pastikan anak mendapat waktu tidur yang cukup sesuai dengan usianya. Tidur yang cukup penting untuk menjaga daya tahan tubuh.
- Lingkungan Bersih: Jaga kebersihan lingkungan rumah, terutama mainan anak yang sering disentuh. Bersihkan secara rutin dengan disinfektan yang aman.
- Hindari Paparan Asap Rokok: Paparan asap rokok dapat menurunkan daya tahan tubuh anak dan meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan.
Kesimpulan
Demam pada anak merupakan respons alami tubuh terhadap infeksi atau peradangan, bukan suatu penyakit yang harus ditakuti. Sebagian besar demam disebabkan oleh infeksi virus yang dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari. Penanganan demam yang tepat meliputi upaya meningkatkan kenyamanan anak melalui cara non-farmakologis dan pemberian obat penurun demam bila diperlukan.
Pemahaman yang benar mengenai demam akan membantu orang tua dalam merawat anak dengan tenang dan mengurangi kecemasan yang berlebihan. Orang tua perlu mengenali kondisi-kondisi yang memerlukan evaluasi medis segera serta memahami mitos dan fakta seputar demam agar dapat memberikan perawatan yang tepat.
Ditinjau oleh:
dr. Vania Catleya Estina, Sp.A
Spesialis Anak
Primaya Hospital PGI Cikini
Referensi:
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Penanganan Demam pada Anak. Jakarta: IDAI; 2024.
- American Academy of Pediatrics. Clinical Practice Guideline on Fever Management. Pediatrics. 2024.
- World Health Organization. Guidelines on Fever in Children. Geneva: WHO; 2024.
- German Society for Paediatrics and Adolescent Medicine. S3 Guideline: Fever Management in Children and Adolescents. 2025.
- National Institute for Health and Care Excellence. Fever in Under 5s: Assessment and Initial Management. NICE Guideline NG143. London: NICE; 2021.



