• Contact Center
  • Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot
  • Chatbot

Peripheral Stenting: Kapan Seseorang Memerlukannya?

Peripheral stenting

Ketika pembuluh darah menyempit, aliran darah ke organ dan jaringan tubuh menjadi terganggu sehingga menimbulkan berbagai keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Termasuk kram atau nyeri di kaki saat berjalan. Untuk mengatasi masalah ini, ada pilihan peripheral stenting yang efektif dan telah banyak digunakan. Mari kita bahas lebih dalam prosedur minimal invasif ini.

Peripheral Stenting

Mengenal Peripheral Stenting

Peripheral stenting adalah prosedur medis minimal invasif yang bertujuan membuka kembali pembuluh darah arteri yang menyempit atau tersumbat di luar jantung dan otak. Prosedur ini terutama dilakukan pada tungkai bawah (kaki), tapi bisa juga pada lengan, arteri ginjal, atau arteri di area panggul.

Dikutip dari Healthline, prosedur ini merupakan bagian dari intervensi endovaskular yang biasanya dilakukan bersamaan dengan angioplasti, yaitu teknik pelebaran pembuluh darah menggunakan semacam balon kecil.

Peripheral stenting berbeda dengan stenting yang dilakukan pada pembuluh darah jantung/otak meski prinsipnya sama. Istilah “perifer” di sini merujuk pada pembuluh darah yang berada di luar sistem pembuluh darah jantung dan sistem saraf pusat.

Dalam prosedur peripheral stenting, dokter akan memasukkan kateter (selang tipis dan fleksibel) melalui pembuluh darah. Kateter ini lalu diarahkan ke lokasi penyempitan dan balon kecil di ujung kateter dikembangkan untuk melebarkan arteri yang menyempit. Selanjutnya, sebuah stent (tabung kecil berbentuk jaring yang terbuat dari logam atau polimer) ditempatkan di lokasi tersebut untuk menjaga arteri tetap terbuka.

Selain stent biasa, ada drug-eluting stent (DES) atau stent berlapis obat yang dapat melepaskan obat secara perlahan untuk mencegah pertumbuhan jaringan berlebih di dalam arteri sehingga mengurangi risiko penyempitan ulang. Ada pula drug-coated balloon (DCB) yang memberikan hasil lebih baik dibanding balon angioplasti konvensional atau stent biasa.

Siapa Saja yang Memerlukan Peripheral Stenting?

Peripheral stenting umumnya direkomendasikan bagi pasien yang mengalami penyakit arteri perifer (PAD) dengan gejala yang sudah mengganggu kualitas hidup dan tak membaik dengan pengobatan biasa. Namun tidak semua pasien PAD memerlukan prosedur ini. Berikut ini pasien yang biasanya menjadi kandidat peripheral stenting:

Pasien dengan klaudikasio intermiten yang berat

Klaudikasio intermiten adalah nyeri atau kram pada otot kaki yang muncul saat beraktivitas fisik seperti berjalan atau naik tangga dan mereda setelah istirahat.

Pasien dengan iskemia tungkai kritis

Ini adalah kondisi PAD yang lebih parah, ditandai dengan nyeri kaki bahkan saat istirahat, luka atau borok yang tidak kunjung sembuh, perubahan warna kulit, hingga risiko gangren atau kematian jaringan yang bisa berujung pada amputasi.

Pasien dengan lesi arteri yang panjang atau terkalsifikasi (mengeras)

Dalam kondisi seperti ini, angioplasti balon saja mungkin tidak cukup untuk menjaga arteri tetap terbuka dalam jangka panjang.

Pasien dengan faktor risiko tinggi penyakit kardiovaskular

Orang dengan diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, riwayat merokok, atau obesitas berisiko lebih tinggi mengalami PAD.

Kapan Seseorang Memerlukan Peripheral Stenting?

Dokter biasanya merekomendasikan peripheral stenting jika:

  • Gejala sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti tidak bisa berjalan jarak jauh bekerja, atau tidur nyenyak karena nyeri.
  • Terapi obat dan olahraga sudah dicoba, tapi gejala tetap muncul.
  • Ada luka yang tak kunjung sembuh.
  • Tingkat keparahan sumbatan tinggi.
Baca Juga:  Mengenal Aneurisma Aorta Abdominal dan Risikonya

Manfaat dan Tujuan Peripheral Stenting

Peripheral stenting memberikan berbagai manfaat yang signifikan bagi pasien dengan penyakit arteri perifer. Di antaranya:

  • Mengembalikan aliran darah yang optimal sehingga sel-sel tubuh mendapatkan oksigen dan nutrisi yang cukup untuk dapat berfungsi dengan baik.
  • Mengurangi atau menghilangkan gejala sehingga secara langsung meningkatkan kualitas hidup pasien.
  • Mencegah komplikasi serius, termasuk amputasi.
  • Risiko infeksi lebih rendah, perdarahan lebih sedikit, waktu rawat inap lebih singkat, dan pemulihan lebih cepat.
  • Hasil jangka panjang yang baik, terutama jika menggunakan stent berlapis obat yang bisa mencegah penyempitan ulang pada pembuluh darah seperti dijelaskan dalam org.

Persiapan Sebelum Menjalani Peripheral Stenting

Persiapan yang matang penting untuk memastikan prosedur berjalan lancar dan aman. Tahap-tahapnya umumnya meliputi:

  • Konsultasi dan pemeriksaan menyeluruh, termasuk pengecekan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan berbagai tes penunjang seperti tes darah lengkap, fungsi ginjal, profil pembekuan darah, elektrokardiogram (EKG), dan pencitraan pembuluh darah.
  • Menginformasikan semua obat yang dikonsumsi, termasuk obat resep, obat bebas, suplemen, dan herbal.
  • Beri tahu jika memiliki alergi, terutama terhadap zat kontras yang mengandung yodium.
  • Tidak makan atau minum selama 6-8 jam sebelum prosedur.
  • Siapkan pendamping untuk menemani atau mengantar pulang sesuai prosedur.

Prosedur dan Pelaksanaan Peripheral Stenting

Peripheral stenting adalah prosedur minimal invasif, bukan operasi besar. Berikut ini tahap prosedurnya secara umum:

  • Setiba di ruang tindakan, pasien berbaring di meja pemeriksaan. Tim medis memasang monitor untuk memantau detak jantung, tekanan darah, dan kadar oksigen selama prosedur serta infus untuk memberikan cairan dan obat yang diperlukan. Pasien biasanya diberi obat penenang ringan (sedasi) agar rileks tapi tetap sadar.
  • Dokter membersihkan dan memberikan anestesi lokal pada area akses, biasanya di selangkangan atau lengan. Dokter lalu membuat sayatan kecil dan memasukkan jarum khusus untuk mengakses pembuluh darah. Melalui titik akses ini, dokter menempatkan sheath (selubung plastik tipis) untuk memudahkan keluar-masuknya peralatan.
  • Kateter tipis dimasukkan melalui sheath dan diarahkan ke area yang diduga mengalami penyempitan dengan bantuan fluoroskopi. Zat kontras disuntikkan melalui kateter untuk memvisualisasikan pembuluh darah secara jelas pada layar monitor.
  • Setelah lokasi penyempitan teridentifikasi, dokter memasukkan kateter dengan balon kecil di ujungnya menuju titik tersebut. Balon lalu dikembangkan dengan tekanan tertentu untuk menekan plak ke dinding arteri dan melebarkan pembuluh darah. Proses ini mungkin diulang beberapa kali hingga arteri terbuka optimal.
  • Setelah balon dikempiskan, stent yang terpasang pada kateter khusus diarahkan ke lokasi penyempitan. Ketika balon dikembangkan, stent ikut mengembang dan menempel pada dinding arteri. Balon dikempiskan dan ditarik ke luar, sementara stent tetap berada di tempatnya.
  • Dokter melakukan angiografi ulang untuk memastikan stent terpasang dengan baik dan aliran darah sudah membaik. Setelah itu, titik akses ditutup dengan tekanan manual, alat penutup khusus, atau jahitan, tergantung kondisi pasien dan preferensi dokter.
Baca Juga:  Katup Jantung Buatan: Siapa Saja yang Memerlukan?

Seluruh proses ini biasanya berlangsung 1-3 jam, tergantung kompleksitas sumbatan.

Perawatan Pasca Peripheral Stenting

Proses penyembuhan dimulai setelah pasien keluar dari ruang tindakan peripheral stenting. Berikut ini panduan yang perlu diperhatikan:

  • Jika akses lewat selangkangan, pasien harus berbaring telentang dengan kaki lurus selama 2-4 jam untuk mencegah perdarahan. Jika akses lewat pergelangan tangan, hindari mengangkat beban berat lebih dari 2 kg selama seminggu.
  • Minum banyak air untuk membantu mengeluarkan sisa cairan kontras dari ginjal.
  • Terapi obat ganda untuk mencegah terbentuknya gumpalan darah yang bisa berakibat fatal.
  • Kontrol rutin dalam 1-2 minggu untuk memastikan stent bekerja dengan baik .

Adakah Efek Samping Setelah Peripheral Stenting

Meskipun tergolong aman, tetap ada risiko peripheral stenting yang perlu diwaspadai. Efek samping yang umum mencakup memar, nyeri ringan di lokasi tusukan, atau reaksi alergi ringan terhadap obat kontras.

Adapun komplikasi yang serius termasuk:

  • Perdarahan atau hematoma.
  • Trombosis stent atau terbentuknya bekuan darah di dalam stent.
  • Restenosis atau penyempitan kembali dalam stent.
  • Embolisasi atau sumbatan pembuluh darah di kaki akibat lepasnya potongan plak atau bekuan saat prosedur.
  • Kontras nefropati alias kerusakan ginjal akibat cairan kontras.

Peripheral Stenting di Primaya Hospital

Primaya Hospital hadir sebagai salah satu penyedia layanan kesehatan terpercaya di Indonesia yang menyediakan prosedur peripheral stenting berstandar internasional. Didukung oleh tim dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang berpengalaman serta fasilitas laboratorium kateterisasi yang modern, Primaya Hospital berkomitmen memberikan perawatan terbaik bagi pasien dengan penyakit arteri perifer.

Temukan tindakan Peripheral stenting di Primaya Hospital Kelapa Gading, Primaya Hospital Bekasi Barat, Primaya Hospital Tangeang, Primaya Hospital Makassar

Ditinjau oleh:

dr. Nurima Ulya Dwita, Sp.BTKV

Dokter Spesialis Bedah Thoraks Kardio Vaskuler

Primaya Hospital Bekasi Barat

Referensi:

Share to :

Cerita Pasien

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Sahabat Sehat Primaya

Select an available coupon below