• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Efek Samping Jangka Panjang Obat Pengencer Darah pada Lansia

Obat pengencer darah, baik yang termasuk dalam kelompok antikoagulan maupun antiplatelet, telah menjadi salah satu terapi paling penting dalam pencegahan stroke dan serangan jantung pada populasi lanjut usia.

Dengan mengurangi risiko terbentuknya gumpalan darah di pembuluh arteri maupun vena, obat ini secara signifikan menurunkan angka kematian dan kecacatan yang berkaitan dengan penyakit kardiovaskular. Tidak mengherankan jika jutaan lansia di seluruh dunia mengandalkan terapi ini setiap hari sebagai bagian dari pengobatan jangka panjang.

Namun, penggunaan obat pengencer darah pada usia di atas 65 tahun juga memiliki sisi lain yang sering kali tidak sepenuhnya disadari pasien maupun keluarga. Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami perubahan fisiologis yang memengaruhi metabolisme obat, fungsi hati dan ginjal, serta elastisitas pembuluh darah.

Kondisi tersebut membuat lansia lebih rentan mengalami efek samping, terutama jika obat dikonsumsi dalam jangka panjang atau bersamaan dengan berbagai obat lain yang umum digunakan pada kelompok usia ini.

Beberapa efek samping mungkin tampak ringan pada awalnya, namun dapat berkembang menjadi masalah kesehatan serius bila tidak ditangani dengan baik. Karena itu, pemahaman mengenai apa saja komplikasi yang berpotensi muncul, seberapa besar risiko yang harus diwaspadai, dan langkah-langkah pencegahannya sangatlah krusial.

Dan pada artikel ini, kami akan membahas efek samping yang paling sering terjadi, seberapa besar risikonya, dan cara meminimalkannya secara ilmiah.

Mengenal Jenis Obat Pengencer Darah yang Umum untuk Lansia

Pada dunia medis, obat pengencer darah terbagi dalam dua kelompok besar yang bekerja dengan mekanisme berbeda dalam mencegah pembentukan bekuan darah.

Kelompok pertama adalah antikoagulan, yang berfungsi menghambat proses pembekuan darah di dalam tubuh melalui pengaruhnya terhadap faktor pembekuan. Jenis yang paling banyak dikenal adalah Warfarin, sebuah obat yang telah digunakan selama puluhan tahun dan memerlukan pemeriksaan darah rutin untuk menjaga kadar terapi tetap stabil.

Dalam beberapa tahun terakhir, hadir pilihan yang lebih modern yaitu antikoagulan oral langsung (Direct Oral Anticoagulants/DOAC), seperti Apixaban, Rivaroxaban, Dabigatran, dan Edoxaban. Obat-obat ini bekerja lebih spesifik pada jalur pembekuan tertentu dan cenderung memiliki variasi dosis yang lebih stabil, sehingga pemantauan laboratorium yang intens tidak selalu diperlukan.

Kelompok kedua adalah antiplatelet, yaitu obat yang menghambat proses penempelan dan penggumpalan trombositโ€”tahap awal dalam pembentukan sumbatan pembuluh darah. Aspirin dosis rendah merupakan pilihan yang sering digunakan untuk pencegahan penyakit jantung dan stroke, sementara Clopidogrel dan Ticagrelor diberikan pada pasien dengan risiko tinggi, termasuk setelah pemasangan ring (stent) pada pembuluh darah jantung.

Kedua jenis obat ini kerap digunakan dalam jangka panjang, terutama pada mereka yang memiliki riwayat penyakit kardiovaskular.

Baca Juga:  Apa Itu Zidovudine? Ketahui Manfaatnya

Pada kelompok usia lanjut, pemilihan obat pengencer darah harus mempertimbangkan keamanan dan keseimbangan antara manfaat dan risiko. Itulah sebabnya penggunaan DOAC seperti Apixaban dan Rivaroxaban semakin meningkat sebagai alternatif Warfarin.

Studi menunjukkan bahwa DOAC cenderung memiliki risiko perdarahan serius yang lebih rendah dan lebih mudah dalam pemakaiannya, sehingga menjadi pilihan yang banyak direkomendasikan untuk mengurangi komplikasi pada pasien lansia. Dengan penanganan yang tepat, penggunaan obat-obatan ini mampu melindungi kesehatan pembuluh darah sekaligus mempertahankan kualitas hidup para lanjut usia.

Efek Samping Jangka Panjang yang Paling Berisiko pada Lansia

Perdarahan Mayor (Mayor Bleeding)
Risiko perdarahan otak, saluran cerna, atau urin meningkat 2โ€“5 kali lipat pada usia >75 tahun. Studi NEJM 2023 menunjukkan perdarahan mayor terjadi pada 3,8โ€“5,7 % lansia per tahun yang pakai DOAC.

Perdarahan Otak (Intracranial Hemorrhage)
Warfarin meningkatkan risiko 8โ€“10 kali dibandingkan tidak pakai obat. DOAC lebih aman (risiko hanya 0,3โ€“0,5 % per tahun), tetap harus waspada.

Perdarahan Saluran Cerna Atas
Risiko tertinggi pada pemakai Aspirin + Clopidogrel atau Warfarin + NSAID. Lancet 2022 melaporkan 1 dari 50 lansia >80 tahun masuk UGD karena perdarahan lambung setiap tahun.

Gangguan Fungsi Ginjal Kronis
Semua DOAC diekskresi lewat ginjal. Penurunan fungsi ginjal alami seiring usia dapat menyebabkan akumulasi obat โ†’ risiko perdarahan naik 2โ€“3 kali.

Osteoporosis dan Patah Tulang
Warfarin jangka panjang (>1 tahun) mengganggu vitamin K sehingga kepadatan tulang turun 8โ€“12 %. DOAC tidak memiliki efek ini.

Anemia Mikrositik Kronik
Perdarahan mikro di saluran cerna (terutama Aspirin) menyebabkan kekurangan zat besi perlahan-lahan.

Interaksi Obat yang Berbahaya
Lansia sering minum 5โ€“10 obat sekaligus. Contoh berbahaya: Amiodarone, Verapamil, atau antibiotik tertentu dapat meningkatkan kadar DOAC hingga 2 kali lipat.

Cara Dokter Mengurangi Risiko pada Lansia

Dokter modern menggunakan strategi berbasis bukti:

  • Dosis lebih rendah untuk usia >75 tahun atau berat <60 kg (Apixaban 2,5 mg 2ร— sehari, Rivaroxaban 15 mg)
  • Pemilihan DOAC daripada Warfarin (risiko perdarahan otak turun 50โ€“70 %)
  • Pemberian obat pelindung lambung (PPI seperti Omeprazole) pada risiko tinggi
  • Pantau fungsi ginjal setiap 6โ€“12 bulan

Informasi lengkap dapat dibaca di laman resmi American College of Cardiology 2023 Guideline.

Tanda Bahaya yang Harus Segera ke IGD

Segera cari pertolongan jika muncul:

  • Muntah darah atau BAB hitam pekat
  • Sakit kepala hebat + muntah proyektil (tanda perdarahan otak)
  • Gusi berdarah terus-menerus atau mimisan >20 menit
  • Urine merah atau cokelat tua
  • Lemas berat mendadak + pucat (anemia akut)
Baca Juga:  Albendazole: Manfaat, Dosis, & Efek Sampingnya

Cara Meminimalkan Efek Samping di Rumah

Hindari obat pereda nyeri golongan NSAID
Seperti ibuprofen atau diclofenac. Obat ini dapat meningkatkan risiko perdarahan dan memengaruhi fungsi ginjal, terutama pada pasien yang mengonsumsi obat pengencer darah setelah pasang stent.

Gunakan Paracetamol sebagai pilihan utama bila nyeri muncul
Paracetamol lebih aman bagi pasien jantung dan tidak meningkatkan risiko perdarahan. Gunakan sesuai dosis anjuran dokter atau petunjuk kemasan.

Cegah risiko jatuh di rumah
Pasien yang mengonsumsi obat antiplatelet atau antikoagulan harus menghindari cedera. Pastikan rumah memiliki pegangan di kamar mandi atau tangga, pencahayaan yang baik, serta gunakan alas kaki yang tidak licin.

Kontrol tekanan darah tetap di bawah 130/80 mmHg
Tekanan darah yang terkontrol membantu mencegah kerusakan lanjutan pada pembuluh darah dan mengurangi risiko penyumbatan ulang.

Batasi konsumsi alkohol maksimal 1 gelas per hari
Konsumsi berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah, mengganggu fungsi obat, serta memengaruhi kesehatan jantung secara keseluruhan.

Rutin melakukan pemeriksaan hemoglobin dan fungsi ginjal
Pemeriksaan ini penting karena beberapa obat jantung dapat memengaruhi ginjal dan darah. Pemantauan berkala membantu deteksi dini jika ada masalah.

Penutup

Obat pengencer darah tetap memberikan manfaat jauh lebih besar daripada risiko bagi lansia dengan indikasi yang tepat (fibrilasi atrium, trombosis vena dalam, atau katup jantung mekanik. Namun, penggunaan jangka panjang harus selalu diawasi ketat oleh dokter. Dengan dosis yang disesuaikan, pemilihan DOAC, dan gaya hidup hati-hati, risiko efek samping berat dapat ditekan hingga di bawah 2 % per tahun. Jangan pernah menghentikan obat sendiri tanpa konsultasi dokter.

Ditinjau oleh:

dr. Jayanti Chairina Sari

Primaya Hospital Bekasi Utara

Referensi:

Share to :

Promo

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Sahabat Sehat Primaya

Select an available coupon below