• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Bahaya Berat Badan Kurang (Underweight) pada Balita

Berat badan kurang

Berat badan kurang atau underweight pada balita adalah kondisi berat badan anak lebih rendah dari standar usia, sering menjadi awal stunting dan wasting yang mengancam jiwa. Di Indonesia, underweight masih memengaruhi sekitar 17 persen balita, dengan angka lebih tinggi di daerah miskin dan pedesaan. Banyak orang tua menganggap anak โ€œkurus tapi aktifโ€ tidak masalah, padahal underweight tingkatkan risiko infeksi berat, gangguan perkembangan, dan kematian hingga 5 kali lipat dibandingkan anak gizi baik. Berat badan kurang sebabkan daya tahan tubuh lemah, otak kurang nutrisi, dan pertumbuhan terhambat permanen jika tidak ditangani sebelum usia 5 tahun.

 

Dengan pemantauan posyandu rutin, pemberian MPASI bergizi, dan intervensi dini, underweight bisa dicegah dan diatasi hingga 80 persen. Underweight bukan hanya kurus, tapi ancaman serius kesehatan jangka panjang anak.

Artikel ini membahas mendalam apa itu berat badan kurang pada balita, gejala awal sering terlewat, penyebab utama, cara diagnosis akurat posyandu, pengobatan atau suplementasi efektif, komplikasi berbahaya seperti stunting dan infeksi, pencegahan melalui gizi seimbang, tips harian tingkatkan nafsu makan, serta kapan harus segera ke dokter anak atau ahli gizi agar balita pulih gizi dan tumbuh optimal.

Mengenal Berat badan kurang (Underweight) pada Balita

Berat badan kurang atau dalam istilah medis disebut Underweight adalah kondisi di mana berat badan seorang balita berada di bawah rentang normal berdasarkan usianya. Kondisi ini merupakan sinyal peringatan bahwa asupan gizi anak tidak mencukupi kebutuhannya atau adanya masalah kesehatan yang menghambat pertumbuhan.

Di Indonesia, berdasarkan data Riskesdas, prevalensi underweight masih memengaruhi sekitar 17 persen balita. Hal ini menjadi perhatian serius karena berat badan yang tidak ideal pada masa pertumbuhan dapat mengganggu perkembangan otak dan sistem kekebalan tubuh, membuat anak lebih mudah terserang penyakit infeksi yang berulang.

Perbedaan Underweight, Stunting, dan Wasting

Sering kali orang tua tertukar dalam mengenali istilah malnutrisi. Sangat penting untuk membedakan ketiganya karena penanganannya bisa berbeda:

  • Underweight (Berat Kurang): Didasarkan pada indikator Berat Badan menurut Umur (BB/U). Nilai Z-score-nya berada di bawah -2 standar deviasi (SD) standar pertumbuhan WHO. Ini menunjukkan bahwa berat anak tidak sesuai dengan usianya.
  • Stunting (Pendek): Didasarkan pada indikator Tinggi Badan menurut Umur (TB/U). Kondisi ini menunjukkan masalah gizi kronis (jangka panjang) yang menghambat pertumbuhan tulang.
  • Wasting (Kurus Akut): Didasarkan pada indikator Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB). Ini adalah kondisi sangat kurus yang biasanya terjadi akibat kekurangan makan yang sangat drastis atau penyakit akut.

Penting: Underweight sering kali menjadi pintu masuk atau tanda awal terjadinya malnutrisi kronis. Jika berat badan menurut umur (BB/U) terus menurun tanpa penanganan, anak berisiko tinggi mengalami stunting di masa depan.

Menurut World Health Organization 2024, underweight tingkatkan mortalitas anak hingga 5 kali.

Baca Juga:  Vaksin Covid-19 untuk Anak Usia 6-11 Tahun

Underweight ganggu sistem imun dan otak.

Gejala Berat badan kurang pada Balita

Berat badan kurang tidak terjadi secara instan, melainkan hasil dari defisit nutrisi yang terakumulasi. Tantangan terbesar di Indonesia adalah gejala ini sering kali terlambat terdeteksi karena orang tua menganggap anak yang “kurus tapi aktif” adalah hal yang normal. Padahal, penurunan berat badan adalah alarm pertama sebelum terjadi gangguan fungsi organ.

Gejala Awal (Tanda Peringatan): Pada tahap ini, tubuh mulai menghemat energi dan mengambil cadangan lemak untuk bertahan hidup.

  • Berat Badan Tidak Naik (Flat Growth): Selama 2-3 bulan berturut-turut, grafik pada KMS (Kartu Menuju Sehat) tampak mendatar atau bahkan menurun. Ini adalah tanda paling akurat.
  • Tubuh Tampak Kurus: Lemak di bawah kulit mulai berkurang, terutama terlihat pada area lengan, paha, dan pipi
  • Kulit Kering dan Kusam: Kurangnya asupan lemak dan vitamin membuat kulit kehilangan kelembapan alaminya dan tampak bersisik.
  • Rambut Tipis & Kemerahan: Rambut menjadi rapuh, mudah rontok, dan warnanya berubah kusam atau kemerahan (seperti warna rambut jagung).
  • Mudah Lelah: Anak tidak memiliki energi yang cukup untuk bermain aktif dalam waktu lama dan lebih sering meminta digendong.

Gejala Lanjut (Tanda Malnutrisi Kronis): Jika kondisi awal diabaikan, tubuh anak mulai mengalami penurunan fungsi sistem imun dan kognitif.

  • Sering Sakit: Anak menjadi sangat rentan terkena infeksi seperti diare, batuk, dan pilek. Proses penyembuhannya pun jauh lebih lama karena antibodi tidak terbentuk dengan sempurna.
  • Pertumbuhan Melambat: Jika berat badan tidak segera diperbaiki, pertumbuhan tinggi badan akan terhenti, yang merupakan awal dari kondisi stunting.
  • Nafsu Makan Turun Drastis: Kekurangan zat besi dan zink justru membuat anak semakin kehilangan nafsu makan, menciptakan siklus malnutrisi yang sulit diputus.
  • Gangguan Konsentrasi & Emosi: Anak tampak sering melamun, sulit fokus saat diajak bicara, serta menjadi lebih rewel atau apatis (tidak tertarik pada lingkungan sekitar).

Catatan Penting: Pantauan rutin di Posyandu atau dokter spesialis anak adalah kunci. Jangan menunggu hingga anak terlihat “sangat kurus” (tulang rusuk menonjol) untuk bertindak, karena pada titik tersebut, pemulihannya akan jauh lebih kompleks.

Penyebab Berat badan kurang pada Balita

Penyebab langsung:

  • Asupan berat badan kurang
  • MPASI tidak bergizi
  • Infeksi berulang

Penyebab tidak langsung:

  • Kemiskinan
  • Kurang pengetahuan ibu
  • Sanitasi buruk
  • Akses makanan terbatas

Di Indonesia, infeksi diare dan ISPA perburuk underweight.

Cara Diagnosis Berat badan kurang pada Balita

Diagnosis:

  • Pengukuran BB/U posyandu
  • Kartu Menuju Sehat (KMS)
  • Z-score WHO
  • Tes Hb anemia

Diagnosis rutin bulanan penting.

Pengobatan atau Penanganan Berat badan kurang

Penanganan:

  • Pemberian Makanan Tambahan (PMT)
  • Suplementasi zat besi vitamin A
  • Pengobatan infeksi
  • Konseling gizi ibu

Penanganan dini pulihkan berat cepat.

Baca Juga:  Saat Anak terkena Campak, Harus Apa?

Komplikasi Berat badan kurang pada Balita

Komplikasi:

  • Stunting permanen
  • Gangguan kognitif
  • Imun lemah
  • Infeksi berat
  • Mortalitas tinggi

Dampak jangka panjang: IQ rendah, produktivitas dewasa.

Pencegahan Berat badan kurang pada Balita

Pencegahan:

  • ASI eksklusif 6 bulan
  • MPASI bergizi tepat waktu
  • Imunisasi lengkap
  • Sanitasi baik
  • Posyandu rutin

Pencegahan 1.000 hari pertama krusial.

Tips Harian Cegah dan Atasi Underweight

Tips:

  • Makan kecil sering
  • Variasi menu
  • Tambah lemak sehat
  • Higienis masak
  • Pantau KMS

Tips tingkatkan nafsu makan.

Kapan Harus ke Dokter

Konsultasi jika:

  • Berat tidak naik 3 bulan
  • Sering sakit
  • Lelah berat
  • Kurva KMS turun

Klinik gizi anak bantu intervensi.

Informasi lengkap berat badan kurang balita dapat dibaca pada artikel layanan anak dan layanan gizi dari Primaya Hospital.

Contoh MP ASI Bergizi.PENTING!!!

Usia 6โ€“8 bulan (tekstur halus / puree)

Fokus: karbohidrat + protein hewani + lemak + sayur

Contoh menu:

  • Puree beras + ayam + wortel + minyak zaitun
  • Kentang kukus + hati ayam + bayam
  • Bubur oatmeal + ikan kembung + labu
  • Nasi tim saring + telur + brokoli
  • Lemak tambahan: minyak kelapa / olive oil / unsalted butter

Usia 9โ€“11 bulan (tekstur lumatan kasar / cincang halus)

Mulai dikenalkan tekstur & finger food lembut

Contoh menu:

  • Nasi tim + daging sapi + tahu + labu siam
  • Bubur kentang + ikan salmon + wortel
  • Nasi + ayam cincang + bayam + keju
  • Pancake pisang + telur (tanpa gula)

Usia 12 bulan ke atas (tekstur makanan keluarga)

Makan 3x sehari + 2 snack

Contoh menu:

  • Nasi + ayam suwir + sup sayur
  • Nasi + ikan goreng + tempe + tumis bayam
  • Spaghetti homemade + daging cincang + sayur
  • Nugget homemade ayam & wortel
  • Snack sehat:
  • Buah potong (pepaya, pisang, alpukat)
  • Ubi kukus
  • Puding susu UHT full cream

Prinsip MP-ASI bergizi

  • Protein hewani WAJIB setiap makan utama
  • Tambahkan lemak sehat
  • Tanpa gula & garam sampai usia 1 tahun
  • Variasi bahan tiap hari

Cegah Underweight untuk Balita Sehat

Berat badan kurang atau underweight pada balita adalah ancaman serius tapi bisa dicegah dengan pemantauan dan nutrisi tepat. Dengan gejala dini, pencegahan, dan penanganan di atas, balita bisa tumbuh optimal. Mulai hari ini: posyandu rutin, MPASI bergizi, pantau berat, dan konsultasi gizi. Ingat: underweight bukan takdir โ€” tapi bisa diubah dengan perhatian. Cegah berat badan kurang untuk generasi balita kuat dan cerdas!

Ditinjau oleh:

dr. Nathalia Safitri, Sp. GK

Spesialis Gizi Klinik

Primaya Hospital Semarang

 

Referensi:

  • Malnutrition. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/malnutrition. Diakses pada 29 Desember 2025.
  • Child Malnutrition. https://data.unicef.org/topic/nutrition/malnutrition/. Diakses pada 29 Desember 2025.
  • Pedoman Pencegahan Berat badan kurang pada Balita. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/gizi/pedoman-gizi-kurang-balita. Diakses pada 29 Desember 2025.
  • Panduan Pencegahan Stunting dan Malnutrisi. https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-publik/Pedoman-Pencegahan-Malnutrisi-2023.pdf. Diakses pada 29 Desember 2025.
Share to :

Buat Janji Dokter

Promo

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Sahabat Sehat Primaya

Select an available coupon below