Pernah merasa sesak napas saat naik tangga cuma satu lantai, atau cepat lelah padahal cuma melakukan aktivitas ringan? Hati-hati, bisa jadi itu bukan sekadar tanda kurang olahraga atau efek kelelahan biasa. Di balik gejala yang sering dianggap “biasa” itu, mungkin tersembunyi sebuah kondisi serius yang menyerang pembuluh darah di paru-paru: hipertensi paru. Artikel ini akan menjelaskan seluk-beluk hipertensi paru, dari gejala hingga langkah-langkah pencegahan dan penanganannya.
Mengenal Hipertensi Paru
Hipertensi paru adalah kondisi ketika tekanan darah di pembuluh darah yang menuju paru (arteri pulmonalis) meningkat secara abnormal. Menurut artikel di Journal of the American Heart Association, tekanan di arteri pulmonalis sebesar 20 mmHg sudah bisa mengindikasikan terjadinya hipertensi paru atau hipertensi pulmonalis.
Hipertensi paru berbeda dengan hipertensi biasa yang lebih umum terjadi. Hipertensi paru secara spesifik mempengaruhi arteri di paru dan bisa menyebabkan kerusakan jantung sisi kanan. Dinding pembuluh darah yang menebal dan kaku dalam kondisi ini membuat aliran darah ke bagian kanan jantung terhambat sehingga jantung sulit memompa darah melalui arteri. Makin lama, kerja jantung akan makin berat dan terjadi proses pembengkakan jantung hingga gagal jantung.
Dalam riset di Global Cardiology Science & Practice disebutkan hipertensi paru merupakan orphan disease, yakni penyakit langka yang jumlah penderitanya termasuk sedikit. Namun, seiring dengan waktu, jumlah penderita penyakit ini secara global meningkat sehingga bisa menjadi epidemi yang memerlukan perhatian lebih besar.
Gejala Hipertensi Paru
Gejala hipertensi paru mirip dengan gejala kondisi lain yang terjadi karena adanya gangguan aliran darah sehingga kerap tak terdiagnosis sejak dini. Di antaranya:
- Sesak napas yang awalnya muncul ketika beraktivitas berat, lalu perlahan-lahan dirasakan bahkan saat melakukan aktivitas ringan seperti berjalan atau naik tangga.
- Nyeri dada yang kerap mengiringi sesak napas.
- Kelelahan ekstrem dan terus merasa lemas karena pasokan oksigen ke organ dan otot tidak memadai.
- Pusing dan pingsan secara mendadak.
- Jantung berdebar-debar atau berdetak secara tidak teratur.
- Pembengkakan pada kaki hingga perut.
- Sianosis atau kebiruan pada bibir dan kulit yang menandakan kadar oksigen dalam darah sangat rendah.
Penyebab Hipertensi Paru
Sistem klasifikasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) membagi hipertensi paru menjadi lima grup berdasarkan penyebabnya:
- Hipertensi arteri paru, yakni penyempitan langsung pada arteri pulmonalis.
- Hipertensi paru akibat penyakit jantung sisi kiri.
- Hipertensi paru akibat penyakit paru dan hipoksia.
- Hipertensi paru akibat penyumbatan.
- Hipertensi paru dengan mekanisme tidak jelas atau multifaktor.
Penyebab tiap jenis hipertensi paru tersebut bervariasi. Bisa jadi penyebabnya idiopatik (tidak diketahui), genetik, terkait penyakit jaringan ikat (skleroderma, lupus), atau akibat obat/racun tertentu.
Penyakit paru dan penyakit jantung serta kondisi lain seperti penyakit autoimun dan infeksi HIV juga mungkin memicu hipertensi paru.
Cara Dokter Mendiagnosis Hipertensi Paru
Gejala hipertensi paru yang samar kerap menyulitkan diagnosis. Langkah-langkah diagnosisnya biasanya meliputi:
- Ekokardiogram (USG jantung) untuk mengukur tekanan di arteri pulmonalis dan melihat ukuran serta fungsi jantung kanan.
- Kateterisasi jantung kanan, yang merupakan standar emas diagnosis hipertensi paru karena bisa mengukur tekanan arteri pulmonalis secara langsung dan akurat.
- Tes fungsi paru untuk mengevaluasi kinerja paru-paru secara keseluruhan, termasuk lewat pemindaian tomografi komputasi (CT scan) paru.
Cara Mengatasi Hipertensi Paru
Penanganan hipertensi paru berbeda-beda, bergantung pada kelompok penyebabnya. Di antaranya:
- Vasodilator untuk membuka pembuluh darah yang menyempit.
- Pengencer darah (antikoagulan) untuk mengurangi risiko penggumpalan darah yang dapat memperburuk kondisi.
- Tindakan untuk mengobati gagal jantung atau perbaikan katup.
- Terapi oksigen jangka panjang dan penanganan penyakit paru yang mendasari.
- Operasi pengangkatan gumpalan darah.
- Cangkok paru untuk kasus yang parah dan tak membaik lewat pengobatan konvensional.
Komplikasi Hipertensi Paru
Hipertensi paru bisa menimbulkan komplikasi yang sangat signifikan dan mempengaruhi kesehatan jangka panjang. Beberapa komplikasi yang bisa terjadi termasuk:
- Gagal jantung karena meningkatnya tekanan di arteri yang menambah beban kerja jantung.
- Kualitas hidup menurun akibat gejala kronis.
- Aritmia atau detak jantung tidak teratur, dari atrial fibrilasi hingga aritmia ventrikel yang fatal.
- Perdarahan di paru-paru.
- Komplikasi kehamilan bagi ibu hamil.
- Kematian mendadak.
Pencegahan Hipertensi Paru
Tidak semua jenis hipertensi paru dapat dicegah, tapi risikonya bisa ditekan. Caranya antara lain:
- Berhenti merokok karena merokok adalah faktor risiko utama untuk berbagai penyakit paru.
- Olahraga teratur dengan regimen olahraga yang ditentukan oleh dokter spesialis jantung, untuk meningkatkan kesehatan jantung dan paru.
- Menerapkan pola makan yang sehat.
- Mengendalikan penyakit yang mendasari sesuai dengan anjuran dokter.
- Gunakan obat dan suplemen secara aman sesuai dengan resep dokter.
Kapan Harus ke Dokter?
Penting untuk berkonsultasi dengan dokter jika muncul gejala seperti sesak napas, pusing, atau nyeri dada. Khususnya jika gejala ini memburuk saat beraktivitas. Diagnosis dini adalah kunci dalam penanganan hipertensi paru. Makin cepat kondisi teridentifikasi, makin cepat terapi yang tepat dapat dimulai untuk mencegah penyakit memburuk dan meningkatkan kualitas hidup.
Ditinjau oleh:
dr. Bagas Marsudi, M.Sc, Sp.JP, FIHA
Spesialis Jantung dan Pembuuh Darah
Primaya Hospital Depok
Referensi:
- Revised Definition of Pulmonary Hypertension and Approach to Management: A Clinical Primer. https://www.ahajournals.org/doi/10.1161/JAHA.122.029024. Diakses 10 Desember 2025
- Pulmonary hypertension. https://www.nhs.uk/conditions/pulmonary-hypertension/. Diakses 10 Desember 2025
- Pulmonary hypertension aetiologies in different parts of the world. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2666668525000229#bib17. Diakses 10 Desember 2025
- Pulmonary hypertension: From an orphan disease to a global epidemic. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7590934/. Diakses 10 Desember 2025
- Rare and Orphan Diseases. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/rare-and-orphan-diseases. Diakses 10 Desember 2025
- Group 5 Pulmonary Hypertension. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5391979/. Diakses 10 Desember 2025
- Management of pulmonary arterial hypertension. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/25953750/. Diakses 10 Desember 2025
- Idiopathic pulmonary arterial hypertension: current state of play and new treatment modalities. https://www.internationaljournalofcardiology.com/article/S0167-5273(04)00592-3/abstract. Diakses 10 Desember 2025



