• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Komplikasi Kehamilan: Gejala, Mencegah dan Mengobati

Kehamilan adalah salah satu periode kehidupan yang dinanti-nantikan. Tapi ada kemungkinan terjadinya berbagai komplikasi yang dapat membahayakan kesehatan ibu dan janin dalam kandungan. Artikel ini bertujuan memberikan informasi yang dapat membantu ibu hamil dan pasangan mereka dalam memahami aspek-aspek penting dari komplikasi kehamilan.

Mengenal Komplikasi Kehamilan

Komplikasi kehamilan adalah masalah kesehatan yang muncul selama masa kehamilan dan sesaat setelah persalinan yang dapat mempengaruhi kesehatan ibu, janin, atau keduanya. Centers for Disease Control and Prevention menyebutkan masalah kesehatan ini bisa berupa kondisi fisik ataupun mental.

Masalah kesehatan dalam komplikasi kehamilan bervariasi, dari yang mudah dikelola hingga kondisi gawat darurat yang mengancam jiwa.

Berikut ini beberapa jenis komplikasi kehamilan yang umum terjadi:

  • Preeklamsia: tekanan darah tinggi yang dibarengi kerusakan organ, terutama ginjal dan hati.
  • Diabetes gestasional: diabetes yang berkembang selama kehamilan.
  • Persalinan prematur: kelahiran yang terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu yang dapat menyebabkan masalah kesehatan serius bagi bayi.
  • Kehamilan ektopik: berkembangnya embrio di luar rahim.
  • Abrupsi plasenta: pemisahan plasenta dari dinding rahim sebelum bayi lahir.
  • Plasenta previa: kondisi ketika plasenta menutupi serviks yang dapat menyebabkan perdarahan saat persalinan.
  • Sindrom ovarium hiperstimulasi: terjadi akibat stimulasi ovarium yang berlebihan.
  • Perdarahan: perdarahan dari vagina dapat menjadi tanda komplikasi serius, seperti keguguran.

Menurut WHO, lebih dari 700 perempuan meninggal akibat penyebab yang dapat dicegah terkait dengan kehamilan dan persalinan. Meski begitu, penting untuk dipahami bahwa mengalami komplikasi kehamilan tidak lantas berarti ada kesalahan yang dilakukan orang tua, terutama ibu hamil.

Gejala Komplikasi Kehamilan

Gejala komplikasi kehamilan bergantung pada jenis komplikasi yang terjadi. Di antaranya:

Gejala

Kemungkinan Komplikasi yang Berkaitan

Penjelasan Klinis

Perdarahan vagina(menyerupai menstruasi, deras, disertai gumpalan dan kram) Keguguran, kehamilan ektopik, plasenta previa, solusio plasenta Perdarahan yang banyak pada kehamilan harus dianggap serius. Jika disertai nyeri perut atau kram, dapat menandakan ancaman keguguran atau gangguan letak/pelepasaan plasenta.
Sakit kepala hebat dan berkepanjangan(kadang disertai penglihatan kabur atau melihat bintik-bintik) Preeklampsia, hipertensi gestasional Tekanan darah tinggi akibat gangguan vaskular menyebabkan vasospasme serebral yang menimbulkan nyeri kepala, gangguan penglihatan, serta dapat disertai edema dan proteinuria.
Nyeri perut atau panggul yang tajam, konstan, atau kram hebat Kehamilan ektopik, abrupsi plasenta, persalinan prematur Riwayat nyeri berat pada abdomen bawah dapat menjadi tanda ruptur tuba (pada ektopik), kontraksi prematur, atau pelepasan sebagian plasenta.
Muntah berlebihan(bukan sekadar morning sickness) Hiperemesis gravidarum Muntah berlebihan hingga menyebabkan dehidrasi, penurunan berat badan, dan ketidakseimbangan elektrolit memerlukan penanganan medis segera.
Bengkak mendadak di tangan, wajah, dan kaki Preeklampsia Edema mendadak, terutama pada wajah dan tangan, menunjukkan retensi cairan akibat gangguan endotel vaskular pada preeklampsia.
Berkurangnya gerakan janin Gawat janin, insufisiensi plasenta Penurunan gerak janin menandakan hipoksia atau gangguan perfusi plasenta yang memerlukan evaluasi segera dengan USG atau CTG.
Demam tinggi(>38ยฐC) Infeksi intrauterin (korioamnionitis), infeksi sistemik Kenaikan suhu tubuh dapat disebabkan infeksi serius yang berisiko terhadap janin dan ibu, membutuhkan pemeriksaan serta terapi antibiotik yang tepat.
Baca Juga:  Preimplantation Genetic Testing for Aneuploidies (PGT-A)

Penyebab Komplikasi Kehamilan

Ada beragam penyebab komplikasi kehamilan yang meliputi faktor ibu, janin, dan lingkungan. Misalnya:

  • Kondisi kesehatan yang sudah ada pada ibu sebelum hamil, misalnya diabetes, hipertensi kronis, penyakit autoimun, gangguan tiroid, dan obesitas.
  • Kondisi yang timbul selama kehamilan. Contohnya diabetes gestasional dan preeklamsia, yang diduga berkaitan dengan disfungsi plasenta dan respons imun ibu.
  • Masalah pada janin atau plasenta seperti kelainan kromosom janin, cacat lahir, atau masalah pada plasenta.
  • Infeksi tertentu seperti toksoplasmosis, rubella, sitomegalovirus, dan virus zika.
  • Gaya hidup, antara lain merokok, konsumsi alkohol, penggunaan narkoba, pola makan yang buruk, dan stres kronis.

Cara Dokter Mendiagnosis Komplikasi Kehamilan

Dokter umumnya mendiagnosis komplikasi kehamilan dengan kombinasi pengecekan riwayat medis, pemeriksaan fisik, dan tes penunjang. Rinciannya:

  • Anamnesis: dokter akan menanyakan secara detail semua gejala yang dirasakan, riwayat kehamilan sebelumnya, serta kondisi kesehatan pribadi dan keluarga.
  • Pemeriksaan fisik: termasuk pengukuran berat badan, tekanan darah, dan tinggi fundus uteri (untuk memperkirakan pertumbuhan janin).
  • Pemeriksaan laboratorium:
  • Darah: untuk memeriksa kadar hemoglobin, glukosa, dan enzim hati serta fungsi ginjal.
  • Urine: untuk mendeteksi protein dan infeksi.
  • Pemantauan janin:
  • Ultrasonografi (USG): untuk memantau pertumbuhan janin, cairan ketuban, letak plasenta, dan anatomi janin.
  • Non-stress test: merekam detak jantung janin dalam respons terhadap gerakannya dan menilai kesejahteraan janin.
  • Tes khusus: seperti pengambilan sampel cairan ketuban (amniosentesis) untuk mendeteksi kelainan genetik jika ada indikasi kuat berdasarkan skrining sebelumnya.

Cara Mengatasi Komplikasi Kehamilan

Pendekatan Penanganan Keterangan dan Contoh Tindakan Tujuan Klinis
Modifikasi gaya hidup dan pemantauan ketat Menerapkan pola makan seimbang, istirahat cukup, mengontrol berat badan, dan melakukan monitoring rutin tekanan darah serta kadar gula darah. Biasanya diterapkan pada kasushipertensi gestasional ringanataudiabetes gestasional ringan. Menjaga kestabilan kondisi ibu dan mencegah progresi komplikasi agar tidak berkembang menjadi bentuk yang lebih berat.
Terapi obat-obatan Disesuaikan dengan diagnosis dan kondisi kehamilan:

-Antihipertensi(misalnya labetalol, metildopa) untuk mengontrol tekanan darah.

-Kortikosteroid(misalnya betametason atau deksametason) diberikan bila terdapat ancamanpersalinan prematur, untuk mempercepat pematangan paru janin.

-Antibiotikuntuk pengobataninfeksi bakteri, seperti infeksi saluran kemih atau korioamnionitis.

-Progesteronpada ibu hamil dengan riwayat atau risiko tinggipersalinan prematur berulang.

Mengontrol faktor penyebab komplikasi, melindungi fungsi organ ibu, serta menjaga pertumbuhan dan keselamatan janin.
Rawat inap dan observasi intensif Diperlukan pada kondisi serius sepertipreeklampsia berat,perdarahan aktif (plasenta previa, solusio plasenta), atauancaman persalinan prematur. Memungkinkan pemantauan tekanan darah, status janin, dan penyesuaian terapi secara cepat. Menjamin keselamatan ibu dan janin melalui pengawasan berkelanjutan dan intervensi segera bila kondisi memburuk.
Tindakan bedah dan proses persalinan Persalinan dapat dilakukan secaranormaljika kondisi stabil dan janin siap lahir. Namun,operasi sesar (seksio sesarea)dilakukan bila terjadi kegawatdaruratan sepertidistres janin,plasenta previa totalis, ataupreeklampsia beratyang tidak responsif terhadap terapi. Mengakhiri kehamilan dengan cara paling aman untuk menyelamatkan ibu dan janin sesuai dengan indikasi medis.

Dampak Komplikasi Kehamilan

Komplikasi kehamilan tidak hanya berdampak saat hamil, tapi dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan anak dalam jangka panjang. Di antaranya:

  • Ibu lebih rentan terkena penyakit kardiovaskular dan hipertensi bila sebelumnya mengalami preeklamsia.
  • Bayi yang lahir prematur atau dengan hambatan pertumbuhan berisiko lebih tinggi mengalami masalah perkembangan saraf, gangguan belajar, dan penyakit metabolik seperti obesitas dan diabetes saat dewasa.

Pencegahan Komplikasi Kehamilan

Tidak semua komplikasi kehamilan dapat dicegah, tapi banyak yang risikonya bisa diminimalkan dengan langkah berikut ini:

  • Sebelum hamil, diskusikan kondisi kesehatan, obat-obatan, dan gaya hidup Anda untuk mengoptimalkan kondisi menjelang kehamilan.
  • Pemeriksaan kehamilan rutin dengan bidan ataupun dokter. Skrining dan pemantauan rutin adalah cara terbaik untuk mendeteksi dini komplikasi kehamilan.
  • Mengonsumsi asam folat sejak sebelum hamil, memenuhi kebutuhan zat besi, kalsium, dan protein, serta menghindari makanan mentah yang berisiko mengandung bakteri.
  • Menghindari zat berbahaya dan terlarang, termasuk rokok, alkohol, dan obat-obatan terlarang.
  • Aktif bergerak, termasuk berolahraga ringan seperti jalan kaki, renang, atau yoga prenatal untuk meningkatkan kebugaran, mengontrol berat badan, dan mengurangi stres.
  • Mengendalikan stres dengan menerapkan teknik relaksasi, tidur yang cukup, dan mencari dukungan sosial.

Kapan Harus ke Dokter?

Memahami komplikasi kehamilan adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan ibu dan janin. Dengan mengetahui gejala, penyebab, dan cara pencegahan, ibu hamil dapat lebih siap menghadapi tantangan yang mungkin muncul selama proses kehamilan. Selalu konsultasikan dengan tenaga medis jika merasakan gejala yang tidak biasa atau mendesak untuk memastikan kesehatan diri dan bayi.

Ditinjau oleh:

dr. Rahmad Rizal Wicaksono, Sp. OG, Subsp. KFm(K)

Spesialis Kebidanan dan Kandungan Subspesialis Fetomaternal

Primaya Hospital Semarang

 

Referensi:

Share to :

Buat Janji Dokter

Promo

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Sahabat Sehat Primaya

Select an available coupon below