• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Terapi Elektrokonvulsif: Siapa Saja yang Memerlukan?

terapi elektrokonvulsif

Perhatian terhadap kesehatan mental makin penting pada era modern ini. Ada berbagai prosedur yang dapat digunakan untuk membantu mengatasi berbagai masalah mental. Salah satunya adalah terapi elektrokonvulsif yang dianggap efektif bagi individu dengan gangguan mental berat. Simak penjelasan lebih lanjut mengenai terapi yang melibatkan penggunaan listrik ini dalam artikel berikut ini.

Mengenal Terapi Elektrokonvulsif

Terapi elektrokonvulsif (ECT) adalah prosedur medis yang melibatkan pemberian arus listrik singkat dan terkontrol ke otak untuk memicu kejang singkat yang disengaja. Dikutip dari jurnal Nature, penting untuk dipahami bahwa kejang ini bukanlah efek samping yang tak diinginkan, melainkan inti terapi yang dipercaya memicu serangkaian perubahan neurokimia dan neuroplastisitas di otak.

Terapi elektrokonvulsif kini dilakukan dengan anestesi umum dan menggunakan relaksan otot sehingga pasien tidak merasakan sakit. Selain itu, kejang dalam terapi ini bukanlah kejang fisik yang terlihat seperti gejala penyakit neurologis seperti epilepsi.

Perubahan neurokimia dan neuroplastisitas di otak yang dipicu oleh terapi elektrokonvulsif diyakini bisa meredakan gejala depresi parah dan masalah mental lain, termasuk gangguan bipolar dan beberapa bentuk skizofrenia.

Ada banyak kesalahpahaman seputar terapi elektrokonvulsif. Salah satunya adalah pasien disetrum dalam prosedur dan bisa mengalami kerusakan otak. Namun, menurut berbagai penelitian, terapi ini memberikan manfaat yang jauh lebih besar daripada risikonya sehingga masih menjadi pilihan untuk mengatasi masalah kejiwaan ketika prosedur lain tak memberikan hasil yang diharapkan.

Siapa Saja yang Memerlukan Terapi Elektrokonvulsif?

Dokter umumnya tidak langsung merekomendasikan terapi elektrokonvulsif untuk mengatasi kondisi kejiwaan. Terapi ini biasanya dipertimbangkan ketika prosedur lain, seperti psikoterapi dan obat-obatan, tidak efektif atau ketika kondisi pasien sangat parah sehingga memerlukan respons yang cepat dan kuat. Berikut ini beberapa kondisi yang mungkin memerlukan terapi ini:

  • Depresi parah
  • Gangguan bipolar
  • Skizofrenia
  • Katatonia

Kapan Seseorang Memerlukan Terapi Elektrokonvulsif?

Ada beberapa hal yang biasanya menjadi pertimbangan tim medis ketika merekomendasikan terapi elektrokonvulsif. Di antaranya:

  • Pengobatan dengan beberapa jenis obat dan psikoterapi tidak menunjukkan perbaikan gejala yang signifikan
  • Memerlukan respons yang cepat, misalnya ketika pasien menolak makan/minum, sangat agitatif, dan ada risiko bunuh diri yang besar
  • Pasien tidak bisa menoleransi efek samping obat atau ada kondisi medis tertentu yang membuatnya tak bisa menggunakan obat-obatan tertentu
Baca Juga:  Mengenali Kecanduan Narkoba Lebih Awal

Manfaat/Tujuan Terapi Elektrokonvulsif

Tujuan utama terapi elektrokonvulsif adalah meredakan gejala penyakit mental yang parah dan meningkatkan kualitas hidup pasien secara signifikan. Manfaat utamanya adalah cepat dan efektif dalam meredakan gejala masalah kejiwaan tertentu. Terapi ini bisa cepat meredakan pikiran dan keinginan bunuh diri sehingga dapat menyelamatkan jiwa pasien. Selain itu, terapi elektrokonvulsif dapat menjadi pilihan yang aman untuk kondisi tertentu, seperti ibu hamil yang mengalami depresi berat.

Persiapan Sebelum Menjalani Terapi Elektrokonvulsif

Persiapan yang matang sangat penting untuk memastikan keamanan terapi elektrokonvulsif. Tahap persiapan meliputi:

  • Konsultasi dengan psikiater mengenai detail prosedur, manfaat, risiko, dan alternatif lain dan pemberian persetujuan untuk pelaksanaan terapi.
  • Pemeriksaan fisik menyeluruh, riwayat kesehatan, dan pemeriksaan penunjang seperti elektrokardiogram untuk menilai jantung serta tes darah lengkap.
  • Evaluasi oleh dokter anestesi untuk menilai risiko anestesi, termasuk alergi, riwayat operasi, dan masalah saluran napas.
  • Pasien akan diminta berpuasa (tidak makan dan minum) selama beberapa jam sebelum prosedur untuk mencegah aspirasi paru saat diberi anestesi.

Prosedur dan Pelaksanaan Terapi Elektrokonvulsif

Satu sesi terapi elektrokonvulsif biasanya berlangsung sekitar 5-10 menit di luar waktu pemulihan. Berikut ini prosesnya:

  • Pasien dibawa ke ruang tindakan lalu dipasangi elektroda untuk memantau detak jantung, tekanan darah, saturasi oksigen, dan aktivitas otak.
  • Dokter anestesi menyuntikkan obat bius melalui infus sehingga pasien tertidur pulas. Selanjutnya, relaksan otot diberikan untuk melumpuhkan otot sementara. Pasien juga diberi oksigen melalui masker.
  • Setelah anestesi bekerja, psikiater menempatkan elektroda di kulit kepala dan alat terapi akan memberikan stimulus listrik singkat (beberapa detik). Karena ada relaksan otot, tubuh tidak bergerak kejang. Tanda kejang hanya terlihat pada monitor dan mungkin lewat kedutan di kaki atau wajah.
  • Tim medis memantau semua tanda vital dan aktivitas otak hingga pasien siap dibawa ke ruang pemulihan.

Perawatan Pasca-Terapi Elektrokonvulsif

Seusai prosedur terapi elektrokonvulsif, pasien dibawa ke ruang pemulihan untuk menjalani perawatan lebih lanjut yang meliputi:

  • Pemantauan efek anestesi dan relaksan otot oleh perawat.
  • Pemberian obat bila perlu jika pasien terbangun dengan rasa bingung, disorientasi, atau mual.
  • Observasi terhadap pasien selama 1-2 jam sebelum diizinkan pulang atau kembali ke kamar rawat.
  • Untuk pasien rawat jalan, wajib ada pendampingan keluarga dan pasien dilarang mengemudi selama 24 jam.
  • Menyiapkan diri untuk mengikuti sesi terapi berikutnya, biasanya 2-3 kali seminggu, dengan total 6-12 sesi.
Baca Juga:  Macam-Macam Sakit Jiwa dan Penjelasannya yang Harus Anda Tahu!

Adakah Efek Samping Setelah Terapi Elektrokonvulsif?

Layaknya prosedur medis pada umumnya, ada efek samping terapi elektrokonvulsif yang mesti dipahami. Di antaranya:

  • Merasa bingung tentang waktu, tempat, atau peristiwa
  • Sakit kepala dan nyeri otot
  • Mual
  • Kesulitan mengingat peristiwa yang terjadi sesaat sebelum, selama, atau setelah perawatan

Hingga kini tidak ada bukti ilmiah bahwa terapi elektrokonvulsif menyebabkan kerusakan otak struktural permanen. Justru studi pencitraan otak menunjukkan adanya perubahan yang positif pada otak. Kuncinya adalah selalu menjalani prosedur terapi di bawah pengawasan ketat oleh tim medis yang profesional dan berpengalaman.

Ditinjau oleh:

dr. Nathalia Sheila Sangkereng, M.Kes, Sp.KJ

Spesialis Kedokteran Jiwa

Primaya Hospital Makassar

Referensi:

Share to :

Buat Janji Dokter

Promo

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Sahabat Sehat Primaya

Select an available coupon below