Bacterial dermatitis adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri dan dapat terjadi pada siapa saja, dari anak-anak hingga orang dewasa. Meskipun terdengar sepele, kondisi ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan yang signifikan dan mengganggu keseharian. Pahami lebih lanjut tentang gejala, penyebab, serta cara mengatasi dan mencegahnya lewat artikel ini.
Mengenal Bacterial Dermatitis
Bacterial dermatitis adalah peradangan pada kulit yang secara spesifik disebabkan oleh infeksi bakteri. Kondisi ini berbeda dengan dermatitis lain seperti dermatitis alergi (reaksi alergi) ataupun dermatitis kontak (iritan). Karena itu, penanganan dermatitis bakteri pun berbeda.
Dikutip dari National Institute of Environmental Health Sciences, kulit kita sebenarnya dihuni oleh berbagai mikroorganisme yang kompleks dan umumnya hidup dalam harmoni, yang dikenal sebagai mikrobioma kulit. Mikrobioma yang sehat didominasi oleh bakteri Staphylococcus epidermidis dan spesies Cutibacterium yang bersifat komensal alias hidup tanpa merugikan.
Namun, ketika ada kerusakan pada sawar kulit (skin barrier), antara lain luka, goresan, atau kondisi kulit yang sudah meradang seperti eksim, bakteri patogen seperti Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes dapat dengan mudah masuk, berkembang biak, dan memicu reaksi inflamasi. Infeksi ini dapat muncul di mana saja, dari wajah, lipatan tubuh, hingga kaki, dan dapat menular dari satu individu ke individu lain.
Dalam beberapa kasus, infeksi ini dapat menyebar dengan cepat dan menyebabkan komplikasi yang lebih serius jika tidak diobati. Jumlah kasus bacterial dermatitis cenderung meningkat pada musim kemarau atau ketika cuaca panas dan lembap yang dapat mendukung pertumbuhan bakteri.
Gejala Bacterial Dermatitis
Gejala bacterial dermatitis bisa bermacam-macam, tergantung jenis bakteri dan kedalaman infeksi. Namun ada beberapa tanda umum bahwa kulit sedang mengalami infeksi bakteri, bukan sekadar iritasi biasa. Di antaranya:
- Kemerahan (eritema) pada area kulit yang terinfeksi.
- Pembengkakan (edema) dan terasa hangat ketika disentuh.
- Nyeri atau perih saat ditekan.
- Terdapat lesi berisi nanah atau lepuhan.
- Ada kerak berwarna kuning keemasan yang bermula dari cairan kekuningan yang mengering.
- Luka terbuka akibat lepuhan yang pecah.
- Gejala sistemik seperti demam, menggigil, dan pembengkakan kelenjar getah bening dalam kasus yang parah jika infeksi menyebar lebih dalam atau luas.
Penyebab Bacterial Dermatitis
Penyebab utama bacterial dermatitis adalah serangan bakteri patogen ke dalam lapisan kulit. Dua bakteri yang paling sering menjadi biang kerok adalah Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes (Grup A Streptococcus). Namun infeksi ini tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor risiko yang dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma kulit dan memicu bacterial dermatitis, di antaranya:
- Kerusakan sawar kulit seperti luka bakar, luka sayat, gigitan serangga, goresan, atau area kulit yang sudah pecah-pecah akibat eksim (dermatitis atopik) yang dapat dimasuki bakteri. Menurut studi, sebanyak 70-90 persen kulit penderita dermatitis atopik dikolonisasi aureuspada lesi.
- Kondisi lembap dan panas, termasuk keringat berlebih, serta kebersihan diri yang kurang optimal sehingga bakteri mudah berkembang biak.
- Sistem kekebalan tubuh yang melemah karena kondisi tertentu atau mengonsumsi obat imunosupresan sehingga lebih rentan terhadap infeksi kulit.
- Kondisi kulit kronis seperti psoriasis dan rosaceayang bisa melemahkan kondisi kulit.
- Penggunaan sabun berbahan keras yang bisa menghilangkan minyak alami pada kulit dan mengganggu mikrobioma yang sehat.
- Penggunaan antibiotik yang tidak tepat sehingga mendorong berkembangnya jenis bakteri yang resistan terhadap antibiotik tersebut.
- Berbagi barang pribadi seperti handuk dan pakaian.
Cara Dokter Mendiagnosis Bacterial Dermatitis
Diagnosis yang akurat penting untuk membedakan bacterial dermatitis dari kondisi lain yang mirip demi pengobatan yang tepat. Dokter biasanya akan melalui beberapa tahap, antara lain:
- Anamnesis atau wawancara medis oleh dokter yang akan menanyakan riwayat gejala, riwayat penyakit kulit sebelumnya, alergi, dan pengobatan yang pernah dicoba.
- Pemeriksaan fisik terhadap karakteristik lesi secara langsung pada kulit.
- Kultur dan uji sensitivitas bakteri dengan cara mengambil sampel cairan lesi untuk mengidentifikasi jenis bakteri sekaligus menguji antibiotik yang paling efektif di laboratorium.
- Biopsi kulit untuk kasus yang tidak khas atau kronis, yakni mengambil sedikit sampel jaringan kulit untuk diperiksa lebih detail di bawah mikroskop.
Cara Mengatasi Bacterial Dermatitis
Penanganan bacterial dermatitis bertujuan memberantas infeksi, mengurangi peradangan, dan mempercepat penyembuhan. Dokter biasanya meresepkan obat antibiotik yang disesuaikan dengan jenis bakteri yang memicu peradangan. Antibiotik itu bisa berupa topikal (oles) ataupun oral (minum). Penting untuk menghabiskan seluruh antibiotik yang diresepkan meskipun gejala sudah membaik guna mencegah kekambuhan dan resistansi bakteri.
Di samping itu, pasien memerlukan perawatan suportif dan perawatan luka yang meliputi:
- Mengompres lesi yang berkerak dengan air hangat.
- Membersihkan area sekitar infeksi dengan sabun berbahan lembut dan air, lalu keringkan dengan hati-hati. Hindari menggaruk atau memecahkan lepuhan.
- Setelah infeksi terkontrol, gunakan pelembap atau krim untuk membantu memulihkan sawar kulit.
Komplikasi Bacterial Dermatitis
Bacterial dermatitis mungkin terkesan bukan penyakit yang serius. Namun, jika tidak ditangani dengan baik, dapat terjadi komplikasi serius seperti:
- Selulitis: penyebaran infeksi ke lapisan kulit yang lebih dalam dan menyebabkan kulit kemerahan, bengkak, dan nyeri.
- Abses: terbentuknya kantong nanah yang dalam.
- Erisipelas: infeksi pada lapisan atas kulit, termasuk pembuluh limfa.
- Limfadenitis dan limfangitis: penyebaran bakteri ke kelenjar getah bening dan pembuluh limfa.
- Sepsis: komplikasi paling berbahaya yang terjadi ketika infeksi masuk ke aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh.
Pencegahan Bacterial Dermatitis
Terdapat sejumlah langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terkena bacterial dermatitis:
- Jaga kebersihan kulit dengan menggunakan sabun dan air saat mandi atau mencuci tangan.
- Mandi setelah banyak berkeringat, tapi hindari mandi terlalu lama dengan air panas dan sabun antibakteri yang keras.
- Meminimalkan kontak dengan orang yang terinfeksi.
- Menggunakan produk yang cocok untuk jenis kulit dan hindari iritan yang dapat merusak permukaan kulit.
- Segera bersihkan dan tutup luka atau lecet dengan perban steril.
- Gunakan pelembap secara rutin, terutama jika memiliki kulit kering atau eksim.
- Hindari berbagi barang pribadi yang kontak langsung dengan kulit.
- Menerapkan pola hidup sehat.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera hubungi dokter jika mengalami gejala bacterial dermatitis yang tidak kunjung membaik atau makin parah setelah beberapa hari pengobatan. Juga bila mengalami infeksi kulit yang disertai demam tinggi. Deteksi dini dan perawatan yang tepat adalah kunci untuk pemulihan yang efektif dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Ditinjau oleh:
Spesialis Dermatovenereologi
Primaya Hospital Bhakti Wara
Referensi:
- Microbiome. https://www.niehs.nih.gov/health/topics/science/microbiome. Diakses 13 Desember 2025
- Understanding the role of Staphylococcus aureus in atopic dermatitis: strain diversity, microevolution, and prophage influences. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11608963/. Diakses 13 Desember 2025
- Staphylococcus aureus density on lesional and nonlesional skin is strongly associated with disease severity in atopic dermatitis. https://www.jacionline.org/article/S0091-6749(15)01367-6/fulltext. Diakses 13 Desember 2025
- Diagnosis and management of skin and soft tissue infections in the intensive care unit: a review. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6276373/. Diakses 13 Desember 2025
- Antimicrobials from human skin commensal bacteria protect against Staphylococcus aureus and are deficient in atopic dermatitis. https://www.science.org/doi/10.1126/scitranslmed.aah4680. Diakses 13 Desember 2025
- The Identification and Treatment of Common Skin Infections. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10496455/. Diakses 13 Desember 2025
- Staphylococcus aureus Infections: Epidemiology, Pathophysiology, Clinical Manifestations, and Management. https://journals.asm.org/doi/10.1128/cmr.00134-14. Diakses 13 Desember 2025



