• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Efek Samping Jangka Panjang Kemoterapi dan Radioterapi: Apa yang Perlu Diketahui?

Kemoterapi dan radioterapi

Kemoterapi dan radioterapi memiliki kemampuan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan sel kanker, namun juga dapat menimbulkan efek samping jangka panjang. Efek ini berdampak besar pada kualitas hidup pasien, baik secara fisik, kognitif, maupun psikologis.

Pemahaman tentang efek samping jangka panjang sangat penting dalam perawatan dan pemantauan pasien kanker setelah pengobatan. Dengan mengetahui jenis, penyebab, dan risikonya, pasien dan tenaga medis dapat mengantisipasi serta meminimalkan dampak negatif yang mungkin terjadi.

Mengenal Kemoterapi dan Radioterapi

Kemoterapi adalah metode pengobatan kanker menggunakan obat-obatan kimia yang dirancang untuk membunuh sel kanker atau menghambat perkembangannya. Obat kemoterapi bekerja dengan cara menyerang sel-sel yang membelah cepat, termasuk sel kanker dan beberapa sel sehat di tubuh.

Radioterapi adalah pengobatan kanker yang memanfaatkan radiasi energi tinggi untuk merusak dan menghancurkan sel kanker. Biasanya, radiasi ini diarahkan secara tepat ke area tumor sehingga dapat meminimalkan kerusakan pada jaringan di sekitarnya.

Kedua terapi ini merupakan standar dalam penanganan kanker dan dapat digunakan secara bersamaan atau terpisah tergantung jenis dan stadium kanker. Meskipun efektif, keduanya memiliki risiko menimbulkan efek samping, termasuk efek yang muncul setelah pengobatan selesai.

Mengapa dan Bagaimana Efek Samping Jangka Panjang Terjadi?

Efek samping jangka panjang adalah komplikasi yang berisiko muncul berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah kemoterapi atau radioterapi diberikan. Tidak seperti efek samping akut yang biasanya ringan dan sementara, efek ini sering memerlukan perhatian serta penanganan khusus.

Efek ini dapat mempengaruhi fungsi organ, sistem saraf, serta kondisi fisik dan mental pasien. Dengan mengetahui potensi efek samping jangka panjang, pasien dan tenaga medis dapat melakukan pemantauan lebih intensif untuk mencegah komplikasi serius.

Efek samping jangka panjang muncul akibat paparan obat kemoterapi dan radiasi tidak hanya pada sel kanker namun juga sel-sel sehat di tubuh. Contohnya, sistem saraf seperti otak dan saraf perifer, jantung, paru, atau sistem pencernaan bisa mengalami kerusakan.

Obat kemoterapi dengan sifat toksik dapat menghasilkan perubahan permanen pada jaringan tubuh. Sedangkan radiasi dapat menyebabkan inflamasi kronis dan jaringan parut yang menyebabkan gangguan fungsi organ dalam jangka panjang.

Beberapa efek samping jangka panjang dapat muncul setelah seseorang menjalani kemoterapi maupun radioterapi. Kondisi ini biasanya memengaruhi fungsi organ tertentu dan bisa berlangsung dalam jangka waktu lama.

  • Chemo Brain (Kabut Otak): Chemo brain adalah gangguan kognitif akibat paparan obat kemoterapi yang menyebabkan sulit konsentrasi, penurunan daya ingat, dan lambat berpikir hingga mengganggu aktivitas serta kualitas hidup pasien.
  • Neuropati Perifer: Neuropati perifer akibat sifat neurotoksik obat kemoterapi dapat menimbulkan kesemutan, nyeri, mati rasa, atau kelemahan pada tangan dan kaki, hingga mengganggu mobilitas serta keseimbangan tubuh.
  • Risiko Penyakit Jantung Pasca Radiasi: Radiasi pada area dada dapat merusak jaringan jantung dan pembuluh darah sehingga menimbulkan peradangan kronis, pengerasan arteri, dan meningkatkan risiko penyakit jantung yang bisa muncul bertahun-tahun setelah terapi.
  • Kelelahan Kronis: Kelelahan kronis adalah rasa lelah berkepanjangan pasca kemoterapi atau radioterapi akibat berbagai faktor, yang membatasi aktivitas sehari-hari dan memerlukan manajemen khusus.
Baca Juga:  Transplantasi Hematopoietik Autolog, Apa Saja Manfaatnya?

Salah satu sumber acuan yang dapat dijadikan pegangan adalah rekomendasi dari European Society of Cardiology. Rekomendasi ini menyebutkan, meskipun olahraga kompetitif aman bagi pasien yang menjalani radioterapi daerah dada, pemeriksaan rutin untuk mendeteksi gangguan kardiovaskular sangat diperlukan.

Siapa yang Berisiko Mengalami Efek Samping Jangka Panjang?

Semua orang berpotensi mengalami efek samping ini. Namun, risikonya dipengaruhi oleh beberapa faktor tertentu.

  • Jenis dan dosis obat kemoterapi yang digunakan.
  • Luas daerah radiasi dan dosis radiasi pada radioterapi.
  • Usia pasien, di mana pasien lanjut usia lebih rentan.
  • Status gizi pasien kanker yang menjalani kemoterapi atau radioterapi.
  • Riwayat penyakit sebelumnya, seperti penyakit jantung atau gangguan saraf.
  • Lama dan intensitas pengobatan yang dijalani.

Pemantauan rutin sangat penting dilakukan agar efek samping dapat terdeteksi sejak dini. Tindakan ini membantu proses pengelolaan menjadi lebih cepat dan tepat. Hal tersebut terutama dibutuhkan bagi pasien dengan faktor risiko tinggi.

Kapan dan Di Mana Efek Samping Jangka Panjang Muncul?

Efek samping jangka panjang dapat muncul segera setelah pengobatan selesai, tetapi paling sering baru terlihat setelah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Sifatnya yang laten dan akumulatif membuat kondisi ini sering tidak terdeteksi sejak awal. Oleh karena itu, pemantauan kesehatan pasca terapi perlu dilakukan secara berkelanjutan agar gangguan dapat segera dikenali dan ditangani.

Sebagai contoh, beberapa efek seperti neuropati perifer dan chemo brain biasanya mulai dirasakan dalam rentang waktu bulan pertama hingga dua tahun setelah pengobatan kemoterapi selesai. Gejala-gejala ini dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien secara signifikan, sehingga deteksi dini dan intervensi yang tepat sangat dianjurkan untuk mengurangi dampak negatifnya.

Risiko komplikasi kardiovaskular akibat radioterapi, terutama yang mengenai area dada, biasanya muncul dalam jangka panjang, yakni lima hingga sepuluh tahun setelah terapi selesai. Kondisi ini membuat efek sampingnya sering tidak langsung terasa oleh pasien.

Oleh karena itu, pasien yang pernah menjalani radioterapi pada area dada disarankan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Pemantauan intensif dalam jangka panjang sangat penting untuk mencegah terjadinya gangguan jantung yang lebih serius.

Baca Juga:  Terapi Kanker Payudara: Deteksi dan Mengatasinya

Efek samping jangka panjang biasanya muncul pada organ atau sistem yang menerima dosis radiasi atau terpapar obat kemoterapi secara langsung atau sistemik. Area tubuh yang umum terdampak meliputi:

  • Sistem saraf pusat dan perifer: menyebabkan chemo brain dan neuropati perifer.
  • Sistem kardiovaskular: risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
  • Sistem muskuloskeletal: kelelahan kronis dan gangguan fungsi otot.
  • Organ yang menerima radiasi langsung seperti mata, paru-paru, atau saluran pencernaan.

Penanganan Efek Samping Jangka Panjang

Pengelolaan efek samping jangka panjang memerlukan pendekatan multidisipliner. Pendekatan ini melibatkan tenaga medis dari berbagai bidang sesuai kebutuhan pasien. Tujuannya adalah memberikan perawatan menyeluruh agar kualitas hidup pasien tetap terjaga.

  • Pemantauan dan pemeriksaan berkala oleh dokter.
  • Terapi rehabilitasi fisik untuk mengembalikan fungsi saraf dan otot.
  • Pengobatan simptomatik untuk mengatasi nyeri, kesemutan, atau masalah kognitif.
  • Konseling psikologis dan dukungan sosial untuk memperbaiki kualitas hidup pasien.
  • Modifikasi gaya hidup seperti diet seimbang, olahraga teratur, dan istirahat cukup.

Penanganan yang tepat dan dilakukan sejak dini dapat membantu mengurangi dampak negatif dari efek samping jangka panjang. Dengan langkah ini, kualitas hidup pasien tetap bisa terjaga lebih baik.

Kesimpulan

Efek samping jangka panjang dari kemoterapi dan radioterapi merupakan hal yang perlu mendapat perhatian serius oleh pasien, keluarga, dan tenaga medis. Efek ini tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik tetapi juga psikologis pasien dalam jangka waktu lama setelah pengobatan.

Pengenalan dini terhadap gejala dan risiko, didukung oleh pemeriksaan dan pemantauan berkala, adalah kunci untuk menangani efek samping tersebut secara efektif. Penanganan terpadu melibatkan berbagai ahli medis dan dukungan keluarga sangat penting agar pasien dapat menjalani kehidupan pasca keberhasilan pengobatan dengan kualitas terbaik.

 

Ditinjau oleh :

dr. Fauzan Herdian, Sp.Onk.Rad

Spesialis Oncology Radioterapi

Primaya Hospital Bekasi Barat

 

 

 

Referensi:

Share to :

Promo

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Sahabat Sehat Primaya

Select an available coupon below