Cedera traumatik adalah salah satu penyebab utama disabilitas di seluruh dunia. Cedera ini tidak hanya mempengaruhi fisik, tapi juga kesehatan mental seseorang. Untuk memahami lebih dalam bagaimana cedera traumatik dapat mempengaruhi kualitas hidup dalam jangka panjang, kita perlu mengeksplorasi berbagai aspeknya, dari gejala yang muncul, penyebab, hingga langkah-langkah pencegahan yang dapat diambil.
Mengenal Cedera Traumatik Jangka Panjang
Cedera traumatik jangka panjang adalah istilah yang mencakup berbagai kondisi kesehatan fisik dan neurologis yang menetap atau berkembang sebagai konsekuensi langsung cedera traumatik akut. Cedera itu bisa berupa benturan keras (seperti kecelakaan mobil, jatuh dari ketinggian), cedera tembus (tusuk atau tembak), atau cedera akibat gaya berlebihan (seperti whiplash).
Yang membedakannya dari cedera biasa adalah sifatnya yang persisten, seringkali progresif, dan dapat mempengaruhi multiple sistem organ. Informasi di National Institutes of Healthย menyebutkan respons tubuh terhadap trauma berat tidak berhenti ketika luka akut sembuh. Setiap individu akan merespons cedera dengan cara yang berbeda-beda. Hal ini sangat dipengaruhi faktor psikologis, fisik, dan sosial. Lingkungan tempat seseorang tinggal juga dapat mempengaruhi kemampuan mereka untuk pulih sepenuhnya.
Strategi penanganan trauma yang tidak tepat justru bisa menimbulkan dampak yang merugikan dalam jangka panjang. Berbagai penelitian di bidang psikologi menunjukkan dukungan sosial merupakan komponen penting dalam proses pemulihan, juga kemampuan individu untuk menghadapi trauma secara emosional. Tanpa penanganan yang memadai, seseorang bisa mengalami dampak cedera traumatik jangka panjang yang dapat menurunkan kualitas hidup secara signifikan.
Gejala Cedera Traumatik Jangka Panjang
Gejala cedera traumatik jangka panjang sangatlah beragam, tergantung bagian tubuh yang paling terkena dampak. Beberapa gejala yang umum antara lain:
- Rasa sakit atau nyeri kronis yang bisa berasal dari kerusakan saraf, peradangan sendi pasca-trauma, atau ketegangan otot kronis. Rasa sakitnya bisa seperti terbakar, tersetrum, atau ngilu terus-menerus yang tak kunjung hilang meski luka luar sudah sembuh.
- Gangguan neurologis serius yang meliputi sakit kepala terus-menerus, pusing, vertigo, gangguan konsentrasi dan memori, mudah lelah, serta perubahan suasana hati.
- Keterbatasan fungsi gerak seperti kekakuan atau kelemahan otot karena kerusakan pada tulang, sendi, atau otot.
- Gangguan tidur seperti insomnia, sleep apnea, atau tidur tidak bisa nyenyak.
- Gangguan psikologis seperti gangguan stres pascatrauma (PTSD), depresi, dan gangguan kecemasan. Sebuah studi di OTA Internationalmenemukan 1 dari 4 orang yang menderita cedera traumatik mengalami gejala PTSD, terutama korban kejahatan dan pejalan kaki yang tertabrak kendaraan bermotor.
Penyebab Cedera Traumatik Jangka Panjang
Cedera traumatik jangka panjang dapat disebabkan oleh berbagai faktor dan kejadian. Beberapa penyebab yang umum termasuk:
- Kecelakaan kendaraan bermotor
- Jatuh, terutama di kalangan lansia yang risikonya lebih tinggi
- Olahraga, khususnya yang dilakukan tanpa pelatihan yang tepat
- Kecelakaan kerja, antara lain akibat kelalaian atau kurangnya alat pelindung keselamatan
- Kekerasan atau serangan fisik yang bisa berdampak pula kondisi mental pada individu yang berhasil selamat
Adapun faktor yang berkontribusi terjadinya lamanya efek cedera tersebut antara lain:
- Cedera awal yang parah dan kompleks sehingga berisiko berkembang menjadi kondisi kornis
- Cedera yang mengakibatkan kerusakan jaringan yang lebih luas dan kompleks, misalnya akibat benturan keras atau gaya gerak yang berlebihan
- Respons biologis individu yang membuat sistem peradangan tubuh tak kunjung padam seusai fase akut pada cedera sehingga terjadi kondisi peradangan yang kronis
- Usia yang lebih tua, terutama lansia
- Adanya masalah kesehatan yang menyertai, seperti osteoporosis, diabetes, atau penyakit kardiovaskular
- Penanganan awal tidak optimal, misalnya telat mendapat bantuan medis atau diagnosis terlambat
Cara Dokter Mendiagnosis Cedera Traumatik Jangka Panjang
Diagnosis cedera traumatik jangka panjang membutuhkan kombinasi berbagai pendekatan dari berbagai disiplin. Dokter tidak hanya melihat cedera lama, tapi juga memahami keseluruhan gambaran kondisi pasien. Prosesnya biasanya meliputi:
- Anamnesis atau wawancara medis di mana dokter akan mengajukan sederet pertanyaan detail tentang kecelakaan awal, perawatan apa saja yang telah dilakukan, dan semua gejala yang dirasakan hingga saat ini. Suatu kuesioner standar bisa digunakan untuk menilai nyeri, fungsi kognitif, atau gejala PTSD.
- Pemeriksaan fisik yang meliputi penilaian terhadap kekuatan otot, rentang gerak sendi, refleks, sensasi, keseimbangan, dan koordinasi. Dokter akan mencari tanda-tanda kerusakan saraf, ketidakstabilan sendi, atau kelemahan otot.
- Pemeriksaan penunjang yang mencakup:
- Pencitraan dengan computed tomography(CT) scan atau magnetic resonance imagingย (MRI) untuk melihat kerusakan pada jaringan lunak seperti ligamen, tendon, tulang rawan, dan sumsum tulang belakang.
- Elektromiografi (EMG) dan studi konduksi saraf (NCS) untuk mengevaluasi fungsi saraf dan otot.
- Pemeriksaan neuropsikologis untuk mengevaluasi fungsi memori, perhatian, pemecahan masalah, dan kesehatan mental secara mendalam.
Cara Mengatasi Cedera Traumatik Jangka Panjang
Fokus penanganan cedera traumatik jangka panjang adalah pada pengelolaan gejala, pengoptimalan fungsi, dan peningkatan kualitas hidup. Caranya antara lain:
- Terapi fisik dan rehabilitasi untuk meningkatkan kekuatan, fleksibilitas, daya tahan, dan keseimbangan.
- Manajemen nyeri, misalnya dengan obat-obatan hingga akupunktur dan latihan mindfulness.
- Terapi psikologis yang terutama efektif untuk mengelola nyeri kronis, PTSD, dan depresi.
- Intervensi medis spesifik sesuai dengan kondisinya, misalnya operasi untuk memperbaiki ligamen atau sendi yang rusak.
- Modifikasi gaya hidup untuk mengelola gejala dan meningkatkan kualitas hidup.
Penanganan ini umumnya bersifat jangka panjang dan memerlukan keterlibatan berbagai ahli kesehatan untuk mencapai hasil yang optimal.
Komplikasi Cedera Traumatik Jangka Panjang
Cedera traumatik jangka panjang dapat memicu berbagai komplikasi serius bila tak mendapat penanganan yang baik. Di antaranya:
- Keterbatasan gerak yang bisa menjadi disabilitas permanen.
- Ketergantungan pada obat pereda nyeri.
- Masalah kesehatan mental yang berat, termasuk munculnya pikiran untuk bunuh diri.
- Masalah kesehatan sekunder karena aktivitas yang terbatas, termasuk obesitas dan penyakit jantung.
- Penurunan kualitas hidup secara keseluruhan karena dampak cedera traumatik jangka panjang bisa merembet ke hubungan personal, keuangan, dan kebahagiaan hidup.
Pencegahan Cedera Traumatik Jangka Panjang
Tidak semua peristiwa yang bisa memicu cedera traumatik jangka panjang bisa dicegah. Tapi risikonya dapat diminimalkan secara signifikan dengan cara antara lain:
- Memastikan keselamatan berkendara, misalnya selalu menggunakan sabuk pengaman/helm, mematuhi rambu lalu lintas, dan tidak menyetir dalam keadaan mengantuk.
- Mengenakan helm, sepatu safety, dan alat pelindung diri lain yang sesuai saat bekerja atau berolahraga.
- Pastikan rumah bebas dari bahaya tersandung dan pencahayaannya memadai. Jika perlu, pasang pegangan tangan di kamar mandi.
- Edukasi keselamatan untuk mengurangi risiko cedera, terutama bagi anak-anak.
- Segera cari pertolongan medis profesional untuk setiap cedera yang serius.
Kapan Harus ke Dokter?
Sebaiknya segera konsultasi ke dokter jika pernah mengalami cedera traumatik di masa lalu dan kini mengalami gejala yang mengarah ke cedera traumatik jangka panjang. Diagnosis dan intervensi dini dapat meningkatkan peluang pemulihan dan mencegah komplikasi yang lebih serius di kemudian hari.
Sumber
dr. Andreas Wahyu Wicaksono, Sp.OT
Spesialis Orthopedi dan Traumatologi
Primaya Hospital Betang Pambelum
Referensi:
- Road traffic injuries. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/road-traffic-injuries. Diakses 13 November 2025
- The systemic immune response to trauma: an overview of pathophysiology and treatment. https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(14)60687-5/abstract. Diakses 13 November 2025
- The Psychiatric Sequelae of Traumatic Injury. https://psychiatryonline.org/doi/full/10.1176/appi.ajp.2009.09050617. Diakses 13 November 2025
- Wound Healing Phases. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470443/. Diakses 13 November 2025
- Prevalence of posttraumatic stress disorder in acute trauma patients. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8081481/. Diakses 13 November 2025
- Understanding the Impact of Trauma. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK207191/. Diakses 13 November 2025
- Mental health following traumatic physical injury: An integrative literature review. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0020138312000642. Diakses 13 November 2025
- Navigating the โTriangle of Deathโ: A Multidisciplinary Approach in Severe Multi-Trauma Management. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11325324/. Diakses 13 November 2025
- Improving care of the injured. https://www.who.int/activities/improving-care-of-the-injured. Diakses 13 November 2025



