AIDS adalah salah satu masalah kesehatan yang sering disorot dan menjadi perdebatan di masyarakat. Pemahaman yang mendalam dan akurat mengenai AIDS dan juga HIV sangat penting untuk mencegah penularan dan mengurangi stigma. Artikel ini akan menggali lebih dalam tentang apa itu AIDS, gejala-gejalanya, penyebab, serta langkah-langkah pencegahan dan pengobatannya.
Mengenal AIDS
AIDS adalah singkatan dari acquired immunodeficiency syndrome, yakni kondisi yang disebabkan oleh virus HIV (human immunodeficiency virus). Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga membuat tubuh rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit. HIV ditularkan melalui kontak dengan cairan tubuh seperti darah, air mani, dan air susu ibu.
Jika tidak diobati, infeksi HIV dapat berkembang menjadi AIDS dalam waktu yang bervariasi, biasanya setelah beberapa tahun. Mengutip The New England Journal of Medicine, penting untuk dicatat bahwa tidak semua orang yang terinfeksi HIV akan mengalami AIDS, terutama dengan perawatan medis yang tepat.
AIDS terjadi ketika muncul sindrom atau kumpulan gejala dan infeksi akibat kerusakan sistem imun akibat HIV sudah sangat parah. Singkatnya, HIV adalah virusnya, sementara AIDS adalah stadium penyakit paling lanjut akibat virus tersebut. Dengan terapi antiretroviral yang tepat, seseorang dengan HIV dapat hidup sehat dan infeksi tersebut tidak akan berkembang menjadi AIDS.
Gejala AIDS
AIDS adalah stadium akhir dari infeksi HIV. Gejalanya mengindikasikan bahwa sistem imun sudah sangat rusak sehingga tubuh sangat mudah terserang berbagai penyakit. Gejalanya antara lain:
- Penurunan berat badan drastis tanpa sebab.
- Demam tinggi dan berkeringat di malam hari terus-menerus.
- Kelelahan kronis yang parah.
- Diare kronis (lebih dari seminggu).
- Bercak putih atau luka di mulut dan lidah.
- Pneumonia (radang paru) parah.
- Penyakit kulit seperti infeksi jamur sistemik dan herpes zoster.
Adapun pada periode awal setelah seseorang tertular HIV, gejala yang muncul bisa berupa:
- Demam
- Kelelahan ekstrem
- Pembengkakan kelenjar getah bening di leher dan ketiak
- Sakit tenggorokan
- Ruam kulit
- Nyeri otot dan sendi
Setelah gejala itu mereda, virus HIV akan โtidurโ tapi terus aktif dan merusak sistem imun secara perlahan tanpa gejala yang jelas hingga terjadi AIDS.
Penyebab AIDS
Virus HIV adalah penyebab utama AIDS. Infeksi HIV biasanya terbagi menjadi tiga tahap: akut, kronis, dan AIDS. Pada tahap akut, virus mulai berkembang biak dengan cepat, sementara pada tahap kronis, virus akan berdiam dalam tubuh untuk waktu yang lama, kadang-kadang hingga puluhan tahun tanpa menimbulkan gejala. Tanpa pengobatan, tahap ini dapat berubah menjadi AIDS.
Adapun penularan HIV dapat terjadi melalui beberapa cara:
- Hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi tanpa menggunakan kondom.
- Penggunaan jarum suntik yang sama pada beberapa orang, terutama pada kalangan pengguna narkoba.
- Transmisi dari ibu ke anak, antara lain pada saat kehamilan, persalinan, atau pemberian ASI.
- Transfusi darah dari penderita HIV, meski sangat jarang.
Cara Dokter Mendiagnosis AIDS
Untuk mendiagnosis HIV/AIDS dokter biasanya menggunakan tes darah. Tes ini bertujuan mendeteksi antibodi terhadap virus HIV atau partikel virus itu sendiri. Ada beberapa jenis tes yang umum digunakan:
- Tes antibodi untuk mengidentifikasi antibodi yang diproduksi tubuh setelah terinfeksi HIV. Tes ini sangat akurat 3-12 minggu setelah paparan.
- Nucleic acid test untuk mendeteksi material genetik (RNA) virus langsung, biasa digunakan untuk konfirmasi atau skrining bayi baru lahir.
- Tes mandiri di rumah dengan mengambil sampel air liur atau darah dari jari menggunakan peralatan tes khusus (test kit) yang hasilnya dapat dikonfirmasi di fasilitas kesehatan.
Tes-tes ini biasanya dilakukan setelah ada kecurigaan seseorang terpapar HIV, terutama bila ada gejala yang mengarah ke kondisi tersebut.
Cara Mengatasi AIDS
Meskipun tidak ada obat untuk HIV/AIDS, pengobatan antiretroviral (ART) telah terbukti sangat efektif dalam mengendalikan virus tersebut. Terapi ini tidak hanya memperpanjang hidup penderita, tapi juga mengurangi kemungkinan penularan virus kepada orang lain. ART bekerja dengan cara mengurangi viral load (jumlah virus dalam darah) hingga ke tingkat yang tidak terdeteksi.
Pasien umumnya mesti mengonsumsi kombinasi obat antiretroviral untuk meningkatkan efektivitasnya. Selain pengobatan HIV, penderita biasanya perlu menjalani pengobatan infeksi lain yang muncul seiring dengan melemahnya sistem imun. Obat ART harus diminum seumur hidup setiap hari pada waktu yang konsisten untuk mencegah resistansi virus.
Komplikasi AIDS
AIDS dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius baik secara fisik maupun psikologis. ย Ini menjadi tantangan signifikan dalam kesehatan masyarakat, menuntut perhatian terhadap berbagai cara penualrannya. Salah satu jalur yang perlu diwaspadai yaitu, penularan dari ibu ke anak, baik masa kehamilan meaupu melalui ASI, yang menekankan perlunya intervensi yang tepat untuk melindungi bayi dari infeksi.
Salah satu komplikasi yang paling umum adalah infeksi oportunistik, yakni infeksi yang biasanya tidak berbahaya bagi orang sehat, tapi bisa menyebabkan penyakit serius atau bahkan fatal pada penderita HIV/AIDS karena sistem kekebalan tubuh yang melemah.
Infeksi itu meliputi tuberkulosis (TB) yang merupakan pembunuh nomor satu pada orang dengan HIV/AIDS di dunia. Ada pula pneumonia pneumosistis, toksoplasmosis, kriptokokal meningitis, dan infeksi sitomegalovirus.
Komplikasi lain termasuk kanker terkait ADIS seperti sarkoma, limfoma non-Hodgkin, dan kanker serviks invasif. Di samping itu, ada risiko komplikasi neurologis seperti demensia serta kerusakan pada saraf di luar otak dan sumsum tulang belakang, juga peningkatan risiko penyakit ginjal kronis dan penyakit jantung. Di samping itu, pengidap HIV/AIDS bisa mengalami masalah psikologis seperti depresi, kecemasan, dan stres.
Terapi antiretroviral telah terbukti efektif dalam mengurangi risiko penualran HIV, namun itu harus diibangi dengan perubahan perilaku yang aman. Selain itu, dukungan dari keluarga dan masyarakat selama proses pengobatan sangat penting dan tidak boleh diabaikan, dengan pendekatan menyeluruh mencakup pendidikan, pencegahan, dan pengobatan, kita dapat mengurangi dampak HIV/AIDS dan meningkatkan kualitas hidup bagi mereka yang terinfeksi.
Pencegahan AIDS
Pencegahan adalah kunci dalam melawan penularan HIV/AIDS di masyarakat. Beberapa langkah pencegahan yang efektif meliputi:
- Penggunaan kondom dalam hubungan seksual.
- Tes HIV rutin bagi mereka yang berisiko tinggi.
- Konsumsi obat ART secara rutin oleh orang yang hasil tes HIV-nya negatif, tapi berisiko tinggi tertular.
- Pendidikan tentang HIV/AIDS, terutama di kalangan remaja dan komunitas rentan lainnya.
- Skrining HIV/AIDS pada ibu hamil.
Kapan Harus ke Dokter?
Bagi yang merasa berisiko terpapar HIV atau mengalami gejala yang mencurigakan, sangat penting untuk segera mendatangi dokter. Deteksi dini menjadi kunci perawatan pasien sebelum infeksi berkembang menjadi AIDS yang lebih membahayakan. Hindari ketakutan dan stigma seputar AIDS agar bisa memperoleh perawatan yang dibutuhkan secepatnya demi meningkatkan kualitas hidup.
Ditinjau oleh:
dr. Dina Novita Rodiatun, Sp. PD, FINASIM
Spesialis Penyakit Dalam
Primaya Hospital Sukabumi
Referensi:
- HIV and AIDS. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK534860/. Diakses 12 Desember 2025
- Ending the HIVโAIDS Pandemic โ Follow the Science. https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMp1502020. Diakses 12 Desember 2025
- Preventing HIV with PrEP. https://www.cdc.gov/hiv/prevention/prep.html?CDC_AAref_Val=https://www.cdc.gov/hiv/basics/prep.html. Diakses 12 Desember 2025
- Sexual Activity Without Condoms and Risk of HIV Transmission in Serodifferent Couples When the HIV-Positive Partner Is Using Suppressive Antiretroviral Therapy. https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2533066. Diakses 12 Desember 2025
- Condom effectiveness in reducing heterosexual HIV transmission. https://www.cochranelibrary.com/cdsr/doi/10.1002/14651858.CD003255/full. Diakses 12 Desember 2025
- Global HIV & AIDS statistics โ Fact sheet. https://www.unaids.org/en/resources/fact-sheet. Diakses 12 Desember 2025
- About HIV. https://www.cdc.gov/hiv/about/?CDC_AAref_Val=https://www.cdc.gov/hiv/basics/whatishiv.html. Diakses 12 Desember 2025
- Acute HIV-1 Infection. https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMra1011874. Diakses 12 Desember 2025
- The Stages of HIV Infection. https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/stages-hiv-infection. Diakses 12 Desember 2025
- HIV self-tests. https://www.cdc.gov/stophivtogether/hiv-testing/self-testing.html. Diakses 12 Desember 2025



