Vitamin D terkenal sebagai salah satu nutrisi penting bagi tubuh. Peran jenis vitamin ini tidak hanya untuk menjaga kesehatan tulang, namun juga turut membantu sistem imunitas agar bisa bekerja lebih optimal. Sayangnya, ternyata masih banyak orang yang mengalami kekurangan vitamin tanpa disadari.
Nah, kurangnya paparan sinar matahari, pola makan yang kurang seimbang, hingga gaya hidup kurang sehat mampu membuat risiko defisiensi vitamin D semakin meningkat. Kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan tubuh dalam jangka panjang.
Mengenal Vitamin D dengan Berbagai Perannya dalam Tubuh
Vitamin D merupakan vitamin larut lemak yang diproduksi tubuh saat kulit terkena sinar ultraviolet dari matahari. Selain itu, vitamin ini juga dapat diperoleh dari makanan dan suplemen.
Menurut data dari World Health Organization (WHO), vitamin termasuk mikronutrien penting yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga kesehatan dan fungsi tubuh secara optimal. WHO juga menekankan kalau kekurangan vitamin dan mineral dapat memicu berbagai gangguan kesehatan
Selain itu, National Institutes of Health (NIH) juga menyatakan vitamin D berperan penting dalam menjaga homeostasis kalsium dan fosfor, yang dibutuhkan untuk pembentukan serta pemeliharaan tulang yang sehat (NIH Office of Dietary Supplements, 2025).
Vitamin tidak hanya bermanfaat untuk Kesehatan tulang, penelitian dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa reseptor vitamin D (Vitamin D Receptor/VDR) ditemukan pada berbagai jaringan tubuh, termasuk sel imun, otot, pankreas, sistem kardiovaskular, dan otak. Hal ini menunjukkan bahwa vitamin D memiliki efek biologis yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar menjaga kesehatan tulang (Bouillon et al., Nature Reviews Endocrinology, 2019).
Vitamin ini memiliki dua bentuk utama, yaitu vitamin D2 dan vitamin D3. Vitamin D2 (ergokalsiferol), berasal dari sumber nabati dan jamur. Vitamin D3 (kolekalsiferol), berasal dari sumber hewani dan sintesis di kulit. Suplementasi dalam bentuk vitamin D3 lebih efektif dalam meningkatkan kadar vitamin D yang ada di dalam darah.
Beberapa meta-analisis menunjukkan bahwa vitamin D3 lebih efektif meningkatkan dan mempertahankan kadar 25-hydroxyvitamin D [25(OH)D] dibandingkan vitamin D2 (Tripkovic et al., AJCN, 2017).
Manfaatnya untuk Kesehatan Tulang
Vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium secara optimal dari makanan. Tanpa kadar vitamin D yang memadai, hanya sekitar 10–15% kalsium yang dapat diserap usus, dibandingkan 30–40% pada individu dengan kadar vitamin D yang cukup (NIH ODS, 2025).
Dalam hal ini, fungsi utama vitamin D berkaitan erat dengan kesehatan tulang. Vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium secara optimal dari makanan. Tanpa adanya jenis vitamin yang cukup, maka penyerapan kalsium menjadi terganggu. Jika sudah terganggu, maka tulang bisa menjadi rapuh dan mudah mengalami keropos.
Kekurangan vitamin D dapat menyebabkan penyakit rakitis pada anak, osteomalasia pada dewasa, osteoporosis pada usia lanjut.
Selain meningkatkan penyerapan kalsium, vitamin D juga mengatur aktivitas osteoblas dan osteoklas yang berperan dalam proses remodeling tulang. Remodeling merupakan proses pembentukan dan penghancuran tulang yang berlangsung terus-menerus sepanjang hidup untuk menjaga kekuatan tulang (Endocrine Society Guideline, 2024).
Pada lansia dengan defisiensi vitamin D, suplementasi vitamin D bersama kalsium terbukti menurunkan risiko fraktur panggul dan fraktur non-vertebral, terutama pada individu yang tinggal di panti jompo atau memiliki kadar vitamin D yang sangat rendah (Bolland et al., Lancet Diabetes Endocrinol, 2018; Endocrine Society, 2024).
Data dari NIH Office of Dietary Supplements menyatakan kalau kekurangan vitamin D dapat menyebabkan rakitis pada anak, osteomalasia pada orang dewasa, hingga risiko osteoporosis pada usia lanjut.
Vitamin ini juga membantu proses remodeling tulang. Prosenya sangat ini penting untuk menjaga kepadatan dan kekuatan tulang sepanjang hidup. Kemudian, pada lansia, kombinasi vitamin dan kalsium diketahui turut membantu menurunkan risiko patah tulang akibat penurunan massa tulang.
Vitamin D dan Sistem Imunitas
Selain penting untuk tulang, vitamin ini juga memiliki hubungan erat dengan sistem imun tubuh. Hasil penelitian di berbagai sumber menunjukkan bahwa vitamin ini dapat membantu mengatur respons imun dan mendukung kerja sel pertahanan tubuh. Nutrisinya berperan dalam membantu tubuh melawan bakteri dan virus.
Vitamin D berperan dalam sistem imun bawaan (innate immunity) maupun sistem imun adaptif. Vitamin ini merangsang produksi peptida antimikroba seperti cathelicidin dan defensin yang membantu tubuh melawan bakteri, virus, dan jamur (Aranow, Journal of Investigative Medicine, 2011).
Bersumber dari penjelasan National Institutes of Health (NIH), vitamin D terlibat dalam modulasi sistem imun dan proses inflamasi di dalam tubuh. Vitamin D diketahui dapat menurunkan produksi sitokin proinflamasi seperti TNF-α, IL-6, dan IL-17 serta meningkatkan sitokin antiinflamasi tertentu. Efek ini diduga berperan dalam pengendalian berbagai penyakit inflamasi kronik (Prietl et al., Nutrients, 2013).
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa kadar vitamin yang cukup berkaitan dengan penurunan risiko infeksi tertentu. Salah satu miskonsepsi yang sering muncul adalah bahwa vitamin D dapat “mencegah semua infeksi”. Hingga saat ini, bukti ilmiah menunjukkan bahwa suplementasi vitamin D terutama bermanfaat pada individu yang memang mengalami defisiensi vitamin D. Meta-analisis besar yang melibatkan lebih dari 45.000 peserta menemukan bahwa suplementasi vitamin D dapat memberikan perlindungan ringan terhadap infeksi saluran pernapasan akut, terutama pada individu dengan kadar vitamin D rendah sebelum terapi (Jolliffe et al., Lancet Diabetes Endocrinol, 2021).
Namun pada individu sehat dengan kadar vitamin D normal, pemberian suplemen dosis tinggi belum terbukti secara konsisten meningkatkan daya tahan tubuh atau mencegah infeksi secara signifikan (USPSTF, 2024). Sehingga suplemen vitamin D ini bukan pengganti pengobatan medis dan tetap perlu dikonsumsi sesuai kebutuhan tubuh.
Tanda-tanda Tubuh Kekurangan Vitamin D
Defisiensi sering kali tidak menimbulkan gejala spesifik pada tahap awal. Akan tetapi, ada beberapa kondisi yang dapat menjadi tanda kalau seseorang kekurangan vitamin D:
- Tubuh mudah lelah
- Nyeri tulang dan sendi
- Otot terasa lemah
- Mudah sakit
- Mood mudah berubah
Pada kondisi yang lebih berat dapat ditemukan nyeri tulang difus, kesulitan berjalan, penurunan kekuatan otot proksimal (misalnya sulit bangun dari posisi duduk), serta peningkatan risiko jatuh pada lansia (Endocrine Society, 2024).
Nah, pada kondisi yang lebih berat, kekurangan vitamin ini dapat memengaruhi kepadatan tulang dan meningkatkan risiko cedera. Untuk kelompok yang lebih berisiko mengalami kekurangan vitamin D yakni lansia, seseorang yang jarang terpapar sinar matahari, individu dengan berat badan berlebih (obesitas), penderita gagal ginjal kronik, penderita penyakit hati kronik, sampai dengan orang yang punya gangguan penyerapan nutrisi dari usus.
Sumber Vitamin D yang Baik
Paparan sinar matahari menjadi sumber utama vitamin yang alami. Di negara tropis seperti Indonesia, paparan sinar matahari selama 10–30 menit pada area wajah, lengan, dan tungkai sebanyak 2–3 kali per minggu umumnya cukup untuk membantu sintesis vitamin D, meskipun kebutuhan dapat berbeda tergantung warna kulit, usia, penggunaan tabir surya, musim, dan polusi udara (Holick, NEJM; WHO Sun Exposure Guidance). Tubuh akan mengubah provitamin D menjadi vitamin D yang siap diedarkan ke dalam darah saat kulit terkena sinar UVB. Selain sinar matahari, vitamin ini juga dapat siapa pun peroleh dari makanan seperti ikan berlemak (tuna, sarden, salmon), kuning telur, susu fortifikasi, hati sapi, dan juga sereal fortifikasi. Namun perlu diketahui bahwa sangat sulit memenuhi kebutuhan vitamin D hanya dari makanan sehari-hari. Oleh karena itu, pada individu dengan risiko tinggi atau defisiensi yang telah terbukti melalui pemeriksaan laboratorium, suplementasi sering kali diperlukan (Endocrine Society, 2024). Ketika individu terdiagnosis mengalami kekurangan vitamin D maka suplemen vitamin D bisa digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan harian. Konsumsi suplemen sebaiknya tetap memperhatikan dosis yang dianjurkan oleh dokter.
Risiko Kelebihan Vitamin D
Dari semua itu, meski penting bagi tubuh, namun ternyata konsumsi vitamin yang berlebihan juga dapat menimbulkan masalah kesehatan. Sebab, kelebihan vitamin ini biasanya terjadi akibat penggunaan suplemen dalam dosis tinggi secara terus-menerus. Kondisi tersebut akhirnya dapat meningkatkan kadar kalsium dalam darah atau hiperkalsemia. Toksisitas vitamin D hampir selalu disebabkan oleh penggunaan suplemen dosis tinggi dalam jangka panjang, bukan akibat paparan sinar matahari ataupun konsumsi makanan yang kaya akan vitamin D (NIH ODS, 2025).
Jika melihat data dari publikasi digital, Verywell Health, beberapa gejala kelebihan vitamin D seperti terasa mual dan muntah, rasa haus berlebihan, sering buang air kecil. Tubuh juga akan lemah serta mudah lelah. Penderitanya pun akan mengalami gangguan ginjal, nyeri perut, hingga gangguan irama jantung.
Kondisi ini biasanya berkaitan dengan hiperkalsemia akibat kadar 25(OH)D yang sangat tinggi, umumnya di atas 150 ng/mL (375 nmol/L) (Institute of Medicine; Endocrine Society). Batas asupan maksimum yang dianggap aman bagi orang dewasa sehat adalah 4.000 IU per hari, kecuali terdapat indikasi medis khusus dan pengawasan dokter (NIH ODS, 2025). Oleh sebab itu penggunaan suplemen sebaiknya menyesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan rekomendasi tenaga medis.
Cara Menjaga Kadar Vitamin D agar Tetap Optimal
Menjaga kadar vitamin ini cukup mudah. Siapa pun dapat melakukannya melalui kombinasi pola hidup sehat dan asupan nutrisi seimbang.
Beberapa langkah sederhana yang dapat membantu yakni sepert kegiatan berjemur di pagi hari secukupnya. Jangan lupa untuk mengonsumsi makanan kaya vitamin D yang sudah disebutkan sebelumnya, menjaga pola makan bergizi, dan melakukan pemeriksaan kesehatan jika perlu.
Untuk berjemur, paparan sinar matahari tetap perlu dilakukan secara aman. Ini bertujuan guna mengurangi risiko gangguan kulit akibat paparan UV yang berlebihan.
Pada praktik klinis, pemeriksaan kadar serum 25-hydroxyvitamin D [25(OH)D] merupakan metode terbaik untuk menilai status vitamin D seseorang. Pemeriksaan ini terutama dianjurkan pada kelompok berisiko tinggi, bukan sebagai skrining rutin untuk seluruh populasi sehat (Endocrine Society Guideline, 2024).
Penutup
Jenis vitamin ini memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan tulang dan mendukung sistem imunitas tubuh. Nutrisi di dalamnya sangat membantu penyerapan kalsium, menjaga kepadatan tulang, serta mendukung respons imun terhadap infeksi.
Kekurangan vitamin D dapat meningkatkan risiko gangguan tulang dan menurunkan daya tahan tubuh. Sebaliknya, jika mengonsumsinya secara berlebihan juga dapat memicu masalah kesehatan tertentu. Menjaga kadar vitamin agar tetap seimbang menjadi langkah penting guna mendukung kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Berdasarkan bukti ilmiah terbaru, manfaat vitamin D paling jelas terlihat pada individu yang mengalami defisiensi vitamin D. Sebaliknya, suplementasi dosis tinggi pada individu dengan kadar vitamin D normal belum terbukti memberikan manfaat kesehatan tambahan yang bermakna untuk sebagian besar penyakit kronis maupun pencegahan infeksi.
Karena itu, pendekatan yang paling tepat adalah menjaga kadar vitamin D tetap optimal melalui kombinasi paparan sinar matahari yang aman, pola makan sehat, aktivitas fisik, dan suplementasi yang sesuai indikasi medis.
|
Mitos |
Fakta |
| Semakin tinggi dosis vitamin D semakin baik untuk kesehatan | Suplementasi di atas kebutuhan tidak memberikan manfaat tambahan yang konsisten dan justru dapat menyebabkan hiperkalsemia. |
| Orang yang tinggal di negara tropis pasti tidak kekurangan vitamin D. | Defisiensi vitamin D tetap sering ditemukan di Indonesia, terutama pada lansia, pekerja dalam ruangan, individu obesitas, dan pasien penyakit kronik. |
| Vitamin D dapat menggantikan vaksin atau pengobatan infeksi. | Vitamin D hanya berperan sebagai pendukung fungsi imun dan bukan pengganti terapi medis yang telah terbukti efektif. |
Ditinjau oleh:
Spesialis Penyakit Dalam
Primaya Hospital Semarang
Refferensi:
- World Health Organization (WHO). Healthy Diet. https://www.who.int/news-room/Fakta-sheets/detail/healthy-diet. Diakses pada 22 Mei 2026
- National Institutes of Health (NIH). NIH Office of Dietary Supplements. Vitamin D. https://ods.od.nih.gov/Faktasheets/VitaminD-HealthProfessional/. Diakses pada 22 Mei 2026
- Verywell Health. What Happens When You Take Too Many Vitamin D Supplements. https://www.verywellhealth.com/side-effects-of-vitamin-d-11868581. Diakses pada 22 Mei 2026
- Jolliffe DA, et al. Vitamin D supplementation to prevent acute respiratory infections: systematic review and meta-analysis. Lancet Diabetes Endocrinol. 2021.
- Endocrine Society Clinical Practice Guideline. Vitamin D for Prevention of Disease. 2024.
- NIH Office of Dietary Supplements. Vitamin D Fakta Sheet for Health Professionals. Updated 2025.
- Bouillon R, et al. Vitamin D and Human Health. Nature Reviews Endocrinology. 2019.
- Tripkovic L, et al. Vitamin D2 versus D3 supplementation. American Journal of Clinical Nutrition. 2017.
- Aranow C. Vitamin D and the Immune System. Journal of Investigative Medicine. 2011.
- Prietl B, et al. Vitamin D and Immune Function. Nutrients. 2013.
- Holick MF. Vitamin D Deficiency. New England Journal of Medicine.
- USPSTF Recommendation Statement on Vitamin D Supplementation. Updated 2024.
- Bolland MJ, et al. Calcium and Vitamin D supplementation and fracture prevention. Lancet Diabetes & Endocrinology. 2018.



