Bagi anak berkebutuhan khusus, kegiatan yang tampaknya sederhana seperti memegang sendok, mengancingkan baju, bahkan duduk tenang di kelas bisa jadi menyusahkan. Terapi okupasi menjadi salah satu cara untuk membantu mereka mengatasi tantangan ini. Berikut ini artikel yang akan memberi penjelasan lebih lanjut seputar terapi okupasi untuk anak berkebutuhan khusus.
Mengenal Terapi Okupasi
Secara sederhana, terapi okupasi (occupational therapy) adalah terapi yang berfokus pada upaya membantu individu mencapai kemandirian dalam semua aspek kehidupan. Kata โokupasiโ di sini merujuk pada segala aktivitas dalam hidup seseorang. Adapun okupasi utama anak-anak adalah bermain, belajar, dan melakukan aktivitas sehari-hari (activities of daily living) seperti makan, mandi, dan berpakaian.
Bagi anak berkebutuhan khusus, okupasi itu bisa menjadi tantangan tersendiri karena adanya hambatan tertentu (motorik, sensorik, kognitif, atau lingkungan). Terapi okupasi untuk anak berkebutuhan khusus merupakan layanan terapi yang dirancang secara spesifik untuk meningkatkan kemampuan fungsi anak dalam menjalani okupasi tersebut sesuai dengan kebutuhan anak.
Terapis okupasi bekerja berdasarkan penilaian kebutuhan individual dan hambatan apa yang ada, lalu merancang program bermain-terapi yang terstruktur untuk mencapai tujuan terapi. Dalam studi di Australian Occupational Therapy Journal, intervensi okupasi untuk anak terbukti dapat meningkatkan partisipasi sehari-hari, meskipun kualitas bukti bervariasi menurut pendekatan dan kondisi yang ditangani.
Siapa Saja yang Memerlukan Terapi Okupasi
Anak-anak yang paling sering dirujuk ke terapi okupasi untuk anak berkebutuhan khusus meliputi mereka yang memiliki:
- Cerebral palsy: gangguan motorik yang mempengaruhi kontrol otot dan koordinasi.
- Gangguan spektrum autisme (ASD): sering mengalami tantangan sensorik, motorik halus, dan kemandirian sehari-hari.
- Gangguan koordinasi perkembangan (DCD): gangguan koordinasi motorik.
- Gangguan pemrosesan sensorik (SPD): anak sensitif terhadap suara, sentuhan, atau sebaliknya kurang responsif terhadap sensasi.
- Kesulitan keterampilan sehari-hari: makan sendiri, menulis, memakai baju, kebersihan diri, atau kesulitan berinteraksi di sekolah.
- Gangguan kurang perhatian dan hiperaktivitas (ADHD): kesulitan dalam berfokus, keterampilan organisasi, mengatur energi, dan mengendalikan impuls.
Selain itu, anak dengan kebutuhan khusus lain bisa pula mendapat manfaat dari terapi okupasi, termasuk pascaoperasi ortopedi, trauma, atau kondisi neurologis lain.
Kapan Seseorang Memerlukan Terapi Okupasi
Berikut ini tanda-tanda peringatan yang dapat menjadi indikasi bahwa seorang anak mungkin memerlukan terapi okupasi:
- Bayi dan balita: kesulitan mengisap atau makan, sangat rewel dan sulit ditenangkan, tidak menyukai sentuhan atau pelukan, keterlambatan dalam berguling, duduk, atau berjalan, tidak menjelajah lingkungan dengan tangan.
- Anak prasekolah: menghindari aktivitas bermain kotor-kotoran (messy play), sangat aktif dan tidak bisa duduk tenang, sering menabrak benda atau orang, kesulitan memegang krayon, menolak belajar berpakaian atau menggunakan toilet.
- Anak usia sekolah: tulisan tangan tidak terbaca, kesulitan menggunakan gunting, penggaris, atau mengancingkan baju, mudah terganggu oleh suara atau cahaya yang bagi orang lain normal, tampak canggung dan sering jatuh, kesulitan mengikuti instruksi bertahap, memiliki kesadaran tubuh yang buruk.
Centers for Disease Control and Prevention merekomendasikan orang tua segera menghubungi profesional di bidang terapi okupasi jika khawatir akan perkembangan anak tanpa perlu menunggu referensi/rujukan dokter.
Manfaat/Tujuan Terapi Okupasi
Tujuan utama terapi okupasi adalah meningkatkan partisipasi anak dalam aktivitas sehari-hari dan mendorong kemandirian. Manfaatnya termasuk:
- Meningkatkan keterampilan motorik, terutama motorik halus (mengancing, menulis, memegang alat).
- Meningkatkan kemampuan kemandirian, seperti makan, berpakaian, dan menjaga kebersihan diri.
- Memperbaiki pengaturan sensorik dan perilaku, terutama pada anak dengan sensitivitas sensorik.
- Meningkatkan keterampilan kognitif yang mencakup pemecahan masalah, perencanaan, dan organisasi. Misalnya dalam memakai sepatu.
- Membangun keterampilan sosial dan bermain, termasuk belajar cara bergiliran, berbagi, membaca isyarat sosial, dan bekerja sama dengan teman sebaya.
Perlu dicatat bahwa efektivitas terapi okupasi untuk anak berkebutuhan khusus bisa berbeda-beda, tergantung metode, durasi, kepatuhan program, dan apakah intervensi diintegrasikan ke lingkungan anak seperti rumah dan sekolah.
Persiapan Sebelum Menjalani Terapi Okupasi
Langkah pertama sebelum memulai terapi okupasi untuk anak berkebutuhan khusus adalah menjalani asesmen atau evaluasi komprehensif. Persiapan yang baik akan mendukung kelancaran proses.
- Bawalah anak ke dokter spesialis anak, neurologi, atau psikiatri anak untuk menjalani pemeriksaan awal dan mendapat rujukan ke ahli terapi okupasi.
- Ahli terapis okupasi melakukan evaluasi dan wawancara mendalam dengan orang tua mengenai riwayat perkembangan, kekhawatiran, dan tujuan yang hendak dicapai.
- Bawalah semua dokumen medis dan laporan perkembangan anak. Catat perilaku spesifik dan tantangan yang sering diamati di rumah.
- Jelaskan kepada anak dengan bahasa yang sederhana dan positif bahwa mereka akan bertemu dengan seorang “teman bermain” khusus yang akan membantu mereka belajar hal-hal yang menyenangkan. Hindari kata “terapi” yang mungkin terkadang menakutkan.
Prosedur dan Pelaksanaan Terapi Okupasi
Sesi terapi okupasi untuk anak berkebutuhan khusus biasanya berlangsung selama 45-60 menit, bisa sekali ataupun beberapa kali seminggu, tergantung kebutuhan. Suasana ruang terapi dirancang seperti area bermain yang kaya dengan alat peraga. Pelaksanaan terapi biasanya melibatkan:
- Sesi permainan-terapi terstruktur menggunakan permainan untuk melatih fungsi motorik, koordinasi mata-tangan, toleransi sensorik, atau strategi emosional.
- Latihan terarah seperti menulis dan merapikan mainan dalam bentuk yang dimodifikasi sehingga anak berhasil melakukannya secara perlahan.
- Terapi dengan permainan yang memberi pengalaman sensori terstruktur untuk membantu anak mengatur respons sensorik, misalnya dengan menyentuh dan mengidentifikasi berbagai permukaan benda.
- Orang tua biasanya diajak untuk mengamati atau bahkan berpartisipasi dalam sesi. Terapis akan memberikan program berupa aktivitas sederhana yang dapat dilakukan di rumah untuk menguatkan apa yang telah dipelajari di klinik.
Perawatan Pasca-Terapi Okupasi
Terapi okupasi untuk anak berkebutuhan khusus memerlukan tindak lanjut agar latihan dalam terapi bisa diteruskan terutama di rumah untuk meningkatkan efektivitasnya lewat praktik sehari-hari.
Ahli terapi juga akan melakukan pemantauan khusus untuk mengevaluasi efektivitas sesi terapi. Berdasarkan evaluasi ini, terapis bisa menilai tingkat kemajuan yang dicapai pasien untuk menyesuaikan tujuan baru atau menguatkan kemampuan/keterampilan tertentu sesuai dengan kebutuhan dan kondisi individu terkait.
Adakah Efek Samping Setelah Terapi Okupasi
Terapi okupasi bersifat noninvasif dan umumnya aman. Anak mungkin merasa lelah, frustrasi, atau bosan setelah sesi terapi yang intens. Hal ini merupakan reaksi yang normal dan biasanya diatasi dengan istirahat dan variasi kegiatan. Secara keseluruhan, tak ada bukti adanya efek samping jangka panjang yang serius dari terapi okupasi yang standar dan di bawah pengawasan ahli terapi.
Terapi Okupasi di Primaya Hospital
Jika Anda mempertimbangkan untuk memberikan terapi okupasi bagi anak, Primaya Hospital bisa menjadi jawaban. Di Primaya Hospital, layanan terapi okupasi untuk anak berkebutuhan khusus didesain dengan pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi dengan layanan lain yang berkaitan serta berpusat pada keluarga. Tim terapis okupasi yang profesional dan berpengalaman tidak hanya bekerja untuk anak, tapi juga bersama orang tua sebagai mitra demi mencapai tujuan bersama.
Ditinjau oleh:
dr. Tamariska Gerdawaty, Sp. KFR
Spesialis Kedokteran Fisik
Primaya Hospital Karawang
Referensi:
- Effectiveness of paediatric occupational therapy for children with disabilities: A systematic review. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30968419/. Diakses 12 Oktober 2025
- Evaluating the Benefits of Occupational Therapy in Children With Autism Spectrum Disorder Using the Autism Behavior Checklist. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11302171/. Diakses 12 Oktober 2025
- Activities of Daily Living. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470404/. Diakses 12 Oktober 2025
- What are Activities of Daily Living (ADLs) for Children. https://sensiblespeech.com/what-are-activities-of-daily-living-adls-for-children/. Diakses 12 Oktober 2025
- Early Intervention. https://www.cdc.gov/act-early/early-intervention/index.html. Diakses 12 Oktober 2025
- Why is occupational therapy important for autistic children?. https://www.autism.org.uk/advice-and-guidance/professional-practice/occupation-therapy. Diakses 12 Oktober 2025
- Potential Role of Occupational Therapist Intervention in Elementary School for Children with Additional Support Needs: A Systematic Review. https://www.mdpi.com/2227-9067/10/8/1291. Diakses 12 Oktober 2025
- Supporting parents with disability and other challenges through occupational therapy: What is needed?. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12101100/. Diakses 12 Oktober 2025
- Feasibility of OT-Parentship: An intervention for parents of adolescents with autism. https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/03080226241229298. Diakses 12 Oktober 2025



