Pernahkah Anda merasa luar biasa lelah, seolah-olah tak punya lagi energi, bahkan setelah tidur semalaman? Waspadalah. Ada kemungkinan itu gejala sindrom kelelahan kronis atau Chronic Fatigue Syndrome memang bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Simak penjelasannya dalam artikel berikut ini.
Mengenal Sindrom Kelelahan Kronis
Sindrom kelelahan kronis adalah gangguan neurologis kompleks dan berlangsung dalam jangka panjang yang ditandai dengan kelelahan ekstrem yang tidak mereda dengan istirahat dan bisa memburuk setelah melakukan aktivitas fisik atau mental. Kondisi yang mempengaruhi banyak sistem tubuh ini bersifat serius dan bisa mengakibatkan gangguan aktivitas yang sangat signifikan.
Dalam jurnal Journal of Translational Medicine, sindrom kelelahan kronis diperkirakan mempengaruhi 71 juta orang di seluruh dunia. Namun ada kemungkinan sebagian besar kasus tak terdiagnosis karena berbagai faktor. Terlebih ada dugaan sindrom ini berkaitan dengan gejala long Covid-19ย seusai pandemi Covid-19 seperti dijelaskan dalam studi di Journal of Clinical Medicine.
Sindrom kelelahan kronis bisa menyerang siapa saja terlepas dari usia, jenis kelamin, atau etnis, meskipun lebih sering didiagnosis pada perempuan dan orang paruh baya menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke. Penyakit ini seringkali dimulai secara tiba-tiba, kadang setelah infeksi virus, dan dapat berlangsung bertahun-tahun, bahkan seumur hidup. Karena itu penting untuk memahami kondisi ini dan mendapatkan diagnosis yang tepat agar bisa dilakukan penanganan sejak dini.
Gejalaย ย
Seperti terlihat dari namanya, gejala utama sindrom kelelahan kronis adalah kelelahan yang parah dan terus-menerus. Namun ada sejumlah gejala lain yang bisa menyertainya. Berikut ini kriteria diagnostik sindrom kelelahan kronis yang umum digunakan, seperti kriteria dari Institute of Medicine (IOM):
- Tidak dapat lagi beraktivitas dengan lancar karena kelelahan seperti sebelum sakit selama enam bulan atau lebih.
- Post-exertional malaise, yakni kelelahan memburuk selama berhari-hari setelah aktivitas fisik, mental, atau emosional yang minimal.
- Tidak merasa segar setelah tidur, bisa disertai gangguan tidur seperti insomnia atau sleep apnea.
- Masalah kognitif, seperti sulit mengingat, berkonsentrasi, dan menemukan kata-kata yang tepat.
Gejala lain yang biasa muncul meliputi:
- Nyeri otot dan sendi.
- Sakit tenggorokan.
- Pembengkakan kelenjar getah bening di leher atau ketiak.
- Pusing, limbung, atau mual saat berdiri dari posisi duduk atau berbaring.
- Sensitivitas terhadap cahaya, suara, bau, atau makanan.
Penyebabย ย
Hingga saat ini, penyebab pasti sindrom kelelahan kronis masih dalam penelitian. Kondisi ini kemungkinan besar dipicu oleh kombinasi beberapa faktor, bukan satu penyebab tunggal. Di antaranya:
- Infeksi virus dan bakteri.
- Disfungsi sistem imun.
- Gangguan metabolisme energi.
- Gangguan sistem saraf pusat.
- Perubahan mikrobioma usus.
- Faktor genetik dan lingkungan, seperti trauma fisik atau emosional dan paparan toksin.
Cara Dokter Mendiagnosis Sindrom Kelelahan Kronis
Diagnosis sindrom kelelahan kronis umumnya didasarkan pada kriteria diagnostik yang telah ditetapkan. Langkah diagnosis biasanya meliputi:
- Pemeriksaan fisik menyeluruh dan wawancara medis. Dokter akan menanyakan riwayat kesehatan pasien, seperti kapan gejala dimulai, seberapa parah, dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
- Tes darah dan urine untuk mengesampingkan kondisi lain dengan gejala serupa seperti anemia, hipotiroidisme, diabetes, penyakit autoimun, gangguan tidur, dan penyakit ginjal atau hati.
Cara Mengatasi dan Mengobatiย ย
Belum ada obat yang dapat menyembuhkan sindrom kelelahan kronis sepenuhnya. Penanganan umumnya difokuskan untuk mengelola gejala, meningkatkan kualitas hidup, dan mencegah kondisi memburuk. Di antaranya:
- Manajemen aktivitas yang penting untuk mengenali batas energi tubuh dan beraktivitas di dalam batas tersebut guna mencegah gejala kelelahan ekstrem. Caranya antara lain membuat jadwal aktivitas, membagi tugas besar menjadi bagian-bagian kecil, dan memastikan ada periode jeda di tengah aktivitas.
- Terapi perilaku kognitif untuk membantu mengelola pikiran dan perilaku yang dapat memperburuk gejala.
- Penanganan gejala spesifik, misalnya mengonsumsi obat nyeri, mengatur pola tidur, melakukan latihan relaksasi atau meditasi, hingga menggunakan alat bantu seperti kalender dan pengingat di ponsel.
- Dukungan psikologis dan sosial, misalnya lewat kelompok dukungan atau konseling dari profesional untuk mengatasi dampak emosional dan sosial.
Komplikasi Sindrom Kelelahan Kronis
Sindrom kelelahan kronis bisa menimbulkan dampak jangka panjang dan komplikasi yang signifikan pada kehidupan baik secara fisik maupun mental. Di antaranya:
- Merasa terisolasi secara sosial karena energi yang terbatas.
- Depresi dan kecemasan.
- Stigma dan keraguan dari orang lain yang bisa menganggap penderita sindrom ini hanya ingin bermalas-malasan.
- Kesulitan finansial karena penurunan produktivitas akibat kondisi kelelahan.
- Penurunan kualitas hidup karena tak dapat lagi menjalankan kegiatan sehari-hari dan hobi.
Pencegahan Sindrom Kelelahan Kronis
Karena penyebab pasti sindrom kelelahan kronis belum diketahui, tidak ada cara yang terbukti efektif untuk mencegahnya. Namun ada beberapa langkah yang dapat mengurangi risikonya, seperti:
- Mengelola stres dengan baik, bisa lewat meditasi, latihan relaksasi, atau yoga.
- Tidur yang cukup dan berkualitas, pastikan jadwal tidur teratur dan lingkungan tidur yang nyaman.
- Olahraga teratur sesuai kemampuan untuk membantu menjaga kebugaran dan fungsi sistem imun.
- Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta mendapatkan vaksinasi yang dianjurkan untuk menghindari infeksi.
Kapan Harus ke Dokter?
Sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter jika mengalami kelelahan parah dan terus-menerus yang mengganggu aktivitas harian, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Terutama jika kelelahan tidak mereda dengan istirahat yang cukup dan ada gejala lain yang mengarah ke sindrom kelelahan kronis.
Narasumber:
Spesialis Neurologi (Saraf)
Primaya Hospital Makassar
Referensi:
- Myalgic encephalomyelitis or chronic fatigue syndrome (ME/CFS). https://www.nhs.uk/conditions/chronic-fatigue-syndrome-cfs/. Diakses 28 Oktober 2025
- What is myalgic encephalomyelitis/chronic fatigue syndrome (ME/CFS)?. https://healthy.kaiserpermanente.org/health-wellness/health-encyclopedia/he.myalgic-encephalomyelitis-chronic-fatigue-syndrome.hw32907. Diakses 28 Oktober 2025
- IOM 2015 Diagnostic Criteria. https://www.cdc.gov/me-cfs/hcp/diagnosis/iom-2015-diagnostic-criteria-1.html. Diakses 28 Oktober 2025
- Shadow Burden of Undiagnosed Myalgic Encephalomyelitis/Chronic Fatigue Syndrome (ME/CFS) on Society: Retrospective and ProspectiveโIn Light of COVID-19. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8303374/. Diakses 28 Oktober 2025
- Letter: Time to correct the record on the global burden of myalgic encephalomyelitis/chronic fatigue syndrome (ME/CFS). https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11907965/#CR1. Diakses 28 Oktober 2025
- Systematic review and meta-analysis of the prevalence of chronic fatigue syndrome/myalgic encephalomyelitis (CFS/ME). https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7038594/. Diakses 28 Oktober 2025
- Recent research in myalgic encephalomyelitis/chronic fatigue syndrome: an evidence map. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK613143/. Diakses 28 Oktober 2025
- Insights from myalgic encephalomyelitis/chronic fatigue syndrome may help unravel the pathogenesis of postacute COVID-19 syndrome. https://www.cell.com/trends/molecular-medicine/fulltext/S1471-4914(21)00134-9. Diakses 28 Oktober 2025
- Distinct plasma immune signatures in ME/CFS are present early in the course of illness. https://www.science.org/doi/10.1126/sciadv.1400121. Diakses 28 Oktober 2025
- Beyond Myalgic Encephalomyelitis/Chronic Fatigue Syndrome. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK274235/. Diakses 28 Oktober 2025



