Saat memulai MPASI (Makanan Pendamping ASI), tidak sedikit orang tua yang mendapati bayinya tiba-tiba mengalami ruam kemerahan, muntah, atau diare setelah mencoba makanan baru. Situasi seperti ini tentu menimbulkan kekhawatiran. Namun, penting untuk diketahui bahwa tidak semua reaksi tersebut merupakan tanda alergi makanan, bisa jadi itu adalah reaksi pencernaan biasa atau efek dari infeksi.
Alergi makanan yang sesungguhnya terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bayi bereaksi secara berlebihan terhadap protein tertentu dalam makanan. Reaksinya dapat berkisar dari gejala ringan seperti ruam gatal, hingga kondisi serius yang disebut anafilaksis, yaitu reaksi alergi berat yang dapat mengancam jiwa dalam hitungan menit. Oleh karena itu, mengenali tanda-tanda alergi makanan sejak dini merupakan hal yang penting bagi setiap orang tua.
Mengenal Alergi Makanan pada Bayi
Alergi makanan terjadi ketika sistem imun tubuh salah mengenali protein makanan tertentu sebagai ancaman, lalu melepaskan antibodi IgE (Immunoglobulin E)Â dan histamin ke dalam aliran darah. Reaksi inilah yang menimbulkan berbagai gejala alergi. Kondisi ini berbeda dari intoleransi makanan (seperti intoleransi laktosa) yang tidak melibatkan sistem imun, melainkan ketidakmampuan saluran cerna mengolah zat tertentu.
Makanan yang Paling Sering Memicu Alergi pada Bayi
- Susu Sapi: Merupakan pemicu alergi makanan yang paling umum ditemukan sejak bayi. Dapat muncul melalui susu formula maupun melalui ASI apabila ibu mengonsumsi produk susu sapi.
- Telur: Terutama protein yang terdapat pada putih telur. Alergi telur merupakan yang paling sering dijumpai kedua di Indonesia setelah alergi susu sapi.
- Kacang-kacangan: Meliputi kacang tanah maupun kacang pohon seperti almond, mete, dan kenari.
- Makanan Laut: Mencakup berbagai jenis ikan serta kerang-kerangan seperti udang, kepiting, dan cumi.
- Gandum dan Kedelai: Sering ditemukan tersembunyi di dalam produk makanan olahan dan sereal bayi yang dijual di pasaran.
Banyak alergi makanan pada bayi terutama alergi susu sapi dan telur bersifat sementara. Seiring bertambahnya usia dan semakin matangnya sistem pencernaan anak, sebagian besar anak akan dapat menoleransi makanan tersebut dengan sendirinya pada usia 3 hingga 5 tahun.
Gejala Alergi Makanan pada Bayi
Gejala alergi makanan umumnya muncul cukup cepat, yaitu dalam rentang beberapa menit hingga 2 jam setelah bayi mengonsumsi makanan pemicunya. Semakin cepat gejala muncul setelah makan, biasanya semakin berat pula reaksi yang terjadi. Penting bagi orang tua untuk dapat membedakan gejala yang masih dapat ditangani di rumah dengan gejala yang memerlukan penanganan darurat segera.
Gejala Ringan hingga Sedang
- Reaksi pada Kulit: Muncul kemerahan, bentol-bentol gatal yang dikenal sebagai biduran, atau pembengkakan ringan di sekitar mulut dan kelopak mata bayi.
- Reaksi pada Saluran Pencernaan: Bayi mengalami muntah, tampak kesakitan atau sangat rewel akibat perutnya tidak nyaman, maupun mengalami diare yang terkadang disertai sedikit lendir.
- Reaksi pada Saluran Pernapasan: Hidung bayi tiba-tiba meler atau tersumbat, sering bersin, maupun batuk ringan yang muncul tidak lama setelah makan.
Gejala Berat (Anafilaksis)
- Anafilaksis adalah reaksi alergi berat yang menyerang seluruh tubuh dan dapat mengancam jiwa dalam waktu singkat Kenali tanda-tandanya:
- Sesak Napas: Napas berbunyi atau mengi, bayi tampak sangat kesulitan menarik napas.
- Pembengkakan Lidah atau Tenggorokan: Dapat menyumbat jalan napas sehingga suara tangisan menjadi serak.
- Sangat Pucat dan Lemas: Wajah pucat, kulit teraba dingin, dan seluruh tubuh lunglai.
- Kehilangan Kesadaran: Bayi tidak sadarkan diri atau sangat sulit dibangunkan.
Faktor-Faktor yang Meningkatkan Risiko Alergi Makanan pada Bayi
Alergi makanan pada bayi dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Berikut adalah faktor-faktor yang paling umum ditemukan:
- Riwayat Alergi dalam Keluarga: Faktor risiko terbesar. Apabila salah satu orang tua memiliki riwayat alergi, risiko bayi mengalami alergi meningkat sekitar 40%. Jika kedua orang tua alergi, risikonya dapat mencapai 60–80%.
- Dinding Usus yang Belum Sempurna: Pada bayi, lapisan pelindung dalam usus belum sepenuhnya terbentuk, sehingga sebagian protein makanan dapat masuk ke aliran darah dan memicu respons kekebalan yang tidak semestinya.
- Kurangnya ASI Eksklusif: ASI mengandung zat pelindung yang membantu memperkuat sistem kekebalan dan kesehatan saluran cerna bayi.
- Pemberian MPASI Terlalu Dini: Makanan padat sebelum usia 4–6 bulan diberikan saat sistem pencernaan dan kekebalan tubuh belum siap, sehingga meningkatkan risiko kepekaan terhadap makanan tertentu.
- Kondisi Eksim: Bayi dengan eksim parah, yaitu ruam kulit kering, merah, dan gatal yang berulang berisiko lebih tinggi mengembangkan alergi makanan.
Cara Menegakkan Diagnosis Alergi Makanan pada Bayi
Diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejala yang terlihat. Diperlukan pemeriksaan oleh dokter spesialis anak atau dokter spesialis alergi dan imunologi, yang meliputi:
- Wawancara Riwayat Kesehatan: Dokter menggali jenis makanan yang dikonsumsi, waktu dan karakteristik gejala, serta riwayat alergi dalam keluarga.
- Tes Tusuk Kulit: Sejumlah kecil larutan protein makanan diteteskan ke kulit lalu ditusuk perlahan. Munculnya bentol kecil dalam 15–20 menit menandakan adanya kepekaan terhadap makanan tersebut.
- Tes Darah: Mengukur kadar zat kekebalan tertentu yang berkaitan dengan reaksi alergi terhadap makanan yang dicurigai.
- Diet Eliminasi: Makanan pemicu dihilangkan dari menu selama 2–4 minggu untuk melihat apakah gejala membaik.
- Uji Pemberian Makanan Terkontrol: Pemeriksaan paling akurat: makanan pemicu diberikan secara bertahap dalam jumlah sangat kecil di bawah pengawasan langsung tenaga medis.
Cara Mengatasi Alergi Makanan
Penanganan alergi makanan pada bayi disesuaikan dengan tingkat keparahan reaksi yang dialami. Secara umum, terdapat dua pendekatan utama:
Penanganan Gejala Ringan hingga Sedang
- Hindari Makanan Pemicu: Langkah paling utama dan efektif, dilakukan di bawah panduan dokter.
- Obat Antialergi: Meredakan gejala pada kulit dan hidung, sesuai dosis dan jenis yang direkomendasikan dokter
- Krim atau Salep untuk Ruam: Mengatasi peradangan kulit akibat alergi.
- Susu Formula Khusus: Apabila bayi alergi susu sapi dan tidak mendapat ASI, sebaiknya diganti dengan formula khusus yang proteinnya telah diproses agar lebih mudah diterima tubuh.
- Penyesuaian Pola Makan Ibu Menyusui: Apabila bayi yang masih mendapat ASI menunjukkan gejala alergi, disarankan agar ibu menghindari sementara makanan pemicu dari konsumsi hariannya.
Penanganan Anafilaksis — Kondisi Gawat Darurat
- Suntikan Epinefrin (Adrenalin): Penanganan pertama dan paling penting. Keluarga dengan bayi berisiko tinggi dianjurkan selalu membawa obat ini dan memahami cara penggunaannya.
- Segera ke IGD Meskipun Sudah Disuntik: Gejala anafilaksis dapat kembali muncul beberapa jam kemudian, sehingga pemantauan di IGD selama minimal 4–8 jam tetap diperlukan.
Komplikasi Alergi Makanan pada Bayi
- Bila tidak ditangani dengan baik, alergi makanan dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang memengaruhi kualitas hidup dan tumbuh kembang bayi:
- Anafilaksis Berulang: Paparan tidak sengaja terhadap alergen memicu reaksi anafilaksis yang mengancam jiwa berulang kali
- Gangguan Gizi dan Pertumbuhan: Penghindaran makanan berlebihan tanpa panduan ahli gizi dapat menyebabkan defisiensi protein, kalsium, zat besi, atau vitamin penting yang berdampak pada pertumbuhan bayi.
- Eksim (Dermatitis Atopik) Kronis: Alergi makanan sering terkait dengan eksim parah yang persisten, memengaruhi kenyamanan dan kualitas tidur bayi.
- Risiko Asma dan Rinitis Alergi: Bayi dengan alergi makanan memiliki risiko lebih tinggi menjadi asma dan rinitis alergi di kemudian hari.
- Dampak Psikososial: Seiring bertambahnya usia anak, restriksi diet yang ketat dapat menimbulkan kecemasan, kesulitan sosial di sekolah, dan penurunan kualitas hidup keluarga secara keseluruhan.
Cara Mencegah Alergi Makanan pada Bayi
- Panduan terbaru dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan bahwa pencegahan alergi makanan bukan sekadar menghindari, melainkan memperkenalkan makanan secara bertahap pada waktu yang tepat:
- Berikan ASI Eksklusif Selama 6 Bulan: ASI mengandung berbagai zat pelindung yang membantu membangun kekebalan tubuh bayi sejak dini.
- Perkenalkan Makanan Baru Secara Bertahap Mulai Usia 6 Bulan: Bukti ilmiah terkini menunjukkan bahwa memperkenalkan makanan berpotensi alergen sejak dimulainya MPASI dapat membantu tubuh bayi membangun toleransi, dan terbukti mengurangi risiko alergi hingga 50%.
- Hindari MPASI Sebelum Usia 4–6 Bulan: Sistem pencernaan dan kekebalan bayi belum cukup matang untuk menerima makanan padat sebelum usia tersebut.
- Jaga Kesehatan Kulit Bayi: Pada bayi dengan kecenderungan eksim, penggunaan pelembap secara rutin membantu menjaga keutuhan kulit sebagai pelindung alami dari zat-zat pemicu alergi.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Segera ke IGD apabila bayi menunjukkan tanda anafilaksis, seperti napas berbunyi atau bayi tampak sesak, pembengkakan pada wajah, bibir, kulit tampak pucat, tubuh terasa dingin dan lemas, serta tidak sadarkan diri setelah makan. Apabila bayi menunjukkan salah satu tanda anafilaksis di atas, segera hubungi layanan darurat 118/119 atau bawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) terdekat. Jangan menunggu gejala bertambah berat. Setiap menit penanganan sangat menentukan keselamatan bayi.
Ditinjau oleh:
dr. Vania Catleya Estina, Sp.A
Spesialis Anak
Primaya PGI Cikini
Referensi:
- Food Allergy in Children. Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/food-allergy/symptoms-causes/syc-20355095
- Food Allergies in Infants. American Academy of Pediatrics. https://www.healthychildren.org/English/healthy-living/nutrition/Pages/Food-Allergies-in-Children.aspx
- Pedoman Alergi Makanan pada Anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). https://www.idai.or.id/artikel/klinik/alergi-imunologi/pedoman-alergi-makanan
- Panduan Pencegahan Alergi Makanan Bayi. Kementerian Kesehatan RI. https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-publik/Pedoman-Alergi-Makanan-Bayi-2023.pdf
- Du Toit G et al. Randomized Trial of Peanut Consumption in Infants (Studi LEAP). New England Journal of Medicine, 2015. https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa1414850



