Nyeri payudara saat menyusui adalah keluhan yang sangat umum dialami ibu pasca persalinan, terutama pada minggu pertama menyusui, dan sering menjadi penyebab berhentinya menyusui secara dini. Di Indonesia, data menunjukkan sekitar 60–80% ibu menyusui mengalami nyeri payudara pada minggu pertama. Penyebab utama nyeri ini bervariasi, antara lain posisi dan perlekatan (latch) yang tidak tepat, payudara bengkak (engorgement), puting lecet, serta infeksi seperti mastitis atau kandidiasis.
Banyak ibu yang keliru menganggap nyeri ini sebagai hal yang “harus ditahan” atau sebagai tanda produksi ASI kurang. Padahal, sebagian besar nyeri dapat diatasi dengan teknik menyusui yang tepat dan perawatan sederhana di rumah. Jika tidak ditangani, nyeri payudara dapat berkembang menjadi puting lecet, infeksi bakteri, atau abses payudara, yang mungkin memerlukan antibiotik atau intervensi bedah. Dengan posisi menyusui yang benar, penggunaan kompres hangat atau dingin, dan perawatan puting secara rutin, nyeri dapat berkurang hingga 90% dalam beberapa hari.
Dukungan dari konsultan laktasi atau tenaga kesehatan sangat penting untuk keberhasilan menyusui eksklusif. Dengan pemahaman yang tepat, ibu dapat memberikan nutrisi terbaik bagi bayi secara nyaman dan tanpa rasa sakit yang berlebihan. Artikel ini membahas penyebab nyeri payudara, membedakan gejala normal dan tanda bahaya, diagnosis mastitis atau infeksi jamur, pengobatan yang aman, serta tips praktis untuk mencegah dan mengatasi nyeri.
Mengenal Nyeri Payudara Saat Menyusui
Nyeri payudara biasanya muncul pada minggu pertama hingga bulan pertama pasca persalinan, saat tubuh beradaptasi dengan produksi ASI yang meningkat dan teknik menyusui yang mungkin belum optimal.
Jenis Nyeri yang Sering Dialami:
- Nyeri Latch Awal: Nyeri muncul sesaat saat bayi mulai mengisap, normalnya hilang dalam 1–2 menit.
- Engorgement (Payudara Bengkak): Rasa penuh dan kencang akibat ASI tidak segera dikeluarkan.
- Puting Lecet: Luka atau retakan akibat perlekatan mulut bayi dangkal.
- Mastitis: Peradangan jaringan payudara, kadang disertai infeksi, ditandai dengan kemerahan, bengkak, dan gejala mirip flu; prevalensi di Indonesia sekitar 10–20%.
- Thrush (Kandidiasis): Infeksi jamur pada puting atau saluran susu, menimbulkan nyeri tajam atau terbakar.
- Duct Plugged (Sumbatan Saluran ASI): Benjolan keras dan nyeri akibat aliran ASI tersumbat di satu titik.
Catatan: Menyusui seharusnya tidak terus-menerus menyakitkan. Nyeri menetap sepanjang menyusui menandakan masalah yang perlu evaluasi tenaga kesehatan.
Gejala Normal vs Tanda Bahaya
Gejala Normal:
- Nyeri sesaat saat latch awal, muncul pada detik-detik pertama bayi mulai menghisap hilang dalam 1–2 menit saat aliran ASI mulai lancar.
- Payudara penuh (engorgement): rasa kencang dan sedikit nyeri yang muncul saat jadwal menyusui tiba, membaik setelah payudara dikosongkan setelah menyusui atau memompa ASI.
- Puting sensitif: sedikit perih selama pada area putting pada 1–2 minggu pertama, normal saat kulit mulai beradaptasi dengan isapan bayi.
Tanda Bahaya (Perlu Penanganan Medis Segera):
- Nyeri menetap selama menyusui bahkan setelahnya. Hal ini dapat menandakan pelekatan yang salah atau infeksi jamur.
- Demam >38°C, menggigil, lemas yang dapat menandakan adanya peradangan atau infeksi pada jaringan payudara.
- Payudara merah, bengkak, terasa panas, keras seperti batu atau bengkak yang terlokalisasi pada area tertentu di payudara.
- Puting berdarah atau bernanah.
- Gejala mirip flu berat (flu-like symptoms) seperti keluhan mengigil, nyeri sendi, nyeri kepala, lemas dan gejala lain yang menyerupai keluhan saat terkena flu.
Tanda bahaya ini dapat mengindikasikan mastitis atau infeksi. Jika diabaikan, dapat berkembang menjadi abses payudara yang memerlukan tindakan medis sehingga penting bagi ibu untuk tidak mengabaikan tanda bahaya tersebut dan segera mencari pertolongan ke tenaga kesehatan terdekat.
Penyebab Nyeri Payudara Saat Menyusui
- Pelekatan/latch tidak dalam atau salah posisi.
- Engorgement (payudara penuh).
- Infeksi bakteri atau jamur.
- Saluran ASI yang tersumbat.
- Tongue tiepada bayi.
Seringkali penyebab bersifat kombinasi dari beberapa penyebab di atas.
Cara Dokter Mendiagnosis Nyeri Payudara
- Observasi teknik pelekatan dan posisi menyusui.
- Pemeriksaan tanda-tanda vital seperti adanya demam
- Pemeriksaan fisik payudara.
- Kultur ASI jika dicurigai infeksi.
- USG payudara untuk mengevaluasi mastitis atau abses.
Konsultan laktasi membantu evaluasi dan koreksi teknik menyusui.
Cara Mengatasi Nyeri Payudara Saat Menyusui
Teknik Pelekatan Tepat:
- Mulut bayi membuka lebar.
- Puting dan areola masuk ke mulut bayi.
- Dagu bayi menempel pada payudara.
- Bibir bawah bayi
Engorgement:
- Kompres hangat sebelum menyusui.
- Kompres dingin setelah menyusui.
- Pompa ASI dengan lembut jika perlu.
Mastitis:
- Antibiotik yang aman untuk ibu menyusui.
- Istirahat cukup.
- Menyusui lebih sering untuk mengosongkan payudara.
Thrush (Kandidiasis):
- Obat antifungal (misal nystatin) untuk ibu dan bayi secara bersamaan.
Komplikasi Jika Tidak Ditangani
- Abses payudara.
- Infeksi berat.
- Produksi ASI menurun.
- Berhenti menyusui dini.
- Risiko depresi pada ibu karena merasa nyeri atau gagal memberikan ASI.
Pencegahan Nyeri Payudara
- Pelekatan yang tepat sejak Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
- Menyusu on demand, sesuai tanda lapar dan kenyang bayi.
- Hindari dot atau empeng terlalu awal.
- Jaga kebersihan putting payudara.
- Gunakan bra menyusui yang nyaman.
Tips Praktis
- Kompres menggunakan daun kubis dingin.
- Gunakan lanolin untuk puting.
- Pijat ringan payudara sebelum menyusui.
- Posisi menyusui football holdatau posisi nyaman lainnya.
- Cukupi hidrasi ibu.
Kapan Harus ke Dokter
Segera konsultasi jika muncul:
- Demam >38°C
- Payudara merah, panas, nyeri hebat
- Puting berdarah atau bernanah
- Pelekatan bayi sulit atau tidak mau menyusu
Konsultan laktasi dapat membantu evaluasi cepat dan memastikan kelancaran menyusui.
Kesimpulan
Nyeri payudara saat menyusui bisa diatasi dengan teknik menyusui yang tepat, perawatan rutin, dan respons cepat terhadap tanda bahaya. Dengan perawatan yang benar, ibu dapat menyusui nyaman, tanpa rasa sakit berlebih, sehingga bayi menerima ASI eksklusif optimal dan ibu tetap sehat.
Ditinjau oleh:
Spesialis Anak
Primaya Hospital Bekasi Utara
Referensi:
- https://www.llli.org/breastfeeding-info/engorgement/. Diakses pada 27 Desember 2025.
- Sore Nipples. https://www.llli.org/breastfeeding-info/sore-nipples/. Diakses pada 27 Desember 2025.
- Pedoman Menyusui Eksklusif. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/pedoman-menyusui-eksklusif. Diakses pada 27 Desember 2025.
- Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-publik/Buku-KIA-2023.pdf. Diakses pada 27 Desember 2025



