Bagi pasien epilepsi dengan kondisi kronis, obat-obatan terkadang tidak lagi cukup untuk mengendalikan kejang yang hebat. Dalam kondisi ini, prosedur bedah saraf seperti operasi corpus callosotomy menjadi salah satu opsi medis yang dipertimbangkan.

Mengenal Operasi Corpus Callosotomy
Tindakan corpus callosotomy merupakan pengobatan bedah untuk pasien epilepsi dengan kondisi kronis. Prosedur ini biasanya dilakukan pada pasien yang sering mengalami kejang berulang, baik pada anak-anak maupun orang dewasa.
Corpus callosotomy berlangsung dengan memotong korpus kalosum atau pita serabut saraf yang terletak jauh di dalam otak. Korpus kalosum sendiri berguna untuk membantu kedua belahan otak untuk berbagi informasi. Selain itu, juga berguna untuk menambah penyebaran impuls kejang dari satu sisi otak ke sisi lainnya.
Sebenarnya, tindakan ini tidak bisa menghentikan risiko kejang seluruhnya. Namun, dalam beberapa kasus, prosedur bisa mengurangi tingkat keparahan kejang. Sebab, kejang tidak bisa menyebar ke sisi otak yang berlawanan.
Siapa Saja yang Memerlukan Tindakan Corpus Callosotomy?
Sebagai informasi, operasi corpus callosotomy sering kali disebut operasi otak terbelah. Prosedur ini bisa dilakukan pada pasien dengan epilepsi ekstrem. Kondisi pasien tersebut biasanya mengalami kejang yang tidak terkendali dan sering memengaruhi kedua sisi otak.
Kapan Pasien Memerlukan Tindakan Corpus Callosotomy?
Pasien sebaiknya mengikuti tindakan corpus callosotomy ketika sering mengalami kejang serius atau disebut serangan jatuh. Kondisi ini ditandai dengan kejang yang sering kali mengakibatkan jatuh tiba-tiba dengan risiko cedera tinggi.
Selain itu, pasien juga bisa mengikuti tindakan ini jika pengobatan anti kejang sudah tidak mampu mengurangi tingkat keparahan. Misalnya saja, tetap mengalami kejang setelah mengonsumsi obat anti kejang.
Manfaat Tindakan Corpus Callosotomy
Tindakan corpus callosotomy mampu mengurangi frekuensi kejang umum, yakni sebesar 70 hingga 90 persen pada sebagian besar pasien. Tindakan ini juga menghentikan serangan jatuh pada 50 hingga 70 persen kasus.
Bersumber dari National Library of Medicine, penelitian oleh Iwasaki dan Okanishi melaporkan tiga dari delapan pasien corpus callosotomy berhasil bebas kejang. Selain itu, tujuh pasien kompleks sklerosis tuberosa dengan banyak tuberkel kortikal di kedua sisi otak telah menjalani operasi. Berdasarkan jumlah tersebut, tiga pasien bebas kejang hanya dengan operasi. Semenara dua pasien menjadi bebas kejang setelah mendapatkan pengobatan tambahan.
Operasi corpus callosotomy bisa membuat pasien bebas kejang sekaligus mengurangi gejala. Misalnya saja, gejala yang muncul hanya berupa anggukan kepala, serangan jatuh yang lebih ringan, atau spasme yang muncul dari satu sisi otak saja.
Persiapan Sebelum Menjalani Corpus Callosotomy
Sebelum operasi, pasien akan menjalani evaluasi pra-operasi yang komprehensif. Pasien akan menjalani beberapa tes yang berguna untuk menemukan sumber kejang, sebagai berikut.
- Elektroensefalogram (EEG): Melacak aktivitas kejang di otak.
- Pencitraan Resonansi Magnetik (MRI): Membantu mengevaluasi perubahan struktural di otak yang bisa menyebabkan kejang.
- Tomografi Emisi Positron (PET): Membantu mengidentifikasi area otak tempat kejang dimulai.
Prosedur dan Pelaksanaan Tindakan Corpus Callosotomy
Tindakan corpus callosotomy dilakukan di bawah anestesi umum, sehingga pasien akan tertidur. Dokter ahli akan melakukan tindakan dengan membuka tengkorak dan mengakses otak pasien. Berikut beberapa tindakan yang dilakukan dokter selama prosedur.
- Mengambil sebagian tengkorak untuk membuat jendela sebagai akses bedah.
- Mengupas sebagian dura dengan lembut, meliputi selaput keras yang melindungi bagian otak.
- Menggantikan dura.
- Menggunakan jahitan atau staples guna mengamankan tulang tengkorak kembali ke tempatnya.
Selain itu, prosedur melibatkan penggunaan instrumen khusus untuk mengakses korpus kalosum. Hal ini berlangsung di bawah pengawasan menggunakan mikroskop bedah. Setelah ditemukan, sayatan bedah akan dibuat dengan hati-hati melalui korpus kalosum.
Terkadang, dokter akan melakukan operasi corpus callosotomy dalam dua tahapan. Tahap pertama, dokter akan memotong bagian depan korpus kalosum. Hal ini memungkinkan kedua bagian otak untuk terus berbagi informasi visual.
Namun, jika terus mengalami kejang yang sering dan parah, dokter mungkin akan mempertimbangkan operasi kedua. Tindakan ini berguna untuk memutus korpus kalosum sepenuhnya.
Perawatan Pasca Tindakan Corpus Callosotomy
Pasien akan menghabiskan waktu selama 2 hingga 4 hari di rumah sakit. Sebagian besar pasien yang menjalani prosedur bisa kembali beraktivitas normal dalam 6 hingga 8 minggu pasca operasi.
Sementara itu, rambut di atas sayatan akan kembali tumbuh dan menutupi bekas luka operasi. Namun, pasien juga akan terus mengonsumsi obat anti kejang selama masa pemulihan.
Setelah menjalani operasi, penting untuk terus menjaga kebersihan. Pastikan area sayatan tetap kering, kemudian pantau tanda infeksi. Jika muncul kemerahan yang meluas dan bengkak, cairan bernanah atau demam di atas angka normal, segera hubungi dokter untuk pemeriksaan lanjutan.
Efek Samping Setelah Menjalani Tindakan Corpus Callosotomy
Masalah serius setelah tindakan operasi corpus callosotomy jarang terjadi. Namun, tak menutup kemungkinan pasien akan mengalami beberapa hal berikut.
- Kelelahan
- Sakit kepala
- Depresi
- Masalah ingatan
- Mual
- Rasa kebas di bagian sayatan
- Kesulitan berbicara
Selain itu, pasien juga berisiko terhadap sindrom diskoneksi setelah operasi. Masalah ini menjadi kondisi umum yang kerap terjadi. Dimana, kedua sisi otak tidak bekerja sama saat melakukan tugas sederhana atau kompleks. Misalnya, sisi kanan dan kiri tubuh bisa bergerak bertentangan.
Tindakan Corpus Callosotomy di Primaya Hospital
Primaya Hospital menyediakan tindakan medis untuk operasi corpus callosotomy. Tindakan ini didukung oleh tenaga medis yang profesional dan berpengalaman, sehingga pasien bisa menjalani rangkaian tes dengan nyaman. Tenaga medis siap memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan, termasuk tahapan prosedur, kapan harus dilakukan, manfaat, risiko, dan lainnya.
Ditinjau oleh
Spesialis Bedah Saraf
Primaya Hospital Sukabumi
Referensi:Â
- Corpus Callosotomy for Controlling Epileptic Spasms: A Proposal for Surgical Selection. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8699195/. Diakses 16 Maret 2026
- Corpus Callosotomy. https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/11546-corpus-callosotomy. Diakses 16 Maret 2026
- Corpus Callosotomy. https://www.lgsfoundation.org/corpus-callosotomy/. Diakses 16 Maret 2026
- Corpus Callosotomy. https://www.gillettechildrens.org/conditions-care/corpus-callosotomy. Diakses 16 Maret 2026

