Kita tahu, radiasi itu bisa membahayakan kesehatan. Misalnya dari layar gawai. Tapi tahukah Anda bahwa ada beberapa bahan pangan yang memang sengaja diberi radiasi atau paparan radioaktif? Namun pemberian radiasi atau zat radioaktif pada makanan ini tidak sembarangan. Tujuannya adalah membunuh bakteri dan memperpanjang umur simpan makanan. Walau begitu, perlu digarisbawahi bahwa ada bahaya kontaminasi zat radioaktif pada makanan yang mesti kita waspadai. Berikut ini penjelasannya.
Mengenal Radiasi Makanan
Mendengar kata “radiasi”, wajar jika orang langsung berpikir soal gangguan kesehatan dari masalah penglihatan hingga risiko kanker. Tapi di bidang teknologi pangan terdapat istilah radiasi makanan atau lebih tepatnya iradiasi pangan (food irradiation) yang mengacu pada pemaparan makanan terhadap sumber energi radiasi untuk membunuh bakteri atau serangga sekaligus membuat makanan tersebut lebih tahan lama.
Dikutip dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), iradiasi pangan adalah proses yang aman dan sudah mendapat persetujuan dari sekitar 50 negara di seluruh dunia. Prosedur ini pun sudah dipraktikkan secara komersial selama puluhan tahun di Amerika Serikat, Jepang, dan sejumlah negara Eropa.
USDA menjelaskan, radiasi tidak membuat makanan menjadi bersifat radioaktif, menurunkan kualitas nutrisi, ataupun mengubah rasa, tekstur, atau penampilan makanan secara nyata.
Kunci dari teknologi ini adalah makanan tidak bersentuhan dengan bahan radioaktif. Makanan hanya terkena sinar energinya sehingga tidak mungkin menjadi radioaktif. Faktanya, makanan iradiasi justru dirancang untuk mengurangi risiko keracunan makanan akibat bakteri seperti Salmonella dan E. coli. Jadi bahaya radiasi dari proses ini secara ilmiah dianggap minimal dengan keamanan yang telah diverifikasi puluhan tahun.
Kontaminasi Radioaktif pada Makanan
Berbeda 180 derajat dengan iradiasi, kontaminasi makanan radioaktif adalah kejadian tidak sengaja dan tidak diinginkan ketika zat radioaktif (radionuklida), salah satunya Cesium-137, mencemari lingkungan lalu masuk ke rantai makanan. Misalnya tanaman bisa menyerapnya dari tanah, ikan dari perairan yang tercemar, dan hewan ternak dari rumput yang dimakan.
Pencemaran itu bisa terjadi karena berbagai hal. Misalnya dari limbah industri yang tak diolah dengan benar. Bisa juga dari kebocoran atau kecelakaan pada fasilitas nuklir.
Zat radioaktif ini dapat secara fisik menempel dan menumpuk di dalam jaringan makhluk hidup. Alih-alih radiasi makanan, inilah sumber bahaya radioaktif yang nyata. Ketika dikonsumsi manusia, zat ini memancarkan radiasi dari dalam tubuh. Paparan internal ini, yang jauh lebih berisiko daripada paparan eksternal, dapat merusak sel, meningkatkan risiko kanker tiroid, leukemia, dan penyakit lain dalam jangka panjang.
Berdasarkan uraian di atas, ada perbedaan jelas antara radiasi makanan dan kontaminasi radioaktif pada makanan. Intinya:
- Radiasi makanan: prosesnya disengaja, terkendali, dan berizin. Makanan tidak bersentuhan dengan zat radioaktif dan tidak meninggalkan residu radioaktif. Tujuannya meningkatkan keamanan pangan (membunuh patogen).
- Kontaminasi radioaktif: kejadian tidak sengaja, tidak diinginkan, dan melanggar hukum. Zat radioaktif secara fisik menempel/masuk ke makanan serta meninggalkan residu radioaktif yang dapat terdeteksi. Dampaknya antara lain menurunkan keamanan pangan dan menimbulkan bahaya radiasi internal.
Mengapa Kontaminasi Radioaktif Sangat Berbahaya?
Ada berbagai penelitian yang mendapati kaitan antara paparan kontaminasi radioaktif dan masalah kesehatan pada orang yang terpapar radiasi. Misalnya pada korban selamat bom atom dan bencana nuklir Chernobyl yang banyak menderita kanker tiroid dan kanker payudara secara leukemia terkait dengan makanan yang terkontaminasi, terutama di kalangan anak-anak.
Selain itu, dilansir dari National Institutes of Health, paparan Cesium-137 khususnya bisa berdampak buruk pada sistem neurologis, perkembangan, dan reproduksi serta meningkatkan risiko kanker. Dampak bahaya zat radioaktif pada makanan ini yang termakan dalam tubuh sulit dideteksi. Efeknya pun tak langsung muncul, tapi bisa hingga bertahun-tahun kemudian.
Cara Mencegah Kontaminasi Radioaktif pada Makanan
Kasus kontaminasi radioaktif pada makanan terbilang jarang terjadi. Namun, jika sudah kejadian, dampaknya terhadap kesehatan bisa sangat membahayakan. Karena itu, penting untuk mengetahui cara mencegah konsumsi makanan yang berpotensi terkontaminasi bahan radioaktif. Berikut ini di antaranya:
- Beli sumber makanan dari produsen atau pengecer yang tepercaya dan memiliki reputasi baik. Pastikan mereka mengikuti standar keamanan pangan dan regulasi yang ketat.
- Perhatikan label pada kemasan makanan. Cari produk yang memiliki sertifikat keamanan, termasuk informasi tentang proses pengujian dan inspeksi.
- Tingkatkan kesadaran terhadap isu kontaminasi pangan dari media massa nasional yang kredibel. Dengan begitu, bisa diperoleh informasi lebih awal mengenai produk tertentu yang mungkin berisiko.
- Mendukung kebijakan pemerintah dan lembaga terkait yang berfokus pada pengawasan makanan. Dukungan ini termasuk berupa laporan jika ada dugaan kontaminasi dalam radiasi makanan dan kritik bila otoritas terkait terkesan kurang memperhatikan soal bahaya radiasi makanan.
- Konsumsi makanan lokal yang segar karena risiko kontaminasinya lebih kecil. Bahan pangan yang tumbuh di area yang tidak terpengaruh oleh radiasi lebih mungkin aman untuk dikonsumsi.
- Cuci sayuran dan buah-buahan dengan baik sebelum dikonsumsi. Hindari makanan mentah atau setengah matang yang mungkin memicu kontaminasi.
- Ikut berpartisipasi dalam kegiatan pelestarian lingkungan untuk mengurangi risiko pencemaran yang berkaitan dengan industri atau aktivitas manusia yang dapat meningkatkan paparan radioaktif.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika menduga telah mengonsumsi bahan pangan yang terkontaminasi bahan radioaktif, sebaiknya lekas kunjungi dokter untuk berkonsultasi. Dokter akan menanyakan detail jenis makanan, jumlah, waktu konsumsi, dan gejala. Pemeriksaan fisik juga akan dilakukan yang diikuti tes khusus untuk mendeteksi dan mengukur jumlah zat radioaktif yang sudah terakumulasi di dalam tubuh. Bila diagnosis sudah ditegakkan, langkah selanjutnya adalah perawatan di rumah sakit ataupun di rumah, sesuai dengan kondisi pasien.
Ditinjau oleh :
Dokter Spesialis Gizi Klinik
Primaya Hospital Bekasi Barat
Referensi:
- Pangan Iradiasi, alternatif yang menjanjikan. https://www.pom.go.id/berita/pangan-iradiasi,–alternatif-yang-menjanjikan. Diakses 8 Desember 2025
- Food Irradiation: What You Need to Know. https://www.fda.gov/food/buy-store-serve-safe-food/food-irradiation-what-you-need-know. Diakses 8 Desember 2025
- Food irradiation: Effect of ionizing and non-ionizing radiations on preservation of fruits and vegetables– a review. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0924224421003678. Diakses 8 Desember 2025
- About Food Irradiation. https://www.centerforfoodsafety.org/issues/1039/food-irradiation/about-food-irradiation. Diakses 8 Desember 2025
- Toxicological Profile for Cesium. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK594667/. Diakses 8 Desember 2025
- Radioactivity in food after a nuclear emergency. https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/radioactivity-in-food-after-a-nuclear-emergency. Diakses 8 Desember 2025
- Food irradiation: an effective but under-utilized technique for food preservations. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10439058/. Diakses 8 Desember 2025
- What is Food Irradiation and Why is it Important?. https://www.iaea.org/newscenter/news/what-is-food-irradiation-and-why-is-it-important. Diakses 8 Desember 2025



