Azoospermia merupakan kondisi yang sering kali tidak disadari oleh banyak pria meskipun dampaknya signifikan terhadap kesuburan. Penting bagi para pria untuk memahami apa itu azoospermia karena bukan hanya perempuan yang bisa mengalami masalah infertilitas. Artikel ini akan membahas segala hal mengenai azoospermia, dari gejala hingga cara mengobati dan mencegahnya.
Mengenal Azoospermia
Azoospermia adalah kondisi ketika tidak ada sperma sama sekali yang terdeteksi dalam pemeriksaan Analisa sperma. ย Penting untuk dipahami bahwa azoospermia berbeda dengan oligospermia (dimana sperma berjumlah sangat rendah) meski menurut studi keduanya mungkin berkaitan dengan kelainan genetik.
Azoospermia dibagi menjadi dua tipe, yakni azoospermia non-obstruktif (NOA) dan azoospermia obstruktif (OA). Jenis NOA lebih banyak dijumpai daripada jenis OA.
Azoospermia obstruktif adalah kondisi ketika spermatozoa tidak dijumpai dalam pemeriksaan Analisa sperma akibat adanya obstruksi/ sumbatan pada saluran reproduksi pria.Sedangkan, ย Azoospermia non-obstruktif terjadi ketika testis tidak mampu memproduksi spermatozoa dikarenakan gangguan hormonal, genetic, kerusakan testis akibat penyakit, radiasi atau factor lingkungan.
Penting untuk membedakan kedua jenis azoospermia itu untuk menentukan langkah penanganan yang tepat yang sangat menentukan peluang keberhasilan memiliki keturunan.
Gejala Azoospermia
Azoospermia kerap tidak disertai gejala fisik yang jelas. Namun pria yang menderita azoospermia mungkin mengalami beberapa tanda atau gejala yang terkait dengan disfungsi hormonal atau gangguan genetik, termasuk:
Gejala yang Sering Terkait:
- Masalah Seksual & Hormonal:
Penurunan libido (gairah seksual).
Sulit ereksi (impotensi) atau mempertahankan ereksi.
Penurunan pertumbuhan rambut wajah dan tubuh.
Pembengkakan jaringan payudara (ginekomastia).
- Masalah Testis atau Reproduksi:
Nyeri, bengkak, atau benjolan pada testis.
Testis kecil atau tidak turun (kriptorkismus).
Volume ejakulasi sedikit atau orgasme “kering” (tanpa sperma).
Infertilitas (belum adanya kehamilan setelah 1 tahun menikah, berhubungan teratur , tidak memakai alat kontrasepsi)
- Masalah Perkembangan (jika terjadi sejak pubertas):
Pubertas yang tertunda atau tidak normal (suara tidak berubah, tidak ada jakun)
Penyebab Azoospermia
Penyebab azoospermia sangat beragam dan berbeda antara jenis non-obstruktif dan obstruktif.
Azoospermia Non-Obstruktif
- Faktor genetik, terutama sindrom Klinefelter (pria dengan kromosom XXY).
- Gangguan hormon di mana kelenjar pituitari di otak tidak menghasilkan hormon perangsang yang cukup untuk memacu testis bekerja.
- Masalah pada testis, seperti cedera testis, testis tidak turun ke kantong buah zakar (kriptorkidisme) yang tidak dikoreksi di masa kecil, paparan radiasi atau kemoterapi untuk pengobatan kanker, dan paparan toksin lingkungan seperti pestisida atau logam berat dalam jangka panjang.
- Varikokel, yakni pelebaran pembuluh vena di skrotum yang dapat meningkatkan suhu testis dan mengganggu produksi sperma, meski tidak semua varikokel menyebabkan azoospermia.
Azoospermia Obstruktif
- Tidak adanya saluran vas deferens (saluran ejakulasi) sejak lahir.
- Infeksi menular seksual seperti gonore atau klamidia atau infeksi lain yang menyebabkan peradangan dan jaringan parut pada saluran epididymis yang berfungsi menyimpan, mematangkan, dan mengangkut sperma dari testis ke saluran ejakulasi.
- Dampak prosedur medis sebelumnya seperti operasi hernia inguinalis, operasi prostat, atau vasektomi.
- Trauma atau cedera pada daerah panggul atau skrotum.
Cara Dokter Mendiagnosis Azoospermia
Diagnosis azoospermia memerlukan pendekatan cermat dan bertahap yang meliputi:
- Analisis sperma di laboratorium khusus secara komprehensif minimal dua kali.
- Pemeriksaan testis, epididimis, vas deferens, dan prostat serta riwayat kesehatan yang mencakup penyakit masa kecil, infeksi, operasi, paparan toksin, dan riwayat keluarga.
- Pemeriksaan hormon darah.
- Pemeriksaan genetik untuk mengecek kromosom dan mutasi gen.
- Ultrasonografi (USG) untuk melihat struktur testis dan ada tidaknya varikokel serta mendeteksi penyumbatan.
- Biopsi testis, yakni pengambilan sampel jaringan kecil dari testis untuk dilihat di bawah mikroskop, yang merupakan standar emas untuk diagnosis akhir azoospermia.
Cara Mengatasi Azoospermia
Penanganan azoospermia untuk tiap individu bisa berbeda, tergantung jenis dan penyebabnya. Tujuan utama penanganan ini adalah memperbesar peluang mendapat keturunan. Di antaranya:
- Pembedahan rekonstruktif, yakni operasi untuk membuka penyumbatan jika memungkinkan.
- Jika pembedahan tidak memungkinkan atau gagal, sperma dapat diambil langsung dari testis atau epididimis dan dimasukkan ke sel telur istri.
- Terapi penggantian hormon untuk merangsang testis memproduksi sperma bagi pasien dengan azoospermia non-obstruktif.
- Donor sperma bila tak didapati sperma pada pasien.
Komplikasi Azoospermia
Selain menyebabkan kesulitan memiliki keturunan, azoospermia bisa memicu komplikasi berupa:
- Gangguan psikologis seperti stres, kecemasan, depresi, dan perasaan rendah diri.
- Masalah hormonal jangka panjang, termasuk peningkatan risiko sindrom metabolik, osteoporosis, kehilangan massa otot, dan kelelahan kronis.
- Risiko kesehatan terkait kondisi genetik, seperti penyakit autoimun dan masalah pembuluh darah.
Pencegahan Azoospermia
Tidak semua kasus azoospermia dapat dicegah, terutama yang berhubungan dengan faktor genetik. Namun ada beberapa langkah yang dapat mengurangi risikonya:
- Menghindari paparan toksin, termasuk pestisida, herbisida, pelarut organik, dan logam berat.
- Tidak merokok dan membatasi alkohol.
- Mencegah infeksi menular seksual dengan mempraktikkan hubungan seksual yang aman.
- Menjaga testis tetap sejuk dengan cara menghindari celana dalam terlalu ketat, sering mandi air panas, dan meletakkan laptop di pangkuan dalam waktu lama.
- Penanganan dini untuk kasus testis tidak turun ke kantong buah zakar pada masa bayi/anak.
Kapan Harus ke Dokter?
Penting untuk diingat, banyak pria dengan azoospermia tidak merasakan gejala fisik sama sekali. Mereka merasa sehat dengan hasrat seksual normal. Maka jangan tunda untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis andrologi atau urologi jika tak kunjung memiliki keturunan setelah berusaha selama 12 bulan atau ada gejala yang telah disebutkan di atas. Dengan diagnosis yang akurat dan penanganan yang tepat, banyak pasangan dengan azoospermia akhirnya dapat memiliki keturunan biologis.
Ditinjau oleh:
dr. Nurvita Nindita, Sp.OG, Subsp.FER(K)
Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Fertilitas-Endokrinologi Reproduksi
Primaya Hospital Semarang
Referensi:
- Evaluation of the Azoospermic Patient.https://www.auajournals.org/doi/10.1016/S0022-5347(17)38662-7. Diakses 13 Desember 2025
- Azoospermia. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK578191/. Diakses 13 Desember 2025
- Genes Causing Azoospermia and Oligozoospermia.https://www.glowm.com/section-view/heading/Genes%20Causing%20Azoospermia%20and%20Oligozoospermia/item/359. Diakses 13 Desember 2025
- Azoospermia. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15441-azoospermia. Diakses 13 Desember 2025
- WHO laboratory manual for the examination and processing of human semen, 6th ed. https://www.who.int/publications/i/item/9789240030787. Diakses 13 Desember 2025
- Mutations in the Cystic Fibrosis Gene in Patients with Congenital Absence of the Vas Deferens. https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJM199506013322204. Diakses 13 Desember 2025
- Y Chromosome Infertility. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK1339/. Diakses 13 Desember 2025
- Male Infertility. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17201-male-infertility. Diakses 13 Desember 2025
- Comparison of sperm retrieval and reproductive outcome in azoospermic men with testicular failure and obstructive azoospermia treated for infertility. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4104090/. Diakses 13 Desember 2025
- Emerging trends in the management of non-obstructive azoospermia. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/uro2.70002. Diakses 13 Desember 2025
- Lifestyle and Environmental Factors Affecting Male Fertility, Individual Predisposition, Prevention, and Intervention. https://www.mdpi.com/1422-0067/26/6/2797. Diakses 13 Desember 2025



