Dampak Buruk dari Stress Terhadap Perkembangan Janin

Dampak Buruk dari Stress Terhadap Perkembangan Janin

Kehamilan adalah periode penting bagi perempuan yang dapat mengubah kehidupan. Karena itu, ibu hamil perlu beradaptasi dengan situasi saat hamil, khususnya bagi calon ibu baru atau belum pernah memiliki pengalaman hamil. Kebanyakan ibu hamil sadar bahaya asap rokok, kafein, hingga makanan mentah buat janin dalam kandungan. Namun ada satu hal lagi yang perlu menjadi pusat perhatian ibu hamil: stress yang berdampak buruk terhadap perkembangan janin.

Kondisi psikis ibu hamil sangat mempengaruhi janin sehingga mesti diperhatikan. Ketika ibu hamil mengalami tekanan, terdapat risiko pada perkembangan janin. Gangguan emosional pada masa kehamilan sebenarnya wajar. Kehamilan sendiri dapat menjadi pemicu stress. Terutama ketika ibu hamil tanpa rencana sehingga diliputi kekhawatiran.

Berikut ini beberapa dampak buruk stress terhadap perkembangan janin:

 

Stress Mempengaruhi Imun Tubuh

Stress terjadi ketika kita tak sanggup menanggulangi masalah yang terjadi dalam kehidupan. Ketika dilanda gangguan emosional, tubuh bereaksi dengan memproduksi hormon kortisol. Kortisol merupakan hormon yang dapat mengendalikan stres. Namun, ketika kortisol terus-terusan dihasilkan, tubuh menjadi terbiasa dengan kondisi tersebut sehingga penyakit lebih mudah menyerang.

Hormon stress tersebut juga bisa mempengaruhi janin lewat plasenta. Makin berat dan lama tekanan yang dialami ibu, makin banyak kadar hormon stress yang berdampak pada perkembangan janin. Janin berisiko mengalami gangguan mental dan fisik dalam kandungan hingga lahir, termasuk menjadi hiperaktif.

Baca Juga:  Cegah Kanker Serviks

Selain itu, stress menurunkan kadar sel darah putih bernama limfosit yang berfungsi melawan infeksi. Makin rendah kadar limfosit, makin besar peluang virus dapat masuk dan menginfeksi ibu hamil, juga janin dalam kandungan.

 

Menghambat Perkembangan Otak

Sejumlah penelitian menemukan kondisi ibu hamil yang mengalami stress tecermin pada kondisi perkembangan janin. Otak janin menunjukkan kekurangan perkembangan pada beberapa bagian, termasuk yang berperan dalam koordinasi, pembelajaran, sosial, dan perilaku.

Adanya stres dan kecemasan pada trimester kedua kehamilan dikaitkan dengan penurunan volume hipokampus dan serebelar pada ibu yang bayinya didiagnosis menderita penyakit jantung koroner. Hipokampus dan serebelar merupakan bagian dari otak. Terhambatnya pertumbuhan dua bagian itu akan mempengaruhi fungsi koordinasi motorik, sosial, dan perilaku anak.

 

Stress Tingkat Tinggi, Meningkatkan Risiko Kelahiran Prematur

Stress tingkat tinggi selama masa kehamilan dapat meningkatkan risiko kelahiran. Bayi disebut lahir prematur jika lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Kelahiran prematur membuat bayi berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan.

Baca Juga:  Informasi Seputar Trimester Kehamilan

Ibu hamil yang mengalami stress tingkat tinggi dan berkelanjutan membuat tubuh sulit pulih kembali ke kondisi normal. Sistem pembuluh darah, kadar hormon dan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi akan terpengaruh. Walhasil, perkembangan janin akan terus terhambat hingga memicu kelahiran prematur.

 

Menyebabkan Berat Lahir Bayi menjadi Rendah

Stress kronis pada ibu hamil juga bisa membuat berat lahir bayi rendah. Bobot bayi baru lahir disebut normal jika di atas 2,5 kilogram. Salah satu pemicu kurangnya berat badan bayi itu adalah produksi hormon kortisol yang berlebih akibat stress.

Menurut penelitian, kadar hormon kortisol perempuan umumnya meningkat dua atau tiga kali lipat selama hamil. Peningkatan itu normal meski bisa mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin. Namun jika kadar hormon melebihi batas itu, dampaknya akan buruh bagi janin, termasuk berat lahir bayi menjadi rendah.

 

Mempengaruhi Perkembangan Otak Janin

Beberapa penelitian menemukan bahwa perempuan yang mengalami stress selama beberapa bulan menjelang persalinan lebih mungkin melahirkan anak dengan masalah mental dan perilaku. Lagi-lagi kadar hormon kortisol yang disebut sangat berperan dalam hal ini.

Baca Juga:  Stimulasi Prenatal Untuk Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Janin

Hormon kortisol yang terlalu banyak melewati plasenta hingga masuk ke aliran darah janin bisa mempengaruhi perkembangan janin, terutama otak. Penelitian itu menemukan bahwa anak yang terpapar kortisol dalam jumlah banyak saat dalam kandungan memiliki IQ lebih rendah ketimbang anak yang ibunya tidak mengalami stress saat hamil.

Ibu hamil perlu lebih sadar dengan perubahan yang terjadi selama kehamilan sehingga memiliki strategi saat menghadapi stress. Dukungan suami dan orang terdekat lain sangat penting selama periode kehamilan. Bila merasa mengalami stress, konsultasikan dengan dokter saat pemeriksaan kehamilan demi keselamatan dan keamanan janin dalam kandungan.

 

Narasumber:

dr. Erik Jaka Triyadi, SpOG

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan

Primaya Hospital Bekasi Utara

 

Referensi:

http://www.child-encyclopedia.com/stress-and-pregnancy-prenatal-and-perinatal/according-experts/effects-prenatal-stress-child

https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0149763414000797

Illustrasi : Freepic

Bagikan ke :