• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Imunisasi Ibu Hamil: Manfaat dan Jadwal yang Dianjurkan

Banyak ibu hamil yang langsung menolak vaksin karena mendengar mitos “bisa bikin janin cacat” atau “vaksin berbahaya untuk kehamilan”. Faktanya justru sebaliknya: selama hamil, daya tahan tubuh ibu turun hingga 30 sampai 40 persen agar janin tidak ditolak sebagai benda asing. Akibatnya, penyakit yang biasanya ringan seperti flu atau batuk rejan bisa menjadi sangat berat, bahkan mengancam nyawa ibu dan bayi.

Vaksin yang direkomendasikan untuk ibu hamil sudah melalui uji klinis puluhan tahun dengan jutaan dosis di seluruh dunia, dan terbukti aman sekaligus memberikan perlindungan ganda: melindungi ibu dari infeksi berat serta menurunkan antibodi ke janin lewat plasenta dan ASI. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan bersama IDAI merekomendasikan empat vaksin utama untuk ibu hamil, dan semuanya tersedia gratis di puskesmas serta posyandu.

Yuk, pahami secara mendalam mengapa vaksin saat hamil bukan pilihan, melainkan keharusan, jadwal terbaik, manfaat luar biasa bagi ibu dan bayi, serta cara mengatasi kekhawatiran yang masih sering muncul.

Mengapa Sistem Imun Ibu Hamil Menurun dan Membuatnya Rentan?

Selama kehamilan, tubuh secara alami menekan sistem imun supaya janin yang memiliki DNA setengah dari ayah tidak dianggap ancaman. Penurunan ini paling jelas pada trimester kedua dan ketiga. Ditambah lagi, volume darah meningkat hingga 50 persen, jantung bekerja 40 persen lebih keras, dan paru-paru tertekan oleh rahim yang membesar.

Akibatnya, infeksi saluran napas seperti influenza atau pertussis (batuk rejan) bisa berkembang menjadi pneumonia berat, keguguran, kelahiran prematur, bahkan kematian ibu dan bayi. Vaksin menjadi cara paling efektif dan aman untuk “meningkatkan kembali” perlindungan tanpa mengganggu proses kehamilan.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists 2024, ibu hamil yang divaksin influenza memiliki risiko rawat inap karena flu turun hingga 72 persen, dan bayinya terlindungi hingga usia 6 bulan.

4 Vaksin Utama yang Direkomendasikan di Indonesia

Berikut penjelasan lengkap masing-masing vaksin, waktu terbaik, dan manfaatnya.

  1. Vaksin Tdap (Tetanus, Difteri, Pertussis)

Vaksin ini diberikan satu kali pada setiap kehamilan, idealnya antara minggu ke-27 hingga 36. Antibodi pertussis dari ibu akan diturunkan ke bayi dan melindunginya hingga usia 6 bulan, saat bayi sudah boleh divaksin sendiri. Batuk rejan pada bayi di bawah 3 bulan memiliki angka kematian hingga 1–2 persen, dan vaksin Tdap menurunkan risiko tersebut hingga 91 persen.

  1. Vaksin Influenza (Flu Musiman)
Baca Juga:  Vaginitis: Gejala, Mencegah dan Mengobati

Boleh diberikan di semua trimester, tetapi paling optimal di trimester kedua atau ketiga. Flu pada ibu hamil meningkatkan risiko rawat inap hingga lima kali lipat dibandingkan wanita tidak hamil. Vaksin ini juga mengurangi risiko bayi terkena flu hingga usia 6 bulan sebanyak 63 persen.

  1. Vaksin COVID-19

Vaksin mRNA (Pfizer, Moderna) atau inactivated (Sinovac) aman di semua trimester. Ibu hamil yang terkena COVID-19 berisiko 22 kali lebih tinggi masuk ICU dan 70 persen lebih tinggi melahirkan prematur. Vaksin memberikan perlindungan hingga 90 persen terhadap COVID berat dan menurunkan antibodi ke bayi hingga usia 6 bulan.

  1. Vaksin Hepatitis B

Jika ibu belum pernah vaksin atau statusnya tidak jelas, vaksin diberikan tiga dosis (0, 1, 6 bulan). Ini mencegah penularan vertikal dari ibu ke bayi hingga 95 persen.

Jadwal Imunisasi Ibu Hamil yang Paling Optimal

Berikut rekomendasi resmi Kemenkes dan IDAI 2024:

  • Kehamilan pertama: TT2 (jika belum lengkap) + Tdap pada 27–36 minggu + influenza 1 dosis + COVID-19 lengkap
  • Kehamilan berikutnya: Tdap setiap kehamilan (27–36 minggu) + influenza setiap musim + COVID-19 booster jika sudah lebih dari 6 bulan
  • Hepatitis B: lengkapi 3 dosis jika belum pernah

Vaksin-vaksin ini bisa diberikan bersamaan dalam satu kunjungan tanpa mengurangi efektivitas.

Apakah Vaksin Aman untuk Janin? Bukti Ilmiah yang Sangat Kuat

Selama lebih dari 30 tahun, jutaan ibu hamil di dunia telah divaksin Tdap dan influenza. Tidak ada satu pun penelitian besar yang menemukan peningkatan risiko keguguran, cacat bawaan, prematur, atau berat lahir rendah. Malah sebaliknya: vaksin mengurangi semua risiko tersebut. Vaksin yang digunakan adalah inactivated atau subunit, tidak mengandung virus hidup, sehingga tidak mungkin menginfeksi janin.

Efek Samping Vaksin pada Ibu Hamil

Efek samping yang paling sering (1 dari 10 ibu) adalah nyeri atau bengkak ringan di tempat suntikan, demam ringan, atau pegal-pegal seperti gejala flu selama 1–2 hari. Efek berat seperti alergi berat terjadi kurang dari 1 dalam 1 juta dosis, sama seperti pada orang tidak hamil.

Mitos yang Masih Beredar dan Fakta Ilmiahnya

Banyak ibu masih mendengar mitos berikut:

  • “Vaksin bikin janin cacat” → Tidak ada bukti setelah lebih dari 100 juta dosis global.
  • “Vaksin sebabkan keguguran” → Studi besar di Amerika Serikat dan Eropa menunjukkan tidak ada hubungan.
  • “Flu biasa, tidak perlu vaksin flu” → Flu pada ibu hamil lima kali lebih berat dan meningkatkan risiko prematur empat kali lipat.
  • “Tetanus neonatorum sudah jarang” → Masih ada 500–1.000 kasus per tahun di Indonesia, hampir semua bisa dicegah dengan Tdap.
Baca Juga:  Memasuki Kehamilan 4 Minggu? Perhatikan Hal-Hal Ini!

Persiapan Sebelum dan Sesudah Vaksin

Sebelum vaksin:

  • Konsultasi dokter kandungan terlebih dahulu
  • Pastikan tidak sedang demam tinggi
  • Makan dulu agar tidak lemas

Setelah vaksin:

  • Istirahat cukup
  • Minum air banyak
  • Kompres dingin jika nyeri suntikan
  • Parasetamol boleh jika demam atau nyeri

Vaksin Ibu Hamil adalah Cinta Pertama untuk Bayi

Vaksin saat hamil adalah salah satu tindakan paling berani dan penuh cinta yang bisa dilakukan seorang ibu. Anda tidak hanya melindungi diri dari penyakit berat, tapi juga memberikan “warisan antibodi” terbaik yang bisa diberikan sebelum bayi lahir. Bayi baru lahir belum bisa divaksin hingga usia 2 bulan, tapi berkat vaksin Tdap, influenza, dan COVID-19 dari ibu, ia sudah memiliki perisai hingga 6 bulan pertama kehidupannya.

Jangan biarkan mitos usang menghalangi perlindungan teraman ini. Mulai hari ini, tanyakan pada dokter kandungan vaksin apa yang belum Anda butuhkan, catat jadwalnya, dan lengkapi sebelum trimester 3 berakhir. Imunisasi ibu hamil bukan sekadar suntikan — tapi janji Anda untuk memberikan start hidup terbaik bagi buah hati. Lindungi dua nyawa sekaligus dengan satu tindakan sederhana yang terbukti menyelamatkan jutaan bayi di dunia!

Ditinjau oleh:

dr. Rony Falty Sibagariang, Sp.OG

Spesialis Kebidanan dan Kandungan

Primaya Hospital PGI Cikini

Referensi:

  • American College of Obstetricians and Gynecologists. Immunization During Pregnancy 2024. https://www.acog.org/womens-health/faqs/immunization-during-pregnancy
  • World Health Organization. Maternal Immunization and Antenatal Care Situation Analysis 2024.
  • Ikatan Dokter Anak Indonesia. Rekomendasi Imunisasi Ibu Hamil dan Bayi 2024.
  • Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Imunisasi Ibu Hamil 2023.
Share to :

Buat Janji Dokter

Promo

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Sahabat Sehat Primaya

Select an available coupon below