• Emergency
  • 150 108
  • Chatbot

Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS): Gangguan Hormon Wanita

Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS): Gangguan Hormon Wanita

Polycystic ovarian syndrome (PCOS) atau sindrom ovarium polikistik adalah masalah kesehatan yang mempengaruhi 1 dari 10 perempuan usia subur, termasuk anak remaja. Perempuan dengan PCOS memiliki masalah ketidakseimbangan hormon dan gangguan metabolisme yang bisa berimbas pada penampilan dan kesehatan mereka secara keseluruhan. PCOS juga adalah salah satu penyebab masalah ketidaksuburan.

 


Mengenal Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS)

Polycystic ovarian syndrome (PCOS) adalah kondisi yang lazim didapati pada remaja perempuan yang berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon. Pada perempuan dengan kondisi ini, ovariumnya mengandung banyak kista folikel, yakni folikel berisi cairan yang tidak/ belum matang. Kondisi ini berhubungan dengan anovulasi, yaitu gagal matangnya sel telur, serta kelebihan produksi androgen yang merupakan hormon yang seharusnya tinggi pada pria, bukan pada wanita.

Normalnya ovarium memproduksi hormon estrogen, progesteron, dan androgen yang bekerja secara harmonis untuk mengatur siklus menstruasi perempuan. Namun pada perempuan dengan PCOS, terjadi peningkatan produksi androgen yang menghalangi perkembangan dan pelepasan sel telur (ovulasi).

Alih-alih memproduksi sel telur yang matang, telur yang tidak matang tersebut secara USG tampak seperti kista-kista kecil yang banyak. Kista-kista  ini dapat terus menumpuk di dalam ovarium sehingga ovarium membesar. Remaja yang memiliki riwayat adrenarke prematur (bulu ketiak dan kemaluan muncul lebih cepat) lebih mungkin mengalami sindrom ovarium polikistik di kemudian hari.

Meski sindrom ini terbilang cukup sering pada kalangan perempuan, tetap harus ada kewaspadaan. Sebab, ada risiko masalah kesehatan ini mempengaruhi kesuburan dan peluang kehamilan.

 

Gejala Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS)

Polycystic ovarian syndrome (PCOS) memiliki gejala yang khas berkaitan dengan karakteristik wanita, seperti siklus menstruasi tidak teratur atau bahkan tidak haid sama sekali dan kista di ovarium. Gejala lainnya termasuk:

  • Ketidaksuburan (sulit hamil)
  • Rambut atau bulu berlebih pada wajah, dada, perut, punggung atau paha atas
  • Jerawat parah
  • Komedo
  • Kulit wajah berminyak
  • Noda hitam di wajah
  • Rambut menipis
  • Kulit di sekitar leher, ketiak, atau payudara lebih gelap dan lebih tebal
  • Berat badan naik hingga obesitas
  • Tekanan darah tinggi
  • Kadar kolesterol tinggi
  • Kadar gula darah tinggi
  • Kelelahan
  • Mudah haus dan lapar
  • Penurunan libido

 

Penyebab Anak Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS)

Walau polycystic ovarian syndrome (PCOS) adalah masalah kesehatan yang umum, hingga kini belum dapat diketahui secara pasti apa penyebabnya. Para pakar berpendapat ada sederet faktor yang berpengaruh, termasuk genetik. Misalnya:

  • Hormon androgen tinggi. Androgen mengendalikan perkembangan sifat kelaki-lakian, seperti pola kebotakan pada pria. Perempuan dengan PCOS memiliki kadar androgen yang lebih tinggi daripada perempuan kebanyakan.
  • Kadar insulin tinggi. Insulin adalah hormon yang mengendalikan pemrosesan makanan yang masuk ke tubuh untuk diubah menjadi energi. Kadar insulin yang terlalu tinggi disebabkan oleh resistansi insulin, yakni kondisi ketika sel tubuh tidak merespons insulin seperti biasa. Banyak perempuan dengan PCOS memiliki kadar insulin tinggi, terutama yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, punya kebiasaan makan tidak sehat, kurang beraktivitas fisik, dan punya riwayat penyakit diabetes dalam keluarga.
Baca Juga:  Benarkah Jeruk Nipis dapat Menggugurkan Kandungan?

 

Cara Dokter Mendiagnosis Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS)

Tidak ada pemeriksaan khusus untuk mendiagnosis polycystic ovarian syndrome (PCOS). Bila ada pasien yang datang dengan keluhan atau gejala sindrom ovarium polikistik, dokter biasanya akan mengamati kondisi kulit dan rambut pasien serta mengukur tekanan darah dan berat badannya. Dokter juga akan melontarkan serangkaian pertanyaan mengenai siklus menstruasi yang dialami, gejala yang muncul, dan riwayat kesehatan pribadi serta keluarga.

Selain itu, dokter mungkin perlu melakukan pemeriksaan pada pinggul dan meminta pasien menjalani tes darah untuk melihat kadar hormonnya. Dalam beberapa kasus, dokter juga akan merekomendasikan pemeriksaan ultrasonografi (USG) guna mengecek keberadaan kista ovarium. Umumnya dokter akan menyatakan pasien mengalami PCOS jika ada setidaknya dua dari tiga gejala Khas PCOS sesuai kriteria Rotterdam, yaitu Anovulasi (gangguan haid), Hiperandrogen, dan gambaran USG Ovarium Polikistik.

 

Pengobatan Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS)

Metode pengobatan polycystic ovarian syndrome (PCOS) berbeda untuk tiap individu, tergantung kondisinya. Yang pasti, belum ada obat untuk menyembuhkan PCOS. Pengobatan sindrom ovarium polikistik berfokus pada upaya memastikan terjadi ovulasi dan mengatasi masalah lanjutan yang bisa terjadi bila kondisi ini tak ditangani, termasuk gangguan kesuburan/ infertilitas dan resistensi insulin.

Metode yang utama adalah modifikasi gaya hidup menjadi lebih sehat. Misalnya pasien akan diminta menjalani program diet guna menurunkan dan mengendalikan berat badan normal. Salah satu diet utama adalah diet rendah karbohidrat. Dokter juga akan menyarankan pasien berolahraga secara teratur untuk menunjang pola hidup sehat agar gejala PCOS mereda. Harus dikombinasikan olahraga kardio dan olahraga resisten (beban).

Adapun obat yang biasanya digunakan untuk menangani PCOS termasuk obat hormonal guna memicu ovulasi dan memulihkan siklus menstruasi yang tak teratur. Misalnya clomifene, letrozole, dan metformin. Selain itu, dokter bisa meresepkan obat-obatan untuk mengatasi gejala yang disebabkan oleh kelebihan hormon androgen, seperti jerawat dan masalah kulit serta rambut. Jika perlu, pasien mungkin perlu menjalani prosedur medis khusus untuk menghilangkan gejala yang berkaitan dengan hormon androgen.

Baca Juga:  Benarkah Usia Ayah Mempengaruhi Perkembangan Janin

 

Komplikasi Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS)

Seperti banyak gangguan kesehatan lain lain, polycystic ovarian syndrome (PCOS) berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan lain, seperti:

  • Diabetes
  • Tekanan darah tinggi
  • Kadar kolesterol jahat (LDL) tinggi, sedangkan kolesterol baik (HDL) rendah
  • Penyakit jantung dan stroke
  • Sleep apnea, yakni kondisi ketika napas sering terhenti sebentar saat tidur sehingga mengganggu waktu istirahat
  • Depresi
  • Gangguan kecemasan
  • Kanker endometrium yakni pertumbuhan sel abnormal di endometrium atau lapisan lendir rahim

 

Pencegahan

Hingga sekarang belum ada cara pencegahan polycystic ovarian syndrome (PCOS) yang terbukti. Tapi ada sejumlah cara untuk mengantisipasi gejala yang mungkin muncul akibat PCOS, seperti:

  • Makan makanan bernutrisi dengan gizi seimbang, rendah gula
  • Berolahraga secara teratur
  • Mengendalikan berat badan

Kombinasi gaya hidup sehat dan aktif serta diet seimbang ini dapat meredakan gejala PCOS.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Anda bisa mendatangi dokter bila mengalami gejala polycystic ovarian syndrome (PCOS), terutama siklus haid tidak teratur atau tidak mengalami menstruasi sama sekali padahal masih berusia subur dan tidak sedang hamil. Demikian juga jika tumbuh bulu yang banyak pada tubuh dan wajah serta muncul gejala diabetes, sering merasa kehausan dan kelaparan atau sering pipis di malam hari.. PCOS adalah kondisi yang bisa ditangani dan pasiennya tetap mungkin hamil. Dokter dapat membantu memberikan saran dan tindakan yang diperlukan sesuai dengan kondisi pasien.

 

Narasumber

dr. Ridwan Mahmuddin, Sp.OG

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan

Primaya Evasari Hospital

Referensi:

  • Polycystic Ovary Syndrome. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3737989/. Diakses 11 Oktober 2022
  • Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/polycystic-ovary-syndrome-pcos. Diakses 11 Oktober 2022
  • Polycystic Ovary Syndrome. https://medlineplus.gov/polycysticovarysyndrome.html. Diakses 11 Oktober 2022
  • PCOS (Polycystic Ovary Syndrome) and Diabetes. https://www.cdc.gov/diabetes/basics/pcos.html. Diakses 11 Oktober 2022
  • About Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). https://pcosawarenessmonth.org/what-is-pcos/. Diakses 11 Oktober 2022
  • Life Modifications and PCOS: Old Story But New Tales. https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fendo.2022.808898/full. Diakses 11 Oktober 2022
  • Polycystic Ovarian Syndrome and Female Infertility. https://www.scirp.org/journal/paperinformation.aspx?paperid=95066. Diakses 11 Oktober 2022
Bagikan ke :

Buat Janji Dokter

Promo

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.