• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Skrining Prenatal Penting dilakukan! Jangan Sampai Terlewatkan

skrining prenatal

Kehamilan adalah masa yang menggembirakan sekaligus menegangkan. Di satu sisi, ada rasa senang karena buah hati akan segera datang. Di sisi lain, ada kekhawatiran atas kondisi kesehatan janin dalam kandungan. Skrining prenatal hadir sebagai upaya untuk menepis kekhawatiran itu. Dalam artikel ini akan dibahas seputar pemeriksaan kehamilan itu secara mendalam.

Mengenal Skrining Prenatal

Skrining prenatal adalah serangkaian tes yang dilakukan selama kehamilan untuk menilai risiko atau kemungkinan adanya kelainan genetik atau kondisi bawaan tertentu pada janin.  Kelainan genetik itu antara lain sindrom Down, sindrom Edwards, atau sindrom Patau, juga cacat tabung saraf seperti anensefal (tempurung kepala tidak terbentuk) dan spina bifida. Adapun kondisi penyakit genetik termasuk penyakit sel sabit, fibrosis kistik, dan penyakit Tay-Sachs.

Dikutip dari  American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), skrining prenatal berbeda dengan tes diagnostik prenatal. Skrining prenatal hanya memperkirakan risiko atau kemungkinan, tidak memastikan keberadaan kelainan atau kondisi tersebut. Hasil skrining biasanya dinyatakan dalam rasio. Misalnya “1 dari 1.000” yang berarti risikonya rendah atau “1 dari 50” yang berarti risikonya lebih tinggi dan diperlukan investigasi lebih lanjut dengan tes diagnostik yang lebih invasif dan berisiko bagi kehamilan.

Skrining prenatal berfungsi sebagai filter awal yang aman dan tanpa risiko bagi kehamilan. Tes ini biasanya dilakukan pada trimester pertama dan kedua kehamilan. Tes di setiap trimester dapat mendeteksi kemungkinan kelainan yang berbeda dan hasilnya bisa dikombinasikan untuk meningkatkan akurasi. Dengan begitu, orang tua bisa mendapatkan informasi mengenai kesehatan janin dan lebih dapat mempersiapkan diri menyambut kelahirannya.

Siapa Saja yang Memerlukan Skrining Prenatal?

Pada prinsipnya, setiap kehamilan memerlukan skrining prenatal. ACOG pun merekomendasikan semua perempuan yang hamil untuk menjalani skrining ini. Namun terdapat beberapa faktor yang membuat seseorang lebih memerlukan skrining prenatal, antara lain:

  • Usia ibu di atas 35 tahun karena risiko memiliki bayi dengan kelainan kromosom meningkat seiring bertambahnya usia ibu.
  • Ada riwayat kelainan genetik dalam keluarga baik dari pihak ibu maupun ayah.
  • Terdapat kelainan kromosom atau cacat lahir dalam kehamilan sebelumnya.
  • Hasil ultrasonografi (USG) menimbulkan kecurigaan akan adanya kelainan, misalnya penebalan tengkuk janin (nuchal translucency).
  • Ibu dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti diabetes yang tidak terkontrol atau epilepsi yang memerlukan obat tertentu.
  • Ibu yang terpapar obat-obatan tertentu, infeksi, atau radiasi yang berpotensi mengganggu perkembangan janin.
Baca Juga:  Tips Pemeriksaan Kehamilan Selama Pandemi Covid-19

Kapan Seseorang Memerlukan Skrining Prenatal?

Tes skrining prenatal umumnya dibagi menjadi beberapa fase sesuai dengan usia kehamilan, yakni:

  • Trimester pertama (minggu 10-13): Biasanya kombinasi antara tes darah ibu dan USG untuk mengukur ketebalan nuchal translucencyberdasarkan pemeriksaan kadar PAPP-A dan hCG.
  • Trimester kedua (minggu 14-22): Disebut quad screenatau quadruple test karena mengukur empat substansi dalam darah ibu, yakni AFP, hCG, Estriol, dan Inhibin-A.
  • Skrining terintegrasi: Menggabungkan hasil dari tes trimester pertama dan kedua untuk memberikan tingkat akurasi yang lebih tinggi.

Selain itu, ada non-invasive prenatal testing (NIPT) alias cell-free DNA (cfDNA) screening yang dapat dilakukan mulai minggu ke-10 kehamilan untuk menganalisis DNA janin yang beredar dalam darah ibu. Ada pula USG anatomi pada minggu ke-18 hingga ke-22 untuk melihat struktur fisik bayi secara menyeluruh, dari jantung, otak, hingga anggota gerak.

Manfaat dan Tujuan Skrining Prenatal

Tujuan utama skrining prenatal adalah memberikan pemberdayaan informasi kepada orang tua mengenai kondisi kehamilan dan janin dalam kandungan. Adapun manfaatnya antara lain:

  • Jika ditemukan risiko tinggi, orang tua memiliki waktu untuk mempelajari kondisi tersebut sekaligus menyiapkan mental dan finansial.
  • Memungkinkan dokter merencanakan persalinan di fasilitas kesehatan yang sesuai, termasuk soal ketersediaan peralatan penunjang yang lengkap.
  • Memberikan kelegaan psikologis ketika hasil skrining menunjukkan risiko rendah.
  • Memungkinkan intervensi dini untuk beberapa kondisi, seperti cacat jantung tertentu, termasuk fetal surgery atau bedah janin saat masih di dalam rahim.

Persiapan Sebelum Menjalani Skrining Prenatal

Persiapan skrining prenatal umumnya sederhana dan lebih terkait dengan persiapan mental, antara lain:

  • Konseling genetik/pra-skrining dengan dokter kandungan tentang pilihan tes yang tersedia, akurasi, kelebihan, kekurangan, serta apa arti dari setiap kemungkinan hasil.
  • Mengetahui usia kehamilan yang tepat lewat USG karena sangat mempengaruhi akurasi skrining.
  • Diskusi dengan pasangan mengenai hasil tes bila menunjukkan risiko tinggi.
  • Memantapkan hati dan menyiapkan mental untuk menerima apa pun hasil tes.

Prosedur dan Pelaksanaan Skrining Prenatal

Prosedur skrining prenatal umumnya bersifat noninvasif, yang berarti tidak menimbulkan risiko bagi janin di dalam rahim. Prosedur ini berbeda sesuai dengan jenis tes yang dilakukan.

  • USG: ibu berbaring, lalu perut diolesi dengan gel dan dokter menggunakan alat transduser yang digerak-gerakkan untuk mengukur cairan di belakang leher janin dan memeriksa anatomi dasar.
  • Tes darah: sampel darah diambil dari lengan ibu untuk kemudian dianalisis di laboratorium.
Baca Juga:  Trimester Kehamilan Pertama, Terdeteksi Potensi Kelainan Kandungan?

Laporan hasil skrining prenatal biasanya akan keluar dalam waktu 7-14 hari kerja, tergantung jenis pemeriksaannya.

Perawatan Pasca-Skrining Prenatal

Tidak ada perawatan khusus secara fisik seusai tes skrining prenatal yang noninvasif. Orang tua hanya perlu tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa sembari menunggu hasil tes keluar.

Adakah Efek Samping Setelah Skrining?

Skrining prenatal baik tes darah maupun USG tidak menimbulkan efek samping fisik bagi ibu atau janin. Tidak ada risiko keguguran dari skrining ini. Efek samping yang mungkin muncul biasanya bersifat psikologis, terutama ketika cemas menunggu hasil atau setelah menerima hasil risiko tinggi. Dukungan dari pasangan, keluarga, dan tenaga kesehatan sangat penting pada fase ini. Konseling genetik pasca-skrining juga sangat membantu untuk mengelola kecemasan dan memahami pilihan yang ada.

Skrining Prenatal di Primaya Hospital

Di Primaya Hospital, layanan skrining prenatal didesain untuk memberikan pengalaman yang komprehensif dan menenangkan bagi calon orang tua. Layanan ini umumnya mencakup konseling pra-tes hingga pendampingan setelah hasil tes keluar. Primaya Hospital berkomitmen mendampingi setiap langkah perjalanan kehamilan dan memberikan bukan hanya layanan medis, melainkan juga kepastian dan ketenangan.

Ditinjau oleh:

dr. Rahmad Rizal Wicaksono, Sp. OG, Subsp. KFm(K)

Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Fetomaternal

Primaya Hospital Semarang

 

Referensi:

Share to :

Buat Janji Dokter

Promo

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Sahabat Sehat Primaya

Select an available coupon below