• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Sakit saat menelan? Waspadai Akalasia

Sakit saat menelan Waspadai Akalasia

Orang butuh minum dan makan untuk bertahan hidup. Maka, ketika ada penyakit yang menyebabkan gangguan menelan makanan dan minuman, seseorang berisiko mengalami masalah kesehatan serius. Terdapat sejumlah jenis gangguan menelan, antara lain akalasia yang tergolong penyakit langka. Masalah kesehatan ini memerlukan perhatian karena bila tak tertangani bisa berujung pada kanker esofagus.

 

buat jani dokter primaya

Mengenal Akalasia

Akalasia adalah kelainan langka yang menyebabkan kesulitan menelan akibat kegagalan fungsi sfingter esofagus bagian bawah (cincin otot antara ujung esofagus dan lambung) dalam membuka atau mengendur. Esofagus adalah saluran yang menghubungkan rongga kerongkongan dengan lambung.

Biasanya, ketika menelan, otot bagian bawah esofagus akan berkontraksi dan sfingter mengendur untuk membantu mendorong makanan dan minuman masuk ke lambung. Gerakan itu disebut gerakan peristaltik. Jika mengalami akalasia, kontraksi otot esofagus tidak terjadi dan sfingter tidak mengendur sehingga makanan/minuman tertahan di area bawah kerongkongan dan bisa kembali naik ke atas.

Kondisi ini berkaitan dengan kerusakan saraf esofagus. Sebagian besar kasus akalasia didapati pada orang dewasa berusia 25-60 tahun, tapi gangguan ini juga bisa terjadi pada anak-anak.

Dalam penelitian yang dimuat di jurnal Clinical and Experimental Gastroenterology disebutkan akalasia bisa berkembang menjadi kanker esofagus dengan persentase 0,4 hingga 9,2 persen. Kaitan antara akalasia dan karsinoma atau tumor ganas esofagus pertama kali dilaporkan pada 1872. Setelah itu, ada sejumlah kasus serupa yang dilaporkan dan beberapa riset dilakukan dengan hasil berupa informasi yang terbatas tapi bermanfaat.

 

Gejala

Gejala akalasia umumnya berkembang secara bertahap. Gejala yang paling umum adalah kesulitan menelan atau disfagia. Gejala lainnya termasuk:

  • Nyeri dada yang timbul-tenggelam
  • Maag
  • Kerap cegukan atau bersendawa
  • Batuk pada malam hari atau setelah menelan makanan
  • Regurgitasi makanan atau cairan yang tidak tercerna (refluks)
  • Sakit saat menelan
  • Muntah
  • Penurunan berat badan
  • Napas bau tak sedap

 

Penyebab

Akalasia terjadi akibat kegagalan fungsi saraf atau denervasi yang mengendalikan kontraksi ritmik esofagus. Penyebab denervasi yang pasti tidak diketahui, tapi diduga ada kaitan dengan virus dan masalah autoimun. Tumor tertentu juga dapat menyebabkan kelainan seperti akalasia yang menyebabkan penyempitan sfingter esofagus bagian bawah secara langsung atau dengan menjalar ke saraf esofagus. Penyakit Chagas, yakni infeksi yang menyebabkan kerusakan kelompok sel saraf (ganglia otonom), juga bisa memicu akalasia.

Baca Juga:  Anemia Aplastik, Kenali Gejala dan Penyebabnya

 

Cara Dokter Mendiagnosis Akalasia

Diagnosis akalasia membutuhkan tes khusus untuk melihat seberapa bagi kerongkongan berfungsi meneruskan makanan/minuman ke lambung. Tes yang umumnya dilakukan dokter antara lain:

  • Manometri esofagus resolusi tinggi:  tes untuk mengukur tekanan, kekuatan, dan koordinasi otot pada kerongkongan. Dalam tes ini, sebuah tabung tipis dimasukkan lewat hidung ke dalam perut. Kemudian pasien diminta menelan seteguk cairan dan tim dokter mengukur fungsi otot kerongkongan.
  • Endoskopi: pemeriksaan kerongkongan menggunakan tabung fleksibel kecil dengan kamera pada ujungnya.
  • CT scan: pemindaian dengan sinar-X dan komputer untuk mengetahui gambaran detail kerongkongan.
  • Menelan barium: pemeriksaan radiologi dengan sinar-X untuk memeriksa kelainan pada kerongkongan.

 

Cara Mengatasi Akalasia

Tidak ada pengobatan yang bisa mengembalikan gerak peristaltik kerongkongan. Tujuan penanganan akalasia adalah meredakan gejala dengan menurunkan tekanan pada sfingter esofagus bagian bawah. Terdapat beberapa opsi penanganan akalasia yang sama-sama efektif, yakni:

  • Dilasi balon: melebarkan sfingter secara mekanis dengan cara memasukkan dan menggelembungkan balon khusus di dalamnya. Kadang diperlukan dilasi secara berulang, tapi secara umum prosedur cukup dilakukan sekali.
  • Miotomi: operasi untuk memotong serat otot pada sfingter esofagus bagian bawah. Prosedur ini umumnya dilakukan dengan laparoskop, yakni alat berbentuk tabung tipis dengan lampu kecil.
  • Toksin botulinum: injeksi botox pada sfingter esofagus bagian bawah untuk membantu mengendurkannya. Hasilnya bersifat sementara, kira-kira 6 bulan sampai 1 tahun.

 

Komplikasi

Akalasia bisa menimbulkan komplikasi bila dibiarkan tanpa perawatan memadai. Komplikasi yang bisa terjadi termasuk:

  • Aspirasi pneumonia, yakni masuknya benda asing, termasuk makanan dan cairan, ke dalam paru-paru sehingga menyebabkan pneumonia atau peradangan pada jaringan paru
  • Robeknya esofagus (perforasi)
  • Infeksi saluran pernapasan
  • Bronkiektasis, yaitu masalah kesehatan kronis di mana saluran udara paru-paru melebar hingga mengakibatkan penumpukan lendir yang bisa menyebabkan paru-paru lebih mudah terkena infeksi
  • Kekurangan nutrisi
  • Berat badan anjlok
  • Kanker esofagus atau kanker kerongkongan
Baca Juga:  Apa Itu Amebiasis? Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan

 

Pencegahan

Karena penyebab pasti akalasia tak diketahui, belum ada hasil riset yang bisa memberikan bukti efektivitas upaya pencegahannya. Namun jika mengalami gejala gangguan menelan, pasien bisa melakukan sejumlah upaya untuk meredakan gejala dan mencegah komplikasinya. Misalnya dengan menggubah gaya hidup menjadi lebih sehat.

Pasien akalasia harus makan dengan pelan, mengunyah hingga halus, minum banyak air saat makan, dan menghindari makan menjelang tidur. Saat tidur, pastikan kepala lebih tinggi daripada tubuh untuk mencegah refluks atau muntah. Selain it, hindari makanan atau minuman yang bisa memicu refluks, seperti saus tomat, buah-buahan situs, alkohol, dan kafein.

 

Kapan ke Dokter

Buat jadwal kedatangan ke rumah sakit dan konsultasi dengan dokter bila mengalami gejala akalasia. Terlebih bila kesulitan menelan makin parah dari hari ke hari disertai refluks, tiba-tiba batuk di malam hari, nyeri dada, serta gejala infeksi seperti demam dan meriang.

 

Reviewed by

dr. Miranda Audina Irawan

Medical Check Up Coordinator

Primaya Hospital Bekasi Timur

Referensi:

  • Achalasia—a Disease of Unknown Cause That Is Often Diagnosed Too Late. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3329145/. Diakses 30 Desember 2022
  • Achalasia and esophageal cancer: risks and links. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6132237/. Diakses 30 Desember 2022
  • Achalasia. https://www.nyp.org/digestive/esophageal-diseases/achalasia. Diakses 30 Desember 2022
  • Achalasia. https://www.mskcc.org/cancer-care/types/esophageal/risk-factors/achalasia. Diakses 30 Desember 2022
  • Akalasia. https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/338/akalasia. Diakses 30 Desember 2022
  • An Overview of Achalasia and Its Subtypes. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5572971/. Diakses 30 Desember 2022
  • Diagnosis and Management of Achalasia: Updates of the Last Two Years. https://www.mdpi.com/2077-0383/10/16/3607. Diakses 30 Desember 2022
Share to :

Buat Janji Dokter

Promo

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.