Banyak orang merasa sehat selama bertahun-tahun tanpa menyadari bahwa organ hatinya perlahan mengalami kerusakan. Gejala yang muncul sering kali samar—sekadar lelah, penurunan berat badan, atau gangguan pencernaan ringan.
Namun pada sebagian orang, kondisi tersebut ternyata merupakan tanda awal sirosis, yaitu kerusakan hati kronis yang berkembang perlahan hingga akhirnya mengganggu fungsi organ vital tersebut.
Ketika sirosis sudah mencapai tahap lanjut, hati dapat kehilangan kemampuannya untuk menyaring racun, memproduksi protein penting, dan mengatur metabolisme tubuh.
Penyakit Hati yang Menjadi Masalah Global
Sirosis merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat penyakit hati di seluruh dunia. Menurut World Health Organization, penyakit hati kronis termasuk sirosis menyebabkan lebih dari 1 juta kematian setiap tahun secara global. Di Indonesia, masalah ini juga cukup signifikan. Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa jutaan orang hidup dengan infeksi hepatitis kronis—salah satu penyebab utama sirosis. Selain hepatitis, para ahli kini juga melihat peningkatan kasus sirosis yang berkaitan dengan obesitas dan gangguan metabolik.
Bagaimana Sirosis Terjadi?
Hati memiliki kemampuan regenerasi yang sangat baik. Ketika mengalami cedera atau peradangan, organ ini dapat memperbaiki dirinya dengan membentuk jaringan baru. Namun jika kerusakan terjadi berulang kali dalam jangka waktu lama, proses penyembuhan tersebut justru menghasilkan jaringan parut. Seiring waktu, jaringan parut menggantikan jaringan hati yang sehat sehingga struktur organ berubah dan aliran darah di dalam hati menjadi terganggu. Para ahli di National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases menjelaskan bahwa kondisi ini dapat menyebabkan peningkatan tekanan pada pembuluh darah portal serta menurunkan kemampuan hati menjalankan berbagai fungsi penting bagi tubuh.
 Gejala yang Sering Terlambat Disadari
Pada tahap awal, sirosis sering tidak menimbulkan gejala yang jelas. Banyak penderita baru merasakan keluhan ketika kerusakan hati sudah cukup luas.
Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain:
- Kelelahan berkepanjangan
- Penurunan berat badan tanpa sebab jelas
- Berkurangnya massa otot
- Kulit dan mata menguning
- Gatal pada kulit
- Pembengkakan pada kaki
- Penumpukan cairan di rongga perut (asites)
Pada kondisi yang lebih berat, penderita dapat mengalami gangguan konsentrasi atau kebingungan akibat penumpukan racun di otak, kondisi yang dikenal sebagai Hepatic encephalopathy.
Penyebab Sirosis Tidak Hanya Alkohol
Banyak orang mengira sirosis hanya terjadi akibat konsumsi alkohol berlebihan. Padahal, ada berbagai kondisi lain yang dapat merusak hati secara kronis.
Beberapa penyebab utama sirosis meliputi:
- Infeksi virus hepatitis B dan hepatitis C
- Penyakit hati terkait alkohol
- Penyakit hati berlemak akibat gangguan metabolik yang dikenal sebagai Metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD)
- Bentuk peradangan yang lebih berat yaitu Metabolic dysfunction-associated steatohepatitis (MASH)
- Penyakit autoimun seperti Autoimmune hepatitis
- Gangguan saluran empedu seperti Primary Biliary Cholangitis dan Primary Sclerosing Cholangitis
- Kelainan metabolik seperti Hemochromatosis dan Wilson disease
Dalam beberapa tahun terakhir, peningkatan angka obesitas dan diabetes membuat kasus penyakit hati berlemak juga meningkat.
Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosis?
Untuk memastikan diagnosis sirosis, dokter biasanya melakukan beberapa pemeriksaan.
Pemeriksaan tersebut meliputi:
- Tes darah untuk menilai fungsi hati, termasuk kadar enzim hati, bilirubin, albumin, dan faktor pembekuan darah.
- Pemeriksaan pencitraan seperti USG, CT scan, atau MRI untuk melihat perubahan struktur hati.
- Elastografi hati, yaitu metode non-invasif seperti FibroScan yang dapat mengukur kekakuan jaringan hati.
Dalam beberapa kasus, dokter juga dapat melakukan biopsi hati untuk memastikan penyebab kerusakan.
Tujuan Pengobatan: Menghentikan Perburukan
Kerusakan hati akibat sirosis umumnya tidak dapat dipulihkan sepenuhnya. Oleh karena itu, pengobatan difokuskan untuk memperlambat perkembangan penyakit dan mencegah komplikasi.
Penanganan dapat meliputi:
- Terapi antivirus untuk hepatitis
- Menghentikan konsumsi alkohol
- Mengontrol diabetes dan obesitas
- Pemberian obat untuk mengurangi penumpukan cairan
- Obat untuk menurunkan tekanan pada pembuluh darah portal
Pasien sirosis juga dianjurkan menjalani pemeriksaan rutin, termasuk USG hati setiap enam bulan untuk mendeteksi kanker hati atau Hepatocellular carcinoma sejak dini.
Pada tahap lanjut, transplantasi hati dapat menjadi pilihan terapi.
Mencegah Lebih Baik
Meski sirosis sulit disembuhkan, banyak kasus sebenarnya dapat dicegah.
Langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:
- Vaksinasi hepatitis B dan hepatitis A
- Menghindari konsumsi alkohol berlebihan
- Menjaga berat badan ideal
- Mengontrol diabetes dan kolesterol
- Menggunakan obat sesuai anjuran dokter
- Melakukan skrining hepatitis jika memiliki faktor risiko
Dengan menjaga kesehatan hati sejak dini, risiko sirosis dapat ditekan secara signifikan.
Ditinjau oleh:
dr. Ahmar Abyadh, Sp. PD-KGEH, FINASIM, MKes
Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi
Primaya Hospital Bekasi Barat
Referensi:
- World Health Organization. Global health estimates: liver cirrhosis mortality and burden of disease [Internet]. Geneva: WHO; 2023 [cited 2026 Mar 10]. Available from: https://www.who.int
- National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Cirrhosis [Internet]. Bethesda: NIDDK; 2023 [cited 2026 Mar 10]. Available from: https://www.niddk.nih.gov/health-information/liver-disease/cirrhosis
- Mayo Clinic. Cirrhosis: Symptoms and causes [Internet]. Rochester: Mayo Foundation for Medical Education and Research; 2024 [cited 2026 Mar 10]. Available from: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cirrhosis
- Garcia-Tsao G, Abraldes JG, Berzigotti A, Bosch J. Portal hypertensive bleeding in cirrhosis: Risk stratification, diagnosis, and management. Practice guidance by the American Association for the Study of Liver Diseases. Hepatology. 2017;65(1):310–335.
- European Association for the Study of the Liver. EASL Clinical Practice Guidelines for the management of patients with decompensated cirrhosis. J Hepatol. 2018;69(2):406–460.
- Rinella ME, Lazarus JV, Ratziu V, et al. A multi-society Delphi consensus statement on new fatty liver disease nomenclature. J Hepatol. 2023;79(6):1542–1556.
- Schuppan D, Afdhal NH. Liver cirrhosis. Lancet. 2008;371(9615):838–851.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil kesehatan Indonesia tahun 2023 [Internet]. Jakarta: Kemenkes RI; 2024.



