Apakah Anda pernah melihat orang yang tiba-tiba sulit menggerakkan salah satu sisi wajahnya? Biasanya mulutnya terlihat mencong atau matanya tidak bisa menutup rapat. Kondisi tersebut bisa jadi merupakan penyakit yang disebut dengan Bell’s Palsy.
Mengenal Pengertian Bell’s Palsy
Menurut Hohman dalam National Institutes of Health, Bell’s Palsy adalah kelumpuhan pada salah satu sisi otot wajah yang terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini menyebabkan sebagian wajah tampak melorot atau tampak lebih rendah sebelah.
Bell’s Palsy disebabkan oleh gangguan saraf yang fungsinya mengendalikan otot-otot wajah. Mulai dari otot untuk tersenyum, otot mengedipkan mata, atau bahkan otot untuk mengernyitkan dahi. Hal tersebut menyebabkan penderita kehilangan kendali terhadap wajahnya.
Bell’s Palsy bisa terjadi pada siapa saja. Namun, sejauh ini kondisi yang paling umum terjadi adalah pada ibu hamil. Selain itu, Bell’s Palsy juga banyak terjadi pada penderita diabetes dan penderita infeksi saluran pernapasan atas, misalnya flu.
Bell’s Palsy umumnya memang tidak permanen dan penderita dapat pulih sepenuhnya dalam beberapa bulan. Yang harus Anda cermati adalah bahwa Bell’s Palsy ini berbeda dengan stoke. Meskipun sama-sama menyebabkan kelumpuhan, namun Bell’s Palsy hanya memengaruhi otot wajah.
Apa Saja Gejala Bell’s Palsy?
Gejala Bell’s Palsy umumnya terjadi secara mendadak atau tiba-tiba dan terjadi dalam hitungan jam hingga satu atau maksimal dua hari. Namun untuk memahami gejala Bell’s Palsy, berikut ini adalah beberapa poin yang harus Anda kenali.
- Wajah lumpuh tiba-tiba pada salah satu sisinya.
- Wajah tampak melorot pada salah satu sisinya dan kesulitan untuk tersenyum pada salah satu sisi wajah.
- Mata pada sisi yang mengalami kelumpuhan akan sulit menutup atau berkedip. Mata juga menjadi lebih sering berair karena tidak bisa dikontrol.
- Wajah dan bibir mengalami kedutan atau kesemutan.
- Mengiler tanpa disadari, terutama pada sudut mulut di bagian sisi wajah yang mengalami kelumpuhan.
- Gangguan mengecap rasa pada sebagian lidah karena indra perasa juga ikut terpengaruh kelumpuhan wajah.
Jika Anda atau orang di sekitar Anda mengalami gejala-gejala di atas, maka segera konsultasi ke dokter secepat mungkin. Anda juga perlu menghitung berapa lama kondisi tersebut terjadi dan bagian mana saja yang mengalami kelumpuhan. Hal tersebut agar dokter lebih mudah dan tepat mendiagnosis.
Apa Penyebab Kelumpuhan Wajah Sebelah?
Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab Bell’s Palsy. Penyebab pastinya memang masih diteliti, namun ada dugaan sementara jika Bell’s Palsy ini disebabkan karena peradangan atau pembengkakan pada saraf wajah.
Pembengkakan atau perdagangan tersebut menyebabkan sinyal dari otak yang dikirim ke otot wajah menjadi terganggu. Akibatnya, otot wajah menjadi lemah atau bahkan lumpuh pada satu sisi.
Peradangan pada saraf wajah umumnya dipicu oleh infeksi virus tertentu. Beberapa virus yang dianggap menyebabkan Bell’s Palsy adalah sebagai berikut ini:
- Virus herpes simplex, ini adalah virus yang biasanya menjadi penyebab herpes di mulut dan bibir
- Virus varicella zoster, virus ini adalah penyebab cacar air dan cacar ular (herpes zoster)
- Virus influenza, virus yang paling umum diketahui, yaitu virus penyebab flu
- Virus Epstein-Barr, penyebab mononucleosis atau infeksi virus menular atau kerap disebut dengan demam kelenjar atau penyakit berciuman. Virus ini paling sering disebabkan oleh virus Epstein-Barr atau anggota keluarga yang terkena virus herpes.
- Cytomegalovirus (CMV), yang dapat menyerang berbagai organ tubuh termasuk salah satunya adalah bagian wajah.
- Virus pernapasan lain yang bisa memicu peradangan saraf dan menyebabkan otak wajah kehilangan kendali atau mengalami kelumpuhan.
Cara Dokter Mendiagnosis Bell’s Palsy
Jika Anda mengalami Bell’s Palsy, maka segera pergi ke dokter untuk konsultasi dan mendapatkan penanganan yang tepat. Dokter akan mendiagnosis Bell’s Palsy dengan melakukan konseling atau tanya jawab terkait kondisi pasien terlebih dahulu.
Beberapa hal yang akan ditanyakan dokter adalah berikut ini:
- Bagaimana gejala awal muncul termasuk kapan awal keluhan mengalami Bell’s Palsy.
- Apakah ada riwayat penyakit sebelumnya, misalnya diabetes atau hipertensi.
- Apakah ada riwayat infeksi saluran pernapasan atau infeksi virus tertentu.
- Apakah ada keluarga yang juga mengalami Bell’s Palsy.
Setelah melakukan sesi konseling, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada wajah pasien untuk menilai kemampuan otot. Misalnya pasien diminta untuk mengangkat alis, menutup mata, tersenyum, dan lainnya. Jika ada tanda kelumpuhan berat, ada beberapa tes tambahan, berikut:
- Dilakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui apakah ada infeksi atau penyakit lainnya.
- Dilakukan Elektromiografi atau EMG untuk menilai bagaimana aktivitas listrik pada otot wajah dan seberapa besar tingkat kerusakan saraf.
- Melakukan CT Scan atau MRI untuk pengecekan lebih lanjut. Hal ini terutama karena ditakutkan adanya tumor, stroke, atau kelainan yang ada pada struktur saraf dan otak.
Bagaimana Pengobatan Bell’s Palsy?
Sebagian besar Bell’s Palsy akan sembuh dalam beberapa minggu hingga bulan dengan sendirinya. Namun, jika ingin cepat sembuh, maka pengobatan medis tentu dibutuhkan. Hal ini untuk mempercepat pemulihan dan mencegah adanya komplikasi. Pengobatannya adalah sebagai berikut:
- Obat Kortikosteroid, misalnya methylprednisolone dalam Cormetison,yang berguna untuk mengurangi peradangan pada saraf wajah.
- Diberikan juga obat antivirus, misalnya acyclovir dalam Acivar,yang akan diberikan kepada penderita Bell’s Palsy yang diduga mengalami infeksi virus.
- Diberikan obat pereda nyeri seperti paracetamoluntuk meredakan nyeri di sekitar telinga atau wajah.
- Diberikan juga tetes atau salep mata untuk membantu melindungi mata yang sulit menutup. Jika tidak diberi obat, maka ada risiko iritasi karena mata kering.
- Dilakukan juga Fisioterapi untuk melatih otot wajah agar tidak kaku dan fungsi wajah bisa segera kembali.
- Melakukan operasi dekompresi saraf yang biasanya dilakukan ketika Bell’s Palsy sangat berat dan tidak ada perubahan positif selama terapi dilakukan.
Kapan Harus ke Dokter
Jangan menganggap remeh atau mengabaikan Bell’s Palsy. Jika Anda mengalami Bell’s Palsy, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah periksa ke dokter. Jangan menunda meskipun Bell’s Palsy sudah reda, berikut ini adalah indikator jika Anda harus segera ke dokter.
- Ketika mengalami kesulitan bicara dan memahami pembicaraan dengan orang lain.
- Mengalami kelumpuhan atau lemah pada lengan dan tungkai.
- Ketika hilang keseimbangan atau mengalami pusing berat.
- Mengalami gangguan penglihatan, misalnya pandangan ganda atau kabur.
- Nyeri kepala hebat yang muncul secara tiba-tiba.
Apa Perbedaan dengan Stroke?
Banyak orang yang mengira bahwa Bell’s Palsy sama dengan stroke, padahal keduanya berbeda. Pertama, Bell’s Palsy hanya melibatkan saraf wajah, sedangkan stroke melibatkan otak dan pembuluh darah.
Kedua, Bell’s Palsy hanya melumpuhkan wajah dan hanya sebelah. Sedangkan stroke mengalami kelumpuhan pada hampir seluruh anggota tubuh. Mulai dari lemah tangan, bicara pelo, pusing dan mengalami gangguan keseimbangan.
Bell’s Palsy umumnya tidak berbahaya dan bisa pulih, sedangkan stroke tidak. Stroke justru kondisi darurat medis yang bisa menyebabkan risiko terburuk yaitu kematian.
Dintinjau oleh:
Spesialis Neurologi
Primaya Hospital PGI Cikini
Referensi:
- Hohman MH, Hadlock TA. Etiology, diagnosis, and management of facial palsy: 2000 patients at a facial nerve center. Laryngoscope. 2014 Jul;124(7):E283-93. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24431233
- Peitersen E. Bell’s palsy: the spontaneous course of 2,500 peripheral facial nerve palsies of different etiologies. Acta Otolaryngol Suppl. 2002;(549):4-30. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12482166
- Facial Palsy UK. Bell’s palsy: causes and diagnoses. Diambil dari https://www.facialpalsy.org.uk/causesanddiagnoses/bells-palsy/ diakses pada 26 September 2025.
- Agency for Clinical Innovation (ACI). (tanpa tanggal). Bell’s palsy. Diambil dari https://aci.health.nsw.gov.au/networks/eci/clinical/ed-factsheets/bells-palsy diakses pada 26 September 2025.
- Spencer CR, Irving RM. Causes and management of facial nerve palsy. Br J Hosp Med (Lond). 2016 Dec 02;77(12):686-691. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27937022
- Zhao H, Zhang X, Tang YD, Zhu J, Wang XH, Li ST. Bell’s Palsy: Clinical Analysis of 372 Cases and Review of Related Literature. Eur Neurol. 2017;77(3-4):168-172. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/28118632
- Al-Hashimi I, Okon E. West Nile Virus: A Neglected Cause of Bell’s Palsy? Cureus. 2024 Jun;16(6):e62486. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC11251707/



