• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Akromegali: Gangguan Pertumbuhan Organ Tubuh

Akromegali: Gangguan Pertumbuhan Organ Tubuh

Hormon pertumbuhan memiliki peran penting dalam proses pertumbuhan dan pembentukan organ tubuh sejak anak-anak hingga remaja. Ketika kadar hormon ini di dalam tubuh kurang, pertumbuhan akan terganggu. Namun kadar hormon pertumbuhan yang terlalu banyak juga tidak baik untuk pertumbuhan karena bisa terjadi kelainan yang disebut akromegali. 

 

buat jani dokter primaya

Mengenal Akromegali

Akromegali adalah gangguan pertumbuhan yang terjadi ketika kelenjar pituitari melepaskan terlalu banyak hormon pertumbuhan (GH) hingga menyebabkan pertumbuhan yang berlebihan. Pelepasan GH secara normal akan mendorong pertumbuhan yang sehat. Jika terlalu banyak hormon yang dilepaskan, bisa terjadi kelainan endokrin yang serius.

Hormon pertumbuhan sangat penting bagi anak-anak karena membantu perkembangan tulang dan otot, terutama selama masa lonjakan pertumbuhan atau growth spurts. Hormon ini terus dilepaskan meski seseorang sudah tak mengalami pertumbuhan lagi. Pada orang dewasa, hormon pertumbuhan mempengaruhi seberapa besar energi yang dimiliki, seberapa sehat tulang, seberapa besar kekuatan, dan bahkan tingkat kesehatan secara keseluruhan.

Akromegali termasuk kelainan yang jarang terjadi. Dalam penjelasan di Orphanet Journal of Rare Diseases, ada sekitar 3-4 orang dari setiap 1 juta orang yang didiagnosis menderita akromegali setiap tahun. 

Akromegali tidak hanya berdampak pada organ luar seperti tangan dan kaki yang terlihat lebih besar dari biasanya. Organ dalam juga bisa terpengaruh, termasuk persendian. Akromegali juga sering disebut gigantisme. Namun akromegali secara spesifik terjadi pada orang dewasa setelah tulang tak lagi tumbuh, sedangkan gigantisme terjadi pada anak-anak saat tulang masih bisa tumbuh yang ditandai dengan berkembangnya tumor.

Akromegali yang tak mendapat perawatan bisa berkembang menjadi masalah serius yang menyebabkan perubahan jaringan lunak dan tulang serta memicu masalah kardiovaskuler. Karena itu, bagi pasien dengan gejala akromegali, penting untuk menjalani perawatan medis.

 

Gejala

Pasien akromegali umumnya menunjukkan sejumlah tanda dan gejala yang jelas. Namun gejala itu bisa berkembang dengan lambat dan tampak tak berkaitan dengan masalah hormon pertumbuhan sehingga kelainan endokrin ini mungkin tak bisa segera terdiagnosis. 

Seringkali gejala pertama yang menjadi perhatian pasien adalah kaki dan tangan mereka makin membesar. Misalnya cincin yang biasanya pas di jari menjadi kekecilan atau butuh sepatu yang lebih besar.

Baca Juga:  Seputar Keterlambatan Bicara Pada Anak

Perubahan lain yang terkait dengan akromegali termasuk:

  • Bibir tebal
  • Hidung membesar, terutama pangkal hidung yang terlihat melebar
  • Rahang menonjol
  • Alis menyembul
  • Gigi berjarak

Karena akromegali terjadi karena gangguan pada kelenjar pituitari yang berada di bawah otak, ada pula gejala yang berkaitan dengan otak, seperti sakit kepala, perubahan penglihatan bila ada tumor yang menekan saraf yang terkoneksi dengan mata, dan kelumpuhan saraf.

Selain itu, ada gejala yang muncul akibat membesarnya bagian tubuh, misalnya nyeri sendi, suara lebih berat, apnea tidur, hipertensi, dan kelelahan.

 

Penyebab

Akromegali tergolong sebagai tumor atau pembengkakan jaringan tubuh karena adanya kondisi tertentu. Penyebab kondisi itu belum sepenuhnya dipahami. Sebagian besar kasus akromegali yang terjadi karena produksi hormon pertumbuhan berlebih disebabkan oleh mutasi pada sel pituitari yang disebut somototrof.

Kadang akromegali ada dalam riwayat penyakit keluarga, tapi seringnya bukan merupakan penyakit keturunan. Jaringan kelenjar biasanya secara spontan berkembang karena perubahan genetik pada sel kelenjar pituitari. Perubahan itu menyebabkan pertumbuhan yang tak terkendali pada sel yang terpengaruh sehingga menghasilkan tumor.

Dalam kasus yang lebih jarang terjadi, akromegali disebabkan oleh tumor pada bagian tubuh lain, seperti pankreas, paru-paru, atau bagian otak lain.

 

Cara Dokter Mendiagnosis Akromegali

Bila menduga pasien mengalami akromegali dari penampilannya, dokter akan mengukur kadar hormon pertumbuhan dalam darah pasien. Sebelumnya, pasien mesti berpuasa semalam agar diketahui apakah ada kenaikan kadar. Selain pengukuran kadar hormon, prosedur lain diperlukan untuk menegaskan diagnosis.

Salah satunya tes toleransi glukosa. Sebab, pencernaan gula semestinya menurunkan kadar hormon pertumbuhan pada orang sehat. Pada pasien yang mengalami akromegali, penurunan itu tidak terjadi.

Cara lainnya adalah mengukur kadar insulin-like growth factor 1 (IGF-1) dalam darah yang berperan mengatur efek hormon pertumbuhan. Menurut NHS, karena gejala akromegali seringnya berkembang secara bertahap selama beberapa tahun, diagnosis mungkin tak bisa segera didapatkan. Dokter mungkin perlu melihat foto pasien dari tahun ke tahun untuk mengecek perubahan penampilan yang dialami.

Baca Juga:  Ascariasis: Penyakit Cacingan yang Banyak Menyerang Anak-anak

 

Cara Mengatasi Akromegali

Tujuan penanganan akromegali adalah menurunkan produksi hormon pertumbuhan ke level normal, mengurangi tekanan tumor ke area sekitar otak, memulihkan fungsi kelenjar pituitari, dan meredakan gejala akromegali. Saat ini opsi perawatan yang tersedia antara lain operasi untuk mengangkat tumor, terapi obat-obatan, dan terapi radiasi.

Jenis perawatan mesti disesuaikan dengan karakteristik pasien, seperti usia dan ukuran tumornya. Biasanya operasi menjadi pilihan utama. Adapun obat-obatan yang biasa dipakai untuk menangani akromegali antara lain:

  • Kabergolin
  • Oktreotid 
  • Pegvisoman

Obat-obatan itu tidak bersifat kuratif sehingga dibutuhkan terapi dalam jangka panjang.  Adapun terapi radiasi menjadi pilihan terakhir jika operasi tak memungkinkan dan obat-obatan tak efektif.

 

Komplikasi

Akromegali bisa menimbulkan komplikasi yang serius pada kesehatan bila tak ditangani dengan tepat. Komplikasi itu termasuk:

  • Diabetes melitus
  • Hipertensi
  • Peningkatan risiko penyakit kardiovaskular
  • Artritis
  • Apnea tidur
  • Kegagalan organ
  • Polip usus besar yang bisa berkembang menjadi kanker
  • Disfungsi ereksi
  • Penurunan libido
  • Siklus menstruasi tak normal

 

Pencegahan

Tak ada cara yang diketahui bisa mencegah akromegali. Namun diagnosis dan penanganan sejak dini bisa mencegah kondisi pasien memburuk serta menghindari komplikasi. Sementara itu, penerapan gaya hidup sehat tetap menjadi cara terbaik untuk mencegah berbagai penyakit.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Bila merasakan gejala akromegali, penting bagi masyarakat untuk langsung berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan setempat. Banyak pasien akromegali yang baru terdiagnosis setelah kondisinya berkembang jauh sehingga lebih menyulitkan penanganan. Segera datangi dokter terutama bila merasa ada perubahan penampilan yang signifikan terkait dengan akromegali.

 

Reviewed by

dr. Shela Putri Sundawa, Sp. A

Dokter Spesialis Anak

Primaya Hospital Depok

Referensi:

  • Acromegaly. https://www.nhs.uk/conditions/acromegaly/. Diakses 3 Januari 2023
  • Acromegaly. https://rarediseases.org/rare-diseases/acromegaly/. Diakses 3 Januari 2023
  • Gigantism and Acromegaly. https://emedicine.medscape.com/article/925446-overview. Diakses 3 Januari 2023
  • Acromegaly. https://ojrd.biomedcentral.com/articles/10.1186/1750-1172-3-17. Diakses 3 Januari 2023
  • Pituitary & Skull Base Tumor: Acromegaly. https://www.uclahealth.org/medical-services/neurosurgery/pituitary-skull-base-tumor/conditions/pituitary-adenomas/acromegaly. Diakses 3 Januari 2023
  • Diagnosis and Treatment of Acromegaly: An Update. https://www.mayoclinicproceedings.org/article/S0025-6196(21)00845-4/fulltext. Diakses 3 Januari 2023
Share to :

Buat Janji Dokter

Promo

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.